Langit Senja

Langit Senja
Berlebihan


__ADS_3

Pilihan Senja jatuh pada dress warna baby pink model off shoulder embroidered mesh dress. Dengan panjang menutupi lutut, dan tak terlalu terbuka dibagian atas. Karena awalnya Senja memilih dress simpel warna hitam dengan aksen tali. Tapi Baskara langsung melayangkan protes.


"Punggung sama bahu lo terlalu terekspos, Ja. Gue nggak suka!" meskipun Senja terlihat cantik dengan dress itu. Namun Baskara tetap saja tidak suka.


Mereka akan makan malam di tempat umum. Baskara tidak ingin ada laki-laki yang menatap Senja dengan pikiran kotor berkeliaran di otak mereka.


"Dan apa-apaan itu!" tunjuk Baskara pada ujung dress yang jauh diatas lutut. "Lo duduk juga CD lo kelihatan!"


Senja menganga tak percaya. Menatap sekeliling dengan gugup. Bisa-bisanya Baskara berbicara begitu frontal di tempat umum seperti ini. Bahkan wajah hingga telinganya sudah memerah mendengar penuturan Baskara. Untung saja tidak ada yang tahu bahasa yang mereka gunakan. Jadi setidaknya Senja malu pada dirinya sendiri. Bukan malu pada orang lain.


"Berlebihan!" Senja menggeleng dan mendesahkan napasnya mengalah. Berdebat dengan Baskara tidak akan pernah ada habisnya. Yang ada hari keburu malam dan mereka tidak akan sempat makan malam disana. Jadi lebih baik ia menuruti apa yang sahabatnya itu mau.


Senja kembali mengganti bajunya dengan pilihan yang lain yang tidak terlalu terbuka. Untungnya untuk dress kedua Baskara langsung setuju dengan senyum mengembang dan bola mata berbinar.


"Emang mau makan dimana sih, Bas? kenapa harus pakai pakaian formal segala. Dan kenapa nggak kita rayain diapartemen gue aja?"


Kini mereka sudah duduk menunggu pesanan di sebuah restoran jepang yang ada didalam mall.


"Nanti juga lo tahu. Kenaoa hari ini banyak banget tanya, hem?" heran Baskara. "Lagian biar lo keliatan cantik diulang tahun kita makanya pakai semi formal."


Senja merotasikan bola matanya jengah. "Emang biasanya gue nggak cantik!" padahal ia juga selalu menggunakan dress jika musim sedang bersahabat.


Baskara berlagak berpikir. Mengusap dagunya dramatis dengan menatap Senja lekat. "Cantik sih. Cuma masih kurang aja."


"Sialan, lo!" Senja melempar tisu yang sudah tak berbentuk di tangannya. Mengerucutkan bibirnya kesal. Membuatnya jadi kurang percaya diri. Apakah perubahannya tetap tak memenuhi kriteria wanita idaman untuk sahabatnya itu?


Senja langsung menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh beharap lebih atau hubungan mereka akan kembali rusak. Ia lebih suka hubungan mereka seperti saat ini. Lagi pula, kelihatannya Baskara masih belum membuka hatinya untuk gadis manapun. Dan Senja lihat, Baskara juga cukup nyaman dengan hubungan mereka saat ini.


Ditengah canda tawa saat Baskara dan Senja tengah makan. Tiba-tiba datang lelaki mendekat dan menyapa Senja.


"Senja?" tanya lelaki -yang terlihat lebih tua beberapa tahun diatas mereka- yang terlihat terkejut bisa bertemu Senja.

__ADS_1


"Eh.. Hai kak Doni, ya?" sapa balik Senja cukup ramah.


"Nggak nyangka bisa ketemu kamu diluar perhimpunan." Doni terlihat antusias. Bahkan senyum di wajah pemuda itu mengembang lebar. Membuat Baskara mencebik tidak suka.


"Iya kak. Bukannya kak Doni itu yang kuliah di Brooklyn?" ucap Senja ragu. "Lagi ada keperluan apa di Manhattan kak?"


Senja memang belum lama ini bergabung dengan perhimpunan mahasiswa Indonesia yang berada di NY. Ia iseng-iseng mencari tahu dan mendaftar menjadi anggotanya.


Setidaknya ia ingin memiliki teman yang setanah air agar ia tidak merasa sendiri di negara orang.


"Ada acara sama beberapa teman." pemuda itu menunjuk sekumpulan muda-mudi yang langsung melambaikan tangannya kearah Senja. Dan dibalas hal serupa oleh gadis itu.


"Tadinya takut salah orang. Tapi ternyata beneran kamu."


Senja tersenyum manis. "Iya kak. Oh iya kenalin, ini Baskara sahabat aku yang kuliah di MIT."


Senja menyenggol lengan Baskara yang masih asik makan padahal Doni sudah mengulurkan tangannya.


"Basss!" seru Senja dengan berbisik.


Senja terkekeh merasa tidak enak dengan sikap Baskara yang ia rasa kurang sopan untuk orang yang baru pertama kali bertemu. Setahunya Baskara tidak seperti itu. "Maaf kak. Dia emang gitu orangnya. PMS tiap hari." selorohnya membuat Doni tertawa. Sedangkan Baskara sudah melayangkan tatapan tajam pada gadis yang kini kembali sibuk bercengkrama dengan pemuda perusak suasana bagi Baskara.


"Tadinya mau ngajak gabung. Tapi kayaknya kamu nggak mungkin mau."


Senja kembali tersenyum canggung. "Lain kali ya kak. Soalnya jarang ni anak datang kesini."


Doni mengangguk mengerti dan pamit meninggalkan mereka untuk kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Sejak kapan lo gabung sama perhimpunan kaya gitu? terus udah sering ikut ngumpul?" cecar Baskara begitu Doni sudah jauh dari mereka.


"Baru beberapa bulan ini sih gabung. Terus juga baru empat atau lima kali ikut ngumpul." jawab Senja antusias. Karena ia memang merasa senang bisa bergabung dan berkumpul dengan sesama orang Indonesia. Saling sharing pengalaman dan mereka juga mengadakan penggalangan dana dan kegiatan lainnya. "Kenapa lo nggak ikut gabung aja?" ajak Senja antusias.

__ADS_1


"Ck. Gue nggak suka bersosialisasi sama orang yang nggak gue kenal. Makanya di kampus gue nggak ada teman dekat. Cuma sekedar kenal aja."


Senja menggeleng prihatin. "Dua tahun lo disini sia-sia banget sih, Bas?"


Mengangkat bahunya masa bodoh. Baskara menjawab. "Nggak sia-sia lah. Bisa dekat lagi sama lo dan nemenin setiap weekend lo tuh udah keberuntungan besar buat gue."


"Iya deh.. Iya! bosen gue denger lo gombalin gue mulu!" cibir Senja.


"Siapa yang gombal. Orang gue ngomong apa adanya." lirih Baskara untuk dirinya sendiri. "Lo nggak sedih nanti pas kita ulang tahun ortu lo nggak datang?" tanya Baskara mengalihkan topik.


Senja menunduk, mengaduk jus miliknya dengan tatapan sendu. "Mau gimana lagi. Papa ada kerjaan ke luar kota. Mama tau sendiri sibuk dirumah sakit. Sekalipun mama bisa cuti juga nggak mungkin kesini tanpa papa."


Baskara bisa merasakan kesedihan yang Senja rasakan saat ini. Karena tahun lalu pun ia merayakan ulang tahunnya seorang diri. Bahkan tanpa siapa pun disisinya. Tanpa kueh. Tanpa perayaan. Hanya ucapan di pagi hari dari kedua orang tuanya. Serta kiriman hadiah yang baru sampai keesokan harinya karena ada masalah di bagian ekspedisi.


"Kan ada gue. Jadi lo nggak akan sedih. Seenggaknya gue yang nggak sedih tahun ini." hibur Baskara dengan senyum getir mengingat ulang tahunnya sendiri.


Senja membalas senyum Baskara dengan sebentuk senyum manis yang dapat menggetarkan hatinya.


"Lo juga nggak usah sedih. Lo nggak sendiri. Ada gue disini."


Keduanya saling tatap dalam diam. Tak lama kemudiam disusul tawa dari mulut keduanya.


"Berlebihan banget nggak sih kita? Udah gede aja masih sedih masalah ulang tahun. Padahal di luar sana banyak orang yang nggak ingat hari ulang tahunnya sendiri karena berbagai masalah."


Baskara mengangguk setuju. "Kayaknya kita terlalu dimanja kalau ultah. Makanya jadi lebay gini."


Orang tua mereka memang tidak pernah absen merayakan ulang tahun mereka. Baik yang hanya makan malam bersama tiga keluarga yang sudah seperti satu kesatuan. Hingga perayaan besar-besaran yang turut mengundang kolega orang tua mereka.


Dan kini, ketika harus merayakan ulang tahun seorang diri. Mereka merasa kesepian di hari yang harusnya mereka lalui dengan bahagia.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2