
Dua orang pria dewasa dengan setelan formal berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tatapan tajamnya. Derap langkah dari dua pasang sepatu pantofel terdengar begitu nyaring di telinga orang orang yang melewatinya.
"Di mana dokter Arini?" Tanya Dylan pada seorang perawat yang akan memanggil pasien selanjutnya yang tengah mengantri.
"Maaf Tuan, apa Anda sudah membuat janji pada dr Arini?" Tanya perawat itu. Ia belum melihat keberadaan Langit yang berdiri di belakang Dylan sedikit Jauh.
"Apa saya perlu membuat janji untuk bertemu dengannya?" Suara bariton itu mengalihkan atensi perawat itu dari Dylan.
Perawat itu begitu terkejut melihat kehadiran pewaris tunggal orang nomor satu di negaranya. Ya, siapa yang tak kenal dengan LANGIT ANDERSON WILLIAM. Satu satunya pewaris keluarga William.
"T_tuan Muda." Gumam perawat itu dengan wajah terkejutnya hingga berbicara tergagap.
"Hm. Saya ingin bertemu dengan dokter Arini." Dehem Langit, seraya mengatakan keinginannya datang kemari.
"B_baik Tuan. Akan saya beritahu dr Arini." Jawab perawat itu, lalu kembali masuk ke dalam ruangan dokter kandungan itu.
"Mana pasiennya Hana?" Tanya Dr Arini saat melihat perawat yang mendampinginya itu kembali masuk. Tapi tidak bersama dengan pasien selanjutnya, hingga membuat dokter wanita itu menautkan kedua alisnya bingung.
"Dokter, di luar..." Hana, sang perawat itu menjeda kalimatnya.
"Ya? Di luar kenapa?" Tanya Dokter Arini. Wanita dengan jas dokternya itu semakin bingung melihat kegugupan Hana. "Di mana pasiennya Hana?" Tanya dokter Arini, semakin bingung.
"Anu dokter, di luar, Tuan muda Will..."
"Saya pasien selanjutnya." Ucapan Hana terpotong saat suara bariton menggema di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Dokter Arini mendongak melihat siapa pria yang sudah berani masuk ke dalam ruangannya, begitu juga dengan Hana yang membelakangi pintu masuk itu langsung menoleh ke belakang.
"Langit?" Seru Dr Arini seraya berdiri dari duduknya. Dia begitu terkejut melihat orang yang sudah lama tidak ia lihat secara langsung kini menunjukkan wajahnya di hadapannya.
Ya, dr Arini tidak memanggil Langit dengan embel embel Tuan di depannya, karena sudah terbiasa semasa SMA dulu. Rupanya, dr Arini termasuk teman dekat Langit, Dylan dan juga Jhonny saat SMA.
__ADS_1
"Hm." Dehem Langit dengan menganggukkan kepalanya. "Rupanya kamu masih mengingat saya." Lanjutnya dengan tersenyum miring.
"Hana, kamu boleh keluar sebentar." Bukan menjawab pertanyaan Langit, Dr Arini malah meminta pada perawat yang mendampinginya untuk keluar dari ruangannya sebentar.
"Baik dok." Sahut Hana, lalu beranjak keluar dari ruangan dokter Arini.
"Duduk Lang." Persilah Dr Arini pada teman lamanya itu. "Langsung saja, saya tidak punya banyak waktu." Pinta dr Arini.
"Sekarang kamu sok sibuk ya Rin." Ucap Langit, sedikit berbasa basi.
"Ck, sekarang kamu sok basa basi ya. Sejak kapan seorang CEO WILLIAM COMPANY jadi banyak bicara." Sindir dr Arini pada Langit. Apa dia takut pada orang ternama ini? Tentu saja tidak. Apalagi mengingat cerita dari sahabat keponakannya yang sudah ia anggap keponakan itu, membuat dr Arini tidak memiliki rasa takut sedikitpun. Meski ia harus di singkirkan dari dunia ini oleh Langit, dia tidak akan gentar. Karena wanita itu percaya, kebenaran akan selalu menjadi pemenangnya meski sedikit terlambat.
"Rupanya kamu sangat memahami saya Arini." Ucap Langit seraya terkekeh. Entah memiliki maksud apa pria itu yang biasanya selalu to the point kini malah berbicara tentang hal hal yang tidak penting seperti ini.
"Tidak ada yang tidak bisa memahami seorang Langit Anderson William, sekalipun dia tidak akan peduli." Ketus dr Arini, yang sudah sangat kesal dengan teman lamanya ini.
"Tadi pagi kamu memeriksa kandungan istri saya." Ucap Langit, bukan bertanya, tapi memberi pernyataan.
"Istri kamu? Memangnya kamu sudah menikah?" Tanya dr Arini. Tentu saja dia berpura pura tidak tahu, karena pernikahan pria itu memang masih belum go publik. Akan lebih aman jika Dr Arini berpura pura tidak tahu bukan?.
Namun Dr Arini di buat semakin bingung saat mendengar kekehan dari Langit. Bahkan kekehan itu terdengar begitu mengerikan jika orang lain mendengarnya.
Sedangkan di posisi Langit yang masih terkekeh, pria itu menyandarkan tubuh besarnya pada sandaran kursi yang ia duduki, kemudian menyilangkan kakinya dang tangannya bersedekap di dada. Pria itu menatap sinis ke arah dr Arini yang masih menatapnya bingung.
"Kau membohongi saya?" Tanya Langit. Senyum miringpun terbit di bibirnya.
"Apa maksudmu?" Tanya dr Arini, bingung dengan pertanyaan Langit yang terdengar ambigu?
"Tidak usah berpura pura jika kamu tidak bisa menutupi kebohongan." Timpal Langit. "Saya tahu jika kamu sudah mengetahui tentang pernikahan saya, tentang istri saya yang tengah mengandung anak saya. Dan saya juga tahu kalau sedikit banyak kamu sudah mengetahui tentang permasalahan saya dan istri saya." Lanjut pria itu, memberitahukan tanpa jeda.
Dr Arini yang mendengarnya cukup terkejut, namun hanya sesaat. Ah, hampir saja dia melupakan siapa Langit.
__ADS_1
Wanita itu kembali mengatur ekspresinya kembali terlihat santa.
"Tuan muda Langit Anderson William yang terhormat, jika Anda sudah mengetahui semuanya, lalu kenapa sejak tadi anda selalu berbasa basi? Terus apa yang anda inginkan dari saya sekarang?" Tanya dr Arini, mengeluarkan segala uneg unegnya. Tidak perduli siapa orang yang ia lampiaskan kekesalannya itu.
"Hanya ingin terlihat akrab saja dengan teman lama." Jawab Langit, santai.
"Sudah saya katakan Anda tidak perlu berbasa basi. Katakan terus terang tujuan anda kemari." Ucap dr Arini dengan sedikit lantang. Wanita ini benar benar kesal dengan kehadiran Langit yang tiba tiba.
"Bagaimana kondisi istri dan calon anak saya." Akhirnya Langit mengatakan tujuannya menemui dokter kandungan ini.
"Maaf Tuan muda." Dr Arini menjeda ucapannya seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Saya tidak bisa memberitahukan privasi pasien pada orang asing tanpa seizin si pasien." Ucap dr Arini dengan tegas. Bahkan sorot mata wanita itu tidak ada rasa takut sedikitpun terhadap pria berkuasa di hadapannya kini.
Langit tersenyum sinis melihat keberanian dr Arini. Ah wanita ini benar benar tidak berubah. Dia tidak pernah peduli siapa lawannya, sekalipun ia berkuasa. Padahal Langit baru saja mengancam reputasinya, tapi tetap saja dia keukeuh.
"Ingat baik baik dr Arini yang terhormat. Saya bukanlah orang asing seperti yang Anda katakan tadi. Tapi saya adalah suaminya, suami sah dari wanita bernama Senja Az-Zahra, dan juga ayah dari bayi yang di kandung istri saya." Ucap Langit, mempertegas statusnya dengan salah satu pasien teman lamanya ini.
Dr Arini tersenyum miring mendengar penjelasan Langit yang menurutnya tidak perlu di katakan lagi, karena dia pun sudah mengetahuinya.
"Tidak perlu di pertegas Tuan Muda, saya juga tahu jika Anda adalah suami dari salah satu pasien saya yang tadi anda tanyakan." Dr Arini kembali menjeda kalimatnya. "Tapi Anda jangan lupakan, jika Anda suami Senja yang dzolim. Rela Menukar mahkota berharga seorang wanita dengan rupiah, dan juga tega ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri." Jelas dr Arini, membuat Langit yang tadinya menegapkan kepalanya dengan kekuasaannya, kini kepalanya tertunduk lesu. Benar apa yang di katakan oleh dr Arini, dia memang pria yang bodoh, menyia nyiakan wanita setulus Senja. Tapi dia tidak akan menyerah, dia akan terus berjuang untuk membuktikan kesungguhannya pada sang istri dan ingin membawa istrinya kembali, bagaimanapun caranya.
"Apa sedetail itu istri saya mengadukan nasib rumah tangganya?" Tanya Langit, sedikit bergumam. Dia tidak menyalahkan istrinya, mungkin luka yang ia berikan pada Senja terlalu dalam, hingga wanita itu tidak bisa menyimpannya sendirian.
"Menurutmu, bagaimana cara seseorang mengobati rasa traumanya? Apa dia harus terus memendam lukanya? Atau dengan cara membukanya?" Tanya dokter Arini.
Ah, Langit hampir saja melupakannya, jika dr Arini pernah kuliah di jurusan psikiater sebelum S2 jurusan dokter kandungan.
"Arini tolong keadaan dan keberadaan istri saya. Saya berjanji akan merubah sikap saya. Saya benar benar menyesal Arini." Dan pada Akhirnya, pria berkuasa itu menjatuhkan harga dirinya demi menemukan istri kecilnya.
Ya, dia sudah bertekad untuk melakukan apapun demi menemukan istrinya kembali, termasuk dengan cara menjatuhkan harga dirinya seperti ini.
****
__ADS_1