
Pagi-pagi Senja sudah sangat semangat mengenakan celana legging juga crop jaket. Mengencangkan tali sepatu oleh raganya kemudian melakukan peregangan sebelum berangkat lari pagi.
Tak membutuhkan teman. Hanya untuk sekedar lari keliling komplek dia sudah biasa. Kesibukannya kuliah membuatnya tidak ada waktu untuk berolah raga. Jika pun ada seperti weekend, ia lebih memilih untuk bangun siang. Menghilangkan penatnya selama seminggu kuliah.
Mendekati taman komplek, ada yang mensejajari larinya. Pemuda itu melepas hoddie yang dikenakannya dan mengikatkan di pinggang Senja.
"Ngapain?" Senja menghentikan langkahnya, heran dengan yang pemuda itu lakukan.
"Disini bukan NY. Jadi pakai baju yang pantas." sahutnya tak menghentikan aktifitas tangannya mengikatkan hoodie.
Senja melihat kearah bawahnya. "Apa yang salah?" gumamnya.
Baskara menegakkan tubuhnya. Ya. Pemuda itu adalah Baskara yang juga tengah lari pagi. Baskara melihat Senja di persimpangan ke arah rumahnya menuju taman. Kemudian pemuda itu menyusulnya. Bukankah ia sudah memutuskan untuk berdamai?
Baskara mendekatkan wajahnya. Senja memundurkan kepalanya reflek dengan gerakan Baskara. Membuat senyum kecil terbit diwajah tampan Baskara. Pemuda itu menggeleng dan mendekatkan bibirnya ke telinga Senja. "Bagian belakang sama depan lo tercetak jelas. Belum lagi kalo lo lari, jaket lo keangkat. Lo mau pamer perut lo yang putih itu?"
Senja mengerjap tak percaya dengan pipi yang memanas. Bisa-bisanya Baskara membisikan hal seperti itu. "Da-dasar mesum!!" pekik Senja tertahan dan memundurkan posisinya menjauh dari Baskara.
Baskara menampilkan senyum mengejeknya. "Kalau cuma gue yang lihat sih nggak masalah. Tapi kalau banyak yang lihat, kasihan elo-nya. Rugi." padahal celana Senja baik-baik saja. Tidak mencetak jelas bagian depan dan belakangnya. Hanya untuk bagian perut, Baskara berkata jujur.
"Ck. Ngancurin mood lari gue, tau nggak lo!" Senja mendekati bangku taman dan duduk disana diikuti Baskara yang mengambil tempat duduk disebelahnya.
Tak ada kata maaf. Tak ada kata "Sekarang kita baikan" tapi Senja tahu, Baskara sudah berdamai dengan apa yang terjadi.
"Punya rencana apa buat liburan?" tanya Baskara mengisi keheningan yang sesaat lalu tercipta.
"Nggak tahu, gue nggak punya planing apa pun. Dari sana cuma pengen pulang, kumpul keluarga. Udah." jawab Senja dengan menatap lurus ke depan. Dimana anak-anak kecil tengah berlarian.
Baskara hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Membuat Senja mendesis tapi membiarkannya saja.
"Bas?" panggil Senja beberapa saat kemudian.
"Hm?" sahut Baskara tetap dengan mata terpejamnya.
"Lo kalau mau tidur, pulang sono!"
"Hm."
__ADS_1
Senja berdecak kesal melihat tingkah Baskara. "Bas?" panggilanya lagi.
"Apa sih, Ja?"
"Lo bawa duit nggak?" tanya gadis itu memandang Baskara dengan wajah berseri.
"Buat apaan?" balas Baskara dengan dahi mengernyit curiga.
Senja menunjuk stand ketoprak yang ada di sana. "Gue mau sarapan."
Baskara mendengus. Ia kira mau apa dengan wajah berseri seperti itu. Tanpa menjawab, Baskara mengeluarkan selembar uang seratus ribu kepada Senja.
"Kuliah di NY jadi miskin, lo?" ejek Baskara.
"Sialan lo!" balas Senja dengan mata membulat. Tapi tak urung gadis itu menerima uang dan berterima kasih dengan tulus.
***
"Lo nggak pengen lanjut kuliah, Ngga?" keduanya kini tengag tidur-tiduran di kamar Senja, dengan baby Sisi di antara mereka. "Kan udah mulai pendaftara masuk sekarang?"
Jingga yang tengah memainkan jarinya yang di genggam buah hatinya sedikit berpikir sebelum menjawab pertanyaan Senja. "Ada rasa pengen lanjut kulih sih 30% lah.. Sisanya gue lebih pengen ngabisin waktu sama Sisi, sama abang juga. Karena itu yang nggak akan bisa terulang lagi."
"Emang gue punya cita-cita apa sih, Ja?" pertanyaan Senja di balikkan. "Lo tau sendiri otak gue pas-pasan. Dulu gue cuma pengen jadi wanita karir kerja di kantoran. Tapi gue rasa abang nggak mungkin ngizinin gue buat kerja. Jadi buat apa gue kuliah."
Senja tak menyahut. Kalau itu sudah keptusan Jingga, ia hanya bisa mendukung. Tidak ada ssalahnya juga menjadi ibu rumah tangga seutuhnya untuk keluarga yang dia miliki. Justru keluarga yang di rawat dengan tangan dan cinta kasih seorang istri akan lebih bahagia bukan?
"Ehek.. Ehek.." Sisi menangis. Sepertinya bayi gembul itu sudah mengantuk. Sudah jamnya Sisi untuk tidur juga.
"Uluh.. Uluhh.. Anak mami ngantuk ya?" Jingga mencoba menenangkan putri kecilnya. Tanpa sungkan ibu muda itu menyusui Sisi di depan Senja.
Senja malah geli sendiri melihat Jingga menyusui. Gadis itu langsung menyilangkan tangannya di depan dada.
"Lo nggak geli, Ngga?" tunjuk Senja pada dada Jingga yang kini dalam kuasa Sisi.
Jingga terkekeh melihat ekspresi adik iparnya. "Ya enggak lah. Kalau daddy-nya yang nyusu baru geli." Jingga semakin tergelak begitu Senja membulatkan matanya.
"Otak gueee diajak traveling.." rengek Senja. "Eh btw.. Bukannya dulu lo pengennya di panggil bunda?" Senja ingat ketika dulu Jingga dengan mata berbinar bilang padanya ingin di panggil bunda.
__ADS_1
"Tadinya iya. Tapi abang nggak mau di panggil ayah. Kuno katanya." cebik Jingga. "Ya udah gue ngikut aja. Ya kali dia mau di panggil daddy tapi gue bunda."
"Enak nggak nikah muda?"
"Sejauh ini sih enak-enak aja. Kita bahagia dengan rumah tangga kita. Ya.. meski masalah kecil pasti ada lah. Entah itu beda pendapat atau salah paham. Tapi so far semua berjalan dengan baik." jawab Jingga tanpa ragu. "Kenapa nanya-nanya? udah pengen nikah, lo?"
Senja menelentangkan lagi tubuhnya. "Enggak lah. Masih pengen kuliah gue."
Keduanya saling diam. Sisi juga sudah mulai memejamkan matanya hingga mulut kecil itu benar-benar melepaskan sumber kehidupannya.
"Boleh minta tolong nggak, Ja?" tanya Jingga dengan ragu.
"Apa?" Senja menjawab acuh. Sibuk dengan ponselnya.
"Nitip Sisi untuk malam ini, aja."
"Mau kemana lo?" tanya Senja curiga. Kini gadis itu fokus pada sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Sisi jarang nangis kok. Paling dia suka bangun tengah malam minta main. Nanti aku kasih ASIP, lo tinggal angetin di alatnya. Ini udah tidur ini, nggak akan rewel." bukannya menjawab Jingga malah menjelaskan panjang lebar kebiasaan putrinya.
"Ya lo mau kemanaaa?" tanya Senja gemas.
Belum sempat menjawab, Farri sudah muncul di pintu kamar Senja dengan membawa peralatan ASIP yang didalamnya sudah isi beberapa botol berisi ASIP milik Jingga.
"Udah tidur kan, Yank?" Farri mendekat, meletakan peralatan di nakas samping adiknya.
"Udah, bang. Nitip ya, Senjaku sayaaang."
"Heeh.. Lo berdua mau kemana anaknya ditinggal disini?"
Jingga yang sudah sampai di ambang pintu berbalik. "Gue mau ngelonin daddy-nya dulu. Nanti kalau lo udah nikah, terus punya anak kecil. Lo bakal tau gimana susahnya punya waktu berdua."
Senja yang tahu maksud dari perkataan Jingga mengumpat. "Sialan! kalian yang mau enak-enak. Gue yang dibikin ribet." tapi tak ayal gadis itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan perbuatan kakak dan kakak iparnya itu. Bisa banget mereka manfaatin kehadirannya di rumah.
*
*
__ADS_1
*