Langit Senja

Langit Senja
Tamu 2


__ADS_3

Kedatangan Farri beserta keluarga kecilnya menambah kebahagiaan Senja. Ia tidak menyangka mereka akan datang mengingat saat terakhir ia menghubungi, kakak sulungnya itu tengah sibuk karena ada banyak proyek yang ia tangani langsung.


Tapi tak disangka, tanpa memberi kabar sebelumnya, kini mereka sudah berada di apartemennya.


"Kangen bang." peluk Senja pada Farri yang dibalas tak kalah erat.


"Abang juga kangen. Kangen denger rumah rame sama teriakan kamu." kekeh Farri. Karena meski kini rumah masih ramai dengan kehadiran putri kecilnya. Tapi ia juga merindukan keriuhan seperti dulu ketika Senja ada di rumah.


"Iya teriak kalau abang jahilin!" Senja ikut terkekeh. Membayangkan tingkah mereka saat itu.


Tapi meski ia kembali, suasana tidak akan lagi sama seperti dulu. Karena kini keriuhan akan terganti dengan jerit, tangis dan tawa anak-anak mereka.


Kini mereka sudah dewasa dan bukan masanya lagi bersikap kekanakan. Meskipun pasti masih ada sisa-sisa kekanakannya.


"Kok abang Vindra nggak ikut? kayaknya dia dong deh yang nggak pernah ngunjungin adeknya selama disini." cebik Senja merasa sedih. Mengingat betapa susahnya bertemu kakak keduanya itu.


"Kan tahu sendiri, Vindra tuh jadwal operasinya padet. Belum lagi kalau ada panggilan mendadak karena pasiennya kritis." hibur Farri.


"Jangankan jauh-jauh kesini, Ja. Kumpul di rumah pas weekend aja sering pergi tiba-tiba kalau ada panggilan darurat dari rumah sakit. Pokoknya susah deh cari waktu buat kumpul sama bang Vindra." sahut Jingga menambahkan.


"Untung aku nggak jadi ambil kedokteran." gumam Senja membayangkan putrinya.


Saat ini saja waktunya sudah sangat sedikit untuk putrinya. Apa lagi jika ia mengambil jurusan kedokteran yang harus koas dan lain-lain.


"Btw kalian datang kesini buat lihat baby Anna. Tapi kok nggak bawa hadiah sih! jahat banget bang, sama ponakan!"


Farri menggeleng dan mencubit pipi adiknya yang tak banyak berubah. "Kado buat baby Anna ada di Jakarta. Buat apa disini, toh kalian sebentar lagi bakal pulang."


"Emang apaan kadonya bang?" tanya Senja penasaran. Sejujurnya tadi ia tak sungguh-sungguh menanyakan hadiah. Karena hanya dengan kehadiran mereka saja sudah membuatnya senang.


"Telfon aja mertua kamu. Kadonya udah ada disana."


Tak menunggu waktu lama, Senja langsung menghubungi ibu mertuanya. Untuk memastikan yang kakaknya katakan tidak bohong. Karena hampir setiap hari ibu dari Baskara itu menghubungi mereka, tapi tak sekalipun mengatakan ada kado dari kakaknya.


"Kenapa sayang." sahut Pricilla di dering kedua. Karena di Jakarta masih pagi, jadi kemungkinan Pricilla belum berangkat ke rumah sakit untuk bekerja.


"Bun, mau tanya. Emang bang Farri kasih kado apa buat Anna? katanya udah disitu?" tanyanya langsung.

__ADS_1


"Ooh Farri. Beberapa minggu setelah Anna lahir, dia datang kerumah tanya kamar mana yang bakal Anna tempati. Terus didesain gitu. Sekarang udah jadi tuh kamar buat Anna. Lengkap sama semua prabot dan isinya. Bahkan lemarinya juga diisi full buat usia satu tahun keatas. Sama mainan, terus boneka-boneka. Lengkap lah pokoknya udah kaya mau jualan."


Bola mata Senja membulat. "Serius bun."


"Beneran. Nanti deh bunda kirimin foto kamar sama ruang bermainnya. Sama sekalian foto buku asuransi pendidikan dari papa kamu. Terus asuransi kesehatan seumur hidup dari Vindra."


Bola mata Senja semakin membulat. Pasalnya baik ayah dan kakak keduanya itu juga tidak mengatakan apa pun.


Dan Senja yakin asuransi pendidikan dan kesehatan milik keluarganya pasti yang terbaik.


"Bunda sama ayah sampai bingung mau kasih apa buat Anna. Soalnya udah dicover semua sama keluarga kamu."


Air matanya merebak. Dadanya bergemuruh. Kini ia semakin yakin, meski ia sudah menikah, kasih sayang keluarganya tidak pernah berkurang untuk dirinya.


Senja langsung memeluk kakaknya. "Makasih abang." isakan kecil mulai terdengar.


***


Senja merindukan kicau burung dipagi hari ketika ia membuka mata. Burung liar yang tak pernah absen mengepakkan sayap dan berkicau di balkon kamarnya yang ada di Jakarta.


Setelah memberikan ciuman selamat pagi di dahi anak dan suaminya yang masih terlelap, Senja bergegas mencuci wajah dan gosok gigi sebelum menuju dapur untuk membuat sarapan pagi.


Mamah muda itu tersenyum saat melewati kamar yang ditempati oleh keluarga kakak sulungnya. Dimana ia mendengar gelak tawa Sisi dan kedua orang tuanya itu.


"Nanti kalau baby Anna udah bisa diajak bercanda, bakal seseru itu kali ya?" gumamnya gemas sendiri. Membayangkan keseruannya bersama anaknya nanti.


Sampai didapur Senja mulai merebus dada ayam yang ia tambah dengan bawang putih, jahe dan lada untuk membuat bubur.


Biasanya untuk sarapan ia akan membuat yang mudah saja. Tapi berhubung kali ini ada tamu dan lagi ia tidak kuliah karena weekend. Sesekali membuat bubur sepertinya enak juga.


Ia ingin membuat bubur ala korea. Tapi jika bubur korea antara bubur ayam dan sayur itu berbeda. Kali ini Senja ingin menggabungkannya.


Selama menunggu ayam, ia mulai memotong bawang merah, wortel dan lobak untuk ia tumis dengan minyak wijen.


Ia menyaring air kaldu sisa rebusan ayam kedalam pancing lain. Menambahkan beras yang sudah ia rendam dan cuci bersih. Menambah tumisan yang ia buat sebelumnya. Tak lupa juga ia tambahkan sedikit garam.


Beras yang ia gunakan sudah ia rendam sebelumnya selama 30 menit. Jadi setelah ia aduk selama hampir 20 menit, bubur sudah kental dan siap disajikan.

__ADS_1


"Waaah.. Udah jadi ibu rumah tangga beneran lo ya, Ja? pagi-pagi udah sibuk didapur. Mana wanginya sampai kamar lagi." Jingga mendekat untuk melihat apa yang Senja masak.


"Emang kamu, nggak bisa masak." Farri yang membuntuti istrinya menyahut. Membantu putrinya duduk di meja pantry siap untuk sarapan.


"Iih aku kan udah bisa masak buat Sisi, bang! iya kan sayang?" protes Jingga kemudian menatap putrinya meminta dukungan.


Awalnya Sisi mengangguk dan membuat Jingga senang. Namun kata yang keluar dari mulut putrinya seketika membuatnya mencebik.


"Mami memang bisa memasak. Tapi rasanya tidak enak."


Senja dan Farri seketika tergelak. Apa lagi melihat ekspresi wajah Jingga yang ditekuk masam.


"Udah nggak usah manyun! mending bantuin kasih ayam sama taburin wijennya biar cepat sarapan." Senja menyerahkan ayam yang sudah ia suwir dan biji wijen.


Masih dengan wajah ditekuk, Jingga menuruti apa yang Senja perintah. Ia memberi ayam pada tiap mangkuk bubur dan menaburi wijen untuk bagian akhirnya.


"Gue panggil Bas dulu. Jangan pada sarapan duluan!" pesan Senja sebelum pergi meninggalkan dapur.


Senja kira, suaminya masih tidur seperti hari weekend biasanya. Tapi ternyata prianya itu tengah memakaikan baju pada putri mereka yang sudah dimandikan. Aroma bayi dan minyak telon menguar begitu Senja membuka pintu kamar.


"Waah anak mommy sudah cantik sekali." punjinya dengan mencium pipi putrinya gemas.


Bayi kecil itu merespon dengan merancau bahasa bayi yang Senja tidak tahu apa artinya.


"Iya dong. Tadi princess daddy nangis. Ternyata pup. Ya udah mandi sekalian." sahut Baskara yang kini mulai mengolesi rambut putrinya dengan minyak rambut khusus bayi.


"Makasih daddy.. sudah mandiin baby Anna." ucap Senja dengan logat anak kecil.


"Kiss dulu dong buat ganti kata makasih. Karena itu nggak perlu."


Senja menuruti apa yang suaminya mau. Setelahnya mereka keluar untuk sarapan bersama. Selagi bubur yang ia buat masih hangat.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2