Langit Senja

Langit Senja
Langkah Awal Senja


__ADS_3

Karena satu dan lain hal, pengangkatan Baskara sebagai CEO diundur beberapa tahun. Dan hari ini, Senja beserta kedua anaknya tengah menunggu di luar ruang rapat. Dimana didalam sana tengah berkumpul orang-orang penting perusahaan untuk penandatanganan meresmikan Baskara sebagai CEO dari Lazuardi Corp atau LC.


"Daddy!" seru Anna dan Kai yang kini berusia empat dan tiga tahun secara bersamaan begitu melihat ayah mereka keluar dari ruangan didampingi Andi.


Baskara langsung melipat lututnya untuk mwnyambut kedua anak yang berbeda usia tapi terlihat seperti anak kembar karena tinggi badannya yang sama. Menangkap mereka yang berlari dan menabraknya dengan cukup keras.


"Jagoan dan princessnya daddy kok nggak bilang mau datang?" ia berdiri membawa serta kedua anaknya.


Senja memang tidak bilang akan datang. Karena ada acara khusus setelah ini untuk mengumumkan secara resmi pengangkatan Baskara kepada klien dan publik. Sekaligus mengenalkan brand baru milik Senja yang baru dirilis.


Pesta megah disalah satu hotel berbintang milik keluarga Shandika sudah siap untuk acara malam nanti. Dan seharusnya Senja sudah berada disana mempersiapkan para model untuk fashion show nanti malam.


"Kan surprise dad." jawab Senja mewakili anak-anak. Menyerahkan buket bunga yang tadi dibelinya bersama anak-anak dalam perjalanan menuju kantor sang suami.


"Terimakasih sayang." Baskara mengecup dahi Senja sembari berucap. Tapi tak bisa memeluk istrinya karena kedua tangannya yang sudah penuh dengan anak-anak.


"Eh, cicit-cicit Oma disini!" seru Oma yang baru keluar dari ruang rapat dengan Om Faraz. Wanita berusia senja itu mencium kedua bocah dalam gendongan Baskara dengan gemas. "Kalian sudah punya tujuan untuk makan siang?" tanya Oma menatap Senja dan Baskara bergantian. Waktu memang sudah mendekati waktunya makan siang.


"Belum Oma." jawab Senja jujur. Karena memang kedatangannya kesana tanpa sepengetahuan suaminya. Jadi belum merencanakan akan makan siang dimana.


"Kalau begitu bagus. Bagaimana kalau kita makan siang bersama di restoran Faraz?"


Baskara menatap istrinya menanyakan pendapat lewat tatapannya. Setelah mendapat anggukan halus dari Senja, Baskara menyetujui ajakan Oma untuk makan siang bersama.


Oma, Om Faraz dan Grace-yang baru bergabung-menggunakan mobil dan supir kantor . Sedangkan Baskara bersama keluarga kecilnya beserta Andi yang mengemudi membawa mobilnya sendiri.


"Harusnya tadi bilang, ayy. Kalau mau datang. Kan aku bisa minta Andi buat jemput."


Andi yang namanya disebut hanya melirik. Tak berkomentar apa pun.


"Kita juga diantar sopir kok, mas."


"Terus kalau kamu disini, buat acara nanti malam gimana?"

__ADS_1


"Tenang aja, mas. Udah ada yang ngehendle. Aku juga udah arahin mau gimana. Tinggal awasi dan lihat hasilnya nanti malam."


Senja baru beberapa bulan membuka butik dan memiliki brand sendiri secara resmi. Tapi belum ada waktu untuk mempromosikan dan mempublikasikan.


Jadi mereka rasa, malam nanti adalah malam yang tepat. Dimana banyak rekan bisnis dari suami dan orang tuanya yang akan datang.


"Cieee udah resmi jadi nyonya CEO." goda Baskara pada sang istri.


"Diih apa, sih mas! aku tuh udah jadi owner malah di butikku sendiri. Dimana aku sebagai pemilik saham penuh. Mas mah cuma jadi CEO tunjukan, bukan saham." Senja memeletkan lidahnya membalas menggoda sang suami.


"Siyalan." maki Baskara untuk ejekan sang istri. Tapi dengan suara pelan tak ingin kedua putra putrinya yang tengah bermain mendengarnya.


Ya. Baskara memang hanya memiliki saham yang dulu diwariskan untuknya. Sedangkan sebagian saham masih milik Oma dan ayahnya.


Jadi seperti yang istrinya bilang. Ia hanya CEO karena meneruskan kepemimpinan sang Opa. Bukan karena pemilik saham terbesar.


"Yaaaa... Nggak pa-pa lah. Yang penting penghasilan aku dalam setahun lebih dari cukup buat membeli semua saham di butik kamu sekarang."


Senja lirik suaminya tajam. Dari dulu hingga sekarang, mereka memang selalu seperti itu. Saling mengejek satu sama lain. Tapi justru itu yang membuat rumah tangga mereka tidak terasa membosankan. Selalu memiliki warnanya sendiri.


Ruangan megah itu sudah ramai dengan tamu undangan. Yang hadir adalah orang-orang dari kalangan bisnis yang bekerja sama dengan LC maupun Kaisar Group yang sengaja Alvaro undang untuk meramaikan peresmian usaha baru milik putri bungsunya.


Meja bundar tertata didua sisi. Bukan untuk membedakan tempat untuk para tamu LC maupun KG. Tapi karena ditengah nanti dipergunakan untuk acara fashion show.


Kini Senja tengah menemani suaminya berdiri didepan dan memberikan sambutannya yang juga memperkenalkannya sebagai istri dihadapan semua orang yang hadir.


Sedangkan anak-anak memang sengaja tidak mereka bawa. Karena bagaimana pun dunia bisnis adalah dunia yang penuh dengan persaingan. Jadi mereka melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk melindungi putra dan putri mereka.


Setelah selesai, Senja beranjak kebelakang ballroom untuk memastikan penampilan model-modelnya terlihat menarik. Menonjolkan apa yang ia jual.


Musik pengiring bertempo cepat sudah berbunyi. Menandakan sudah waktunya mereka keluar.


Senja mengulurkan tangan untuk melakukan tos bersama. Disambut para model dan stafnya. "Vogi! bisa!" seru mereka bersama.

__ADS_1


Vogi adalah nama yang Senja gunakan untuk nama brandnya. Vogi adalah bahasa Armenia yang berarti semangat.


Dengan harapan, brandnya ini memberinya semangat untuk meraih kesuksesan yang sejak lama ia impikan. Juga memberikan semua orang yang bekerja padanya semangat yang sama besarnya untuk menciptakan pakaian yang dapat memuaskan orang yang mengenakannya.


Satu persatu dari para modelnya keluar dengan melenggangkan kaki jenjang mereka.


Tak hanya pakaian wanita. Tapi Senja juga membuat pakaian pria. Baik pakaian formal maupun non formal.


Ia juga membuat gaun pernikahan. Tapi hanya untuk pesanan. Karena untuk saat ini fokusnya pada pakaian yang siapa saja bisa membeli dan memakainya tanpa harus berada di acara khusus. Terutama tren model baju terkini yang paling ia tonjolkan di acara malam ini.


Ia ingin brand nya dikenal dengan modelnya sendiri. Dimana orang bisa tahu itu brand miliknya hanya dengan melihatnya saja.


Beruntungnya Senja karena yang hadir bukan hanya kaum paruh baya, tapi juga putra putri mereka yang berusia delapan belas tahun keatas. Membuatnya bisa menjaring berbagai usia malam ini.


Ia tak peduli jika orang menganggapnya memanfaatkan kedudukan suami dan keluarganya yang memiliki banyak kolega.


Bukankah pebisnis memang harus bisa memanfaatkan semua peluang yang ada. Dan peluang terbesar yang dapat menguntungkanya kini adalah Channel dari para keluarganya.


Dan hal paling penting lainnya adalah, ini hanya caranya untuk berpromosi. Masalah suka atau tidaknya mereka, ada ditangan mereka sendiri.


Jadi jika banyak yang suka dan membeli, itu semua karena kerja kerasnya dan para staf yang sudah dengan susah payah merancang berbagai jenis pakaian selama ini. Terutama pakaian yang malam ini di tampilkan.


Setelah semua modelnya keluar, giliran Senja sebagai penutup. Meski gugup karena itu adalah pertama kalinya berjalan diatas catwalk, tapi ia harus bisa profesional.


Tepuk tangan bergemuruh begitu pembawa acara menyebutkan namanya sebagai owner dari Vogi. Senja juga menjelaskan satu persatu keunggulan pakaian yang brand-nya buat. Apa yang membedakan Vogi dari merk lain sehingga mereka mau membeli.


Tepuk tangan kembali bergemuruh setelah Senja selesai menjelaskan. Terlebih ketika Baskara menghampirinya dengan sebuket bunga. Tak lupa pelukan selamat dan ciuman di pipi dan dahinya.


*


*


*

__ADS_1


Bab ini lagi nggak banyak dialognya.hihiji


__ADS_2