
Jika ini mimpi, Baskara harap tidak ada yang membangunkannya.
Jika ini hanya halusinasi, ia rela tenggelam didalamnya.
Asal ia bisa mendengar jawaban yang baru Senja ucapkan.
Bagaimana ia tidak merasa seperti itu. Senja mengatakan bulan depan hari pernikahan mereka. Gadis itu tidak hanya menerima lamarannya. Tapi juga sudah menentukan tanggal pernikahan. Dan ia tidak terlibat sama sekali dalam semua itu.
"Ma-maksunya?" akhirnya setelah sekian lama membeku, ia mampu menggerakan lidahnya meski terasa kaku.
"Sebenarnya pengin buat kejutan nanti. Lo aja bikin gue syok tiba-tiba ngelamar padahal hubungan kita cuma sahabat."
Baskara kembali mendekati tempat tidur Senja. Alvaro yang tahu kedua muda-mudi itu butuh ruang berdua pun melenggang keluar.
"Jadi gue pengen balas dendam." kekehnya kecil dengan memamerkan gigi rapinya. "Biar lo juga syok pas Bunda bawa ke hotel dihari pernikahan kita. Tapi gue nggak tega lihat lo tiap malam di luar."
Baskara membulatkan matanya. Ternyata Senja tahu keberadaannya dan gadisnya itu membiarkannya begitu saja!
"Lo tahu?" tanyanya tercekat.
"Tiapa pagi security lapor sama gue. Gimana gue nggak tahu." kediknya tanpa rasa bersalah.
"TEGA BANGEEETTT." teriak Baskara dengan wajah ditekuk dengan ekspresi menangis. "Harusnya gue yang nyiapin pernikahan buat kita! tapi malah gue nggak tahu sama sekali huaaa."
"Eh eh?" Senja panik melihat Baskara benar-benar menangis bukannya senang. "Jangan nangis dong, Bas. Masa calon suami gue nangis." hiburnya menepuk pelan bahu pemuda itu. Semburat merah muncul di kedua pipinya begitu menyebut kata 'calon suami'.
"Habisnya lo tega! lo nggak tahu gimana frustasinya gue nunggu jawaban dari lo. Gimana gue tiap malam nggak bisa tidur takut lo tertekan karena gue yang selalu nuntut jawaban. Gimana gue merasa bersalah karena langsung melamar tanpa pendekatan dulu. Gue takut salah langkah dan kehilangan lo." papar pemuda itu yang sibuk menyeka air matanya dengan malu.
Senja senang mendengarnya. Dengan senyum manisnya ia membantu mengeringkan air mata Baskara dengan ibu jarinya.
"Maaf ya?" ucapnya sepenuh hati. "Gue bukan nggak mau lo terlibat dalam persiapan pernikahan. Tapi gue kesel aja di buat syok."
Baskara menumpukan tangannya diatas tangan Senja yang masih menghapus air matanya. "Tapi lo nerima gue karena keputusan lo sendiri kan, Ja? bukan karena paksaan siapa pun atau karena lo kasihan?"
Senja mengangguk mantap. "Gue nerima lo tulus kok."
"Tulus doang, nggak ada alasan lain?" mengerucutkan bibirnya menggemaskan.
"Alasan lain apa?" tanya Senja. Bukannya ia tak tahu apa yang ingin Baskara dengar. Ia hanya malu untuk mengatakannya.
"Gue ngelamar lo karena gue cinta sama lo, Senja. Karena gue sayang sama lo dan pengen lo selalu ada didekat gue." jemari Senja sudah ia genggam diatas pangkuan. "Dan alasan lo?"
Senja menunduk. Menyembunyikan rona wajahnya. Gadis itu mengerang dalam hati. Kenapa akhir-akhir ini wajahnya sangat mudah merasa panas hanya karena Baskara. Kenapa ia harus tersipu seperti saat ini padahal mereka sudah saling mengenal selama 19 tahun. Menyebalkan!
__ADS_1
"Gu-gue..." Senja menarik napasnya dalam. Mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai menggila. "Gue juga." hanya itu yang mampu ia katakan.
"Juga apa?" cecar Baskara tak puas.
"Iiih Babas! pokoknya gue juga! kayak yang lo tadi bilang!" gadis itu mengangkat wajahnya yang masih semerah tomat dengan kesal.
"Yakan gue nggak tahu sayang.. Gue nggak bisa baca hati lo kalau lo nggak ngomong langsung."
Akh sial! jantungnya semakin berdegup kencang saat Baskara memanggilnya 'sayang'.
"Ya.... Ya.... YA GUE JUGA CINTA SAMA LO!" teriak Senja memberanikan diri melawan degup jantung yang membuatnya semakin malu untuk berucap.
Namun setelah ia berteriak seperti itu, Senja malah semakin malu dan memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "Begoo! Begoo! Begoo! kenapa teriak segala sih!" makinya dalam hati.
Baskara sempat kaget mendengar Senja berteriak. Tapi senyumnya mengembang melihat betapa menggemaskannya Senja ketika sedang malu-malu seperti itu.
Aah. Baskara lupa! semua ekspresi Senja memang selalu terlihat menggemaskan untuknya. Meski ekspresi kali ini lebih menggemaskan dan manis baginya.
"Kenapa ditutupin. Gue seneng dengarnya." mencoba meraih selimut dan membawanya menjauh dari wajah cantik calon istrinya.
Kini, ia sudah boleh memanggil Senja dengan sebutan 'calon istri' bukan?
Rasanya Tuhan tengah berbaik hati padanya hari ini. Bagaimana tidak baik, Senja sudah tidak demam, gadis itu menerima lamarannya, dan terakhir adalah perasaannya berbalas.
"Kenapa mesti malu? emang lo abis nyuri apa?"
Mengintip dari sela jemarinya. "Lo nggak akan ngetawaim gue kan?"
"Enggak lah.. Gue seneng banget tahu, Ja."
Mendengar jawaban Baskara, Senja lalu membebaskam tangannya. Merapikan rambut yang sedikit berantakan karena bangun tidur dan berdeham.
"Lo nggak pengen tahu kapan gue kasih jawaban?" tanyanya heran, karena Baskara tak menyinggung hal itu sama sekali.
"Bagi gue, nggak penting kapan lo jawab. Asal lo nerima gue." jawabnya. "Tapi karena lo nyinggung hal itu, jadi kapan sebenarnya lo kasih jawaban. Dan kapan kita menikah?"
Lalu Senja menceritakan semua sejak awal. "Sebenarnya gue udah punya jawaban pas kita masih di NY. Tapi gue nggak mau aja jawabnya ke elo."
Jadi seminggu setelah kepulangan mereka, ketika Baskara menginap di rumah omanya. Orang tua Baskara di undanga makan malam sekaligus untuk memberi jawaban.
Dan disanalah mereka merencanakan sebuah pernikahan mewah meski Senja sudah menolak. Pricilla juga yang menyematkan cincin dijari Senja secara langsung.
"Gue maunya jangan yang terlalu mewah. Tapi ayah sama bunda bilang, lo anak satu-satunya. Jadi mereka pengen kasih yang terbaik yang mereka mampu buat lo."
__ADS_1
"Tapi kalau lo nggak mau, aku bisa bilang sama mereka buat bikin pesta yang kamu mau." Baskara langsung merubah panggilannya. Tapi Senja enggan mengikuti. Geli rasanya memanggil Baskara dengan kamu. Biar nanti waktu yang merubah panggilannya.
"Nggak usah. Kapan lagi kita bahagiain orang tua kita." menatap lurus iris hitam didepannya. "Selagi kita mampu, kenapa enggak kan?"
Baskara mengangguk dengan bangga. Tak salah ia memilih Senja menjadi istrinya. Gadis yang mau mengerti dan mengalah pada orang tuanya.
"Lagian, gue juga udah bilang buat ijab kabul langsung resepsi." Baskara mendengarkan dalam diam. Menatap gadis yang antusias bercerita apa yang dibahas malam itu. Padahal ia kira Senja tidak akan seantusias ini dalam pernikahan mereka. Mengingat gadis itu yang lama menjawab lamarannya.
"Baju pernikahannya gimana?" Senja bilang ia hanya akan memakai satu baju dari ijab kabul hingga resepsi selesai. Tapi mereka bahkan belum fitting baju sama sekali.
"Baju buat elo, bunda udah pesen di desainer langganan keluarga kalian. Nanti tinggal ngepasin aja."
"Terus buat, kamu?"
Senja beranjak berdiri. Menarik tangan Baskara menuju ruang ganti miliknya.
Ketika pintu terbuka, mulut Baskara menganga melihat manekin yang terpasang gaun pengantin yang sangat cantik.
Jadi ini kesibukan Senja belakangan yang membuat gadis itu sakit?
"Kenapa nggak bikin di butik aja? kenapa hatus bikin sendiri sampai sakit?" sedikit kesal sebenarnya. Tapi bagaimanapun ia tak bisa marah pada gadisnya itu.
"Gue pengen nuangin perasaan gue kedalam gaun yang gue pakai di hari penting gue nanti. Biar semua orang juga tahu betapa bahagianya gue berdiri disamping lo sebagai mempelai wanita."
Hati Baskara sangat tersentuh. Pandangannya buram.
Hari ini Senja membuatnya benar-benar lemah dan berteman dengan air mata. Tapi ia bersyukur karena air mata ini air mata bahagia.
"Aku boleh peluk nggak sih, Ja?" maka ketika gadis didepannya mengangguk malu-malu, Baskara langsung merengkuhnya erat. Menghirup aroma khas milik Senja.
Pelukan ini, adalah pelukan yang sudah sangat ia ingin lakukan sejak rasa cinta itu ada. Dan hari ini ia mendapatkannya.
*
*
*
Cieee calon manten peluk-pelukannn. Piiiwwiittt... Awas belum halal, nanti ada setan lewat hahaha
Ayoo gaes.. Jangan lupa datang ya.. Kasih amplop yang tebel buat bekel balik ke NY wkwkwkwk
__ADS_1