
Di perusahaan WILLIAM COMPANY, seorang pria yang tidak fokus menatap layar komputernya. Dia juga sudah berusaha mengalihkan dengan membuka berkas berkas, tetap saja pikirannya tidak bisa tertuju pada berkas maupun komputer.
Braakkk
"Sial! kenapa aku selalu kepikiran dia." Umpat Langit, ia meletakkan berkasnya dengan kasar.
"Dylan, masuk keruangan saya sekarang juga." Panggil Langit, melalui interkom yang tertuju pada ruangan asisten pribadinya.
tak lama kemudian Dylan masuk keruangan Langit.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Dylan, penuh dengan hormat pada Tuannya itu.
Langit tidak menjawab pertanyaan dari Dylan, dia malah berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya dan mendudukkan dirinya di sana. duduklah perintah Langit pada Dylan. pria itu mengikuti keinginan Tuannya, iapun duduk di hadapan Langit yang tersekat dengan meja bundar.
"jadilah sahabatku, bukan asisten pribadiku untuk saat ini." pinta Langit. Ya, Langit dan Dylan dulunya adalah sahabat sejak SMA sampai sekarang. Namun, karena sebuah pertolongan dari kelurga William, membuat dirinya ingin mengabdi pada keluarga William dengan menjadi asisten pribadi dari sahabatnya ini.
Dylan menghela napasnya pelan, ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Sebenarnya gue nggak mau Ngit, gue udah janji sama diri gue sendiri kalau gue nggak akan ngelakuin ini lagi. tapi, selama tiga tahun gue jadi asisten lo, baru kali ini gue lihat kayaknya masalah lo lumayan berat." Ucap Dylan yang biasanya hanya bicara sedikit dan formal, kini Dylan bicara begitu banyak dan non formal.
"Ya, dari awal kan gue udah nolak lo buat ngelakuin ini. cukup lo ada di samping gue sebagai asisten gue juga tetap jadi sahabat gue itu udah cukup." jawab Langit.
"Ya baik lah, sekarang lo mau cerita apa?" pasrah Dylan. dia tau, Sahabatnya satu ini tidak akan pernah bisa dibantah.
"sebenarnya...."
Drrrrttt drrrrttt drrrrttt
belum selesai Langit bicara, ponsel nya berbunyi. ia merogoh saku celananya dan meraih ponselnya. Langit melihat nama si penelpon kemudian mengangkatnya.
"Hm..." dehem Langit. beberapa saat terdiam, ia langsung mematikan teleponnya dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Lo urus kerjaan disini, gue mau balik." perintah Langit pada Dylan yang sekarang malah melongo mendengar ucapan Langit.
"Tapi...." Dylan menghentikan ucapannya karena Langit sudah keluar dari ruangannya. "Ya, baiklah Tuan muda William." gumam Dylan, menahan kekesalannya pada Langit.
...****************...
"Bik Sumi." Panggil seorang pria yang baru saja masuk kedalam mansion. Sementara yang di panggil, langsung tergopoh-gopoh menghampiri Tuan mudanya yang memanggilnya.
"Tuan muda Sudah datang." Bik Sumi merasa lega karena setelah ia telpon, Langit langsung datang. Ya, tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Senja, Bik Sumi menelpon Langit dan memberi tahu Langit kalau Senja demam tinggi. tapi, tanpa dia duga kalau Langit akan datang secepat ini. mungkinkah jika tuan mudanya ini mulai mencintai istrinya? tapi wanita paruh baya itu senang, karena Langit mulai memperhatikan Senja meski sedikit dan wajahnya memperlihatkan raut kekhawatiran pada gadis itu.
"Sudah panggil dokter?" Tanya Langit. Bik Sumi menggelengkan kepalanya pelan.
Langit hampir saja marah pada Bik Sumi jika wanita paruh baya yang menjadi kepercayaan keluarga William ini tidak langsung menjelaskan bahwa Senja yang tidak mau dipanggilkan dokter, Senja yang takut Langit, juga Senja yang tidak ingin Langit tau tentang kondisinya.
Mendengar penjelasan dari Bik Sumi, Langit menghela nafas nya kasar. "Gadis ini benar benar merepotkan." geram Langit. Langit merogoh ponselnya yang berada di saku celananya lalu mendial sebuah nomor.
selesai bertelepon, Langit kembali menatap kearah Bik Sumi yang masih berdiri dihadapannya.
"sepertinya sedang istirahat Tuan, habis makan bubur juga minum obat."
Langit mengangguk. "kalau dokter Rachel sampai, tunjukkan kamar gadis itu, saya mau istirahat." beritahu Langit. "dan ya, jangan beritahu dia kalau saya yang panggil dokter. turuti saja kemauannya, anggap saya tidak tau." lanjutnya. Bik Sumi hanya mengangguk pelan. Langit pun pergi memasuki lift menuju ke lantai tiga dimana kamarnya berada.
...****************...
Seminggu setelah kejadian itupun telah berlalu. dan selama seminggu itu pula Senja selalu menghindar dari bertemu Suaminya, Langit. bukan menghindar karena malu, tetapi ia merasa trauma, bayang bayang kejadian Langit memaksanya masih melekat dibenaknya. bahkan ia tidak pernah lagi masuk ke kamar Langit, dia kembali tidur di kamar yang di berikan oleh mertuanya dulu saat pertama kali datang ke mansion ini. ia sangat takut bertemu Langit. dia selalu berangkat ke sekolah pagi pagi, ia tidak pernah lagi sarapan di rumah, setiap kali Bik Sumi, atau Siska, atau bahkan Maid lainnya menanyakan kenapa dia tidak sarapan atau kenapa dia berangkat sangat pagi? Dia akan selalu memberikan alasan.
Seperti pagi ini, Senja terlihat terburu buru keluar dari dari mansion.
"Tunggu." Baru saja ia akan keluar, seseorang menghentikan langkah kakinya. seketika tubuh gadis itu bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Senja mencoba menahan tubuhnya dengan kaki yang gemetar, ia tidak berani menghadap orang yang menghentikan langkahnya tadi.
__ADS_1
"Saya mau bicara sama kamu." ucap orang itu yang tidak lain adalah Langit. Ya, pria itu sengaja keluar kamar lebih pagi karena ingin menemui Senja. Seminggu tidak bertemu Senja, ia merasa gelisah bahkan sering uring uringan di kantor. dia tidak tau apa yang terjadi padanya.
"Saya minta maaf atas kejadian satu minggu yang lalu." ucap Langit. diingatkan tentang kejadian itu, kaki Senja Langsung mundur beberapa langkah semakin menjauh dari Langit yang sudah berdiri dihadapannya. "Ini pertama kalinya saya minta maaf pada seseorang, harusnya kamu menghargai itu." lanjutnya. Senja masih diam membeku. "lupakan kejadian itu, anggap tidak pernah terjadi. dan jika kamu hamil, gugurkan saja. saya tidak menginginkan anak itu." Senja terbelalak mendengar ucapan Langit. ia tidak menyangka pria dihadapannya yang masih berstatus sebagai suaminya ini akan sekejam itu. dia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah luruh.
melihat Senja menangis, Langit mengalihkan pandangannya ke arah lain. ia tidak ingin luluh dengan melihat air mata Senja yang menurutnya rapuh.
Tanpa mengatakan apapun, Senja langsung berlari keluar meninggalkan Langit yang masih berdiri disana.
Gadis itu terus berlari keluar dari komplek perumahan mewah itu dan menuju ke halte terdekat untuk menunggu angkutan umum lewat.
Sesampainya disekolah, Senja mencoba menormalkan ekspresinya agar tidak terlihat ia habis menangis.
"SENJA..." tiga orang gadis remaja dengan seragam yang sama berlari bersamaan sambil berteriak menyebut satu nama, yaitu Senja.
Senja yang mendengarnya pun ke arah sumber suara. melihat tiga sahabatnya yang datang menghampirinya, membuat kesedihannya terlupakan sejenak.
"Hai GIRL'S." Sapa Senja. ia merentangkan tangannya menyambut kedatangan tiga Sahabatnya itu.
empat sahabat itupun berpelukan sejenak lalu melepaskan pelukan mereka.
"hari pertama UN, deg degan gue." ungkap Jingga, gadis itu memegang dadanya yang terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
"tapi Tania kok nggak ya, jantung Tania berdetak biasa aja." Tania mengikuti Jingga memegang dadanya. Jingga memutar bola matanya malas. sementara Senja dan Alya terkekeh melihat tingkah dua sahabatnya itu.
"Eh BTW, kalian masuk kelas mana, Jingga sama Tania? Gue sama Senja satu kelas, di IPA 2." tanya Alya, sekaligus memberi tahu.
"gue di IPA 1, tetap di kelas kita." jawab Jingga.
"Tania masuk IPA 3, kita ke pisah." Ungkap Tania, memperlihatkan wajah sedihnya yang tak ketinggalan dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...