Langit Senja

Langit Senja
Waspada


__ADS_3

Suhu diawal Desember ini cukup dingin dengan angka 7°C. Meski belum mencapai titik terendah seperti bulan Januari yang bisa mencapai -9°C. Tapi bagi Senja yang berasal dari negara tropis, sudah cukup membuat gadis itu memilih mantel tebal dengan syal yang akan membalut tubuhnya agar sedikit lebih hangat ketika keluar dari rumah.


Sebenarnya Senja paling malas bepergian di bulan-bulan dingin ini. Ia tak begitu menyukai musim dingin. Ia adalah penikmat senja. Dan matahari terbenam terindah menurutnya adalah ketika musim panas tiba.


Meski begitu, ia tetap keluar karena sudah ada janji dengan Maureen untuk pergi ke fashionweek yang hanya dilakukan empat kali dalam setahun. Melihat mode musim dingin terbaru yang di rancang dessiner ternama dunia dan juga desainer dari berbagai penjuru dunia.


Sebagai acuan menentukan tren mode terkini untuk mereka beli. Juga sebagai referensi mereka dalam mengerjakan tugas.


"Kau sudah izin suamimu?" Maureen sudah sangat hafal dengan suami sahabatnya yang begitu overprotektif. Dan ia tidak ingin menjadi orang yang disalahkan karena mengajak gadis itu keluar.


"Sudah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."


Keduanya pergi dengan menaiki mobil milik Maureen. Karena gadis itu yang malas pergi ke basement. Lebih memilih menunggu Senja di pintu masuk loby.


Senja membesarkan suhu penghangat didalam mobil sahabatnya. Meski sudah hampir tiga tahun bertemu musim dingin, entah kenapa Senja masih belum bisa bersahabat dengannya.


Padahal ketika kecil dulu ia selalu bermimpi menjadi seorang putri di kerajaan salju.


"Apakah suamimu tidak pulang?" tanya Maureen mengisi kekosongan. "Apakah dia sudah memiliki penghangat lain di Cambridge?"


"HYA!" sentak Senja tak terima. "Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu! dia harus mengerjakan tugas dan tidak bisa kembali! kau tahu bukan, kalau Bas tak lama lagi akan magang. Jadi dia sudah harus selesai dengan materi disemester ini."


Maureen terbahak mendengar sahabatnya yang kesal dan begitu membela suaminya itu.


"Santai sayang. Aku hanya bertanya." menoleh pada Senja dan mengedipkan sebelah matanya. "Dan aku pikir suamimu hebat juga bisa menahan berhari-hari. Jika itu kekasihku, pasti sudah uring-uringan hanya dengan tiga hari saja."


Senja mencibir dalam hati. Tidak tahu saja Maureen seperti apa tulang belulangnya setiap suaminya datang. Seakan melepaskan semua yang sudah ia tampung dan tahan berhari-hari dengan membuat tubuhnya serasa remuk redam.


"Apa kau percaya jika suamimu hanya melakukannya denganmu?" Maureen bukan menakut-nakuti, ia hanya senang melihat wajah panik sahabatnya. "Siapa yang tahu jika disana dia memiliki tempat lain untuk melepaskannya."


"Sepertinya kau ingin mati nona Maureen! kenapa kau terus-menerus memanasi aku, hah?!" Senja memukul bahu sahabatnya yang tengah mengemudi. Gadis yang justru terbahak-bahak.


"Stop nona Lazuardi. Jika kau terus memukulku. Sepertinya bukan hanya aku yang akan mati. Tapi kau juga."


Senja berdecak dan menurunkan tangannya. Kembali duduk dengan benar.

__ADS_1


Jika dipikir, Senja memang tak yakin Baskara benar-benar mampu menahan hasratnya selama mereka berjauhan.


Karena jika dilihat ketika mereka tengah bergumul. Suaminya memiliki hasrat yang tinggi.


Dan ketidak hadiran suaminya hari ini membuatnya khawatir dan curiga. Bahkan Baskara sampai lupa untuk pulang. Dan sampai saat ini suaminya belum juga memberi kabar. Biasanya subuh pun Bas tak pernah lupa membangunkannya. Tapi kini justru pesan yang Senja kirim ketika sarapan dan sebelum berangkat tadi tak ada satupun yang terbaca.


Sebenarnya kemana suaminya itu?


Apa yang dikatakan Maureen benar? Hingga Bas lupa pulang karena sudah ada wanita lain yang menghangatkan ranjangnya?


"Hei! aku hanya bergurau, sungguh." tegur Maureen ketika melihat sahabatnya melamun. "Aku percaya Bas bukan lelaki seperti itu."


Helaan napas berat terdengar dari Senja sebelum menjawab. "Semoga saja."


Inginnya mengabaikan ucapan Maureen. Tapi ia malah semakin kepikiran.


"Ayoolah, Senja. Aku hanya bergurau. Jangan kau pikirkan serius seperti itu. Aku tidak mau menjadi alasan kalian bertengkat nanti."


Senja terkekeh melihat sahabatnya panik. "Kau tenang saja. Aku tidak akan memberi tahu Bas jika kau yang sudah meracuni otakku hingga berpikiran buruk tentang suamiku sendiri."


"HYA!"


Sore hari, Baskara baru menghubungi Senja ketika gadis itu tengah menuju restoran.


"Maaf, ayy. Aku baru tidur menjelang subuh. Makanya aku ketiduran dan baru bangun." suara serak Baskara membuktikan jika pemuda itu benar-benar baru bangun tidur. Entah benar baru bangun karen mengerjakan tugas atau karena hal lain. Senja semakin curiga. Tapi dengan segera menggelengkan kepala. Ini semua gara-gara Maureen.


"Iya, nggak pa-pa. Lain kali jangan gitu lagi. Ngerjain tugas boleh, tapi jangan sampai lupa istirahat!" omelnya pada sang suami.


Kadang menasehati orang memang lebih mudah dari pada melakukannya sendiri. Karena Senja saja sering lupa istirahat dan lupa makan jika sudah fokus merancang busana. Bahkan tak sering berujung dengan demam.


"Iya maaf. Udah selesai acaranya." terdengar bunyi bising alat masak. Sepertinya suaminya itu tengah membuat makanan.


"Udah. Ini lagi ke restoran bareng Maureen. Pengen makan ramen kayanya enak dingin-dingin begini." membayangkan saja sudah menbuat air liur Senja terkumpul. "Mas udah makan?"


"Aku kan baru bangun sayang." jawab Bas dengan suara yang begitu mesra. "Pengennya bangun tidur udah ada yang masakin. Sayangnya masih butuh banyak perjuangan buat kesana."

__ADS_1


Senja merotasikan bola matanya. "Lebay! tiap kesini kan aku masakin juga." meskipun lebih sering Baskara yang memasak. Imbuhnya dalam hati dengan terkikik.


"Iya deh. Istriku emang paling rajin masak." sindir Baskara tak kalah tergelak. "Jadi pengen cepat-cepat ujian semester biar bisa magang terus dimasakin istri tiap hari."


Sambungan masih terhubung ketika Senja dan Maureen sampai restoran jepang yang cukup terkenal disana.


"Iya. Aku juga nggak sabar nunggu kamu disini lama, mas." sahutnya setelah menyebutkan pesanannya. "Mas lagi makan apa?"


"Mie instan." jawab Baskara sedikit bergumam karena mulutnya yang penuh dengan makanan. "Udah laper banget. Terakhir makan semalem. Itu juga cuma makan pasta."


"Ya udah. Nanti habis itu pesan makanan aja. Kan pasti laper lagi. Jangan makan mie terus. Harus makan nasi juga. Perut kita nggak bisa diisi tanpa nasi."


"Iya sayang.."


"Aku makan dulu, ya, mas? nanti aku telepon lagi kalau udah di apartemen."


"Ok-"


"Senja!" belum Selesai Baskara menjawab. Terdengar suara laki-laki yang memanggil nama istrinya. Terdengar jelas jika itu orang Indonesia. Membuatnya seketika waspada. Tak ingin ada orang lain mendekati istrinya.


"Eh, kak Doni." sahut Senja.


Siapa Doni? kayak nggak asing? pikir Baskara.


Terdengar kekehan dari lelaki itu. Mungkin mentertawakan rasa terkejut istrinya.


"Ketemu lagi kita setelah sekian lama." ucap pria yang Senja panggil Kak Doni tadi. "Kok kamu nggak pernah dateng kalau perhimpunan lagi ada acara. Padahal cuma sebulan sekali. Masa nggak bisa nyempatin waktu."


Baskara menganggukan kepalanya. Baru ingat pemuda bernama Doni adalah pemuda yang dulu menyapa Senja direstoran mall saat ia membelikan gaun untuk acara lamaran berkedok ulang tahun.


Menyadari fakta itu membuat Baskara meremas kepalan tangannya sendiri. Karena Baskara bukan pria buta yang tidak bisa melihat pancaran rasa suka pemuda itu akan istrinya.


Berbeda dengan Senja yang selalu menganggap positif orang didekatnya. Menganggap Doni hanya sebagai teman satu perhimpunan.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2