
"Kenapa?" Farri menutup pintu kamar anak-anak dibelakangnya setelah menemani mereka tidur ketika melihat istrinya pulang dengan wajah yang terlihat masam. "Acaranya ngebosenin?"
Memeluk lengan suaminya dan melangkah bersama kedalam kamar mereka. Jingga menjawab. "Bosenin karena abang nggak ikut."
"Bukannya aturannya memang begitu? bukan cuma kamu juga kan yang datang sendiri?"
Jingga mengangguk sebelum merebahkan tubuhnya dengan kaki menggantung. Menatap langit-langit kamar. "Dan sekarang aku nyesel ada yang bikin aturan begitu."
"Kenapa? abang nggak keberatan kok kamu datang tanpa abang. Biar kamu nggak bosen dan bisa mengenang masa-masa SMA tanpa perlu ragu karena takut abang akan cemburu."
"Aku lebih milih dicemburuin." sambar Jingga mantap suaminya.
"Lagi pula, apa yang mau abang cemburuin. Kamu bahkan nggak punya mantan gebetan atau mantan pacar selain Babas!" Farri masih berdiri melipat tangan, bertanya pada istrinya dengan sebelah alis terangkat.
"Justru itu!" Jingga berjingkat duduk. Terlihat raut kesal diwajahnya yang manis. "Mereka pada ngomongin aku sama Babas. Bahkan ada yang ngomporin Senja." Jingga kemudian menceritakan apa yang terjadi yang juga menjadi penyebab dirinya badmood seperti saat ini.
"Tapi Senja bukan tipe yang akan berpikir sedangkal itu kan?"
"Emang sih. Walaupun dia jadi badmood dan milih pulang. Tapi syukurnya nggak terpengaruh dan nggak mikir yang enggak-enggak tentang aku sama Babas."
Fari mengurai jalinan tangannya dan beranjak duduk di sofa. Karena sepertinya istrinya masih ingin berbagi cerita. Terlihat dari Jingga yang ikut beranjak dan duduk disebelahnya. Melingkarkan tangan di pinggang dan menyandarkan kepalanya disana.
"Kalau Babas punya niat nggak baik buat Senja, nggak mungkin abang ngizinin dia untuk nikahin Senja." Farri kembali berucap menjelaskan.
"Abang, Vindra, mama sama papa nerima lamaran Babas itu karena memang kami percaya kalau Bas tulus. Kalau dia memang berniat baik dan benar-benar mencintai gadis kesayangan kami bersama."
"Kami juga percaya Bas bisa jagain Senja dan membuat dia bahagia. Bukan semata-mata karena kami merasa bersalah udah mengambil kamu dan kami kasih Senja sebagai gantinya. Bukan." Farri mengecup dahi istrinya.
"Senja bukan mainan yang bisa Bas mainin begitu aja. Ada banyak yang akan ikut merasa terluka dan membalas luka itu. Karena abang akan jadi orang pertama yang memberi Bas pelajaran kalau dia sampai berani nyakitin adik abang."
Jingga mengangguk. Jingga percaya itu. Tak pernah Jingga ragukan kasih sayang keluarga suaminya untuk Senja. Bahkan dari sejak ia belum memasuki rumah itu dan menjadi bagian di dalamnya.
"Dan abang juga percaya masa lalu kamu dengan Bas sudah berakhir. Kalian sudah sama-sama selesai dengan masa lalu dan nggak lagi menyimpan perasaan untuk satu sama lain selain sebagai saudara ipar sekarang."
Senyum Jingga akhirnya mengembang. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami. "Makasih abang.. Makasih untuk nggak ngeraguin perasaan aku sama abang."
__ADS_1
"Abang nggak ada bilang abang nggak ragu sama perasaan kamu."
"Tadi abang bilang percaya kalau perasaan aku sama Bas cuma sebatas ipar!"
"Kan abang percayanya sama Bas. Bukan sama kamu." Farri terus menggoda istrinya.
"Iih! masa abang lebih percaya sama orang lain dari pada istri abang sendiri!" Jingga mendorong tubuh suaminya menjauh.
"Memangnya apa yang abang harus percaya dari kamu?"
"Ya abang harus percaya kalau aku cintanya sama abang! aku sayang abang dan nggak ada laki-laki lain yang aku cintai seperti abang!" seru Jingga dan langsung membuang muka.
Farri tersenyum geli dan kembali mendekati sang istri. Memeluk pinggang istrinya yang masih terjaga bentuknya. "I love you too sayang." balas Farri untuk serentetan kekesalan istrinya. Menyusup kedalam ceruk leher sang istri dan menghirup aromanya dalam.
Mana bisa Jingga marah dengan kelembutan dan sikap manis suaminya. Ia tak sekuat itu untuk marah. Dengan senyum mengembang Jingga berbalik untuk memeluk suaminya erat.
"Jadi abang percaya kan?"
"Iya sayang. Tanpa kamu harus mengucapkan cinta pun abang tahu kalau kamu cinta sama abang." ujar Farri kemudian.
Farri menunjuk dada Jingga. Menunjuk tepat dihatinya. "Cinta itu rasa. Dan rasa bisa dirasakan dengan hati tanpa perlu kamu ngungkapin cinta."
Jingga mengangguk mengerti. Seperti suaminya yang sangat jarang mengatakan cinta. Tapi ia tahu betapa suaminya sangat mencintainya.
"Bahkan orang yang ngomong cinta belum tentu dia benar-benar jatuh cinta. Banyak yang hanya terucap di mulut tanpa hati."
"Iya, banyak banget malah yang ke makan janji palsu."
"Makanya, mending yang nggak terucap tapi terbukti kan?"
Jingga mengangguk dan semakin menelusupkan dirinya dalam pelukan Farri. "Aku beruntung bisa jadi istri abang."
Suami yang lebih dewasa. Lebih mengayomi, menyayangi dan menjaganya, lebih dari apa yang Jingga harapkan ketika memimpikan rumah tangga bahagia.
Karena Farri sudah menjadi definisi suami idaman baginya.
__ADS_1
Meski mereka bersatu karena sebuah kesalahan. Tapi tak sekalipun Farri memperlakukannya dengan buruk.
Ketika ia membuat kesalahan dan membuat suaminya marah, Farri hanya akan mendiamkannya untuk beberapa saat.
Tak sekalipun Farri membentak dan berbuat kasar padanya.
Dan untuk alasan itu semua, Jingga tak lagi merasa trauma dengan apa yang terjadi pada mereka di awal.
Jingga justru merasa bersyukur atas kejadian itu. Hal yang awalnya petaka kini berubah menjadi anugerah yang akan Jingga pertahankan hingga akhir.
Tak akan ia izinkan seorang pun untuk merusak kebahagiaan rumah tangganya. Akan ia hempaskan semua wanita penggoda yang berniat merayu suaminya.
"Lusa abang ke luar kota, kamu mau ikut?" tanya Farri ketika mereka sudah sama-sama merebahkan diri diatas tempat tidur.
Biasanya jika Farri ke luar kota dan ada destinasi wisata yang bagus, Jingga dan anak-anak pasti akan di ajak. Tapi kini Jingga sudah memiliki tanggung jawab dengan pekerjaan di tempat Senja. Jadi tidak mungkin ia mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja.
"Aku lihat-lihat dulu ya bang. Nggak enak juga sama Senja. Masa belum ada sebulan kerja udah cuti."
"Biar nanti abang yang bilang ke Senja."
Jingga menggeleng keras tak setuju. "Besok ada pemotretan buat sampel baru. Kalau memang aku bisa selesai besok, aku ikut. Tapi kalau enggak, aku di rumah aja."
"Bener?" tanya Farri memastikan. "Ini wisatanya bagus banget lho.. Kamu nggak akan nyesel kalau ikut."
Jingga menggigit bibir bagian dalamnya bimbang. Ia sudah akan mengangguk, tapi berakhir gelengan tak rela yang membuat Farri tertawa gemas.
"Selesaikan dulu kerjaannya. Siapa tahu besok kelar." Farri memberi semangat. "Lagian abang berangkatnya malam. Jadi lusa kamu masih bisa kerja sebelum kita berangkat. Biar bibi yang siapin perlengkapan kita sama anak-anak."
Bola mata Jingga berbinar bahagia. Meskipun liburannya tidak selalu ditemani sang suami yang sibuk bekerja disana. Tapi Jingga dan liburan tetap saja sulit dipisahkan.
*
*
*
__ADS_1