
Langit merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. Pria itu memandang langit langit kamarnya pikirannya melayang pada saat dirinya berada di kamar Senja.
"apa dia setakut itu?" tanya Langit pada dirinya sendiri.
"apa aku terlalu jahat?" tanya nya lagi. tidak sadar diri sekali pria satu ini. meski dia tidak pernah melukai fisik Senja, tapi hati gadis itu terluka karena sikapnya.
Langit kemudian bangun dari berbaringnya lalu berjalan keluar kamar. saat akan menuju lift untuk turun ke bawah, pria itu melihat ke arah pintu kamar yang Senja tempati. setelahnya melanjutkan langkahnya.
"Dia sudah makan?" tanya Langit pada Bik Sumi setelah sampai diruang makan.
"Sudah Tuan, tadi sebelum maghrib." jawab Bik Sumi.
"Kenapa dia selalu menghindariku Bik?" sepertinya pria ini mulai curhat pada Bik Sumi, wanita paruh baya yang sudah berada di dalam keluarga William sejak Langit masih kecil.
"maaf Tuan, bukan apa apa, tapi kalau Bibi lihat sepertinya dia ketakutan setiap melihat Tuan muda." terang Bik Sumi. ya, dari awal kehadiran Senja di keluarga William, Bik Sumi selalu memperhatikan gadis remaja itu. dan beberapa minggu terakhir ini ia perhatikan ketakutan gadis itu semakin menjadi terhadap Langit. Bik Sumi belum tau penyebabnya, tapi pikirannya menebak jika Langit melakukan kekerasan terhadap gadis itu.
Langit menghela napas pelan, ia merasa bersalah pada istrinya. sepertinya pria ini mulai jatuh cinta pada istrinya. Ya, dia tidak akan lagi menampiknya, ia benar benar terjatuh dalam pesona istri kecilnya itu. dia akan segera menemui Senja dan mengatakannya, dia akan meminta maaf karena sikapnya selama ini.
Langit langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang makan.
"Tuan muda belum makan malam, mau kemana." panggil Bik Sumi, melihat Langit belum menyentuh sedikitpun makanan, bahkan piring Langit masih bersih, belum terisi apapun.
"Saya mau makan diluar sama Dylan." jawab Langit sambil terus berjalan keluar mansion dengan memegang ponselnya dan mengetik sesuatu disana.
Sampai di Cafe langgannya, seorang pria mengedarkan pandangannya menelusuri ruangan yang ada didalam cafe seperti sedang mencari seseorang. setelah menemukan apa yang dia cari, pria itu berjalan menghampirinya.
"ada apa?" tanya pria itu sembari duduk dihadapan orang yang dia tanya. sementara yang di tanya? dia malah senyum senyum dengan menatap kopi yang dia pesan tadi sambil memutar mutar gelasnya.
"Woi Langit..." teriak Dylan, tepat dihadapan Langit. membuat Langit terjengit kaget lalu menatap Dylan dengan datar.
"Lo kenapa senyum senyum sambil lihat kopi? jatuh cinta sama kopi?" tanya Dylan, melihat pada kopi milik Langit.
__ADS_1
Langit tersenyum lalu menyesap kopinya yang masih sedikit panas. "Iya, gue sepertinya lagi jatuh Cinta."
Dylan membelalakkan matanya, ia menggelengkan kepalanya tak percaya. "gila lo Ngit, udah punya bini secantik dan sebaik Senja, lo malah jatuh cinta sama cewek lain?"
"gue nggak jatuh cinta sama cewek lain, gue jatuh cinta sama istri gue sendiri." aku Langit. Dylan semakin melebarkan bola matanya. Dia sangat ingat dua bulan lalu setelah pernikahannya dengan Senja pria itu pernah mengatakan padanya kalau dia tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis seperti Senja yang sok polos.
"Lo kemakan omongan lo sendiri." Dylan mengingatkan jika Langit pernah mengatakan yang sebaliknya dulu.
Langit mengangguk mengakuinya. "sepertinya begitu."
"terus kontrak kalian kan tiga bulan lagi. itu gimana?"
Langit terdiam mengingat kontrak pernikahannya dengan Senja. sepertinya dia harus melakukan sesuatu sebelum kontrak itu berakhir.
"dan lo udah melanggar satu perjanjian dalam kontrak itu. tidak mau bertanggung jawab lagi." sindir Dylan, kembali membuat langit teringat ucapannya pada Senja terakhir kali mereka bertemu.
"nggak Dylan, gue nggak yakin kalau dia langsung hamil. gue baru ngelakuinnya sekali, malam itu aja." Yakin Langit.
Langit menggelengkan kepalanya dengan pandangan kosong. "nggak! Lan, gue harus secepatnya ngomong sama Senja, gue harus segera jujur sama dia."
"dan waktu lo tinggal tiga bulan lagi." mengingat waktunya yang tidak banyak, Langit langsung berdiri dari duduknya dan langsung berjalan keluar dari Cafe diikuti Dylan di belakangnya.
"lo mau kemana?" tanya Dylan.
"Balik, gue mau temuin dia sekarang." jawab Langit tanpa menghentikan langkahnya.
kedua pria itu berjalan menuju kearah parkiran. pintu mobil ditahan oleh Dylan saat Langit akan membukanya. Langit menatap tajam kearah Dylan.
"Ingat, jangan paksa dia, katakan dengan pelan." peringat Dylan, Langit mengangguk lalu menyingkirkan tubuh Dylan dari hadapannya lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.
sementara Senja, gadis itu sedang duduk di meja belajarnya berhadapan dengan buku buku pelajaran yang akan di uji ujian hari ke tiga besok.
__ADS_1
"kok tiba tiba pengen makan mie instan ya." gumam Senja. memegang perutnya yang tiba tiba lapar dimalam hari. gadis itu melirik jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya.
"baru jam 20:00, kenapa lapar banget? mana pengennya mie instan lagi." gumamnya lagi. karena sudah tidak bisa menahan keinginannya lagi, gadis itu bergegas merapikan buku buku yang terbuka di meja belajarnya. ia berniat untuk turun kedapur dan memenuhi keinginannya setelahnya akan segera tidur.
Ceklek
Senja membuka pintu kamarnya bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Senja keluar dari kamar pun bersamaan dengan seseorang yang keluar dari dalam lift.
tubuh gadis itu seketika mematung melihat kedatangan Langit. tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. apa lagi melihat Langit yang tersenyum, bukan malah luluh dan membalas senyuman manis suaminya, nafas gadis itu malah semakin memburu. ia ketakutan melihat senyuman Langit. padahal, di posisi Langit, pria itu tersenyum karena merasa senang bisa langsung bertemu dengan istrinya. ia berniat akan segera mengungkapkan perasaannya pada Senja, ia akan berkata jujur dan meminta maaf pada istrinya yang sekarang teramat sangat dia cintai itu namun belum diketahui oleh Senja.
Namun, seketika senyuman pria itu luntur kala Senja yang ia lihat semakin pucat dan segera berbalik berlari menuju kekamarnya.
"Senja, tunggu aku ingin bicara." panggil Langit, namun tak dihiraukan, gadis itu terus berlari masuk kekamarnya dan menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Langit berusaha mengejarnya tapi saat sampai di depan kamar Senja, pintu itu sudah tertutup rapat dan terkunci.
Tok! Tok! Tok!
Langit mencoba mengeruk pintu kamar Senja, siapa tau gadis itu mau membukanya.
"Senja, tolong buka pintunya. aku mau ngomong sama kamu, sebentar saja." mohon Langit, namun tidak ada jawaban dari dalam.
gadis itu duduk meringkuk memeluk lututnya di belakang pintu. tubuhnya semakin bergetar kala mendengar suara suaminya di depan kamarnya.
Hening. tak ada lagi suara dari luar maupun dalam kamar, hanya terdengar isakan tangis dari dalam kamar. Langit pun mendengarnya, ia mendengar jika istrinya kini telah menangis. ia pun teringat ucapan sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.
'jangan paksa dia, katakan dengan pelan.'
"segitu takutnya kamu dengan ku Senja. tolang jangan menangis, aku janji akan menebus kesalahanku padamu, aku akan membuatmu bahagia setelah ini." gumam Langit lirih. bahkan Senja pun tidak akan bisa mendengarnya. "semoga besok kamu bisa lebih tenang dan mau bertemu denganku besok." lanjutnya. kemudian ia pun pergi dari depan kamar gadis itu dan memasuki kamarnya.
Bersambung....
__ADS_1