Langit Senja

Langit Senja
Anak Kita Lapar


__ADS_3

Farri duduk dengan menumpukan kaki kanan di atas kaki kirinya. Tubuhnya ia sandarkan di atas sandaran sofa tempatnya menunggu sang istri dengan tangan yang terlipat di depan dada.


Senyumnya mengembang melihat keantusiasan istrinya berkeliling memilih dress yang cocok. Hingga tepukan pada bahunya membuat fokusnya beralih pada perempuan berpakaian seksi yang terlihat sepantaran dengannya. Berdiri menjulang di sampingnya.


"Farri?" seru wanita dengan tubuh semampai terlihat terkejut. "Ya ampun, udah lama banget kita nggak ketemu!"


Farri masih mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat siapa gerangan wanita yang kini duduk sangat dekat dengannya. Lebih bisa dibilang menempel dibanding duduk biasa.


Farri yang masa mudanya terbiasa dikelilingi wanita cantik yang menempel padanya membiarkan saja hal itu terjadi. Ia sendiri heran pada wanita-wanita yang selalu ingin dekat dengannya. Apa mereka tidak lelah berusaha mendekati pria yang tidak bisa mereka dapatkan.


"Ya ampun. Lo lupa sama gue?!" tanya wanita itu dengan gaya terluka yang dibuat-buat begitu Farri masih diam tak merespon dan berkata apa pun.


Ya. Farri memang benar-benar lupa siapa wanita disebelahnya. Karena semenjak lulus kuliah, dunianya benar-benar hanya di kelilingi keluarga, pekerjaan, dan kekasihnya. Bahkan teman-teman nongkrongnya saja ia jarang bertemu. Dan temannya hanya itu-itu saja, tidak ada yang baru.


Pria itu menggaruk tengkuk dan tersenyum kikuk meminta maaf.


"Ya ampun, teganyaaa." wanita itu bahkan kini berani memeluk lengannya dan menyandarkan kepalanya disana. "Gue Gladis. Temen SMA lo! masa lupa sih?"


Farri mencoba mencari nama Gladis dalam ingatannya juga mencari seperti apa Gladis di masa sekolahnya. "Ooh Gladis si cupu itu?!" serunya heboh, membuat wanita disebelahnya berdecak sebal tapi tak melepaskan belitan tangannya di lengan Farri.


"Gladis si kaca mata gajah kan?" serunya dengan terkekeh. Gladis yang ia ingat adalah gadis cupu dengan rambut yang selalu di kepalang satu dan kaca mata bulat besar plus tebal. Karena kaca mata yang besar itu lah Farri selalu menyebutnya kaca mata gajah.


Jika murid-murid yang lain membuly Gladis, Farri justru merangkul gadis itu. Selalu mengajaknya bergabung dengan teman-temannya di kantin.


Mengajak duduk bersama agar tidak ada yang berani mengganggu Gladis lagi.


Farri tidak peduli dengan teman-temannya yang selalu meledek mereka berpacaran. Farri tidak pernah mengatakan iya atau tidak. Karena yang terpenting bagi Farri, ia dan Gladis tahu hubungan mereka hanya sebatas pertemanan.


Mungkin bagi Farri, pria itu hanya sebatas kasihan dan memberikan uluran tangan untuk Gladis.

__ADS_1


Tapi dengan perhatian-perhatian dan segala macam pembelaan yang Farri berikan untuknya, Gladis salah paham dan mengira jika Farri memiliki perasaan untuknya.


Hingga kepindahan Farri untuk kuliah di luar negeri membuatnya sadar jika ia hanya dianggap sebatas teman oleh Farri. "Kita akan tetap bisa berteman. Meskipun nanti gue atau lo udah punya kekasih." itulah kalimat perpisahan mereka. Yang membuat Gladis sadar jika Farri menginginkan wanita lain sebagai kekasihnya. Bukan dirinya.


Padahal dulu Gladis sudah menunggu bertahun-tahun hingga mereka lulus. Karena prinsip Farri tidak pacaran selama belum lulus sekolah.


Dan keberangkatan Farri keluar negeri adalah pertemuan terakhir mereka. Gladis mencoba menghilang dan melupakan Farri. Gadis itu menutup semua komunikasinya dengan Farri


Belajar merubah penampilannya agar suatu hari nanti ada seorang pria yang menginginkannya untuk menjadi kekasih. Tak seperti saat itu yang orang-orang lebih ingin membuly-nya dibanding dekat dengannya.


"Lo belajar apa selama kuliah, bisa dandan begini?" seloroh Farri. Karena jujur ia lebih suka dengan Gladis cupu teman SMA-nya di banding wanita seksi yang mengumbar tubuhnya begitu.


"Kalau gue masih cupu, mana mungkin sekarang gue udah punya pacar." cebik gadis itu begitu mendengar sindiran temannya itu.


"Jadi pacar lo cuma mau lihat tubuh lo doang?" tanyanya tak setuju. "Dulu sebelum gue pergi, perasaan gue udah pernah bilangin lo deh. Cari cowok yang nerima lo apa adanya. Yang sayang sama lo dengan tulus."


Gladis tak mau mendengarkan ucapan Farri. Toh ia sudah terlanjur berubah. Dan dia juga sudah bahagia dengan kekasihnya kini. Begitu pikir Gladis.


Jingga juga terlihat sekali dengan sengaja menepuk-nepuk lengan Farri tepat dimana tadi Gladis memeluk dan bersandar seakan menghilangkan kuman yang Gladis tinggalkan disana.


Farri menatap istrinya bingung dengan kelakuannya. "Banju abang kenapa?" tanya Farri polos. Sedangkan Jingga dan Gladis sama-sama memutar kedua bola mata mereka mendengar ketidak pekaan pria itu.


"Siapa Farri?" tanya Gladis menatap Jingga dari atas sampai bawah dengan tatapan mengejek. Dasar anak kecil.


"Jingga, kenalin. Ini kak Gladis, temen SMA abang dulu." Farri menunjuk Gladis pada Jingga.


"Dan ini.." Farri merangkul bahu sang istri. "Namanya Jingga, istri gue." ujarnya dengan bangga.


Gladis membuka mulutnya lebar tak percaya. "L-lo.. Lo udah kawin? sama anak ingusan ini?" Gladis menatap Farri dengan mata berkedip berkali-kali tak percaya.

__ADS_1


Jingga berdecak sebal. "Enak aja anak ingusan! ingusan begini juga udah bisa bikin anak!" gumam Jingga yang sengaja sedikit keras agar Gladis mendengarnya.


Tapi bukan Gladis yang syok, justru suaminya yang menatap Jingga tak percaya. Sejak kapan istrinya bisa berbicara seperti itu?


"Udah ayooo baaaang." ajaknya dengan suara dibuat semanja mungkin. "Aku udah laper. Nanti anak kita kelaperan, lagi!" imbuhnya dengan mengusap perutnya yang rata dan belum ada isinya selain sarapan tadi pagi dan popcorn. Jingga menarik tangan Farri dan meletakan paper bag berisi belanjaannya di tangan suaminya, kemudian meninggalkan pria itu lebih dulu.


Farri semakin dibuat tak percaya dengan tingkah Jingga. Benarkah yang baru saja itu istrinya?


Jika Senja yang berbuat seperti itu, ia akan percaya. Karena dulu ketika ia tengah jalan berdua dengan adiknya itu, ada perempuan yang mendekatinya juga. Senja langsung menarik tangannya untuk mengusap perut adiknya yang nakal itu. Farri ingat persis, kalimatnya hampir sama seperti Jingga tadi.


"Ayooo abang. Anak kita sudah lapar." begitu ucap Senja saat itu. Langsung menariknya dan meninggalkan temannya begitu saja.


"Gue duluan ya, istri gue udah laper." Farri buru-buru pamit sebelum ia kehilangan istri kecilnya yang tengah berulah itu.


Jika Senja akan terbahak-bahak setelah sukses membuat Farri menyingkir dari wanita yang mendekatinya.


Lain dengan Jingga yang langsung diam seribu bahasa dan membuat Farri bingung bukan kepalang.


Sepanjang makan siang mereka, Jingga hanya memakan makan siangnya tanpa sepatah katapun.


Bahkan ketika Farri bertanya ingin memesan apa, istrinya itu hanya bilang "terserah." Dan ketika ia memilihkan makanan yang sekiranya Jingga cocok, Jingga hanya menjawab dengan dehaman.


Pun ketika Farri mencoba mengajak istrinya mengobrol. Jingga hanya menjawab dengan "iya" atau "tidak"


Farri menggaruk belakang kepalanya bingung dengan perubahan istrinya. Kira-kira kesalahan apa yang sudah ia perbuat.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2