Langit Senja

Langit Senja
Jika Kau Beri Tuba


__ADS_3

Kediaman Kaisar tengah ramai. Puluhan anak yatim, sanak saudara dan keluarga dekat berkumpul menjadi satu dari ruang keluarga hingga ruang tamu.


Semuanya berkumpul dalam rangka empat bulan kehamilan Jingga. Berdoa bersama untuk kesehatan bayi dan ibu agar lancar hingga harinya tiba.


Satu bulan yang lalu, mereka juga mengadakan acara yang sama untuk tujuh bulan kehamilan Senja. Hanya bedanya, acara diadakan dikediaman orang tua Baskara dan menggunakan adat jawa. Sesuai tradisi leluhur Baskara dari kakeknya yang berasal dari Yogyakarta.


"Duduk disofa aja." gerak bibir Baskara pada sang istri yang turut duduk beralaskan karpet seperti yang lain.


Karena pria itu duduk diseberang dengan para pria lainnya. Baskara tahu istrinya pasti tidak nyaman dengan perut yang sudah membesar jika harus duduk seperti itu.


Istrinya menolak dengan gelengan. "Disini aja." balasnya juga hanya dengan gerakan bibir. Merasa tidak enak hati jika yang lain duduk dibawah dan dia seorang diri harus duduk di sofa yang kini diletakan diujung ruangan. Terpisah dari orang-orang.


Baskara mengernyit tidak suka. Berdiri dan mengambil jalan memutar diikuti tatapan sang istri. Baskara menghampiri istrinya setelah sebelumnya mengambil bantal untuk alas istrinya duduk.


"Seenggaknya duduk yang nyaman. Kasihan anak daddy kegencet." bisiknya ditelinga sang istri, memposisikan istrinya untuk duduk dengan nyaman. Membuat Senja menunduk malu karena ada begitu banyak orang.


"Anakku juga." desisnya dengan merotasikan bola mata setelah duduknya lebih nyaman diatas bantal yang suaminya bawa.


Baskara terkekeh. "Iya dong. Kan bikinnya berdua." bisiknya kembali dan hanya mereka yang tahu. Mencium bagian belakang kepala istrinya sekilas dan berlalu kembali ketempatnya semula, sebelum istrinya memberi tanggapan atas godaan yang ia layangkan.


Senja menyentuh pipinya yang terasa panas. Ia yakin wajahnya sudah semerah kepiting rebus.


Bisa-bisanya suaminya mengatakan hal demikian disaat ramai seperti itu. Tidak bisakah mengatakannya nanti saja ketika dikamar?


Eh? Senja memukul kepalanya yang sudah berpikiran kemana-mana. Gara-gara suaminya, otaknya jadi traveling membayangkan bagaimana proses pembuatan janin dalam kandungannya itu.


Jingga sudah meliriknya curiga dari sisi yang lain. Beruntung terdengar pembawa acara yang akan memulai berjalannya acara tasyakuran. Mengurungkan niat Jingga menggoda adik iparnya dengan tatapan jahilnya.


"Anak adalah titipan." ucap pemuka agama yang memimpin acara. Seseorang yang sudah wara-wiri tampil dilayar kaca. "Yang kapan pun Tuhan mau, Dia bisa mengambilnya."


"Dulu, ketika titipan itu belum hadir, kita memohon bahkan menangis-nangis dalam doa, siang dan malam. Memanjatkan keinginan kita untuk menghadirkan anak dalam rumah tangga."


"Tetapi begitu sang anak itu lahir... Banyak orang tua yang melalaikan tugasnya. Ada yang meninggalkannya kepada sang nenek untuk dijaga. Ada pula yang ibunya ada tapi seperti tak ada."

__ADS_1


"Kenapa bisa seperti itu? Karena sang ibu mempercayakan anaknya untuk diasuh oleh handphone. Aah.. yang penting anak anteng... sudah jamannya seperti itu.. dan banyak lagi alasan orang tua."


"Ada juga yang mempercayakan untuk dirawat orang lain. Mempekerjakan seseorang untuk mengasuh. Tapi tak mengawasinya dengan baik. Sibuk bekerja dan lain sebagainya. Tak tahu apa yang terjadi pada anak mereka."


Tatapan sendu Senja tertuju pada Zio yang saat ini duduk dipangkuan sang ayah. Anak kecil yang tengah memainkan peci yang seharusnya dikenakan dikepala itu tak lagi semurung dulu. Tak lagi mengigau ketakutan dalam tidurnya seperti awal-awal keluar dari rumah sakit. Senja sudah lebih sering melihat anak itu tersenyum akhir-akhir ini.


Meski masih ada rasa takut dimata keponakannya itu. Zio bahkan sering kaget jika ada yang berteriak atau bersuaa sedikit keras.


Dua bulan berlalu dan psikolog masih sering datang untuk mengetahui perkembangan Zio. Dan perkembangannya sudah cukup bagus meski belum mencapai angka 75%.


Senja hanya bisa membantu menjaga dan mendampingi keponakannya itu bersama Jingga. Mamanya kini juga lebih sering pulang cepat untuk menemani cucunya. Begitu juga dengan Fani yang sangat merasa bersalah dan ingin menebus kesalahannya.


"Bahkan diluar sana, ada seorang ibu yang tega memukul anaknya hanya karena anaknya menangis." suara pemuka agama yang terdengar miris mengambil alih kembali perhatian Senja.


"Untuk para ibu, apakah anak kecil tidak boleh menangis?"


"Boleh ustadz." jawab yang hadir kompak.


"Apakah tidak wajar jika anak kecil menangis? apakah itu aneh?" tanyanya lagi.


Pria yang berusia awal lima puluhan itu tersenyum mendengar jawaban yang hadir. "Ketika mereka menangis, artinya mereka sedang meluapkan apa yang ada dalam benaknya. Karena, menangis adalah sarana untuk meluapkan energi negatif di dalam tubuh. Mengeluarkan segala macam beban, kekesalan, hingga emosi."


"Jadi... Biarkan mereka menangis sampai ia tenang dan merasa lega dalam dadanya."


"Bahkan didunia psikologi menahan tangis bagi anak-anak juga berdampak buruk. Mereka justru berpotensi melakukan pelampiasan emosi dengan cara lain, misalnya cemberut seharian, merusak mainan atau barang di rumah, hingga uring-uringan tidak jelas."


"Sudah tugas kita sebagai orang tua untuk mendidik dan menjaganya dengan sabar."


"Bukankah kita yang sejak awal sangat mengharapkan kehadirannya?"


"Bukankah kita yang merasa sangat bahagia begitu tahu ia tumbuh dalam rahim sang ibu?"


"Bukankah kita yang menangis bahagia begitu mendengar tangisnya ketika lahir kedunia?"

__ADS_1


"Bukankah kita yang bergetar hatinya begitu mendengar anak kita untuk pertama kali memanggil ayah... ibu.. mama.. papa.. bunda..?


"Bukankah kita yang bersorak begitu melihat langkah kaki kecilnya untuk pertama kali?"


"Bukankah semua itu kita?"


"Jadi buk, pak.. hargailah waktu yang masih ada sebelum ia tumbuh dewasa dan gilirannya yang tidak ada waktu untuk kita."


"Lakukan tanggungjawab kita sebagai orang tua dengan dengan baik. Dengan penuh kasih dan sayang."


"Percayalah dia-anak kita-akan menyayangi kita seperti apa kita menyayangi mereka disaat dia kecil."


"Jika ada susu yang dibalas tuba. Jadi kalian ingin dibalas apa jika tuba yang kalian berikan?"


"Jika perbuatan baik saja bisa dibalas dengan keburukan. Lalu apa yang kalian harapkan jika memperlakukan anakmu dengan buruk?"


Fani menunduk. Hatinya sakit mendengar semua kata-kata itu. Terasa ada anak panah tepat mengenai jantungnya.


"Percayalah, bukan limpahan materi yang anakmu harapkan!"


"Dia diam bukan berarti dia sudah merasa puas dan bahagia dengan yang dia rasakan!"


"Bisa jadi, dia diam karena dia sudah terlalu lelah meminta pada kalian. Meminta kalian untuk ada untuknya. Meminta perhatian dan kasih sayang dari kalian!"


"Apakah kalian menunggu hati anakmu beku terhadap kehadiran kalian?! mengabaikan seperti kalian mengabaikannya? berteriak padamu karena kau sering menaikan nada suaramu ketika memberitahunya?"


"Mulai sekarang, mari kita sama-sama memperbaiki diri. Belajar menjadi orang tua yang baik bahkan sejak dia ada dalam kandungan. Membuatnya merasa dicintai sejak dini. Mengapresiasi keberhasilannya dalam prosesnya tumbuh besar."


"Sekali lagi ingat! karena dia hanya titipan yang bisa diambil kapan saja oleh pemilik aslinya! jadi jangan menyesal ketika kesempatan yang Tuhan berikan sudah habis!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2