Langit Senja

Langit Senja
Hari Pertama Berpisah


__ADS_3

"Cantiknya princess mommy.." puji Senja mencium gemas pipi putrinya yang kian membulat diusianya yang menginjak satu bulan.


"Main sama daddy dulu ya sayang.. Mommy mau siapin sarapan." Ia bawa tubuh mungil putrinya kearah tempat tidur dimana suaminya masih terlelap.


Senja tak masalah dengan Baskara yang sering bangun siang. Ia memaklumi suaminya yang hampir setiap malam begadang menggantikan dirinya.


Keduanya berbagi tugas dalam menjaga buah hati mereka. Selama satu bulan kemarin Senja mengikuti kelas via online. Jadi ia memiliki banyak waktu untuk bersama putri kecilnya disiang hari. Menjaga sang buah hati dimasa pemulihan. Malamnya Baskara yang akan menjaga dan menemani baby Anna begadang.


Biasanya Senja akan membiarkan suaminya tertidur hingga puas dan bangun sendiri.


Tapi hari ini ia sudah mulai kembali kuliah, jadi mau tidak mau, ia harus meminta tolong pada suaminya pagi-pagi seperti ini.


"Daddy.. Main yuk.." ucap Senja menirukan suara anak kecil seraya meletakan baby Anna diatas dada Baskara dengan posisi tengkurap.


"Daaadyyy.." ucapnya lagi sedikit mendayu. "Mommy hari ini nggak bisa nemenin baby Anna main. Mommy mau kuliah dad."


Baskara mengerang dan mendekap lembut putrinya sebelum beranjak duduk. "Duhh princess daddy udah wangi.. Udah mandi ya sayang ya?" ciumnya pada pipi dan juga kepala putrinya. Matanya masih terasa berat. Suaranya serak khas bangun tidur. Ternyata memiliki bayi kecil itu membahagiakan sekaligus melelahkan.


"Iya dong, dad. Kan biar nggak kalah cantik kaya mommy." jawab Senja menggantikan putri kecilnya.


Baskara tersenyum mengalihkan tatapannya pada wanita luar biasa yang berdiri disisi tempat tidur.


Biasanya wajah itulah yang akan ia tatap tanpa bosan ketika bangun dipagi hari. Tapi kini ada wajah lain yang membuatnya jatuh cinta setiap menatapnya. Wajah putri kecil buah cintanya. Dimana DNA miliknya berada. Dimana darah didalam tubuh kecil itu mengalir darahnya. Darah dagingnya.


"Waaah mommy juga udah cantik." puji Baskara yang melihat istrinya sudah rapi pagi-pagi seperti itu. Ia memajukan bibirnya meminta jatah morning kiss.


Dengan senang hati Senja menangkup wajah suaminya dan memberikan kecupan singkat.


"Sarapan panekuk aja ya mas. Udah siang soalnya." cengir Senja tak enak hati. Hari pertamanya masuk kuliah ternyata ia cukup kewalahan. Padahal sudah sejak subuh ia menyiapkan segala keperluan suami, kuliah dan putri kecilnya terutama stok ASIP yang tidak boleh sampai terlupakan.


"Iya nggak pa-pa." angguk Baskara. Ia tidak pernah mempermasalahkan apa pun yang istrinya sajikan untuk ia makan. Apa pun yang dimasak istrinya akan ia makan hingga tak bersisa.


Ia tahu istrinya sudah bersusah payah untuk memasak dikondisi yang entah sudah benar-benar pulih atau belum.

__ADS_1


Tapi Baskara juga tidak bisa memaksa istrinya untuk tidak memasak ketika istrinya itu sudah bersikeras. Apa lagi jika sudah membawa kata pahala sebagai alasan.


"Mas kalau mau mandi, tunggu baby Anna bobo dulu ya mas. Jangan ditinggal sendirian kasihan." ucap Senja seraya merapikan tempat tidur ketika sang suami beranja menuju balkon dikamar mereka. Mencari mentari pagi untuk berjemur.


"Iya sayang."


"Nanti yang bersih-bersih rumah datang. Baby Anna jangan dibawa keluar kamar. Kasihan debu."


"Siap nyonya."


"Kasih susunya jangan lupa satu jam sekali mas. Ingat!"


"Paham bubos."


Baskara mengulum senyum melihat tingkah istrinya. Ia tahu istrinya enggan pergi meninggalkan baby Anna.


"ASIP-nya udah aku stok banyak. Nanti kalau memang kurang, mas telfon aja. Biar pas jam makan siang aku pulang buat pumping lagi."


Mengingat baby Anna yang masih sering menyusu, ia takut stok ASIP yang tersedia kurang.


Padahal setiap malam suaminya yang menjaga putri mereka. Namun entah kenapa rasanya berbeda ketika ia harus meninggalkan rumah.


"Iya sayang.. Nggak usah balik nggak pa-pa. Kayaknya mah cukup sampai kamu pulang sore. Kan ada hasil pumping kemarin-kemarin. Kalau kamu pulang nanti capek, lumayan jauh juga."


Senja menggangguk dan keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan mereka. Meninggalkan sang suami yang mulai bermain dengan baby Anna.


***


"SENJA!!" teriak beberapa suara begitu ia memasuki ruang kelas dan dirinya langsung diserbu dengan pelukan oleh teman-temannya.


Senja tergelak melihat teman-temannya yang begitu berlebihan menyambutnya. Ternyata tidak hanya ia yang merindukan teman-temannya itu. Padahal baru tidak masuk selama satu bulan.


"Jadi kapan kau akan membiarkan kami untuk menjenguk keponakan baru kami itu." ujar Florence setelah acara peluka mereka usai.

__ADS_1


Senja memang belum mengizinkan teman-temannya menjenguk baby Anna. Ia beranggapan putrinya masih terlalu rentan dengan kuman penyakit. Jadi ia tidak membiarkan orang luar untuk datang menjenguk.


"Kami sudah ingin melihat princess kami yang menggemaskan itu! tidak hanya lewat foto yang kau bagikan di grup chat!" sahut Lucy.


"Benar. Kalau perlu kami bisa mandi terlebih dahulu ketika sampai dirumahmu sebelum bertemu baby Anna." timpal Maureen.


Senja kembali tergelak. Ia akui jika ia terlalu berlebihan menjaga baby Anna. Tapi entah lah, nalurinya sebagai ibu yang menuntunnya untuk melakukan hal seperti itu.


"Ya, nanti kalian sudah boleh datang kerumah. Jangan lupa siapkan hadiah dan uang saku yang banyak untuk baby Annaku." kelakarnya.


Teman-temanya bersorak dan mulai ribut akan membawa apa untuk baby Anna.


"Wahh aku baru sadar sekarang, kalau milikmu semakin membesar setelah melahirkan. Meskipun aku sudah melihatnya ketika kau hamil, tapi ternyata saat ini lebih besar lagi."


"Flo!" pekik Senja dengan menyilangkan tangannya didepan dada ketika satu temannya terlihat akan memegang miliknya. "Nanti kau akan memilikinya sendiri ketika kau sudah memiliki bayi dan mengASIhinya! jadi cepatlah memiliki bayimu sendiri kau ingin memiliki ukuran yang besar!"


Florence tergelak melihat Senja yang berjengit kesal. Teman Senja yang satu itu memang sering penasaran bagaimana seorang wanita memiliki ukuran dada yang cukup besar.


Florence bahkan sempat menyampaikan niatnya untuk operasi plastik untuk menambah ukuran dada miliknya.


Namun hingga kini gadis itu masih belum berani merealisasikan keinginannya itu. Terlebih Senja dan yang lain melarangnya.


"Haruskan aku memiliki bayi dengan Hadley sekarang?"


"Jangan pernah mencobanya sebelum kau menikah! kasihan anakmu jika tidak memiliki status yang jelas!"


Florence kembali tergelak. Senja memang tidak pernah ikut campur ketika teman-temannya main ke club malam atau bercinta meski mereka belum menikah.


Namun Senja selalu mengingatkan teman-temannya untuk berhati-hati agar tidak sampai hamil dan menyusahkan diri sendiri dan berakibat buruk untuk bayi yang mereka lahirkan.


Itulah alasan teman-teman Senja masih bertahan disisinya. Meski mereka tidak satu pendapat dan pemikiran. Tapi ada toleransi didalamnya yang cukup baik. Juga mereka bisa merasakan ketulusan Senja dalam berteman dan menginginkan yang terbaik untuk mereka.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2