Langit Senja

Langit Senja
Welcome Baby


__ADS_3

Tanpa berbekal apa pun, Baskara langsung menuju rumah sakit yang tidak jauh dari kampusnya.


Padahal mereka sudah memesan kamar di rumah sakit tempat biasa Senja memeriksakan kehamilannya. Menghindari habisnya kamar yang cukup nyaman setelah melahirkan.


ia juga sudah menyewa kamar terhitung sejak dua hari yang lalu hingga Senja selesai dirawat nantinya. Tapi kini ia harus mencari rumah sakit lain yang bisa segera menangani anak dan istrinya.


Dokter yang biasa menangani Senja pun tidak bisa datang. Selain jarak yang cukup jauh, juga karena dokter itu tidak bekerja dirumah sakit yang kini menangani Senja.


"Dokter yang ada aja nggak pa-pa ya sayang?"


Senja mengangguk ketika didorong ke ruang persalinan. Ia memang sempat mengatakan pada suaminya jika nanti ia hanya ingin dokter Julia yang menangani. Selain dokter Julia yang tahu perkembangan kehamilannya, juga keramahan dokter Julia yang membuat Senja merasa nyaman.


Tapi kini ia tidak lagi peduli siapa dokter yang akan membantu proses persalinannya. Baginya kini yang terpenting anaknya bisa terlahir dengan selamat.


Setelah diperiksa, ternyata bukaannya belum lengkap. Sehingga dokter melakukan induksi persalinan untuk membantu mempercepat datangnya persalinan.


Hal ini karena semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memulai persalinan setelah kantung ketuban pecah, semakin besar pula risiko ibu atau bayi untuk mengalami infeksi.


Senja hanya bisa berbaring miring kiri dan merintih setiap kontraksinya datang. Bahkan ketika bayinya mendorong ingin keluar, ia tidak bisa melakukan apa pun karena dokter melarangnya mengejan sebelum bukaan lengkap.


"Sakit.. mas.." rintihnya dengan air mata yang tak henti menetes. Ia berusaha untuk tidak berteriak. Menghemat tenaga untuk perjuangannya nanti.


"Maaf ayy.. Maaf.." jawab Baskara yang tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa dan memberi istrinya semangat. "Kamu pasti bisa. Gadis cantiknya Babas. Gadis tangguhnya Babas pasti bisa."


Tangan dan kaki Baskara sudah bergetar karena takut. Menggenggam tangan istrinya bukan hanya untuk menguatkan sang istri. Tapi juga untuk menguatkan dirinya sendiri.


Baskara tahu melahirkan itu sakit. Istrinya juga sering bertanya akan sesakit apa? dan bisakah istrinya itu menahan sakitnya?


Ketika itu, Baskara masih bisa menguatkan dengan nada bercanda. Tapi kini, jangankan bercanda. Melihat istrinya berjuang antara hidup dan mati, hatinya bahkan sudah merasakan sakitnya.


"Sebentar lagi kita akan berkumpul bertiga sama baby. Kamu mau kan berjuang untuk sama-sama selamat bareng baby?"


Senja mengangguk dengan senyum yang terlihat getir karena menahan sakit.


Genggaman tangan Senja akan menguat ketika kontraksi itu datang lagi. Dan disaat kondisi seperti itu datang, tangan besarnya akan mengusap dan memijit lembut pinggang istrinya.


"Baby udah pengen banget keluar.. Sakit banget mas.. Aku masih belum boleh ngejen ya?"

__ADS_1


"Mana yang sakit? sini?" Baskara mengusap perut besar istrinya yang katanya sakit. Membisikan kata-kata lembut penyemangat untuk putri mereka. "Baby anak daddy yang cantik. Cepat keluar ya sayang. Jangan terlalu lama bikin mommy sakitnya. Baby kan anak hebat. Baby pasti bisa cari jalan keluar ya sayang ya?"


Mengecup lembut perut itu. "Ayoo sayang berjuang bareng mommy. Daddy tunggu baby disini. Daddy udah pengen gendong dan peluk baby lho."


"Didepan juga ada nenna, peppa sama oma."


"Semua udah nungguin baby keluar nih."


"Semua udah nggak sabar buat gendong baby. Pengen ngajak main anak daddy yang cantik."


Setelah Baskara mengucapkan kata terakhir, Senja mengerang kesakitan ketika kontraksi semakin kuat terasa.


Dokter kembali melakukan pemeriksaan dan ternyata bukaan sudah lengkap. Tenaga medis sibuk menyiapkan berbagai peralatan dan membantu mengarahkan apa yang harus Senja lakukan.


Disampingnya Baskara tak henti membisikan kata penyemangat dan doa. Tak lupa juga usapan lembut diperut dan kepala istrinya.


"Bayangin wajah baby sayang.. Kamu kuat.. kamu bisa." ucapnya bersamaan dengan kecupan didahi istrinya.


Entah keberapa Senja mengejan, barulah terdengar suara tangisan yang begitu melengking.


Dokter menjelaskan kondisi putri mereka yang semuanya sehat dan juga sempurna dalam bentuk fisiknya.


"Hallo cantiknya mommy." suara Senja bergetar ketika berbisik. Jemarinya membelai dengan sangat hati-hati kepala putri yang berada diatas dadanya, seakan takut sentuhannya menyakiti bayi mungil itu.


"Anak hebat." ucap Baskara bangga. Suaranya tak kalah bergetar dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Air mata yang sudah ia tahan sejak melihat istrinya merintih kesakitan. Berusaha menguatkan Senja bukan malah ikut panik. Tapi kini setelah melihat putri kecilnya terlahir dengan selamat dan sehat, air mata itu lolos juga dari pelupuk matanya.


"Terimakasih sudah mau berjuang untuk bertemu daddy sayang." ucapnya kembali dengan kecupan yang sangat pelan di kepala putrinya.


"Terimakasih juga buat kamu, ayy. Sudah mau mengandung dan melahirkan anakku."


Senja tersenyum ketika kecupan suaminya berganti mendarat didahi, hidung, mata, pipi dan bibirnya.


"Kamu selalu jadi wanita hebat buat aku. Wanita kuat. Wanita tangguh. Dan aku beruntung dapetin kamu."


"Aku juga beruntung dapat kamu mas." balas Senja.


Bagaimana ia tidak merasa beruntung jika suaminya selalu memperlakukannya seperti ratu. Selalu menjadikannya prioritas dibanding dirinya sendiri.

__ADS_1


Keduanya membiarkan suster membawa putri kecil mereka untuk dibersihkan. Suster lain juga membantu menbersihkan Senja dari sisa-sisa darah ketika proses persalinan tadi.


Darah yang hampir membuat Baskara pingsan ketika melihat betapa banyaknya.


"Aku keluar dulu." bisik Baskara dengan kecupan.


Ia ingin memberi kabar keluarganya yang menunggu diluar. Sekaligus menunggu istri dan anaknya dipindah ke ruang perawatan.


"Gimana Bas?" tanya semua orang bergitu melihatnya.


"Semuanya sehat mah, pah, yah, bun, oma. Anak Bas lahir sehat, cantik kaya mommy-nya." Baskara tidak bisa untuk tidak berkaca-kaca ketika mengatakannya.


Semua orang mengucap syukur ketika mendengarnya. Hari itu penuh kebahagiaan untuk mereka.


"Selamat sayang." Pricilla memeluk putra tunggalnya itu. Mengusap punggung yang bergetar karena terisak.


"Bas sudah jadi ayah, bun."


Pricilla mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Kini anaknya sudah benar-benar dewasa. Anaknya bukan lagi bocah kecil yang selalu marah ketika melihatnya dipeluk sang suami. Anaknya kini sudah menjadi ayah.


"Iya. Bas sudah jadi ayah. Jadi ayah yang hebat buat cucu bunda."


"Selamat jagoan!" Aldo menepuk punggung putranya yang masih memeluk istrinya erat. Ia tak kalah bangga dan bahagia.


Baskara beralih memeluk ayahnya. "Ajarin Bas buat jadi ayah hebat kaya ayah." lirihnya.


Aldo terkekeh. "Kamu harus belajar dari anakmu. Bukan dari ayah."


Karena tidak akan ada ayah yang sama. Setiap anak butuh perlakukan berbeda. Karena bisa saja satu anak sudah cukup bahagia dengan diberi permen. Tapi anak lain baru akan merasa bahagia jika diberi boneka.


Jadi setiap anak membutuhkan perlakuan khususnya masing-masing. Tidak ada yang sama untuk anak satu dan lainnya. "Dan ayah yakin kamu bisa jadi ayah yang lebih hebat dari ayah."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2