Langit Senja

Langit Senja
Grace


__ADS_3

Mengawali hari dengan suasana hati yang bahagia. Berharap sepanjang sisa hari akan berlalu dengan baik pula.


Tapi sepertinya Senja lupa jika didalam rumahnya ada perempuan yang tidak diharapkan kehadirannya.


Dan perempuan itu merusak suasana hatinya yang tengah menyiapkan sarapan.


"Hoaam.." Grace menguap lebar dengan penampilan yang masih acak-acakan dengan pakaian minim dan tidak pantas untuk dilihat Baskara.


Senja hanya melirik dan mencebik. Tak ada niatan untuk menyapa meski Grace adalah tamu dirumahnya.


"Lo cuma bikin roti isi? gue laper.. Nggak bakal kenyang makan begituan doang."


Dengan menyebalkannya Grace duduk di pantry dan hanya mengomentarinya dengan bertopang dagu.


"Udah numpang mah nggak usah banyak protes." ingin sekali Senja menyemprotkan saus dalam genggamannya ke arah dada Grace yang tak tertutup dengan baik.


"Gue disini bukan numpang! gue tamu!" balas Grace acuh.


"Mana ada tamu banyak tingkah." cibir Senja berlalu kedalam kamar. Tak lama kemudian kembali dengan hoodie ditangan.


"Apa nih!" tanya Grace sedikit protes ketika Senja meletakan hoodie itu dihadapannya.


"Pakai kalau nggak mau gue usir!" jawab Senja yang kini tengah mengambil bahan untuk masak lainnya.


Meski dengan mencebik kesal, Grace memakai juga hoodie untuk menutup gaun tidur satin miliknya.


"Nih potong bawang sama sosisnya!"


"HEII! mana ada tamu disuruh masak!"


Senja mengedik acuh. "Kalau lo mau terima makan roti ya nggak masalah."


Ia mengulum senyum membelakangi Grace untuk menyiapkan bahan lain ketika lawan bicaranya itu mendengus dan menghentakan kaki. Tapi tak pelak terdengar suara pisau yang beradu.


Sebenarnya bisa saja Senja masa bodoh dan membiarkan Grace makan apa adanya. Namun mengingat kehidupan awalnya di NY, membuatnya masih memiliki belas kasih.


Sepiring nasi goreng, tak membutuhkan waktu lama. Jadi apa salahnya jika kali ini ia sedikit berbaik hati memasakan untuk Grace.


Sebuah tangan melingkar di perutnya. Dengan kecupan mesra di pipi.


Pelukan hangat yang sudah setiap pagi ia dapatkan. Pelukan dari siapa lagi jika bukan dari suaminya.


Beruntung Baskara tidak salah merengkuh. Mengingat Grace tengah memakai hoodie miliknya.


"Aku kan mau makan sandwich sayang. Ngapain ngambil nasi?" suara serak khas bangun tidur Baskara terdengar seksi ditelinga Senja.


Grace bahkan merasa tergoda dengan suara itu. Membuatnya geram dan hati memanas ketika melihat Senja dan Baskara bermesraan didepannya. Seakan dunia hanya milik berdua.

__ADS_1


"Kalau mau mesra-mesraan dikamar sana! ganggu mata gue aja!" ujarnya kesal.


Senja menatap Baskara dengan alis terangkat sebagai ganti kata 'lihatkan?'


"Ada orang numpang tapi banyak protes."


Baskara terkekeh dan semakain bertingkah dengan menggigit leher Senja. Meninggalkan bekas kemerahan yang tak lama lagi pasti akan berubah keunguan. Menambah jejak yang semalam ia tinggalkan.


"Kayaknya aku harus pergi sebelum ada yang nikam aku dari belakang." kelakar Baskara ketika terdengar Grace membanting pisau. Memilih kembali masuk kedalam kamarnya untuk bersiap berangkat ke kantor.


"Selesaikan sendiri! gue mau mandi!" baru dua langkah, Grace sudah terdiam ketika mendengar balasan dari Senja.


"Terserah sih, kalau nggak mau makan."


Grace menggeram dan kembali melanjutkan apa yang Senja perintahkan padanya.


***


Kuliah Senja hari ini cukup padat. Ia juga sudah memberi kabar pada suaminya akan pulang terlambat.


Ia juga berniat berkunjung ke kediaman Maureen. Maureen menyampaikan padanya jika ibu gadis itu sudah memaksa berkali-kali untuk membawanya berkunjung.


Ia memang sudah lama tidak bertemu wanita paruh baya yang menganggapnya seperti putri sendiri. Bahkan tak jarang terlihat lebih memperhatikannya dari pada Maureen.


Sambutan hangat selalu ia terima setiap kali ia datang.


"Dia sibuk, mom." Senja mengambil cookies buatan tangan ibu Maureen yang selalu ia rindukan rasanya. "Tapi nanti kau akan bertemu dengannya saat menjemputku."


Jika memiliki jadwal pagi, Senja memang lebih sering berangkat bersama sang suami. Untuk pulangnya, ia lebih sering meminta diantar Maureen. Seperti saat ini.


"Apakah dia suami yang begitu manis, hingga kalian betah hanya hidup berdua?" goda ibu Maureen.


Senja hanya tersenyum canggung.


Bukan satu dua orang yang tahu statusnya akan berkata demikian. Pertanyaan yang bermaksud menanyakan momongan.


"Ayolah mom. Anak bukan hal penting lagi saat ini. Terlebih Senja masih begitu muda untuk memiliki anak." Maureen seakan bergidik membayangkan anak.


Sebenarnya itu hanya pengalihan saja. Agar perkataan ibunya tak membuat sahabatnya itu merasa tidak nyaman.


"Yaaa.. Kalian memang masih begitu muda." ibu Maureen mengangguk. "Aku bahkan menyayangkan kau harus menikah secepat ini, sayang."


Senja tersenyum hangat ketika tangan perempuan itu menyentuh pipinya.


"Bukankah yang penting aku bahagia, mom?" ia baru berani menanggapi. "Dan bukankah lebih baik seperti ini, dari pada putrimu yang tidur dengan kekasihnya tanpa ikatan pernikahan?"


Senja tergelak melihat Maureen memelototinya. Toh mereka tidak akan tersinggung dengan apa yang ia ucapkan.

__ADS_1


"Dia memang begitu nakal." sentuhan tangan ibu Maureen di puncak kepala putrinya terlihat manis dimata Senja. Membuatnya merindukan ibunya di Jakarta.


"Asal Rin tidak menangis. Aku tidak keberatan."


Maureen tersenyum jumawa kearah Senja. Membuat gadis itu tergelak.


Cukup lama Senja berbincang dengan ibu dan anak itu. Hingga Baskara menjemputnya pukul sembilan malam.


Keduanya juga mampir untuk makan malam diperjalanan pulang. Tak lupa membelikan juga untuk Grace atas saran Senja.


Ia tidak ingin di anggap sebagai tuan rumah yang kejam. Terlebih ia tidak ingin Grace mengadukannya pada Oma, hal yang tidak-tidak.


Sampai di koridor unitnya, Senja mengulum senyum melihat Grace yang duduk tertidur didepan pintu. Ingin tertawa tapi rasanya ia terlalu jahat.


Senja tahu, Grace tidak tahu passcode unitnya.


"Itu Grace ngapain tidur disitu?" tanya Baskara bingung.


Senja mengedik seolah tak tahu. Padahal sore tadi Grace menghubunginya, tapi tak ia angkat.


"Emang nggak telfon kamu, mas?"


Baskara mengambil ponsel yang masih ia mode silent. Dan memang ada beberapa panggilan tak terjawab juga pesan chat dari nama kontak yang ia beri nama Grace.


Senja menggoyangkan bahu Grace pelan. Membangunkan gadis yang tertidur dengan posisi tidak nyaman itu.


Erangan kecil terdengar hingga kemudian gadis itu membuka mata dan berjingkat berdiri dengan kaget.


Begitu tahu posisi dan orang didepannya, ekspresi marah langsung terlihat. Wajah putih itu berangsur memerah menahan geram.


"KALIAN TUH KENAPA SIH, DITELFON DI CHAT NGGAK ADA YANG JAWAB! NGGAK ADA YANG BALES?!"


Senja terkejut dengan reaksi Grace yang langsung berteriak, bahkan ketika mereka masih di koridor.


"NGGAK ADA YANG MIKIR APA KALAU GUE NUNGGU BERJAM-JAM DISINI!"


Baskara masih menatap datar Grace. Tak kaget lagi dengan sikap sepupunya itu yang mudah meledak-ledak.


"KALAU GUE DICULIK GIMANA?!"


"KALAU GUE DIGODAIN OM OM MESUM GIMANA?!"


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2