
"Kamu nggak berpikir buat nggak kasih aku jatah sampai kita lulus kan, Ayy?" tanya Baskara curiga dengan menyipitkan mata menatap tepat diiris mata istrinya.
Baskara sudah takut tak bisa melakukan ritual malam pertama mereka. Tapi untung saja Senja langsung menepis perkataannya. Membuat senyumnya kembali merekah.
"Terus gimana caranya buat nunda?" tanya sekali lagi. Tangannya bergerak menyelipkan rambut sang istri kebelakang telinga. Memperlambat gerakannya menggoda Senja diarea sensitifnya dibelakang telinga. Tubuh istrinya bereaksi akan sentuhannya. Membuat ia semakin berusaha menggoda lagi. "Mau aku yang pakai pengaman?"
Senja menggeleng malu-malu. Bahkan gadis itu menunduk tak berani menatap suaminya. Hal yang tak terbayang sebelumnya, ia akan bisa merasa malu seperti saat ini di hadapan Baskara.
"Kata Maureen.. Nanti kamu nggak puas kalau pakai pengaman." cicitnya. Tangannya memainkan kancing piyama Baskara. Mencoba mengalihkan pandangan agar tak menatap mata suaminya langsung. Hal yang akan semakin membuatnya susah bernapas menahan degub jantungnya.
"Terus? kamu mau pakai pil penunda?"
Senja kembali menggeleng. "Kalau itu. Aku takut nanti pas kita udah siap, justru jadi masalah."
Baskara tahu kebingungan istrinya. Ia tersenyum kecil meraih dagu sang istri dan mengecup bibirnya sekilas.Reaksi terkejut langsung terlintas diwajah istrinya.
"Jadi maunya gimana sayang?"
"Kalau pakai tanggal gimana?" Senja yang sudah kembali menguasai ekspresinya kemudian menjelaskan apa yang dia maksud.
"Nggak mau!" sela Baskara. "Aku datang cuma di weekend ayy." wajahnya ditekuk tak setuju.
"Kalau pas aku datang pas tanggal yang nggak boleh gimana?" Senja tak bisa menjawab. Ia sendiri bingung. "Masa aku yang udah nahan selama lima hari masih harus nahan sampai minggu depannya lagi."
Senja kembali mencoba memikirkan jalan terbaik. Tapi ia tak tahu. Ini pengalaman pertama untuk keduanya. Mana mereka tahu cara menunda kehamilan paling tetap seperti apa.
"Ya sudah. Kita jalani aja. Kalau Tuhan kasihnya cepat, berarti Tuhan percaya kita mampu." putus Senja pada akhirnya. Gadis itu tersenyum. Tak kecewa. Justru ia merasa lega karena Baskara dapat diajak berdiskusi dengan baik tentang apa yang Ia khawatirkan.
"Kamu yakin, ayy?"
Senja mengangguk sebagai jawaban.
Senyum Baskara merekah. Mengalungkan tangan Senja dilehernya. "Boleh mulai sekarang?" tanyanya dengan suara parau.
Dengan malu, Senja mengangguk. Meski dalam hati masih ada rasa takut tentang pengetahuan malam pertama yang ia dengar baik dari Maureen atau Jingga.
Ia memang memberitahu Maureen tentang pernikahannya ketika ia masih di NY. Banyak pengalaman bercinta yang Maureen bagi dengannya meski ia slalu menutup telinga tak mau mendengar. Tapi tetap saja tak sedikit yang tertangkap pendengarannya.
__ADS_1
Baskara memiringkan kepalanya. Perlahan dan pasti mengikis jarak mereka. Semakin lama nafas hangat Baskara dapat ia rasakan menerpa wajahnya.
Jika terjadi, ini adalah ciuman pertama Senja. Meski tadi Baskara sempat mencuri kecupan. Tapi itu tak bisa terhitung sebagai ciuman bukan.
Benda kenyal terasa menyentuh bibirnya yang lembut. Senja mulai memejamkan matanya ketika ketukan pintu terdengar begitu kuat. Membuatnya tak sengaja mendorong Baskara menjauh dengan kuat.
Baskara mengerang. Memaki dalam hati orang yang menganggu acara malam pertamanya bersama gadis pujaan.
"A-aku buka du-dulu." Senja sudah bangkit dari pangkuan Baskara dan mulai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun Baskara menyuruhnya kembali duduk di atas tempat tidur. Sebagai gantinya, ia yang berjalan menuju pintu. Melihat siapa orang yang sekuranga ajar itu mengganggu malam pengantin baru.
"Kenapa bang?" tanya Baskara begitu mendapati kakak iparnya berdiri didepan pintu kamarnya. Nada kesal sedikit terasa dalam suaranya.
"Mau pinjam gunting kuku. Ada nggak Bas?"
Baskara melongo mendengarnya. Untuk apa pula kakak iparnya mencari gunting kuku malam-malam begini.
"Sisi kukunya lupa dipotong. Kalau tidur suka tangannya kemana-mana. Bisa-bisa muka sisi penuh goresan kukunya sendiri." terang Farri yang melihat ketidakpercayaan diwajah adik iparnya.
"Bentar bang, aku tanya Senja."
"Nih bang." Senja menyerahkan gunting kuku itu langsung pada sang kakak. "Malam-malam pamali motongin kuku!" serunya mencebik. Bukan kesal karena malamnya terganggu. Tapi kesal saja pada kakaknya. Seperti tidak bisa besok siang saja. Lagi pula Senja masih ingat, ia sendiri yang memotong kuku Sisi dua hari lalu.
"Makasih cantik.." Farri tak menanggapi wajah adiknya yang ditekuk. "Nanti abang balikin langsung."
"Nggak usah!" sahut Baskara cepat. Ia tidak ingin Farri kembali datang dan mengganggu mereka. "Buat abang aja gunting kukunya. Aku masih ada dirumah. Nanti aku kasih Senja."
Senja tertawa dalam hati melihat suaminya yang terlihat berusaha keras menahan kesal. "Iya buat abang aja." timpal Senja membantu sang suami mencegah kakaknya kembali datang.
Farri menatap kedua adiknya bergantian dan mengedik. "Oke. Kalian tidur udah malam." titahnya. "Pasti capek seharian dipajang."
Ayah satu anak itu berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari dua orang yang masih berdiri diambang pintu.
"Gini amat ya jadi adeeeekk." keluh Baskara merangkul sang istri untuk kembali masuk. Tawa Senja tak bisa lagi ditahan. Mengurangi ketegangan dan rasa malu yang sebelumnya ia rasakan.
"Kenapa mereka nggak pada pulang aja sih, biar kita nggak ada yang ganggu?" tanyanya dengan suara lirih karena sudah merengkuh tubuh istrinya dan membenamkan kepalanya dileher sang istri. Mengulang apa yang ia lakukan sore tadi. Masih dalam kondisi berdiri disisi tempat tidur.
Baru beberapa detik, Senja sudah mel*nguh begitu Baskara menyesap lehernya dengan kuat.
__ADS_1
Tangan Baskara sudah akan masuk kebalik baju Senja, ketika pintu kembali diketuk.
"Siapa lagiiiiii." rengek Baskara menjatuhkan dahinya dipundak sang istri.
Senja terkekeh sekaligus merasa kasihan pada suaminya itu. "Biar aku yang buka."
Baskara menjatuhkan dirinya tak berdaya diatas tempat tidur. Membiarkan Senja membuka pintu untuk tamu yang tak mereka undang itu.
"Kenapa pah?" tanya Senja pada pria yang menjadi pendonor DNA untuknya.
"Papa pada pegel-pegel. Kamu punya minyak gosok nggak?"
Jika tadi Baskara melongo mendengar Farri mencari gunting kuku. Kini giliran Senja yang melongo mendengar apa yang ayahnya cari.
Mana ia punya minyak gosok. Jika sang ayah menanyakan pada neneknya mungkin punya. Tapi yang benar saja ayahnya itu. Menanyakan minyak gosok pada ia yang bahkan usianya belum genap dua puluh tahun. Mana mungkin ia mengkoleksi benda macam itu.
Ini perasaannya saja atau gimana?
Senja rasa kakak dan ayahnya sengaja mengganggu malamnya bersama sang suami.
"Bang Vindra masih di rumah sakit kan?" tanya Baskara yang berdiri dibelakang Senja begitu ayah mertuanya sudah pergi karena tak mendapatkan apa yang dimau.
Senja mengangguk meski bingung untuk apa Baskara menanyakan kakak keduanya itu.
"Berarti penjaga tuan putri satu ini udah datang semua dan nggak ada yang akan ganggu lagi kan?"
Senja tersenyum dan mengangguk. Ternyata pemikiran mereka berdua sama. Mereka dikerjain Farri dan Alvaro.
Senja memekik begitu Baskara menggendongnya ala bridal dan menutup pintu dengan kaki yang otomatis terkunci. Melanjutkan apa yang sedari tadi terus tertunda.
*
*
*
Kasihan banget Babas nahan mulu dari kemaren hahaha
__ADS_1