
Melihat meriahnya acara Baskara dan Senja. Serta bagaimana ia menyaksikan sendiri kesuksesan acara adik iparnya itu, membuat Jingga juga menginginkan hal yang sama.
Bukan. Bukan menjadi desainer untuk menyaingi Senja. Atau iri dengan mereka.
Ia hanya ingin bisa merasakan kepuasan seperti yang Senja rasakan. Ingin memiliki kegiatan yang bermanfaat selain mengurus suami dan anak-anak dirumah.
Beberapa hari Jingga memikirkan hal tersebut hingga muncul keberanian untuk meminta izin pada suaminya.
Setelah mengantar anak-anaknya untuk tidur, Jingga pergi ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi untuk suaminya yang masih berada di ruang kerja.
Tanpa mengetuk pintu, Jingga masuk kedalam ruangan. Suaminya hanya meliriknya dan kembali pada layar komputer dimana prianya tengah mendesain rumah dengan aplikasi digital disana.
"Kopinya abang." Jingga meletakan cangkir kopi diatas meja yang kosong dari berkas-berkas.
"Terimakasih sayang.. Kenapa belum tidur sudah malam?" tanya Farri masih tak mengalihkan tatapannya dari layar komputer. Desain yang harus ia tambahkan beberapa bagian dan periksa ulang sebelum esok membawanya pada klient untuk mendapat persetujuan.
"Nanti aja tidur bareng." jawab Jingga seadanya yang menarik suaminya untuk tersenyum menggoda. "Nggak usah mikir aneh-aneh. Kan sudah semalam!" cebik Jingga yang tahu arti tatapan suaminya itu.
"Kenapa kalau semalam sudah? sehari tiga kalipun nggak masalah. Jangan meragukan kejantananku." ucap Farri merajuk dengan penolakan istrinya.
"Bukan abang yang kurang jantan. Tapi aku yang nggak kuat ngimbanginnya."
Farri tertawa mendengar jawaban sang istri yang selalu ada saja. "Ya udah sana balik ke kamar. Bentar lagi abang selesai kok."
Jingga bergeming. Masih setia berdiri dibelakang sang suami. Tak mengucapkan sepatah katapun karena takut mengganggu. Hanya mengamati suaminya yang begitu terampil mendesain rumah sesuai keinginan klien.
"Aku bakal dibikinin rumah sebagus dan sebesar itu nggak, bang?" tak tahan untuk tak berkomentar setelah cukup lama hanya diam. Menopangkan sikunya disandaran kursi suaminya.
"Emang kamu mau pindah dari sini?" tanya Farri masih acuh. Tak menganggap serius apa yang istrinya katakan.
"Enggak sih. Aku udah betah disini sama anak-anak."
Lihat kan? istrinya selalu saja bertanya random dan tidak sesuai keinginannya. Dan itu sudah menjadi hal biasa bagi Farri. Untung cinta.
"Yasudah. Ngapain buang-buang uang buat bikin rumah yang nggak ditempati. Mending nabung buat bangunin rumah anak-anak saat mereka menikah nanti."
__ADS_1
Jingga terkekeh mendengar penuturan sang suami. "Mereka aja masih kecil-kecil, abang. Udah mikirin mereka nikah aja. Emang abang sudah siap ditinggal sama mereka?"
"Belum lah." sahut Farri cepat. "Nggak akan pernah siap. Makanya abang mau bikinin rumah dekat dengan kita biar nggak ada alasan untuk suami mereka bawa pergi anak-anak kita."
"Iya iya.. Terserah abang aja."
Farri kembali sibuk dan hening kembali terjadi diantara mereka. Hal yang tak biasanya istrinya lakukan. Karena biasanya Jingga tidak pernah menemaninya bekerja karena bosan dan mengantuk. Tapi kini bahkan istrinya itu masih setia menunggunya dengan melihat-lihat ruangan yang ia yakin istrinya sudah hafal setiap letak bendanya.
"Kenapa? tumben banget nungguin disini nggak dikamar. Ada yang mau di obrolin?"
Jingga menoleh pada suaminya yang bertanya. Tapi ternyata sang suami masih menekuni pekerjaannya.
"Abaaang..." panggilnya manja dengan mendekat dan merangkul suaminya dari samping.
"Hm.." sahutnya pendek. "Kenapa? tadi katanya nggak mau."
Jingga mencebik karena lagi-lagi yang suaminya pikir adalah masalah ranjang. Ia sendiri heran dengan suaminya yang tidak pernah ada bosannya. Meskipun ia sendiri juga menikmati. Jingga terkekeh dalam hati ketika memikirkannya.
"Dari lulus SMA kan aku udah nikah.. Ngurus abang, ngurus Sisi, ngurus Sheina juga." Sheina adalah anak keduanya yang usianya hanya berbeda lima bulan dari Kai anak Senja dan Baskara.
Farri menelengkan kepalanya menatap sang istri yang berdiri disampingnya. Meninggalkan pekerjaan dan mencoba menebak apa yang ingin istrinya katakan namun tak berhasil. "Lalu?" tanyanya dengan menaikan sebelah alisnya. Menegaskan kata tanya dalam ekspresi wajahnya.
Permintaan izin dari istrinya semakin membuat Farri bingung. Bertanya dalam hati apa selama ini uang yang ia berikan untuk sang istri kurang sehingga istrinya berkeinginan untuk bekerja.
"Aku juga pengen kayak Senja. Bisa lihat dunia luar dengan kuliah." selanya sebelum suaminya mendebat. "Aku juga pengen punya karir kayak Senja, abang..."
"Udah bosen dirumah aja. Keluar paling jemput anak-anak sekolah. Atau jalan sama abang atau enggak shoping. Cuma itu-itu doang tiap hari."
"Terus kamu pengennya gimana? Mau kuliah?" ia pikir selama ini istrinya sudah cukup nyaman dengan kegiatannya di rumah dan segala fasilitas yang ia berikan. Karena meskipun ia bukan seorang CEO, tapi gajinya setiap bulan cukup besar dan bisa memenuhi apa pun keinginan anak dan istrinya.
Tapi ia cukup mengerti tentang apa yang tengah istrinya rasakan. Tidak mudah untuk menikah muda. Mengurus suami dan anak ketika teman-teman sebayanya masih senang bermain dan nongkrong di luar sana.
Tapi ternyata Jingga menggeleng atas pertanyaannya. "Nggak mau, ah. Males mikir."
Farri terkekeh dengan jawaban istrinya. "Kamu pikir kerja juga nggak mikir!" menyentil dahi istrinya dengan sayang. "Kerja juga mikir sayang. Capek lagi."
__ADS_1
"Tapi aku juga mau kerja abang.. Nyoba dulu deh. Nanti kalau bosen juga, aku dirumah aja jadi istri dan ibu yang baik." Jingga mengacungkan tangannya berjanji.
Farri kembali menghadap komputer dan berkata. "Ya udah jadi sekretaris pribadi abang aja." kerena ia tidak yakin istrinya benar-benar serius dengan keinginannya. Yang mungkin hanya tengah bosan dan ingin mencari hal baru yang pasti juga tidak akan bertahan lama.
"Nggak mau!" tolak istrinya langsung. "Bosen lah bang, ketemu abang 24 jam non stop setiap hari."
Farri berdiri dengan senyum licik tersungging. "Jadi kamu bosen sama abang?" tanya melangkah mendekat perlahan. Menghimpit istrinya di tembok belakang meja kerjanya.
Jingga memundurkan kepala dan punggungnya hingga menyentuh tembok ketika sang suami semakin menghimpitnya.
"Bukan gitu!" serunya menahan dada sang suami. "Tapi aku kan juga mau ketemu orang-orang baru."
Farri tak membiarkannya begitu saja. Ia menunduk dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Istrinya mulai terpejam siap menerima apa yang biasa dilakukannya. Membuat tawanya pecah dan hanya meningecupnya ringan.
"Jadi sekretaris abang juga tiap hari ketemu orang baru. Ketemu klien tiap hari." ucapnya berusaha meyakinkan sang istri. Lagi pula ia tidak percaya jika istrinya bekerja di luar sana. Jingga masih cukup muda untuk para pria idamkan.
Jingga masih menggeleng. "Tapi nanti nggak profesional kerjanya karena aku istri abang." ucap Jingga memberi alasan.
"Jadi maunya gimana?" tanya Farri dengan bersidekap menatap sang istri.
"Bujukin Senja dong, abang. Biar dia mau angkat aku sebagai karyawan."
Farri menepuk dahinya. Jika ia ajak bekerja tapi istrinya takut tidak profesional, lalu apa bedanya jika kedua gadis itu bekerja bersama. Yang ada nanti kantor berisik karena mereka yang setiap hari berdebat beda pendapat.
*
*
*
Waah kayaknya pada belum baca My Annoying Soulmate nih, makanya nggak tahu Denish.hihihi
Author : Btw ini mau masukin Jingga kedalam cerita lagi. Udah bosen kan isinya Senja sama Bas terus? Biar rada rame gitu.
Reader : Alaaah.. Bilang aja pusing kehabisan ide..
__ADS_1
Author : Ternyata kalian peka.wkwkwkwk
Jangan lupa jejaknya kawan... Biar othornya semangat ❤