Langit Senja

Langit Senja
09. Bunda Sangat Membenci Langit.


__ADS_3

"Kamu ngapain sih Yah, dari tadi liatin jam terus?"


Pertanyaan itu berasal dari bunda, pasalnya sedari tadi ayah tidak hentinya melirik jam di dinding.


Saat ini mereka tengah makan malam, jam menunjukkan pukul setengah delapan, mereka sudah akan selesai makan.


"Nggak papa, Bun."


Ayah memang tengah menunggu kepulangan Langit, sejak kemarin Langit sama sekali tidak pulang. Pagi kemarin ayah melarang Langit keluar, tetapi bahkan sampai malam Langit tidak pulang. Paginya juga tidak sampai sekarang. Padahal biasanya Langit akan selalu pulang setiap malam, entah itu jam 9, 11 atau dini hari. Tetapi tadi malam Langit sama sekali tidak pulang, ayah menghawatirkannya.


"Nungguin anak itu? Nggak perlu di tungguin."


"Bun, kenapa sih kamu kaya gitu terus?"


Seakan bunda sangat memusuhi Langit, tidak pernah sekalipun bunda menghawatirkan Langit. Justru menganggap Langit sebagai angin lalu.


"Karena aku malu Mas, selama ini cukup dia selalu membuatku kecewa dengan perbuatannya. Nilainya selalu jelek, ikut geng motor nggak jelas, balap liar pasti dia juga pakai narkoba sama pergaulan bebas! Itu sangat memalukan keluarga kita!"


"Cukup!"


"Anak itu nggak sepantasnya dipedulikan, dia adalah contoh pemuda paling buruk. Aku aja malu banget Mas, kenapa kamu masih peduli sama dia?"


Samudra tertunduk dalam, ia tidak berani menyela, padahal ia ingin sekali mereka tidak bertengkar karena Langit.


"Dan kamu bakal biarin terus dia kaya gitu?"


"Udah nggak bisa ditolong! Palingan anak kaya gitu kalau nggak mati kecelakaan juga mati karena overdosis narkoba."


Brakk,


Ayah menggebrak meja, ia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang istrinya katakan.


"Dia anak kamu, perkataan kamu itu doa. Kamu itu ibunya, bisa-bisanya kamu ngomong gitu."


"Aku cuma pernah melahirkan satu kali, anak aku cuma Samudra. Dia bukan anak aku!"


"Rini!"


Ayah sampai menyebut nama asli bunda, itu artinya sekarang ia benar-benar marah dengan apa yang sudah istrinya itu ucapkan.

__ADS_1


"Terserah kamu, bela terus aja anak kurang ajar itu!"


Bunda melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan makanannya yang belum ia habiskan.


***


"Kalian berdua nggak pulang lagi?" Pertanyaan itu berasal dari Vemas.


Kemarin malam Langit memang tidak pulang ke rumah karena Dirga memintanya untuk menemaninya menginap di basecamp Laros. Kondisi keluarga Dirga yang semakin buruk membuatnya malas untuk pulang, ibu dan ayahnya setiap hari bertengkar dan kemarin bertengkar sampai ayahnya pergi dari rumah.


Langit tentu saja bersedia menemani temannya yang sedang sedih itu.


Dirga menjawab pertanyaan Vemas itu dengan gelengan, ia masih enggan untuk pulang.


"Pulang Lo, kasian ibu Lo di rumah sendirian."


Dirga adalah anak tunggal, dahulu kedua orang tuanya memang sudah memiliki rencana untuk memiliki anak lagi tetapi selama bertahun-tahun mereka tidak juga diberikan kepercayaan.


Sudah satu tahun terakhir ini kedua orang tua Dirga sekalu bertengkar, tidak ada orang ketiga sama sekali tetapi selalu saja ada masalah yang di perdebatkan. Dan itu bukanlah perdebatan kecil, melainkan perdebatan besar dimana ibunya sering membanting barang-barang dirumah dan menangis.


"Nggak enak rasanya di rumah."


Mau bagimanapun, Dirga tidak bisa mengelak jika kondisi keluarganya memang seperti itu. Pergi dari rumah pun pikirannya masih sama memikirkan hal itu, jadi lebih baik dihadapi saja.


"Bener itu kata Langit, Lo harus pulang Dir."


Dirga menghela nafas pelan, mau tidak mau memang ia harus menghadapinya, terlebih jika ayahnya benar-benar tidak pulang.


"Gue balik dah."


***


"Dompet Lo jatuh,"


Senja menengok dan mendapati dompetnya berada di tangan seorang lelaki yang ia hafal betul, dia adalah Langit. Tadi sepulang sekolah Senja berniat untuk membeli beberapa camilan di minimarket, ia juga sedari tadi tidak mengetahui keberadaan Langit. Tiba-tiba aja Langit datang dengan mengatakan hal itu.


Senja mengambil alih dompet itu, "Makasih."


Langit hanya menjawab itu dengan sebuah anggukan, pemuda itu langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan hal lain lagi.

__ADS_1


Senja melanjutkan memilih cemilannya, lalu setelah merasa sudah cukup ia langsung ke kasir untuk menjawab. Saat keluar dari minimarket, ia melihat Langit tengah duduk dengan menghisap sebatang rokok, minuman yang menemaninya hanyalah sebotol air mineral.


Entah angin apa, Senja langsung melangkah untuk mendudukan dirinya di kursi sebelah Langit.


Langit menatapnya sebentar, heran saja mengapa Senja tiba-tiba duduk disana.


"Kenapa sih Lo suka banget sama rokok? Padahal itu bisa ngerusak diri Lo loh."


"Lo mau?"


Senja menatap Langit sinis, "Boleh."


"Jangan, nggak baik."


"Tau itu nggak baik masih aja dilanjutin."


"Udah terlanjur, mau gimana lagi."


"Lo nggak ada niatan mau berubah?"


Meski sedari tadi kalimat Senja seperti itu tetapi Langit sama sekali tidak tersinggung atau marah, ia masih bersikap biasa saja.


"Udah nyaman,"


"Tapi orang—"


"Gue nggak peduli kata orang-orang."


Senja menatap Langit, pikirannya berkelana. Ia merasakan ada sesuatu hal besar dibalik sikap Langit ini. Tetapi ia tidak bisa melihatnya, seolah Langit menyembunyikannya dengan sangat rapat.


Senja menjadi ingin tahu lebih dalam tentang Langit.


...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...


...Dont forget to click the vote button!...


...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...


Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^

__ADS_1


And, see you.


__ADS_2