Langit Senja

Langit Senja
Rencana Rahasia


__ADS_3

Apa yang Senja lihat benar-benar tak pernah ia bayangkan.


Faraz yang biasanya berpenampilan necis kini terlihat berantakan. Rambut yang sudah mulai panjang dan tak disisir rapi. Begitu juga dengan kumis dan jambang yang sepertinya sudah lama tak dicukur membuat penampilan pria itu terlihat sangat kacau. Seakan yang ada dihadapannya kini bukanlah Faraz yang selama ini ia kenal.


"Mami mengalami depresi dan sekarang dirawat dirumah sakit jiwa. Bahkan beberapa kali mami melakukan percobaan bunuh diri." Grace yang lebih dulu berucap dengan air mata yang mulai menggenang. Sedangkan papinya hanya duduk diam menunduk malu.


"Gue cuma punya papi sekarang, Ka. Jadi gue nggak mungkin ninggalin dia walaupun gue benci banget sama dia."


Senja yang tak tega melihat Grace menangis langsung memalingkan muka. Karena ia tak sedekat itu dengan Grace hingga ia perlu menghibur gadis itu dengan memeluknya.


Senja duduk di sofa terpisah dengan ketiga orang itu yang tengah berbicara dimeja kerja Baskara. Tapi ia bisa dengan jelas mendengar tiap kata yang terucap dalam ruangan itu.


"Dan gue harus mempertahankan apa yang kami punya demi mami. Gue nggak rela kalau sampai wanita j*lang itu kembali dan mengambil semua yang kami miliki termasuk papi. Gue nggak rela dia menangin ini semua."


Senja mengangguk setuju. Karena yang bersalah hanyalah Faraz pada istrinya. Bukan Faraz pada putrinya. Dan setahu Senja, Faraz sangat memanjakan Grace dulu. Jadi pasti masih ada rasa sayang dan tak tega yang tertinggal di hati Grace.


Begitu juga dengan apa yang tengah Grace pertahankan. Ia juga pasti akan melakukan hal yang sama demi ibunya yang sudah menemani ayahnya berjuang dari bawah.


"Tapi Om sudah tahu kan, apa yang Grace tawarkan pada saya?" tanya Baskara pada pria paruh baya yang bahkan usianya terlihat beberapa tahun lebih tua dari usia sesungguhnya.


Faraz mengangguk dan menatap Baskara. "Saya sudah membaca semua surat perjanjian yang Grace buat. Dan saya setuju selama kamu mau membantu keluarga saya." suaranya berat.


"Saya menyesal. Dengan semua yang saya lakukan. Termasuk perbuatan saya dengan kamu."


Baskara mengangguk. Ia juga sudah tidak menyimpan dendam untuk apa yang sudah terjadi. Terlebih itu semua sudah berlalu bertahun-tahun silam.


Setelah mendengar persetujuan dari Faraz, Baskara langsung menandatangai berkas yang Grace bawa dan sudah ia baca tentunya.


"Nanti Andi yang akan mengurus semuanya. Saya juga akan menaruh salah satu staf saya di management restoran kalian." ujar Baskara kemudian. "Kalian tidak keberatan kan?"


Grace dan Faraz sama-sama menggeleng dan setuju saja dengan apa yang Baskara lakukan.


***


Baskara melangkah menuju sang istri begitu Grace dan ayahnya pergi bersama Andi untuk mengurus keuangan yang akan ia gelontorkan untuk restoran mereka.

__ADS_1


"Jujur sama aku." desak Baskara. "Kamu ikut aku ke kantor cuma mau ngawasin aku kan, ayy? kamu takut aku ngapa-ngapain sama Grace makanya kamu ikut? kamu cemburu?" tuduh Baskara yang duduk merapat pada sang istri yang mencoba menjauh.


"Tolong ya tuan Lazuardi yang terhormat, diturunkan sedikit rasa percaya dirinya." Senja mendorong dada suaminya ketika sudah merasa terpojok di sudut sofa.


"Kenapa harus nggak percaya diri?" ucapnya dengan menaikan sebelah alisnya menggoda sang istri. "Aku ganteng, aku kaya, aku punya anak-anak yang lucu dan cerdas, punya istri yang cantik, seksi-"


"Oke oke cukup!" Senja langsung membungkam mulut suaminya dengan telapak tangan. "Cukup untuk menyombongnya, karena lebih baik kita ke rumah sakit jengukin maminya Grace."


Baskara mengerucutkan bibirnya setelah tangan Senja terlepas. "Kenapa kita nggak seharian aja disini? kenapa harus pergi-pergi?"


Melihat bagaimana suaminya merajuk. Senja jadi tahu dari siapa sifat merajuk putrinya diturunkan.


Karena ekspresi Baskara yang terlihat menggemaskan. Bibirnya yang mengerucut dan matanya yang memelas dengan kepala didongakan sangat persis dengan ekspresi Anna ketika merajuk atau ketika akan menangis.


"Sebagai saudara yang baik, bukankah kita sebaiknya datang menjenguk?"


Baskara menggeleng dan justru menghimpit tubuh istrinya disofa. Dibawahnya, Senja berusaha memberi perlawanan dengan mendorong dada sang suami yang tak bergerak sedikitpun.


"Maasss.. Jangan di kantor!" lagi pula mereka bukan pengantin baru yang masih tak tahu tempat. Bahkan semalam mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk melakukannya.


Senja tetap menggeleng tak setuju. "Nggak disini, atau nggak sama sekali!" ancam Senja.


Mendengar ancaman dari sang istri membuat Baskara menurunkan bahunya lesu. Merubah posisi hingga mereka berbaring bersebelahan dengan saling berpelukan.


"Kalau begitu kasih aku suntikan vitamin aja." pintanya.


"Suntikan vitamin?"


Baskara mengangguk dan langsung menyatukan bibir mereka dengan tubuh yang juga saling melekat tak menyisakan jarak sedikitpun.


Dari yang awalnya hanya kecupan-kecupan kecil yang berangsur berubah menjadi pagutan, kini Baskara memperdalam ciuman mereka dengan gairah yang menggelora.


Tahu suaminya tidak akan dapat menahan diri. Senja memalingkan wajah hingga bibirnya terbebas dari belit suaminya yang bisa ia pastikan akan menjalar kemana-mana.


"Ayo. Lebih baik kita siap-siap."

__ADS_1


Baskara mendesah dan bangkit tak berdaya. "Saat kita bulan madu nanti, nggak akan aku lepasin kamu, ayy." gumam Baskara yang masih bisa terdengar di indra pendengaran Senja.


"Bulan madu?"


Baskara menutup mulutnya merasa keceplosan. Ia turunkan tangannya setelah beberapa detik. Merenges pada sang istri.


"Niatnya mau buat kejutan. Tapi malah keceplosan."


Senja kembali terkekeh melihat tingkah suaminya yang semakin bertambah usia justru semakin terlihat menggemaskan.


"Emang mau bulan madu kemana, mas?" tanya Senja yang sudah membenahi penampilannya. Tapi belum ada ekspresi antusias di wajahnya.


"Ada lah, rahasia. Nanti juga kamu tahu."


Senja menggabungkan kejadian demi kejadian yang sepertinya ada hubungannya dengan rencana suaminya untuk mengajaknya berbulan madu.


"Jangan-jangan kamu yang minta mama sama papa ngajak anak-anak pergi demi bulan madu ini?"


Baskara mengangguk dengan bangga. "Keren kan ide aku?" ia menyugar rambutnya kebelakang. "Sekali mendayung tiga pulau terlampaui."


Ia dan sang istri bisa berbulan madu dengan tenang tanpa gangguan anak-anak. Anna bisa terapi untuk mengurangi ketergantungannya dengan Kaisar. Dan anak lelaki mereka bisa menikmati liburan dengan cara yang berbeda dengan kakeknya.


"Berapa hari, mas? memang anak-anak nggak pa-pa kita tinggal? mereka nggak akan nyariin kita?" Senja menghujani pertanyaan yang mungkin saja terjadi.


"Untuk kali iniii aja, ayy. Kamu fokus ke aku tanpa mikirin anak-anak." pinta Baskara.


Karena bulan madu kali ini adalah caranya menebus bulan madu yang belum sempat mereka lakukan selama pernikahan. Jadi ia hanya ingin ada mereka berdua. Senja dan Baskara.


*


*


*


__ADS_1


__ADS_2