
Senja merasa beruntung Baskara lebih memilih mengalah tinggal dirumah dan merawat baby Anna ketika ia masih kuliah saat itu.
Karena ia tak bisa membayangkan jika dirinya yang berada di posisi kakak iparnya kini. Sesakit apa hati seorang ibu melihat anaknya menjadi korban kekerasan.
Bagi sebagian ibu, ketika melihat anak mereka dimarahi ayahnya saja jiwa sebagai ibu tidak bisa menerima, apa lagi ada orang lain yang bukan siapa-siapa dan anaknya tak salah apa-apa tapi tega melakukan kekerasan fisik.
Dan Zio..
Anak itu pasti ketakutan seorang diri. Senja tahu betul Zio sangat mirip dengan kakak keduanya. Dimana lebih memilih diam dan menanggungnya sendiri. Begitu pendiam dan mengalah.
Senja bahkan masih ingat ketika Zio, Sisi dan Anna bermain bersama, anak laki-laki itu selalu mengalah jika Sisi atau Anna merebut mainannya.
Saat membuka pintu ruang perawatan dimana Zio berada, tangis Fani langsung terdengar. Suaranya mendominasi ruangan. Karena tak ada orang yang berbicara dalam ruangan itu. Jadi meski tangis Fani lirih, semua bisa mendengar dan merasakan penyesalan didalamnya.
Dibrangkar, Zio tengah terlelap dengan slang infus ditangan mungilnya. Terlihat damai dan tanpa beban.
Wajah tidur anak kecil memang selalu membawa kedamaian hati tersendiri ketika melihatnya.
"Gimana mah?" tanya Senja setengah berbisik. Tak berani mendekati Fani dan Zio. Begitu juga Jingga dan yang lainnya.
"Zio nggak pa-pa. Kata psikolognya, kita hanya perlu memberikan perhatian yang lebih mulai saat ini. Kasih Zio rasa aman agar traumanya tidak membekas hingga dewasa."
Ternyata Zio sering dipukul atau dicubit ketika anak itu merajuk dan tidak mau makan atau mandi. Terlebih jika Zio merengek mencari orang tuanya yang terkadang pulang ketika ia sudah tidur dan ketika bangun, mereka sudah tak ada dirumah. Membuat pengasuhnya tak sabar dan pada akhirnya melakukan kekerasan.
__ADS_1
Pengasuh yang menjaga Zio sudah dibawa ke kantor polisi atas tuduhan kekerasan. Tapi kemudian Vindra membebaskannya.
Bukan karena tidak tegas. Tapi Vindra memikirkan anak lain yang akan menderita jika ia jebloskan pengasuh Zio itu ke penjara.
Wanita itu berusia awal tiga puluhan. Janda dengan dua anak yang kini tinggal bersama neneknya dikampung yang juga seorang janda. Dengan kata lain, pengasuh Zio adalah tulang punggung untuk ibu dan anak-anaknya. Dan baru bekerja dengan Vindra dua bulan terakhir, karena pengasuh sebelumnya izin pulang kampung karena suaminya sakit.
Vindra percaya saja karena pengasuh kali ini adalah keponakan dari pengasuh sebelumnya yang begitu menyayangi Zio. Terlebih statusnya yang juga memiliki anak kecil membuat Vindra percaya orang itu akan menyayangi atau paling tidak menjaga Zio dengan baik.
Tak pernah Vindra bayangkan anaknya akan mengalami kejadian mengerikan seperti itu.
Ia menyelamatkan dan mengobati begitu banyak orang yang menjadi pasiennya. Tapi ia bahkan tidak tahu ada orang yang melukai buah hatinya yang masih begitu kecil. Anak yang begitu polos dan tidak tahu apa-apa.
Ia menghabiskan begitu banyak waktu untuk mencari pundi-pundi rupiah demi menjamin hidup anak istrinya agar bahagia. Tanpa tahu, tanpa kehadirannya, tak berarti apa-apa untuk buah hatinya.
Zio kesepian. Zio ketakutan. Zio yang memiliki sifat dingin seperti dirinya tapi masih ada sisi cerianya seorang anak, kini menjadi pemurung dan semakin pendiam.
Tapi melihat pengasuh sebelumnya yang menangis-nangis merasa bersalah karena membawa keponakannya untuk menggantikan. Juga penuturan wanita itu yang mengatakan keponakannya itu adalah tulang punggung keluarga, membuat jiwa kemanusiaannya tidak tega.
Vindra merasa lebih kejam dari apa yang sudah terjadi pada Zio jika ia memenjarakan wanita itu. Karena itu artinya ia akan menelantarkan dua anak kecil dan wanita yang sudah lanjut usia.
"Tapi kalau nanti dia pindah kerja, terus ngelakuin hal yang sama gimana?!" protes Senja tidak setuju. Walau bagaimana pun, orang seperti itu harus diberi hukuman agar jera. Tidak bisa dibebaskan begitu saja. Apa lagi jika dia berani melakukan kekerasa kepada anak kecil, itu artinya ia bukan wanita yang baik. Karena wanita baik tidak akan sampai hati menyakiti anak kecil seperti itu.
Vindra yang sebelumnya duduk memeluk istrinya di dekat brangkar pun beranjak mendekati yang lain.
__ADS_1
Semua mata tertuju padanya. Dan Senja bisa menangkap rasa marah, menyesal, kecewa dan lelah menumpuk disana. Kakaknya yang malang.
"Bukan sepenuhnya salah suster." ujarnya tak berdaya. "Tapi abang juga salah karena memberi kesempatan dia untuk menyakiti anak abang. Memberi dia kesempatan karena abang yang jarang ada waktu dirumah."
Fani mendebat dan menyalahkan dirinya. Tapi Vindra tidak membiarkannya. Sebelum menikah mereka sudah membuat perjanjian pranikah dimana salah satu poinnya adalah ia tidak boleh meminta istrinya untuk melepas profesinya sebagai dokter. Membuatnya kini hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang memberi semua peluang.
"Sudah!" sela Alvaro yang melihat anak dan menantunya saling menyalahkan diri mereka sendiri. "Nggak ada gunanya saling menyalahkan. Sekarang, kalian hanya perlu memperbaiki diri. Boleh sibuk, tapi juga harus luangin waktu untuk anak. Apa lagi Zio masih begitu kecil. Butuh perhatian ekstra dari kalian."
"Untuk sementara menunggu rumah kalian jadi, lebih baik kalian tinggal di rumah. Agar banyak yang menjaga dan mengawasi Zio." imbuh Tiara. Tidak ingin Zio kembali ditinggal seorang diri diapartemen bersama suster tanpa ada yang mengawasi.
Setidaknya jika dirumah, ada Jingga yang selalu stay. Atau Senja yang saat ini belum ada kegiatan lain dan bisa membantu Zio untuk pulih dan melupakan rasa traumanya.
Vindra dan Fani mengangguk setuju. Tidak ingin lagi mengambil resiko untuk membahayakan putra kecil mereka. Meski yang akan mengasuh Zio setelah kembali dari rumah sakit nanti adalah pengasuh lamanya. Orang yang sudah mengasuh Zio sejak lahir.
Mereka kini tengah membangun sebuah rumah didekat rumah sakit. Agar tidak memerlukan waktu lama untuk pulang pergi bekerja dan menemani putra mereka. Rumah itu sudah delapan puluh persen jadi. Tak butuh waktu lama untuk mereka menempatinya. Apa lagi yang memegang proyek pembangunan rumah adalah usaha milik keluarganya sendiri.
Tiara menggenggam tangan Fani. "Mama tahu tugas sebagai dokter itu sibuk. Apa lagi dokter kandungan seperti kamu. Tapi kamu juga harus ingat tugas utama kamu sebagai seorang ibu. Kurangi jam prakteknya karena kamu nggak bisa mengurangi jam melahirkan yang bisa kapan saja."
Fani memang belum lama resmi menyandang gelar dokter kandungan setelah melanjutkan ke jenjang spesialis.
Tiara kemudian menceritakan pengalamannya ketika anak-anak masih kecil. Bagaimana ia mengatur waktu agar tetap bisa meneruskan cita-citanya juga tetap bisa menjalankan perannya sebagai seorang ibu dan istri di rumah. Hingga masalah pekerjaan dan keluarga bisa seimbang.
*
__ADS_1
*
*