
Baskara menghela napasnya berat setelah mendengar cerita dari istrinya.
Usahanya menyembunyikan dari sang istri agar tidak kepikiran ternyata tetap saja istrinya tahu.
Tapi yang membuatnya geram, untuk apa Oma mengirim Grace datang jauh-jauh ke New York jika hanya untuk memberi peringatan pada Senja.
"Terus kamu nggak marah sama aku, ayy?" tanyanya menatap istrinya yang menunduk.
Meski berusaha terlihat kuat, tapi Baskara tahu jika istrinya tetap saja merasa terganggu dengan pernyataan yang Grace berikan.
"Marah kenapa? kan bukan kamu yang lagi minta buat nikah lagi." suara istrinya terdengar menggemaskan dengan nada cemberutnya. Tangan lentik itu tak henti bermain dengan kancing baju miliknya.
"Makasih ya sayang. Sudah percaya sama aku, dan nggak lihat dari satu sisi aja."
Ya. Baskara patut bersyukur. Karena mungkin jika wanita lain di luar sana yang ada diposisi Senja saat ini, ia sudah dimaki dan diusir dari dalam kamar.
Dan dimana lagi ada perempuan yang mau menampung perempuan lain yang menyombongkan diri akan segera menjadi madunya.
"Aku pernah bilang kan. Kalau aku nggak mungkin nikah lagi sekalipun kamu yang minta?"
Senja mengangguk, mengingat saat suaminya mengatakan hal serupa.
"Aku cuma ingin kamu!" ucap Baskara sungguh-sungguh.
"Aku nggak ingin wanita lain untuk jadi penghangat ranjangku." tangannya bergerak membawa dagu istrinya naik untuk saling tatap. "Dan aku nggak ingin wanita lain untuk jadi ibu dari anak-anak aku!"
"Aku cuma mau kamu, ayy."
"Cuma mau Senja Maharani Lazuardi!"
Senja mendorong pelan Baskara yang tengah mencium dahinya agar bisa kembali menatap mata suaminya itu.
"Tapi kalau aku nggak hamil juga, gimana mas?" tanyanya diwarnai getaran.
Selama ini Senja bukan tidak merasa khawatir karena tak kunjung hamil padahal pernikahannya sudah berbulan-bulan berlalu.
Ia hanya berusaha tenang agar tubuhnya tidak stres dan semakin membuatnya sulit untuk hamil.
"Nggak boleh ngomong gitu! Aku percaya kamu pasti bisa hamil!" Baskara paling tidak suka jika istrinya tengah pesimis seperti itu. "Kan baru tadi aku bilang, kalau apa yang kamu ucapkan bisa aja jadi doa!"
"Tapi kan ini misalnya, mas." masih tak mau kalah. Karena ia butuh kepastian. Ia ingin tahu seperti apa bayangan kasar masa depannya.
__ADS_1
Baskara menghela napasnya kasar. "Bagi aku, nggak ada kata misal-misalnya! selama belum ada yang pasti! kamu akan tetap jadi satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak aku! nggak ada yang lain dan nggak ada misalnya!"
Kali ini Senja yang menghela napasnya berat. Tidak ingin mendebat suaminya yang sudah lelah bekerja. Yang ada nanti malah mereka ribut.
Lagi pula dia cukup tersentuh mendengar penuturan sang suami. Dan ia harap, apa yang Baskara ucapkan malam ini akan ada pembuktiannya. Dan akan selalu seperti itu, takan pernah berubah.
"Gimana kalau kita cek ke dokter, mas?"
Kedua alis tebal Baskara menyatu. "Kamu mau program lewat dokter aja? nggak mau usaha sendiri dulu? kita baru nikah kemarin, ayy. Masih banyak kesempatan buat kita mencoba! kita bisa mencoba lebih giat lagi kalau percobaan kita sebelumnya ga-"
Senja membungkam mulut suaminya dengan kecupan. Merasa gemas sendiri dengan suaminya yang menyimpulkan semuanya sendiri.
"Diam dulu mas. Aku kan belum selesai jelasin."
"Oke, aku diam." Baskara mengangguk dan memberi gerakan mengunci mulutnya.
"Datang ke dokter bukan berarti langsung program juga, mas."
Baskara menaikan sebelah alisnya sebagai ganti tanya.
"Kita cek kesehatan kita aja dulu." lanjutnya. "Salah kita juga sebenarnya. Sebelum nikah nggak cek pra nikah. Tapi apa salahnya kalau sekarang kita lakuin itu kan?"
Baskara terlihat menimbang. Tapi ia takut jika ternyata istrinya yang kurang subur. Takut istrinya stres dan tidak percaya diri.
"Buat apa, ayy? selama ini kan kita hidup sehat. Banyak faktor yang mempengaruhi. Termasuk kesibukan kita yang membuat kualitasnya kurang bagus."
"Justru itu, mas. Kita cek biar kita tahu kekurangan kita selama ini tuh apa! biar kita bisa memperbaiki sebelum semuanya terlambat."
Baskara menggeleng tak setuju. "Kita masih bisa mencobanya lagi dan lagi. Termasuk sekarang." ucapnya dengan senyum miringnya. Membalik posisi hingga tubuh istrinya yang berada dalam pangkuan kini berada dibawah kungkungannya.
"Nggak mau! mas bau, belum mandi!" seru Senja mendorong sang suami dan menutup dirinya dengan selimut.
"Aku wangi gini." protes Baskara setelah mengendus aroma tubuhnya.
"ENGGAK! Mas bau!"
"Oke, aku mandi." mengalah. "Tapi awas kalau sampai setelah mandi nggak dikasih jatah! aku paksa sampai nggak bisa jalan besok pagi!" ancamnya.
"Nggak mau!" kekeh Senja.
"Kok gitu?!" Baskara yang sudah akan beranjak ke kamar mandi kembali merebahkan tubunya dan memeluk istrinya erat.
__ADS_1
"Aku nggak marah sama mas, atas apa yang Grace ucapin! tapi bukan berarti aku nggak marah karena mas nutupin itu semua dari aku!"
"Itu kan demi kamu sayang. Biar konsen ke kuliah. Nggak mikirin yang lain." membalik tubuh istrinya untuk saling berhadapan.
"Bodo! Bagaimana pun aku berhak tahu!"
"Iya. Iya. Maaf." entah sudah berapa kali ia mengalah. "Lain kali nggak gitu lagi."
"Ya udah sana mandi."
Baskara kembali tersenyum dan mengecup bibir istrinya. "Tapi nanti di kasih jatah ya, ayy?"
"Nolak suami dosa lho!" imbuhnya cepat ketika melihat istrinya mencoba berpikir.
"Siapa yang mau nolak suami? aku kan cuma lagi mikir mau pakai baju haram yang mana biar mas puas." kilahnya.
Senyum diwajah Baskara kian lebar. Siapa yang tidak senang mendengar istrinya berkata seperti itu.
"Pakai yang mana saja. Karena yang mana pun akan terlihat cantik kalau kamu yang pakai."
Tak sabar untuk kegiatan panas mereka. Baskara berlalu menuju kamar mandi sebelum istrinya merespon. Membuat sang istri geleng kepala melihatnya.
"Kayak yang nggak dikasih jatah berapa hari." gumam Senja beranjak menuju ruang ganti yang bersebelahan dengan kamar mandi.
"Padahal tiap hari nggak pernah absen."
"Malah nambah yang ada."
Masih bergumam sendiri sembari menyiapkan diri semenarik mungkin untuk menyenangkan hati sang suami.
Mengalihkan pikirannya sejenak tentang kehadiran Grace didalam apatemennya.
Mencari kesenangan untuk mengurangi beban yang ia rasakan kini. Meski mungkin takan bertahan lama karena pasti ia akan kembali kepikiran.
Siapa yang tidak akan sedih mendengar keluarga suaminya meminta suaminya menikah lagi hanya karena ia belum juga hamil.
Meskipun tidak semua keluarga suaminya. Karena hanya Oma yang meminta Baskara. Bukan kedua orang tua Baskara sendiri.
Padahal keluarga Baskara tak lagi memiliki hak untuk mengatur rumah tangga mereka. Karena toh mereka yang menjalani. Dan keduanya juga sudah dapat menentukan pilihan mereka sendiri.
*
__ADS_1
*
*