
Menyelam dari satu spot ke spot yang lain. Melihat pemandangan bawah laut yang sangat memanjakan mata. Keindahan terumbu karang, ikan warna-warni dari berbagai jenis dan biota laut lainnya yang menjadi surga bawah laut tak Senja lewatkan selama sisa bulan madunya.
Mencoba menantang adrenalin dengan menyelam pada malam hari pun Senja lakukan.
Ibu dua anak itu memang sangat menyukain diving. Setiap memiliki kesempatan untuk berlibur ditempat yang bisa ia selami, Senja tidak akan pernah melewatkannya. Bahkan sejak ia masih muda dulu. Berawal dari hoby kedua kakak kembarnya yang juga menyukai diving. Membuatnya penasaran dan ingin ikut mencoba hingga berujung ketagihan.
Tapi pengalaman night dive baru dua kali ini Senja lakukan. Pertama adalah ketika ulangtahunnya yang ke tujuh belas. Ia menyelam di nusa penida dengan kedua kakaknya. Yang kedua tentu saja dua malam berturut-turut ini selama bulan madu diatas kapal. Meski ia harus turun untuk berganti dengan speedboat untuk memudahkan ketika turun dan naik saat menyelam, tapi Senja tidak keberatan.
Tentu saja mereka masih didampingi seorang ahli. Yang memberi mereka intruksi dibawah sana agar tetap aman.
Tapi dihari terakhir ini, Baskara menolak kegiatan apa pun yang berhubungan dengan air.
Suami Senja itu merasa sudah tidak sanggup lagi untuk kembali turun menyelam atau bahkan sekedar snorkeling.
Pria itu hanya ingin menghabiskan waktunya diatas kapal menikmati pemandangan.
Matahari sudah menyingsing. Langit cerah tanpa awan yang menutupi. Membentuk hamparan biru yang luas dan bersih. Suasana yang tenang diatas kepala semakin membuat Senja dan Baskara lelap dalam tidurnya. Bagai diayun dengan gerakan lembut kapal.
Posisi kapal tak terlalu jauh dari daratan. Hanya beberapa ratus meter yang memudahkan akses mereka jika memerlukan sesuatu dari darat untuk dikirim langsung oleh Andi menggunakan kapal speedboat.
Niat ingin bangun siang, Senja sudah dibangunkan dengan dering ponsel miliknya.
Ponsel itu sudah berdering dari beberapa saat yang lalu. Senja diamkan berharap siapa pun yang menghubunginya akan lelah dan menyerah. Tapi ternyata si pengganggu tak mudah menyerah.
Dengan mata yang masih terpejam rapat, Senja secara asal mengusap layar ponselnya dan menempelkannya di telinga.
"Mommy.... Jauhkan dari telinga! ini panggilan video." suara putri kecilnya yang cempreng menusuk telinganya.
Dengan mata memicing menghalau silaunya cahaya yang memasuki indra penglihatan, Senja menjauhkan benda persegi itu dari telinga dan memindahkannya tepat didepan wajah.
"Hallo cantik dan gantengnya mommy." sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Kedua anaknya sudah berkumpul di rumah orang tuanya. Mereka rutin bertukar kabar setiap harinya. Mendengarkan bagaimana antusiasnya Anna bercerita tentang pesta piyama. Keseruan bermain dengan para sepupu yang terasa lebih seru dari pada bermain dengan Kaisar. Ikut membuat Senja juga Baskara senang mendengarnya. Terlebih Anna tidak terlihat sedih meski harus berjauhan dengan kedua orang tuanya.
Sedangkan pria kecilnya meski tidak seheboh Anna ketika bercerita pengalaman kempingnya dengan sang kakek. Tapi kebahagiaan dan rasa puas tergambar diwajah kecil Kaisar. Membuatnya bangga pada Kaisar.
"Mommy sakit? kenapa mommy masih tidur jam segini?"
Senja membatalkan niatnya untuk duduk bersandar dengan gelagapan begitu sadar jika dirinya tidak mengenakan apa pun.
__ADS_1
Ia merapatkan selimutnya hingga leher dengan panik. Jangan sampai anak-anaknya melihat.
Beruntung yang anak-anaknya lihat hanya sebatas wajahnya saja. Menghindari Anna dan Kaisar untuk melihat hal yang tidak seharusnya. Terlebih kulitnya sudah belang-belang seperti macan dengan banyaknya tanda sisa percintaan yang suaminya tinggalkan ditubuhnya selama beberapa hari di Lombok.
Meski pria itu bilang lelah setelah menyelam. Tapi Baskara tidak pernah lelah untuk meminta jatahnya setiap malam.
"Mommy sakit? wajah mommy merah?" kali ini giliran Kaisar yang ikut bertanya dengan khawatir. Semakin membuat Senja salah tingkah.
"E-enggak sayang.. Mommy hanya lelah. Semalam mommy habis menyelam dengan daddy." ia meraba pipinya yang terasa panas. Merasa malu padahal anak-anaknya tidak tahu apa pun.
"Menyelam? Gelap tidak mom? mommy bertemu hiu tidak?" banyak lagi pertanyaan yang Anna ajukan yang membuat Senja terkekeh.
"Kan pakai senter sayang.." jawabnya lembut. "Mommy sebenarnya takut, tapi kalau kalian sudah besar nanti dan mencobanya, kalian pasti akan ketagihan sama seperti mommy."
Diving malam hari memang lebih berbahaya. Tapi apa yang didapat juga terasa sepadan dengan adrenalin yang terpicu.
Banyak hewan nokturnal yang tidak kita jumpai ketika menyelam disiang hari, pemandangan yang juga berbeda, dan bisa melihat warna asli hewan nokturnal.
"Kenapa kesayangan daddy pagi-pagi sudah berisik sekali." Baskara yang tidurnya terganggu dengan tawa anak dan istrinya pun ikut bangun dan bergabung dalam frame kamera.
"Ini sudah siang, daddy." sahut kedua anak mereka bersamaan.
Baskara terkekeh dan mengambil alih ponsel karena istrinya yang kesusahan mencari angel kamera.
"Tadi malam daddy kepanasan, jadi tidurnya tidak pakai baju." jawabnya asal.
"Memangnya tidak pakai AC, dad?"
"Ada. Tapi angin laut saja sudah dingin sayang."
"Kata daddy panas? Tapi mommy kedinginan pakai selimut sampai leher."
Baskara menggaruk kepalanya bingung harus menjawab apa. Ia hanya meringis pasrah.
Meski didalam kapal, kamar yang mereka gunakan memang ada pendingin udaranya. Tapi yang membuat panas adalah kegiatan mereka sendiri.
"Mommy dan daddy mandi dulu, ya?" potong Senja mengalihkan pertanyaan anaknya. "Mommy dan daddy juga belum sarapan. Nanti kita video call lagi, oke?"
Kedua anak mereka mengangguk dan melambaikan tangan serta kissing air dari Anna sebagai penutup.
__ADS_1
"Jadi mau mandi, nih?" tanya Baskara dengan wajah jahil.
"Mandi dong. Badan udah lengket."
"Nggak mau lanjutin yang semalem dulu?" godanya dengan memainkan kedua alisnya.
"Nggak mau! badan udah pada sakit!" Senja menarik selimut untuk menutupi tubuhnya berpindah kekamar mandi. Menyisakan tubuh suaminya yang tak tertutup apa pun.
"Sambil mandi nggak pa-pa deh." Baskara masih mencoba beruntungan.
"Nggak. Mau." tekan Senja menutup kamar mandi dan menguncinya. Tertawa begitu sang suami menggedor pintu kamar mandi dengan merengek.
Hati Senja rasanya lega. Ia tak akan lagi merasa iri jika ada yang bercerita tentang pengalaman bulan madunya. Ternyata seperti ini rasanya bulan madu.
Menghabiskan waktu dengan orang terkasih tanpa ada siapa pun yang mengganggu.
Memanfaatkan waktu yang mereka miliki untuk memadu kasih dengan sepenuh rasa. Tak hanya hasrat mereka yang terpuaskan. Tapi mata mereka, batin mereka semuanya terpuaskan.
Perjalanan ini akan Senja kenang selamanya. Salah satu pengalaman dalam kehidupan rumahtangganya yang penuh dengan petualangan.
Mengisi satu lagi list hari paling bahagia dalam hidupnya. Honeymoon yang tertunda.
...---- TAMAT----...
Terimakasih untuk kalian semua yang sudah menemani dan mendukung Senjanya Baskara sampai sejauh ini.
Masih setia nunggu meskipun sebulan ini jarang update.
Like, komen, hadiah, vote apa pun dukungan yang kalian berikan, sangat berarti untuk semakin semangat untuk update.
Pokoknya sayang kalian semua yang udah dukung cerita ini. Love sekebon buat kalian semua ❤❤❤
__ADS_1