
Sambungan yang diputus begitu saja saat istrinya berbicara dengan lawan jenis. Membuat Baskara gelisah sendiri. Rencana awal ingin kembali mengerjakan tugas urung ia lakukan.
Baskara tahu pasti jika ia memaksakan diri mengerjakan tugas, tugasnya akan selesai, namun dengan nilai yang tidak memuaskan.
Jadi demi nilai dan ketenangan batinnya. Baskara langsung mengganti pakaiannya. Memakai mantel dan mengambil kunci mobil. Membawa serta laptop dan segala penunjangnya untuk mengerjakan tugas ditempat istrinya nanti.
Langkahnya yang terburu-buru tak sengaja menabarak gadis yang baru keluar dari dalam lift.
"Lho Bas, mau kemana?" tanya Lura mendongak. Gadis yang Baskara tabrak. Gadis yang kini tengah mrngambil buku yang berceceran akibat pemuda itu tabrak.
"NY." sahutnya singkat. Tak menatap Lura yang tak lepas memperhatikannya yang tengah membantu gadis itu mengumpulkan buku-buku.
"Kata kamu, mau ngerjain tugas bareng."
Sebenarnya bukan Baskara yang mengajak. Namun Lura terus saja mengikutinya selama di kampus. Terus saja memohon untuk mengerjakan tugas bersama.
Lelah mendengar suara gadis itu membuat Baskara memutuskan menerima ajakannya. Dengan niat mengerjakan tugas diperpustakaan. Sayangnya ia bangun kesiangan dan harus mengganti dengan mengerjakan di ruang tamu flat mereka.
Lura bahkan sudah meminjam beberapa buku dari kakak tingkat mereka. Dan kini sepertinya Lura harus menerima pil pahit karena Baskara lebih memilih mengunjungi istrinya.
"Maaf, aku nggak bisa."
"Kenapa memang? istri kamu sakit?" kernyitan didahi Lura menjelaskan ia tak suka acara mereka dibatalkan begitu saja.
Baskara menggelengkan kepalanya dengan tidak sabar. "Nggak bisa nahan rindu." jawabnya langsung masuk kedalam lift yang kembali terbuka karena ada tetangga mereka yang baru keluar dari benda persegi itu.
Lura melepas kepergian Baskara dengan senyum pahit.
Ia merasa menyukai pria itu sejak lama. Berusaha untuk selalu dekat. Dengan harapan suatu hari nanti Baskara melihatnya dan mengakui keberadaannya.
Tapi harapannya pupus seketika begitu ia mengetahui pemuda yang ia suka sudah memiliki istri.
Ia memutuskan tetap mencintai meski tak mampu memiliki. Meski nyatanya tak semudah yang ia bayangkan.
Melihat bagaimana Baskara yang tetap tidak melihatnya. Dan membayangkan pemuda itu berlaku begitu manis pada istrinya. Semakin menambah lubang dalam hatinya. Lubang yang ia buat karena kebodohannya sendiri.
"Miris banget nasib gue." gumamnya menepis air mata yang tak terasa jatuh membasahi pipi. Berjalan gontai menuju tempat tinggalnya.
__ADS_1
***
Senja sudah mandi dan wangi. Duduk disofa ruang televisi dengan tangan yang bergerak lincah menuangkan ide yang berterbangan dalam otaknya kedalam secarik kertas.
Beberapa kali ia ganti karena tak sesuai dengan yang ia harapkan.
Ia memang tak pernah merasa rugi jika datang ke acara fashion week atau peragaan busana lainnya. Karena selalu bisa mengembangkan imajinasinya.
Gadis itu meregangkan ototnya keatas dan berdiri. Tak sadar jika sudah begitu lama duduk dengan pensil dan buku sketsa miliknya. Kini tenggorokannya bahkan terasa sakit karena terlalu lama tidak minum air putih.
Berniat menuju dapur mengambil air namun langkahnya terhenti ketika mendengar dari luar ada yang membuka passcode apartemennya.
Tak perlu bertanya siapa. Karena satu-satunya orang yang tahu susunan angka untuk kunci apartemannya dan bebas keluar masuk kapan pun hanya ada satu orang.
Siapa lagi jika bukan suaminya.
Senyumnya mengembang lebar dengan begitu cantiknya. Senyum yang kata sang suami selalu membuatnya candu.
Disana. Didepan pintu suaminya tak kalah tersenyum lebar. Tak ada yang bersuara apa lagi bergerak. Hanya saling tatap melepas rindu lewat kontak mata. Hanya bertahan beberapa puluh detik hingga suaminya merentangkan kedua tangannya.
"Nggak pengen peluk?" tanya dengan suara sarat kerinduan.
Baskara yang memang sudah mempersiapkan diri tak limbung. Ia justru langsung mengangkat tubuh istri dalam pelukannya.
"Kangen. Kangen. Kangen." dendang Baskara menciumi rambut istrinya.
Meskipun mereka selalu rutin menjaga komunikasi, entah lewat pesan teks, panggilan suara atau pun videocall. Namun tetap saja rindu itu melanda.
Karena sebaik-baiknya penawar rindu adalah bersua. Bisa menghirup wangi khas dari pasangan kita. Merasakan dekapan hangat yang menenangkan jiwa.
"Aku juga kangen tau, mas. Segala nggak pulang sih." jawab Senja dengan sedikit cebikan.
Senja yang kini posisinya seperti koala dalam dekapan Baskara, semakin mengeratkan pelukannya dileher sang suami ketika suaminya itu membawanya berjalan dan duduk diatas sofa.
"Sabar ya. Ini demi kita cepat berkumpul juga."
Senja menatap tepat manik mata suaminya dan tersenyum mengangguk sebagai jawaban. Kecupan ringan ia daratkan dibibir suaminya yang tak kalah merekah.
__ADS_1
"Lagiiii." rengek Baskara. "Masa cuma sekali. Mana dikecup doang."
Dengan terkekeh, Senja mengabulkan permintaan suaminya dengan mengecup dahi, kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir melabuhkan bibirnya diatas bibir sang suami.
Baskara yang pandai memanfaatkan situasi langsung menarik tengkuk istrinya guna memperlama dan memperdalam ciuman mereka.
Hingga napas keduanya habis, Baskara melepas dan menyatukan dahi mereka. "Mau disini atau dikamar." bisiknya dengan napas yang masih tersengal dan terdengar sensual ditelinga Senja.
"Kamar." cicit Senja dengan malu-malu menundukan wajahnya yang sudah merona. Ia tak perlu bertanya maksud pertanyaan suaminya. Karena ia sudah tak sepolos itu dan sudah paham betul bahasa suaminya ketika sedang ingin.
Meski mereka sudah melakukannya berkali-kali. Diberbagai sisi didalam apartemen itu. Namun tetap saja Senja malu. Dan alasan ia memilih kamar karena Baskara selalu kalap dihari pertama bertemu. Membuat Senja selalu tumbang. Dan kamar adalah tempat ternyamannya untuk istirahat setelah tenaganya terkuras habis.
"Terimaksih sayang." ucap Baskara yang turun dari atas tubuh istrinya. Menyelimuti dan membawa wanitanya dalam dekapan. Tak lupa memberi kecupan didahi dan juga bibir.
"Katanya banyak tugas. Kok pulang?" tanya Senja begitu napasnya mulai normal. Meski tak merubah posisi dan setia memejamkan mata.
"Ternyata rinduku mengalahkan prioritas tugas kuliah." kekeh Baskara.
"Aturan nggak boleh begitu!" omel Senja dengan sikap tak bertanggungjawab suaminya. "Mas harus lebih mendahulukan tanggungjawab dari kebutuhan hati."
"Kamu juga tanggung jawabku, ayy." kilah Baskara. "Muasin kamu diatas ranjang tuh tanggungjawab aku buat nafkahin kamu secara lahir. Jadi itu prioritas." imbuhnya dengan berbisik tepat ditelinga sang istri.
"Ish! itumah kebutuhan kamu sendiri." pukulan ringan Baskara terima didadanya. Membuat pemuda itu terkekeh.
"Emang kamu nggak butuh, ayy? nggak suka?" godanya.
"Ck. Suka lah." jawabnya yang sedetik kemudia ia semakin menyembunyikan wajahnya didada sang suami.
Baskara tergelak melihat tingkah malu-malu istrinya. "Gemesin banget sih, istrinya Baskara." menggoyangkan pelukan mereka kekanan dan kiri. "Makin cinta kan akunyaaa."
"Makin cinta lagi kalau kamu nggak mutusin telepon begitu aja saat kamu lagi bareng sama cowok." imbuh Baskara memanyunkan bibirnya.
Mendengar nada suaminya yang berubah merajuk membuat Senja menarik diri untuk dapat menatap wajah siempunya suara.
Semenjak menikah, jika Baskara marah atau tak suka akan suatu hal yang ia lakukan. Pemuda itu tidak akan meninggikan nada suaranya atau berkata dengan dingin. Pemuda itu justru akan berkata dengan nada merajuk yang menggemaskan. Selalu sukses membuat Senja geleng kepala.
*
__ADS_1
*
*