
"Dia ngapain sih, mas, disini?" tanya Senja usai menceritakan pertemuannya dengan Grace di dalam lift tadi.
Sebelumnya Baskara tidak peduli dengan keberadaan Grace diperusahaan. Selama gadis itu tak mengganggunya diluar pekerjaan, ia tidak masalah. Ia hanya akan bersikap profesional di perusahaan, tanpa membawa masalah pribadinya dengan Grace.
"Dengar-dengar si dia lagi jadi karyawan magang di bagian keuangan."
Senja membulatkan bibirnya membentuk huruf 'o'. Pantas saja saat mereka bertemu tadi, Grace membawa berkas ditangan dan pakaian yang dikenakan gadis itu tidak terlihat seperti biasanya.
Grace memakai setelan kerja rapi tapi tetap terlihat stylish. Senja bahkan baru menyadarinya saat ini setelah tahu alasan keberadaan Grace disana.
"Nggak bakal sering ketemu kamu kan, mas?" tanyanya dengan wajah merajuk. Mengingat Grace yang begitu menyukai suaminya, membuatnya sedikit resah. Takut jika Grace akan menggoda hingga menjebak suaminya seperti dalam cerita-cerita yang ia baca.
Baskara mengedik. Ia saja belum tahu betul apa saja pekerjaannya. Hari pertamanya hanya mempelajari tentang perusahaan. Jadi tidak tahu apakah nantinya mereka akan sering bersinggungan atau tidak.
"Awas aja kalau sampai dekat-dekat! sampai tergoda dan pindah lain hati!" Senja memelototi suaminya. Membuat prianya itu terkekeh dan mencubit hidung yang memerah setelahnya.
"Sakit, iih!" memukul dada suaminya lembut.
"Abis gemesin kalau lihat kamu cemburu." ujarnya. "Suka deh." Baskara tergelak saat sang istri semakin memelototinya.
Jika dipikir-pikir istrinya sangat jarang cemburu padanya seperti saat ini. Atau bahkan tidak pernah?
Entahlah, yang jelas, ia suka melihat istrinya cemburu. Terlihat menggemaskan. Meskipun ia tak berniat membuat Senjanya itu untuk khawatir akan ada wanita lain yang menggantikan posisi gadis itu dalam hatinya.
"Yang aku cinta itu kamu. Yang aku mau juga kamu. Jadi Cantiknya Baskaraaaa.. Senjanya Baskaraaaa... Nggak perlu mikir yang macam-macam. Karena sekali kamu, akan tetap kamu!" ucapnya lembut namun ada ketegasan didalamnya.
Senja tersenyum dan mengangguk. Tak ada keraguan untuk mempercayai ucapan sang suami.
"Mau makan siang sekarang?" tawar Baskara yang langsung mendapat jawaban anggukan kepala sang istri.
Senja memeluk lengan suaminya yang baru saja mengambil kunci mobil. "Jasnya nggak dipakai?"
Tolak Baskara dengan gelengan. "Kalau begini aja udah ganteng, ngapain pakai jas segala. Itu cuma formalitas kerja."
Senja berdecih dengan kepercayaan diri suaminya. Tapi ia akui, jika suaminya semakin hari semakin terlihat dewasa. Tubuhnya semakin proporsional dengan berjalannya waktu. Semakin terlihat seksi dan menawan.
__ADS_1
Tidak apa bukan, mengagumi prianya sendiri?
Karena cintanya cukup buta. Hingga dimatanya tidak ada pria lain yang terlihat lebih menawan dari pada suaminya.
Ia juga yakin diluar sana banyak yang mengagumi suaminya terang-terangan maupun diam-diam. Tapi ia akan lebih keras memperjuangkan suaminya dalam doa. Karena hanya tangan Tuhan yang mempu memisahkan mereka.
Ketika keduanya keluar, disaat yang bersamaan Grace dan ayahnya lewat didepan ruangan Baskara.
"Lho, Bas? mau makan siang juga? senangnya ditemani istri." goda pria paruh baya itu.
Baskara sedikit tersipu. Ayah Grace ketika tengah bekerja bersikap kaku dan tegas pada Baskara. Tapi diluar jam kerja, pria paruh baya itu lebih ramah. Mungkin juga karena mereka sudah menjadi keluarga sejak lama.
"Iya, Om. Kebetulan istriku masih menikmati cutinya."
Grace mencibir dalam hati saat mendengarnya. Baginya Senja adalah wanita paling tidak produktif selain menjadi budak suami dan anaknya.
Berbanding terbalik dengan putrinya yang sejak melihat keberadaan Senja, sudah menatap sinis. Ayah Grace justru menyapa Senja dengan ramah.
"Sudah berapa bulan?"
"Delapan belas minggu, Om" jawabnya dengan tangan yang bergerak menutupi perutnya.
Untung saja ayah Grace hanya menatapnya ketika berbicara. Sehingga ia tidak jadi menyimpulkan bahwa pria paruh baya itu adalah pria mesum.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar ayah Grace menatap Baskara, Senja dan Grace bergantian.
Mata Grace sudah berbinar senang bisa makan siang bersama dengan Baskara. Tapi binar itu seketika sirna ketika mendengar jawaban pria yang dikaguminya sejak lama.
"Maaf, Om. Kami sudah memesan restoran di Menteng. Om juga tidak mungkin makan siang disana karena sebentar lagi ada rapat."
Jarak kantor ke restoran yang istrinya inginkan tidak terlalu jauh, namun jalan menuju kesana termasuk area yang kemacetan lalu lintasnya padat. Dan ketika pagi tadi Baskara ikut dalam rapat untuk memperkenalkan dirinya pada dewan direksi, Baskara mendengar laporan jadwal ayah Grace yang dibacakan asisten pria paruh baya itu setelah rapat.
"Aah iya, kamu benar." sesal ayah Grace. "Sayang sekali kita tidak bisa makan siang bersama."
Senja tersenyum kaku, begitu juga Baskara yang terlihat lebih tulus senyumnya.
__ADS_1
"Masih banyak waktu untuk kita makan siang barsama, Om."
Ayag Grace menepuk bahu Baskara sebelum berlalu. "Kamu benar. Kalau begitu, Om dan Grace duluan."
Senja menatap lega setelah pasangan ayah dan anak itu sudah tidak terlihat karena sudah memasuki lift.
Tak bisa dibayangkan jika mereka makan siang bersama. Makan dibawah tatapan tajam Grace jelas bukan pilihan yang tepat.
Bukan karena ia takut dengan gadis yang mengaku sebagai saingannya itu. Hanya saja ia takut selera makannya akan hilang.
Bisa-bisa anaknya yang sudah sangat menginginkan ayam taliwang dan iga asam manis, mogok makan. Hilang bayangan makan enak yang sejak dari rumah sudah menghantui pikirannya.
"Mau sampai kapan kita berdiri disini sayang, hm?" tegur Baskara lembut dengan merangkul bahu istrinya.
"Aku nggak akan ngebiarin momen ngidammu terganggu. Jadi jangan khawatir." imbuh Baskara seakan bisa membaca apa yang tengah istrinya pikirkan.
"Hampir aja aku milih pulang kalau kamu setuju makan bareng mereka, mas!"
"Nggak mungkin dooong.. Masa aku rela sia-siain waktu kita cuma buat makan bareng mereka. Nggak mungkin lah aku lebih milih mereka dari pada kamu." ujarnya untuk membesarkan hati istrinya agar mood-nya tidak turun lagi.
Lagi pula ia sudah berjanji untuk menjadikan istrinya prioritas hidupnya. Tak peduli orang sepenting apa ayah Grace diperusahaan saat ini.
"Emang kamu nggak dimarahin kalau nanti balik ke kantornya telat?" tanya Senja begitu memasuki lift.
"Siapa yang berani marahin aku sayaaaang... Kan aku cucu pemilik perusahaan yang akan mewarisi semua kekayaan perusahaan."
"Sombooong!!" seru Senja membuat Baskara mengaduh dan mengusap pinggang yang gadis itu cubit.
"Jangan disini dong, ayy, cubit-cubitannya. Nanti aja di rumah. Biar aku bisa balas cubitannya sama yang panas-panas."
Bola mata Senja membulat. "Mas!" serunya. Tangannya sudah akan bergerak untuk kembali mencubit bagian manapun. Tapi tangan suaminya lebih gesit dan membawa dirinya dalam rengkuhan.
*
*
__ADS_1
*