
Menggunakan dress batik yang ia pesan khusus dan dibawakan orang tuanya langsung dari Indonesia, Senja siap menjadi pendamping wisuda.
Mendampingi pria tampan yang mengenakan hem putih yang nanti akan dibalut dengan toga. Tak lupa dasi batik yang memiliki corak yang sama dengan dress yang ia kenakan.
Baik kedua orang Senja, kedua mertua dan juga para Oma dari pihak sang suami sudah hadir sejak tiga hari yang lalu. Dan mereka menginap di hotel tak jauh dari kampus suaminya sejak kemarin setelah sebelumnya menginap di NY.
Kini semuanya tengah bersiap-siap. Dan yang terlihat paling antusias adalah kedua orang tua Baskara.
Mungkin karena Baskara adalah anak semata wayang. Apa pun prestasi atau hasil yang didapat akan berharga bagi dua paruh baya itu. Dan beruntung Baskara bisa menjadi anak yang dapat untuk dibanggakan.
Disisi lain, Senja merasa amat gugup. Padahal bukan ia yang akan di wisuda. Melainkan suaminya. Tapi justru ia sudah bolak balik kamar kecil sejak subuh tadi. Padahal suaminya santai saja menghadapi hari ini. Seakan hari ini tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain.
Karena Baskara lebih menantikan hari kelahiran putrinya. Baginya wisuda sudah tidak lagi penting setelah kemarin ia lulus sidang.
"Udah pipisnya? atau mau pakai diapers aja?" tawar Baskara yang tidak tega melihat istrinya bolak balik kamar kecil.
Kehamilan yang sudah menginjak usia sembilan bulan saja sudah sering membuat Senja buang air kecil. Ditambah gugup, calon ibu muda itu jadi semakin sering lagi.
Senja berdecak dan memanyunkan bibirnya. "Emang aku bayi pakai diapers. Aku tuh cuma gugup!" serunya kesal. Dan semakin kesal lagi ketika suaminya mencubit hidungnya dan terkekeh.
"Uluh uluh manisnya.." ucap Baskara dengan gemas membawa tubuh istrinya kedalam pelukan. Ia menyebut manis karena Senja tidak suka jika dibilang menggemaskan. Katanya dengan perut besar seperti saat ini, jika ada yang menyebutkan menggemaskan, ia merasa seperti beruang. Dan gadis itu akan kesal.
"Kan ada aku sayang. Kalau kamu gugup, kamu cukup genggam erat tangan aku dan rasakan betapa sayang dan cintanya aku sama kamu."
Ketika Senja mencoba tips yang suaminya berikan, jantungnya malah justru semakin tak karuan. Tips dari suaminya itu justru semakin memacu kinerja jantungnya lebih cepat.
"Aaah malah tambah deg-degan!" seru Senja mengibaskan tangan suaminya begitu saja.
Baskara semakin tergelak melihat tingkah istrinya itu.
"Jadi mau berangkat nggak nih sayang. Udah mau mulai lho."
Melihat jam yang menunjukan waktu acara akan segera dimulai, Senja mencoba menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan dengan mata tertutup.
Setelah merasa lebih baik, ia kembali menautkan tangannya dengan tangan besar sang suami. Mengisi sela jari suaminya untuk saling menggenggam.
"Ayo kita berangkat. Baby juga udah pengen lihat seberapa mempesonanya daddy saat pakai topi toga nanti."
***
__ADS_1
Setelah serangkaian acara seperti pembukaan, sambutan, juga penghargaan untuk lulusan terbaik. Tibalah saatnya pewisudaan tingkat fakultas diwisuda oleh dekan masing-masing fakultas.
Tatapan bangga terpancar dari mata Senja yang terlihat berkaca-kaca ketika melihat suaminya naik keatas panggung.
Disaat yang bersamaan, perutnya terasa semakin tidak nyaman. Tapi ia mencoba menahannya. Ia kira itu masih pengaruh rasa gugup. Karena ia sudah merasakan rasa itu sejak bangun tidur subuh tadi. Meski saat ini rasanya lebih memilit lagi.
"Kenapa sayang?" tanya Tiara ketika melihat putrinya mengernyitkan alisnya seperti tidak nyaman.
Senja masih mencoba tersenyum dan menggeleng. "Nggak pa-pa mah. Senang aja lihat Bas." tangannya mengusap perutnya agar kembali nyaman. Meski hal tersebut tidak menimbulkan reaksi apa pun.
Mereka semua berfoto dengan Baskara setelah acara selesai. Dimulai dengan foto bersama, Baskara dengan kedua orang tuanya, kemudian dengan Senja dan menyisakan para Oma dan orang tau Senja sebagai yang terakhir.
Senja mencengkeram lengan suaminya kuat ketika rasa itu datang lagi tepat setelah keduanya mengambil gambar. "Kenapa, ayy?"
Senja masih menggeleng dengan tenang. Tidak ingin acara bahagia milik keluarga suaminya yang tidak akan pernah terulang lagi dalam keluarga itu berantakan.
"Kamu yakin? muka kamu pucet gitu?"
Senja kembali menggeleng. "Aku nggak pa-pa mas. Mungkin cuma capek aja."
Baskara menatap sekeliling dan mengajak istrinya untuk duduk. Memberikan botol minum yang tersedia di dalam tas Senja.
"Duduk dulu disini ya. Selesai foto, kita pulang."
Tak lama suaminya pergi, ia merasa ada yang mengalir lewat jalan lahirnya. Bersamaan dengan rasa yang lebih hebat menyerang perut bagian bawahnya.
"Pahh..?" panggilnya pada Alvaro yang berdiri paling dekat dengannya. Karena Baskara tengah berfoto dengan Pricilla setelah semua mendapatkan jatah foto bersama.
"Kenapa sayang?" tanya Alvaro yang berjalan mendekat.
"Senja pipis." tunjuknya pada air yang menggenang dibawahnya.
"Kenapa nggak bilang kalau mau pipis? bawa baju ganti nggak?" mengusap kepala anaknya lembut.
Alvaro yang ketiga anaknya lahir melalui proses caesar tidak tahu jika air yang putrinya tunjuk itu adalah air ketuban.
Senja menggeleng. "Perut Senja juga sakit." adunya lagi dengan suara yang bergetar.
Alvaro mengerjapkan matanya. Butuh waktu beberapa saat hingga ia menangkap situasinya. Perasaannya menjadi tidak enak. "Se-sebentar. Papa pangilkan mama, ya nak?"
__ADS_1
Kaki Alvaro terasa lemas ketika berjalan kearah istrinya. Ia tidak siap dengan posisi ini. Tidak siap melihat putrinya kesakitan untuk berjuang melahirkan cucunya.
"Mah?" panggilnya lirih dengan perasaan yang sudah tak karuan.
"Kenapa pah?" Tiara yang masih ingin mendapatkan foto berdua menantunya itu menoleh heran begitu mendapati wajah suaminya yang pucat.
"I-itu Senja."
Tiara mengernyitkan dahinya dan mengikuti suaminya yang berjalan dengan linglung kearah putri mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Tiara lembut.
"Senja pipis, mah." ucapnya sama seperti kepada ayahnya tadi.
"Pipis?" tanya Tiara lagi dengan kernyitan didahi tak mengerti.
Senja mengangguk dan menunjuk air dibawah kakinya. "Perut Senja juga sakit."
Mata Tiara langsung melotot melihat cairan dibawah kaki anaknya. Juga dengan perkataan terakhir anaknya.
"Ya Tuhan Senja! itu bukan pipis!" pekiknya khawatir.
Bagaimana anaknya bisa mengira itu air seni padahal Senja sering melapor padanya setelah mengikuti kelas hamil. Dan jelas-jelas dalam kelas itu dijelaskan tanda-tanda melahirkan. Termasuk dengan air ketuban itu apa dan bagaimana penanganannya.
Keributan Tiara membuat Baskara dan yang lain ikut mendekat. "Kenapa mah?"
"Istrimu mau melahirkan! cepat bawa kerumah sakit! hubungi dokter yang biasa menangani Senja! bilang kalau air ketubannya sudah pecah!" perintah Tiara dengan panik.
Demi apa pun, Tiara lebih memilih melahirkan sendiri dari pada harus menyaksikan putrinya melahirkan.
Saat menantunya melahirkan saja ia tak kuasa mendengarnya merintih. Apa lagi kini putrinya sendiri. Putri yang ia kandung, susui dan besarkan sepenuh hati.
"APA?" pekik yang lain bersamaan. Sama kaget dan paniknya.
Wajah Baskara tak berbeda dengan wjaah Alvaro yang seputih kapas. Namun logikanya masih bisa berjalan dengan baik. Hingga tak menunggu lama ia langsung membawa tubuh istrinya dalam gendongan ala bridal dan membawanya lari ke tempat ia memarkirkan mobil.
Adegan itu banyak mengambil perhatian wisudawan lain. Banyak dari mereka yang mengabadikan dan mengunggahnya dimedia sosial.
*
__ADS_1
*
*