
"Ada yang sakit nggak? baby baik-baik aja kan?"
Meski Baskara akan selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap mereka selesai bergulat diatas ranjang. Namun Senja tidak bisa untuk tidak tertawa.
Semakin besar kehamilannya, suaminya itu justru terlihat semakin khawatir ketika mereka melakukannya.
Lihat saja wajah khawatir suaminya itu yang tengah menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kami baik-baik aja sayang.. Kalau panik gitu, kenapa dilakuin coba?" godanya.
Baskara mencebikan bibirnya yang kemudian mengerucut. "Mana tahan." ujarnya.
"Terus kenapa harus takut?" tanya Seni lagi setelah meredakan tawanya.
"Karna aku sayang kalian. Nggak mau kalian kenapa-napa. Pokoknya kalian berdua harus sehat terus."
Senja mengangguk dan tersenyum lembut. Ia belai rahang suaminya. Tak terasa perjalanan cinta mereka bisa sampai dititik itu.
"Doain ya mas, biar nanti pas ngelahirin aku maupun baby sama-sama selamat."
Baskara bawa tubuh istrinya kedalam pelukan. Sebenarnya ia takut membayangkan bagaimana nanti Senja merasa kesakitan. Tapi inilah jalan yang harus mereka lalui jika mereka menginginkan keturunan.
"Tanpa kamu minta, aku selalu doain kalian tiap waktu." ucapnya lembut sembari membenamkan wajahnya di puncak kepala istrinya.
"Kemarin mama telfon mas. Mama tanya, kita mau bawa mbak yang dirumah mama buat jagain baby atau gimana? kalau mau, nanti pas mama-papa ayah-bunda kesini dihari wisuda kamu, biar mbak ikut sekalian."
Baskara tak langsung menjawab. Ia terlihat memikirkannya. "Perkiraan baby lahir kan seminggu setelah aku wisuda. Aku juga masuk buat kuliahnya masih lama, jadi sementara kita sendiri aja yang jagain, ayy."
Ini anak pertama mereka, jadi Baskara tidak ingin ada tangan lain yang membantu merawat buah hati mereka nanti. Ia tidak ingin anaknya akan lebih dekat dan memiliki ikatan batin lebih kuat dengan orang lain dibanding dengan mereka yang orang tuanya. Ia ingin mereka sama-sama belajar mengasuh anak dari nol.
"Kamu yakin mampu mas? aku tetap kuliah lho?"
Baskara mengangguk tanpa keraguan diwajahnya. "Kamu bisa stok ASI yang banyak saat kamu kuliah. Serahkan semua sama daddy." ujar Baskara mantap dengan menepuk dada sebelah kiri diakhir kalimat.
__ADS_1
Tapi entah kenapa itu justru mengganggu perasaan Senja. Ia merasa tidak menjalani perannya sebagai ibu dan istri dengan baik.
"Kok aku kaya egois banget ya, mas? ninggalin bayi kita sama kamu, sementara aku kuliah." keluhnya sendu.
"Enggak dong sayang." ucap Baskara menenangkan. "Baby emang kewajiban kamu sebagai ibu buat ngerawat. Tapi pendidikan juga kewajiban yang harus kamu selesaikan sebagai anak. Apa lagi ini kan baby datangnya terakhir. Disaat kamu masih punya tanggungjawab yang belum tuntas."
"Aku janji bakal fokus sama anak kita setelah lulus nanti." ucap Senja kemudian. Karena yang suaminya katakan ada benarnya. Ia tetap harus menyelesaikan kewajibannya satu persatu.
"Masa fokus ke baby doang. Aku enggak?"
Senja terkekeh melihat wajah masam suaminya. "Fokus sama kamu juga dong, mas. Aku janji akan fokus sama kalian berdua. Sampai baby bisa ditinggal baru aku ngerancang lagi cita-cita yang ketunda."
"Nggak perlu janjiin apa-apa. Kita jalani aja." jawab Baskara kemudian sebelum keduanya sama-sama terlelap kealam mimpi.
***
Senja hampir mengeluarkan semua dress yang ia miliki. Ia sudah tidak sanggup menggunakan celana. Rasanya tidak nyaman mengingat perutnya yang lebih membesar dari bulan sebelumnya. Jika bulan lalu berat badan bayinya baru 1kg. Kemarin saat ia dan Baskara memeriksakan kandungan, berat badan anak mereka sudah mencapai 1,7kg. Kenaikannya cukup banyak dibanding trisemester kedua.
"Ayo Ayy, nanti keburu siang." Baskara melongokan kepalanya di pintu kamar.
"Loh. Kok kamu masih pakai bathrobe?" herannya. Dan Lebih heran lagi melihat kondisi kamar mereka yang sudah seperti kapal pecah. Baju Senja tersebar dihampir semua sisi tempat tidur dan juga lantai kamar.
"Aku bingung mau pakai baju apa?" keluhnya dengan mata berkaca-kaca. "Perutku udah sebesar ini. Tapi lihat baju-bajunya." tunjuk Senja pada baju-baju yang berserakan.
"Kan kamu punya banyak dress sayang." Baskara masuk dan mulai mengumpulkan kembali baju-baju itu untuk ia rapikan dan kembalikan ketempatnya semula.
"Dress-nya pendek-pendeeeekk.." rengek Senja yang sudah akan menunjukan tanda-tanda menangis.
Jika ibu hamil diawal kehamilan lebih sensitif. Senja justru semakin mendekati kelahiran semakin sensitif.
Entah itu terpengaruhi oleh rasa cemas Senja menanti hari kelahiran atau apa, Baskara tidak tahu. Yang perlu ia lakukan hanya bersabar dan menuruti apa yang istrinya mau. Berusaha agar tidak menyinggung perasaan istrinya yang akan membuatnya sedih. Meski rasanya sulit untuk melakukan hal tersebut. Karena hal sepele pun Senja akan sedih.
"Dress yang biasa kamu pakai buat kuliah dimana, ayy?"
__ADS_1
Senja menghentakan kakinya kesal. Air matanya semakin merebak. Merasa suaminya adalah pemuda paling tidak pengertian.
"Kan kamu laundry semua!" pekiknya.
Baskara yang tengah melipat baju sedikit terperanjat dan mengedipkan matanya kaget.
Ia lupa jika selain mood yang semakin sensitif. Senja juga hobi berganti pakaian. Entah sudah berjalan berapa lama kebiasaan aneh istrinya itu. Katanya baju yang terlalu lama digunakan itu kotor dan banyak kuman penyakit. Senja tidak ingin anak mereka terpengaruh akan hal itu. Jadilah hampir setiap dua atau tiga jam, Senja akan berganti pakaian. Membuat cucian mereka banyak dan kini istrinya itu tengah kekurangan pakaian.
"Emm oke, nanti kita beli yaaa. Sekalian beli perlengkapan baby." rencananya sekarang mereka memang akan pergi ke mall untuk membeli perlengkapan bayi yang belum satu pun mereka beli. Padahal hanya sisa satu bulan lagi anak mereka itu lahir.
"Terus perginya aku pakai apa? nggak pakai baju?!"
"Eh. Enggak gitu dong sayang. Coba aku pilihin ya?"
Baskara membantu istrinya memilih pakaian yang cocok digunakan. Setelah menemukan yang cocok, ia bisa bernapas lega karena istrinya sudah kembali tersenyum dan memasuki ruang ganti untuk bersiap-siap.
Sembari menunggu istrinya, Baskara memasukan pakaian yang sudah ia lipat rapi kedalam lemari.
Setelah Baskara lulus kemarin, memang ia yang mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak dikerjakan oleh orang yang beberes seperti memasak dan mencuci piring serta membereskan kamar. Ia tidak membolehkan istrinya mengerjakan apa pun meski itu hanya memasak.
Istrinya cukup berangkat kuliah, mengerjakan tugas dan tidak lupa untuk ikut kelas ibu hamil. Mempersiapkan diri untuk proses melahirkan nanti.
Baskara juga selalu siap sedia mengantar jemput istrinya. Ia juga selalu mendampingi istrinya untuk memeriksakan kandungan maupun kelas ibu hamil.
Karena tidak hanya Senja yang menyiapkan diri untuk proses melahirkan dan menjadi ibu.
Baskara juga mempersiapkan diri menjadi suami dan ayah siaga untuk kedua malaikatnya itu.
*
*
*
__ADS_1