
Langkahnya semakin berat ketika baby Anna sudah ada dalam jangkauan matanya. Ada rasa bersalah yang menekan dada. Air mata yang sudah sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu ia merengkuh tubuh kecil balita yang tengah terlelap diatas tempat tidur kamar tamu.
Putri kecilnya membuka mata dengan lucu. Mungkin balita itu masih mengantuk namun tidurnya terganggu dengan ulah sang ibu.
"Maafkan mommy sayang." ucapnya parau. Sudah sejak tadi ia menahan isak. Untuk itu suaranya terdengar aneh ketika berbicara dengan sang suami ketika didalam mobil tadi. Karena ia berusaha menahan getaran dalam suaranya.
"Maafkan mommy." ucapnya lagi dengan lirih. Hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan.
Rasa bersalahnya terlalu besar untuk ia ucapkan dengan kata-kata. Ia hanya bisa menangis dengan baby Anna dalam dekapan.
Diluar kamar, Maureen dan ibunya pamit pulang. Mereka ingin memberikan Senja waktu untuk sendiri. Memberinya kesempatan untuk menerima keadaan.
Begitu juga Baskara yang hanya menatap istrinya dari pintu kamar. Ia ingin istrinya menumpahkan tangisnya. Menumpahkan apa yang istrinya rasakan sejak tadi. Hal yang tidak bisa Senja tumpahkan padanya.
Karena mungkin memang bukan ia yang istrinya butuhkan saat ini. Mungkin Senja memang lebih membutuhkan baby Anna untuk menguatkan hatinya menerima keadaan.
Cukup lama Senja menangis. Dari yang awalnya baby Anna hanya memperhatikan sang ibu dengan celotehan-celotehan khasnya, hingga balita itu menangis kesal. Kesal karena sang ibu tak menanggapinya seperti biasa. Juga, bayi kecil itu merasa lapar.
"Sini, biar daddy kasih susu Anna-nya."
Awalnya Senja tak membiarkan sang suami mengambil baby Anna dari dekapannya. Namun begitu tangis balita itu semakin kencang, Senja membiarkan meski tak rela.
Satu hari, dua hari, Baskara masih membiarkan istrinya bersedih dan menangis.Mengurung diri dikamar tanpa melakukan apa pun kecuali memandangi Anna yang tertidur. Tapi ketika satu minggu berlalu dan Senja masih saja sering menangis, ia tak tahan membiarkannya.
"Sayang.. Dengar aku!" Baskara menangkup wajah istrinya agar mau menatapnya. "Kamu marah sama aku, ayy?"
Senja menggeleng dengan air mata yang tak lepas membasahi wajah cantik yang kini terlihat semakin pucat, terlalu banyak menangis. Bahkan dalam satu minggu, hanya dengan melihatnya saja berat badan Senja jelas terlihat turun drastis. Membuat Baskara semakin bersedih dengan keadaan. Padahal seharusnya mereka bahagia bukan?
"Terus kenapa kamu nggak mau ngomong sama aku? kenapa nagis terus? kenapa nangisnya sendiri, nggak mau berbagi?"
Senja menjatuhkan dirinya kedalam peluk hangat sang suami. Menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi bagian dada kaos yang suaminya kenakan.
"Ngomong sayang.. Aku nggak akan ngerti kalau kamu diem dan nangis."
__ADS_1
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari bungkam suara, akhirnya Senja berkata dengan tersendat.
"Gi-mana... nasib.. Anna?" tanyanya.
Hari pertama ketika dirinya sudah lebih tenang dan bertanya apa boleh ia menyusui baby Anna. Baskara menjelaskan lagi apa yang dokter jelaskan padanya ketika dirumah sakit.
Meski menyusui dikhawatirkan dapat memicu kontraksi dan keguguran, produksi ASI yang menurun juga kurangnya nutrisi untuk bayi yang ada dalam kandungan. Nyatanya hal seperti itu tidak perlu dikhawatirkan. Karena Senja masih diperbolehkan asal kehamilannya kali ini kehamilan yang sehat dan tidak beresiko. Namun tetap harus dengan pantauan dokter.
Apalagi Senja sudah merasakan keluhannya seperti buah dada yang terasa nyeri, kelelahan dan morning sickness yang cukup parah. Bahkan satu bulan kebelakang ia sering sakit-sakitan karena ia melakukan tiga hal sekaligus. Menyusui, hamil dan begadang untuk skripsi.
Jadi dokter hanya menyarankan Senja untuk melanjutkan ASI hanya sampai usia baby Anna tepat enam bulan. Tapi jika kondisi tubuh dan kehamilan Senja cukup stabil, ia bisa melanjutkan proses menyusui baby Anna hingga selesai.
"Aku belum bisa kasih waktu sepenuhnya buat Anna, mas." tangisnya kembali pecah. "Anna belum dapat kasih sayang yang layak dari aku."
Baskara hanya mengusap lembut punggung istrinya. Satu minggu menahan diri, pasti banyak hal yang ingin istrinya itu sampaikan.
"Aku masih butuh waktu berdua Anna, mas.... Aku pengen ngejalanin peranku sebagai ibu buat dia dengan baik."
"Karena selama ini aku belum meranin peran sebagai ibu! aku cuma meranin peran sebagai pelajar! karena apa?!... Karena aku pikir, aku masih punya banyak waktu buat menghabiskan waktu berdua Anna. Mengganti hari-hari yang aku lewatin."
Ia yakin suaminya sudah menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana kondisinya kini.
"Nggak pa-pa sayang.. Semua akan baik-baik aja." ucap Baskara akhirnya mencoba menenangkan sang istri. "Ketika Anna sudah bisa mengerti nanti, dia pasti paham keadaan kamu gimana. Karena dia perempuan, mungkin dia akan lebih memahami kamu ketika dia membayangkan ada diposisimu saat ini."
"Aku bahkan nggak pantes buat Anna panggil mommy..." gumamnya sendu. "Aku bahkan nggak pernah mengurusnya."
Baskara menangkap pergelangan tangan istrinya yang mencoba memukuli kepalanya sendiri.
"Kamu ibu yang baik sayang... Kamu istri dan ibu yang baik untuk kami." Baskara mencengkeram dengan tegas bahu istrinya yang menunduk dalam.
"Kamu mau apa? mau jadi sarjana?... aku temani sampai wisuda disini!... mau jadi desainer?... aku kawal sampai sukses!... Mau jadi ibu dan istri yang baik?... aku temani kamu sampai akhir ayy. Genggam tangan aku dan percaya kalau kamu nggak akan pernah sendiri jalani semuanya!
Namun, jawaban yang Baskara dengar, bukan jawaban yang ia mau.
__ADS_1
"Aku bahkan sempat mikir untuk buang bayi dalam kandunganku, mas." ucap sang istri lirih penuh sesal.
"SENJA!!" untuk pertama kalinya Baskara benar-benar membentak istrinya. Bahkan Ia menyebut nama istrinya. Bukan nama panggilan seperti biasa.
"Meskipun anak kedua hadir diwaktu yang belum kita harapkan, tapi kamu nggak boleh melakukan itu! bahkan hanya dengan kamu memikirkannya aja, kamu udah jahat banget!" hardik Baskara. Tatapan yang biasanya selalu lembut kini tajam dan dingin.
"Kamu nggak mikir, bagaimana kalau anak kedua dengar apa yang kamu ucapin?! bagaimana kalau dia merasakan apa yang kamu rasakan?! bagaimana kalau dia merasa sedih karena nggak ibunya inginkan?!"
Senja masih menunduk tanpa daya. Ia juga memikirkan hal itu. Maka dari itu ia hanya pernah memikirkannya tanpa berani melakukannya.
"Kalau kamu sayang Anna, kamu juga harus sayang sama anak kedua." nada bicaranya kembali turun dan lembut. Meski matanya masih memancarkan amarah. "Karena dia dan Anna, sama! sama-sama darah daging kamu! sama-sama anak yang Tuhan percayakan untuk kamu jaga!"
"AKU TAHU MAS?!" teriaknya. Sungguh, tanpa perlu suaminya salahkan, ia sudah merasa sangat bersalah.
"Aku tahu dia dan Anna itu sama! aku tahu kalau aku sedih dia juga pasti akan merasa sedih juga! aku tahu aku jahat karena pernah berpikiran seperti itu hanya demi Anna mendapat kasih sayang yang utuh dari aku! tanpa harus berbagi dengan adiknya."
Senja menatap balik suaminya. Tatapannya sendu, berbeda dengan sang suami yang tajam dan mengintimidasi dirinya.
"Kamu tahu apa alasan aku kenapa nggak gugurin kandungan ini?" tunjuknya pada perut ratanya. Baskara balas dengan gelengan kepala.
"KARENA AKU SAYANG DIA, MAS!" ia kembali berteriak frustasi. "Karena aku sayang dia... Makanya aku pertahanin dia."
Tubuhnya bergetar hebat seiring dengan isak tangis yang memenuhi seluruh ruang kamar mereka.
"Aku sayang dia, mas... Aku sayang dia..."
Baskara menghela napasnya merasa bersyukur. Ternyata istrinya masih mengharapkan kehadiran anak kedua mereka. Ia kembali membawa sang istri kedalam dekapan.
"Karena aku sayang dia.... Makanya aku cuma bisa nyalahin diri aku sendiri dengan keadaan ini."
*
*
__ADS_1
*