
Bukan langkah yang ringan untuk Senja memasuki bandara. Menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawanya terbang jauh melintasi benua yang berbeda. Meninggalkan tempat kelahiran. Meninggalkan keluarga yang hangat untuk waktu yang cukup lama. Mencoba meraih asa.
Belum apa-apa matanya sudah terasa panas. Karena ia pasti akan sangat merindukan teriakan sang ibu ketika pagi hari membangunkannya. Omelannya jika kamarnya berantakan. Omelannya ketika ia malas mandi di hari libur. Wanita yang selalu merengkuhnya dengan sayang. Ia pasti akan sangat merindukan Tiara-ibunya.
Tak kalah, Ia pasti juga akan sangat sangat merindukan ayahnya yang tidak pernah tahu tempat untuk mencium dan memperlakukannya seperti anak kecil. Yang terkadang membuatnya malu, tapi ia suka. Super hero nomer satu dalam hidupnya. Pria pertama yang akan berdiri untuk membelanya. Cinta pertama dalam hidupnya.
Senja juga pasti akan merindukan kedua Kakaknya. Merindukan ketika mereka bertengkar atau memperebutkan siapa yang akan tidur di pangkuan Tiara ketika mereka tengah menonton televisi. Dan meributkan hal kecil lainnya.
Ia juga pasti akan sangat merindukan keduanya yang selalu menjadikannya sebagai prioritas. Merindukan memarahi mereka ketika terlambat menjemput. Karena pasti setelah kepulangannya nanti, semua tak akan sama lagi. Karena keduanya yang sudah berkeluarga.
"Abang janji jangan nikah kalau adek belum pulang? Janji bakal sering telfon adek juga?" Senja mengulurkan kelingkingnya pada Vindra semalam.
Belum lama ini memang Vindra melakukan acara pertunangan. Acara dipercepat karena ia ingin adik satu-satunya ikut menyaksikan hari bahagiaanya.
"Iya. Asal adek nggak bosen abang telfonin terus." coba Vindra untuk berkelakar, meski hatinya berat melepas Senja pergi jauh. "Nanti abang nikah, kalau adek libur semester." angguk Vindra, mengaitkan kelingking mereka yang berakhir memeluk adik perempuannya itu.
"Abang sering-sering telfon adek juga ya.." kini giliran Senja duduk disebelah Farri dan memeluk kakaknya itu dari samping. "Jadi suami yang baik buat Jingga. Awas kalau abang berani sakitin sahabat adek!"
"Pasti. Abang pantau adek 24 jam nanti." Farri sudah membalas pelukan adiknya dan meninggalkan kecupan didahi sang adik. "Nggak usah mikirin Jingga disini. Ada abang. Adek fokus kuliah aja biar cepet pulang terus kumpul lagi."
Sedikit banyak Farri dapat mengerti apa yang tengah Senja rasakan. Ia saja yang laki-laki rasanya sangat berat dulu. Apa lagi Senja yang anak perempuan dan terbiasa disini diperlakukan paling spesial karena anak perempuan satu-satunya.
"Titip keponakan gue ya, Ngga. Jagain dia baik-baik. Kalau ayahnya nakal, telfon gue aja."
Jingga yang sejak kehamilannya menjadi sangat sensitif, tidak bisa berkata-kata. Gadis itu langsung memeluk Senja dan menangis sesenggukan.
"Jangan cengeng dong. Masa udah mau jadi bunda tapi cengeng gini."
Ya. Jingga waktu itu bercerita pada Senja kalau ia ingin dipanggil bunda jika anaknya lahir nanti.
__ADS_1
"Kenapa lo jahat ninggalin gue? kenapa nggak kuliah disini aja, sih?" gugu Jingga dalam pelukan Senja. "Lo nggak mau nemenin gue lahiran nanti?!"
Senja terkekeh dalam tangisnya. "Mana mungkin gue berani nemenin lo lahiran. Harus abang dong nanti yang nemenin."
Semalam dilewati dengan kesedihan dan salam perpisahan. Senja tidak ingin hari ini ada tangisan. Karena itu akan memberatkan langkahnya meninggalkan keluarga.
Hingga hal yang tidak disangka, semua anggota keluarganya ikut mengantarkan. Tanpa kecuali.
"Kalau kaya gini, kenapa semalam repot-repot pada nangis, sih?" gerutu Senja ketika subuh tadi ia melihat banyak koper diruang tamu dan semua anggota keluarganya yang sudah berpakaian rapi.
Tapi, bukan berarti dengan ditemani keluarganya, langkah Senja semakin ringan. Langkahnya tetap saja berat. Karena keluarganya hanya mengantar. Bukan ikut menetap.
***
Alvaro memesan penerbangan dengan dua kali transit. Meski membutuhkan waktu yang lebih lama diperjalanan, tapi setidaknya itu aman untuk Jingga yang tengah hamil.
Jam tujuh pagi, dengan tiket VIP pesawat mulai take off. Meninggalkan Jakarta yang semakin lama semakin mengecil hingga pemandangan tergantikan dengan awan putih.
Tiara sudah menawarkan anak dari si mbok di rumah untuk ikut dan membantunya disana. Tapi Senja mampu meyakinkan ibunya itu jika ia bisa melakukan semua sendiri. Karena dia juga ingin belajar mandiri disana.
Ketika langit mulai menguning, menampakan warna senja yang tak bosan ia lihat. Dengan perlahan pesawat kembali menapaki bumi setelah tujuh jam lebih mengudara.
Mereka transit pertama di bandar udara internasional Tokyo. Waktu lima setengah jam mereka gunakan untuk istirahat di hotel yang memang ada di dalam bandara. Sebelum malam nanti mereka akan kembali terbang untuk transit kedua di Bandar udara internasional Honolulu selama enam jam. Baru melanjutkan perjalanan hingga sampai di New York pagi hari kedua.
"Waahhh... Apart segede ini, lo mau tinggal sendiri, Ja?" Jingga kagum dengan unit yang akan Senja tinggali begitu mereka sampai di apartemen yang awalnya milik mommy Shevi.
Awal mommy Shevi menempatinya, itu masih bangunan baru. Bahkan ada yang cicilannya baru lunas setelah 30 tahun. Tidak heran jika saat ini kondisi bangunan masih bagus. Apa lagi perawatan yang tidak murah setiap bulannya.
Apartemen warisan nenna Karina ini sudah menemani masa kecil Tiara. Berarti usia bangunan sudah sekitar 45 tahun. Tapi masih terlihat berdiri kokoh. (aslinya bangunan 15 tahun. Yang ngehalu aja bikin ceritanya turun temurun sampe bingung sendiri 😛)
__ADS_1
Apartemen itu sebelumnya dikontrakan. Hingga Senja memutuskan untuk kuliah disana, baru apartemen itu dikosongkan.
"Tingga sendiri lah. Mau sama siapa lagi." jawab Senja yang sudah mendudukan dirinya diatas sofa ruang tamu.
Apartemen dengan tiga kamar tidur itu sudah sering ia dan keluarganya kunjungi. Terlebih Tiara memiliki pria yang sudah wanita itu anggap ayah. (Baca Demi Dia)
"Kalau aku kuliah disini boleh nggak, bang? buat nemenin Senja?" tanya Jingga pada sang suami.
Wanita itu langsung cengengesan melihat tatapan tajam sang suami. "Becanda abang sayang.. Mana mungkin sih aku bisa jauh-jauh dari suamiku tercinta." peluk Jingga pada lengan suaminya.
"Aduuhh mah... Kenapa bawa pasangan bucin sampai sini sih? eneg banget lihatnya tau nggak." keluh Senja dengan memparodikan gaya muntah yang langsung membuat keluarganya tertawa.
Aahh mungkin satu minggu ini saat-saat terakhirnya menikmati kehangatan keluarga ini. Sebelum dirinya benar-benar tinggal seorang diri. Jauh dari keluarga dan melakukan segalanya dalam kesendirian.
Semoga perjuangannya jauh dari keluarga membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Semoga ia bisa pulang dengan segudang prestasi dan membawa ilmu yang bisa ia terapkan untuk membangun masa depan tanpa embel-embel orang tua.
Ia ingin seperti sang ayah. Merintis usahanya dari ruko kecil hingga kini bangunan gedung dengan puluhan lantai.
Keluar dari zona nyaman 'warisan orang tua' yang pengusaha. Begitu pula dengan neneknya-mommy Shevi yang bisa sukses dengan sekolah musik dan karirnya sebagai pianis.
Ia juga ingin keluar dari warisan keluarga. Sudah ada Farri yang meneruskan usaha ayah mereka. Sudah ada Vindra yang mengikuti jejak sang ibu.
Senja ingin mengambil jalannya sendiri. Dunia baru dari keluarganya. Karena baik dari keluarga Tiara mau pun Alvaro. Belum ada yang berdiri sebagai seorang designer.
*
*
*
__ADS_1
Selamat datang di dunia Senja... Yuk kita selami isi hatinya mulai sekarang 🤗🤗