
Pagi-pagi Senja sudah disambut dengan Jingga yang marah-marah tidak jelas. Mengomeli layar komputer yang tak salah apa-apa.
"Kenapa lo? pagi-pagi udah jelek aja tuh muka."
Mereka memang tak berangkat bersama. Karena Senja harus mengantar anak-anaknya sekolah. Hal yang biasanya suaminya lakukan.
Bukan Senja tidak ingin mengantar anak-anaknya sekolah. Tapi Anna akan mogok sekolah jika bukan Baskara yang mengantar. Kecuali jika suaminya tengah berada di luar kota seperti saat ini.
"Sebel sama yang komen! lo baca aja!"
Pagi-pagi seperti biasa, Jingga akan memantau sosial media sebelum nanti memposting foto baru yang ia ambil.
Tapi paginya kali ini dibuat sebal dengan puluhan komen yang justru menanyakan nomor ponsel model yang tak lain adalah suaminya, Farri.
Senja yang penasaran pun ikut membuka sosial media. Tepatnya pada bagian foto kakaknya terpasang.
Ganteng banget modelnya..
Spil nama sama nomer hp dong min..
IG kakak ganteng namanya apa?
Mau beli bajunya dong.. Tapi bonus nomer WA ya min.
Dan banyak lagi komen yang isinya hampir serupa. Rata-rata mengagumi ketampanan Farri dan menanyakan nama, nomer telepon, alamat bahkan hingga nomor celana yang dipakai.
Antara tertawa dan miris. Tidak ada yang menanyakan produknya. Mereka hanya fokus dengan model bukan dengan yang dijual.
"Iya nih! gue juga ikutan kesel!" decak Senja. "Kesel pada nanyain abang bukan dagangan gue."
Jingga melirik adik iparnya malas. "Tanya orang atas! mereka lagi kewalahan ngurusin pesenan yang membludak. Kayaknya lo harus nambah karyawan biar mereka nggak repot."
Bola mata Senja membulat. Tak ingin hanya tahu melalui telepon, Senja langsung naik kebagian penjualan online diatas.
Ternyata benar saja, mereka hilir mudik menyiapkan pesanan yang untungnya mereka produksi dalam jumlah besar.
"Kak, kayaknya kita butuh tempat yang lebih luas lagi." usul salah satu karyawan yang juga kepala stafnya di atas. "Ruang gerak kita terbatas jika pesanan sedang banyak. Padahal lantai ini dipakai juga untuk gudang bahan, kantor staf dan gudang jadi juga."
__ADS_1
Senja mengangguk, ia memang sudah pernah memikirkan untuk pindah tempat. Hanya saja ia belum memiliki tempat yang pas untuk mereka. Masih dalam tahap mencari.
Sedangkan ruko yang ia tempati kini mulai terasa sempit dengan bertambahnya jumlah produksi. Apa lagi ia juga harus memisahkan produksi butik dengan produksi untuk mall dan online.
Jika ia sudah memiliki tempat yang lebih luas, setidaknya ia bisa menambah karyawan agar bisa semakin berkembang.
Nantinya Ruko hanya ia gunakan untuk butik, kantornya dan tim desain dan tim produksi untuk butik.
Ia harus memiliki tempat yang luas untuk tim produksi dan para staf dan gudang bahan dan jadi. Yang tidak perlu harus ditengah kota seperti ini, tapi tidak juga dengan jarak yang terlalu jauh agar ia bisa sering mengontrol langsung.
"Kalau kalian butuh bantuan, panggil tim desain aja. Mereka lagi belum kerja kok minggu ini."
Karyawan yang Senja ajak bicara mengangguk dan berterimakasih karena memang sangat membutuhkan bantuan.
Dan tim desain dengan senang hati membantu mereka.
Setelah menentukan desain untuk diproduksi bulan ini, Senja memang biasanya meliburkan tim desainnya dari menggambar. Agar otak mereka bisa beristirahat dan memiliki ruang untuk menampung ide baru.
Karena semakin di forsir, semakin mereka kehilangan ide yang bagus dan menguntungkan.
"Bener kan kata gue?" Jingga menyambut Senja yang baru kembali dengan pertanyaan. "Bonus gue harus gede bulan ini."
"Sekarang temenin gue cari tempat baru yuk.. Yang lebih luas buat mereka."
Dengan senang hati Jingga membereskan isi tasnya dan membawa serta kamera yang selalu ia kalungkan di leher.
"Udah ada gambaran mau kemana belum?"
Senja mengangguk dan menunjukan beberapa alamat yang bisa mereka datangi. Alamat yang ayahnya berikan ketika ia datang untuk meminta saran saat itu.
Baskara juga sudah mengetahui masalah ini. Dan suaminya itu mendukung dan akan membantunya membeli tempat yang ia tolak jika memberi dengan cuma-cuma. Ia akan menganggap uang suaminya sebagai uang investasi agar seberapa maju perusahaannya bisa terlihat dan terukur.
"Kata papa sih kalau nggak ada yang cocok mending beli tanah aja. Biar nanti bisa dibangun sesuai kebutuhan perusahaan gimana."
"Bener tuh, Ja. Apa lagi kalau bangunan udah jadi kan kita nggak tahu bangunannya kokoh apa enggak. Bangunan baru atau lama."
Senja mengangguk setuju. Itu juga yang menjadi pertimbangannya. Tapi akan membutuhkan waktu yang lama jika ia harus mencari tanah kemudian di bangun. Sedangkan ia butuhnya mendesak.
__ADS_1
"Kita cari dulu aja. Setidaknya kontrak satu tahun nggak masalah kalau nggak ada yang cocok." ujar Senja yang sudah duduk dibalik kemudi. "Gue rasa satu tahun waktu yang cukup buat cari tanah sekaligus bangun. Papa pasti bisa usahain."
Jingga mengangguk dan ikut saja.
Lokasi pertama yang Senja datangi adalah tempat di pinggiran kota. Namun masih diarea yang ramai dan strategis.
Sayangnya bangunan sudah tak terawat dan terlihat menyeramkan. Sebelumnya digunakan untuk konfeksi tapi mengalami kebakaran di salah satu gudang yang memakan korban jiwa. Membuat gedung itu terbengkalai satu tahun terakhir.
Baik Senja maupun Jingga bahkan sama-sama tidak berani masuk. Hanya melihat dari luar ketika sang perantara menjelaskan.
Sedangkan lokasi kedua masih beroperasi. Kontrak mereka baru akan habis tiga bulan lagi. Yang artinya Senja baru bisa menempati juga tiga bulan lagi.
"Tinggal tempat terakhir nih, mudah-mudahan cocok deh. Kosong juga."
Keduanya sudah sama-sama kelelahan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang lokasinya tidak saling berdekatan. Belum lagi terjebak macet disana sini yang menambah lama waktu yang mereka tempuh.
Beruntung tempat ketiga yang merupakan tempat terakhir telah kosong. Baru dua bulan ditinggal penyewa sebelumnya yang memutuskan pindah ke kota sebelah.
Bangunan juga masih bagus karena belum ada sepuluh tahun dibangun dan langsung terisi. Sehingga bangunan cukup terawat.
Senja langsung mentransfer uang muka setelah melihat-lihat dan merasa cocok. Mereka juga menandatangani kontrak yang hanya Senja ambil satu tahun.
Seperti rencana awal, Senja ingin mencari tanah dan membangun tempatnya sendiri. Tempat impiannya.
Ia akan berdiskusi dengan suaminya lagi nanti. Sebelum menyerahkan sisanya untuk diurus ayahnya yang lebih paham dibidang tanah dan bangunan.
"Suami lo tahu nggak tempat tadi?"
"Tahu, tadi gue udah kirimin fotonya. Katanya kalau gue suka ya ambil aja."
Tadi Senja hanya sempat mengirim foto alih-alih melakukan video call. Karena ia tahu suaminya di luar kota tengah sibuk. Jadi ia tak ingin mengganggu.
Terpenting suaminya membalas pesan yang ia kirim. Dan itu sudah lebih dari cukup.
*
*
__ADS_1
*