
Acara yang hanya dihadiri keluarga dekat itu cukup meriah. Ulang tahun yang bertemakan unicorn-tontonan kesukaan baby Anna-itu dihias sangat cantik dengan balon-balon yang didominasi warna pink, ungu dan putih. Juga hiasan berbentuk kuda berponi itu tersebar dihalam belakang tempat acara diadakan. Kado-kado dengan berbagai ukuran juga tertumpuk rapi.
Kebahagiaan terpancar diwajah semua yang hadir. Baby Anna ikut bertepuk tangan ketika lagu selamat ulang tahun di nyanyikan untuknya. Gadis kecil bergaun warna soft pink itu bersorak gembira begitu kedua orang tuanya membantunya meniup lilin pertama diusinya yang genap satu tahun.
Banyak doa yang dipanjatkan untuk balita imut itu. Terutama untuk kebahagiaan dalam hidupnya.
"Aku kesana dulu." bisik Baskara pada istrinya. Menunjuk sisi yang sepi untuk mengangkat panggilan ketika ponselnya berdering.
Senja mengangguk begitu melihat nama asisten suaminya dilayar ponsel. Biasanya asisten suaminya bisa menangani sesuatu sendiri ketika Baskara mengambil cuti seperti hari ini. Jadi ketika orang kepercayaan suaminya itu menghubungi, berarti ada sesuatu yang mendesak atau penting dan harus Baskara sendiri yang menangani.
Begitu mendapat izin dari istrinya, Baskara menuju sisi kolam renang yang sedikit jauh dari pesta.
"Ada apa Di?" tanya Baskara langsung pada asistennya Andi.
Andi terdengar ragu untuk menyampaikannya. "Mmm itu pak, pak direktur sedang ke luar negeri."
Baskara mengerutkan dahinya bingung. "Iya, saya sudah tahu."
"Jadi tugas beliau dilimpahkan ke bapak sebagai wakilnya."
"Saya tahu Andi.. Kalau hanya itu saya tahu. Jadi jika tidak ada hal penting yang akan kamu sampaikan, saya tutup dulu. Acaranya belum selesai. Nanti saya hubungi lagi." Baskara sudah akan menutup panggilan dari asistennya ketika mendengar kabar mengejutkan itu.
"Sapi kita banyak yang mati pak!" ucap Andi begitu cepat, takut Baskara yang baru beberapa bulan menjadi atasannya itu memutuskan panggilan.
"APA?!" teriak Baskara kaget. Menarik perhatian beberapa orang yang berdiri paling dekat dengannya. "Kenapa hal seperti ini tidak langsung kamu sampaikan?! kenapa harus bertele-tele dengan hal tidak penting yang saya juga tahu."
__ADS_1
"Ma-maaf pak.. Saya ragu untuk menyampaikannya. Karena ini hari bahagia untuk keluarga bapak."
Baskara menarik napasnya panjang untuk menenangkan diri agar bisa berpikir jernih. "Berapa sapi-sapi yang mati?" tangan kirinya memijat antara kedua alisnya.
"Hampir 40% pak. Masih dalam penyelidikan polisi. Tapi kemungkinan ada yang menyabotase air untuk minum para sapi. Karena hanya blok itu saja yang mati. Dan semua gejalanya sama."
Baskara meremas rambutnya frustasi. 40% dari sapi di peternakannya berarti berjumlah ratusan. Dengan jumlah sebanyak itu, akan sangat mempengaruhi produksi dipabrik. Bisa dipastikan mereka akan kekurangan produk untuk memenuhi pasar. Dan klien pasti akan menuntut ganti rugi dengan kekurangan stok yang tersedia. Batik klien yang bekerjasama dengan perusahaannya untuk produk susu segar maupun susu olahan seperti susu formula dan olahan lainnya.
"Apa direktur utama sudah tahu?"
"Beliau sudah diberitahu, tapi tidak bisa langsung kembali karena urusannya dengan klien penting kita belum selesai."
Kenapa hal seperti ini bisa terjadi disaat ia baru bergabung dengan perusahaan beberapa bulan. "Kalau beli sapi lagi?"
"Mencari sapi yang produksi susunya bagus tidak mudah pak. Apa lagi jika untuk waktu dekat dan dalam jumlah yang banyak. Perusahaan kita biasanya melahirkan sapi-sapi kita sendiri. Lagi pula perusahaan tidak bisa langsung mengeluarkan dana yang begitu besar sekaligus jika kita membeli sapi eksport."
Setelah hening cukup lama, Baskara menemukan ide yang semoga saja bisa membatu perusahaannya.
"Kalau kerjasama dengan koperasi peternak sapi perah dan laktasi bagaimana? saya dengar banyak perusahaan lain yang melakukan hal seperti itu. Dulu awal kakek mendirikan perusahaan juga bekerjasama dengan koperasi kan?"
Diujung sana Andi mengangguk membenarkan. "Saya sudah mencari informasi dan untuk peternak yang ada diwilayah pabrik milik perusahaan, saat ini sudah banyak yang bekerjasama dengan perusahaan lain pak. Termasuk koperasi yang dulu bekerjasama dengan perusahaan kita. Tapi mungkin jika kita mencari dengan teliti, kita masih bisa menemukan yang mau bekerjasama dengan kita."
Baskara mengangguk, kecil kemungkinan masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Dia harus cepat menyelesaikan masalah ini jika perusahaan tidak ingin kena pinalti.
"Saya tidak ingin merusak acara pertama putriku. Nanti selesai acara saya langsung ke kantor dan kita menuju lokasi sama-sama." Baskara memutuskan sambungan begitu saja. Ia berjalan menuju toilet yang ada di ujung kolam renang. Mencuci wajahnya untuk menenangkan diri. Jangan sampai keresahannya mengacaukan kebahagiaan orang-orang tersayangnya hari ini.
__ADS_1
***
"Ada yang serius mas?" tanya Senja yang membantu suaminya berganti pakaian.
Baskara berdeham mengiyakan. "Kamu nggak perlu mikirin apa-apa.. Doain aja biar cepat selesai." Ia tak ingin istrinya ikut kepikiran dengan masalah perusahaan. "Fokus aja sama kehamilan kamu. Tinggal menghitung hari kita bertemu baby kedua."
Senja melihat senyum suaminya. Tapi mata prianya itu terlihat jelas keresahan disana meski suaminya sudah mencoba menutupinya.
"Kemungkinan beberapa hari aku nggak pulang. Mau keluar kota. Kamu menginap disini aja, nanti aku minta mama untuk temani kamu tidur." Baskara tidak tega meninggalkan istrinya yang tengah hamil besar, tapi ia juga tidak bisa membiarkan perusahaan yang susah payah kakeknya bangun harus jatuh.
"Aku bukan anak kecil sayang.. Aku bisa kok tidur sendiri sama Anna."
Baskara menggeleng tak setuju. Ia usap pipi yang mulai berisi itu dan mengecup dahi sang istri. "Baby Anna masih sering bangun untuk minta susu ditengah malam. Biar mama yang bantuin kamu, ayy. Lagian aku takut kamu tiba-tiba melahirkan lagi."
Senja pasrah saja. Toh semua demi kebaikannya.
Baskara menunduk mengecup perut istrinya yang sudah turun kebawah seakan esok akan lahir. "Daddy tinggal sebentar ya sayang.. Jangan lahir dulu sebelum daddy pulang. Jangan buat mommy repot ya.. Jagain mommy. Oke?"
"Mas lama di luar kota?" Senja ikut merasa resah dengan keresahan sang suami. "Emang masalahnya apa sih?"
"Mungkin satu minggu, ayy. Tapi doakan saja semua lancar biar bisa cepat kembali." jawab Baskara tanpa memberitahu masalah sesungguhnya.
Senja memeluk suaminya dengan sedih. Bukan sedih karena harus ditinggal lama, meski itu salah satu alasannya. Tapi sedih yang paling mendominasi adalah sedih melihat suaminya susah seperti ini. Apakah tidak ada pekerjaan yang terus lancar tanpa hambatan? Yang sukses tanpa perjuangan? Sepertinya ia bermimpi jika mengharapkan hal seperti itu terjadi. Bahkan Thomas Alva Edison saja mengalami seribu kali kegagalan.
*
__ADS_1
*
*