Langit Senja

Langit Senja
Bingung


__ADS_3

Senja merasa ada yang aneh dengan Baskara yang lebih banyak diam dari pada biasanya. Belakangan Baskara sudah banyak berbicara seperti dulu. Namun entah apa yang membuat sahabatnya itu kembali menjadi pendiam seperti ini.


"Lo kenapa sih Bas jadi diem gini?" tanya Senja yang tak tahan didiamkan seperti saat ini. "Lo sakit gigi?"


Baskara melirik sinis mendengar Senja menuduhnya sakit gigi. Namun tak mengindahkan pertanyaan gadis itu. Baskara kembali pada kesibukannya memasak makan siang untuk mereka.


Teman-teman Senja sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Tadinya Robert ingin tinggal lebih lama. Namun ada yang menghubungi pemuda itu hingga Robert pamit tak lama setelah Maureen dan kekasihnya pergi. Membuat Baskara tak jadi mengumpat karena kesal melihat Robert yang selalu saja mencari perhatian Senja.


Baskara meletakan satu porsi steak daging lengkap dengan kentang dan sayuran. Tak cukup dengan sayur yang ada di piring steak, Baskara juga membuat salad sayur.


Baskara juga meletakan dua gelas jus. Satu gelas berisi jus semangka, dan satu lagi jus strawberry.


"Mau yang mana? katanya bagus untuk demam." nada suara Baskara pun terdengar dingin dan kesal.


Tak ingin ribut didepan makanan, Senja mengambil jus strawberry dan menyisakan jus semangka untuk Baskara. Biar nanti mereka bahas apa yang membuat Baskara aneh seperti itu setelah mereka makan saja.


Selama makan, tak seorang pun membuka suaranya. Hanya denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring. Hingga semua makanan pada piring mereka habis, mereka masih saling diam. Lebih tepatnya Baskara yang diam. Karena Senja bingung untuk membuka obrolan ketika melihat raut kesal diwajah sahabatnya itu. Ia takut salah ucap dan semakin membuat Baskara marah.


Baskara membereskan piring dan membawanya ke wastafel. Sebelum mencuci semua piring dan peralatan masak yang tadi ia gunakan, Baskara berjalan ke tempat penyimpanan obat untuk mengambilkan obat dan menaruhnya dihadapan Senja.


"Minum obatnya biar cepet sembuh."


Tak menjawab atau membantah. Senja meminum obat dengan pandangan yang tak lepas dari punggung Baskara yang tengah mencuci piring.


Senja memikirkan segala kemungkinan yang bisa membuat Baskara menjadi sekesal itu. Namun otaknya tak menemukan alasan apa pun hingga Baskara selesai mencuci dan berbalik menatapnya.


"Kenapa masih disini? istirahat sana!"

__ADS_1


Senja menggeleng. "Capek Bas, tidur mulu. Mau nonton tv aja."


Baskara membiarkan saja apa yang gadis itu mau. Ia melangkah mengikuti Senja ke ruang televisi. Hanya duduk menyaksikan televisi yang terus berganti chanel karena Senja tak menemukan acara yang bagus menurut gadis itu.


"Mau nonton apa sih lo sebenernya?" kesal juga Baskara lama-lama melihat layar datar yang terus berkedip membuat mata sakit.


"Nggak tahu, nggak ada yang bagus." jawab Senja seadanya. Sebenarnya ia hanya tidak fokus karena Baskara yang masih aneh menurutnya.


Baskara mengeluarkan ponselnya. Menyambungkan dengan televisi dan menyuruh Senja memilih film atau apa saja yang gadis itu inginkan.


Hingga akhirnya, mereka berakhir menonton film komedi untuk mencairkan suasana yang terasa tak nyaman bagi Senja.


***


Kondisi Senja sudah membaik. Tak lagi deman ataupun pusing. Mereka juga sudah selesai makan malam. Tapi rasa kesal di hati Baskara belum juga hilang. Hingga memutuskan menjauh sementara sepertinya pilihan yang tepat.


Karena ada di dekat Senja, membuatnya terus terbayang bagaimana gadis itu tersenyum dan tertawa kepada Robert.


Senja mengangguk dengan wajah cemberut. "Kenapa pulang sekarang? biasanya juga minggu sore lo baru pulang." melas gadis itu tak ingin ditinggal sendiri. Lebih tepatnya tak ingin Baskara pulang sebelum hubungan mereka kembali membaik. Ia merasa tidak tenang jika Baskara pulang dan pemuda itu masih mendiamkannya seperti ini.


"Lo kan punya temen banyak. Suruh aja salah satu temen lo buat nemenin lo disini." jawab Baskara ketus. "Kayaknya lo tambah deket sama Robert. Suruh aja dia nginep buat nemenin lo." imbuhnya sedikit menyindir.


Tapi pada akhirnya ia malah merasa kesal sendiri dengan sindiran yang ia lontarkan. Ia merasa semakin membuat perasaannya tidak karuan. Membayangkan pria lain tidur di dalam apartemen yang sama dengan Senja. Apa lagi pria brengsek seperti Robert.


"Lo nggak takut gue di apa-apain sama Robert?" tanya Senja. "Lagian gue sama dia cuma temenan kok."


Baskara mendengus. "Jadi lo maunya sama dia apa? pacaran? biar nggak sekedar temen? biar lo bisa bawa itu cowok masuk kapan aja ke sini meski pun kalian cuma berdua? iya?!"

__ADS_1


Melihat Baskara emosi dengan serentetan tuduhan yang tak berdasar, membuat Senja jadi terpancing emosi juga. "Lo tuh kenapa sih, Bas?! Gue nggak pernah pengen ada hubungan apa pun sama Robert. Dan lagi pula kenapa kalau gue bawa main temen cowok ke sini? lo juga tiap weekend main kesini bahkan sampai nginep?!"


"Kalau lo nggak mau gue main dan nginep disini juga nggak pa-pa kok! gue disini sebagai sahabat yang cuma pengen jagain lo! dan gue juga dapat mandat dari ortu lo buat jagain lo! jadi jagan samakan gue sama cowok brengsek model Robert!"


Senja menggelengkan kepala. Ia tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan dirinya dan Baskara. Kenapa sahabatnya itu bisa semarah ini dan kenapa ia jadi ikutan marah dan kesal melihat Baskara marah padanya.


"Bukannya gue nggak suka lo nginep disini! tapi gue nggak suka lo marah-marah nggak jelas kaya gini!"


Baskara mengacak rambutnya dan memejamkan mata. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa semarah ini pada Senja.


Setelah menenangkan dirinya dengan menarik napas berulang kali, Baskara menatap Senja dan meminta maaf.


"Maaf kalau gue jadi marah-marah nggak jelas. Sebaiknya gue emang pulang dulu. Gue butuh menjernihkan pikiran gue. Kebanyakan makan chiki jadi korslet kayaknya." Baskara berlalu memasuki kamar yang ia tempati untuk mengambil kunci mobil dan jaket miliknya. Meninggalkan Senja yang masih terdiam di meja makan.


Tak lama Baskara kembali menghampiri Senja dengan jaket yang sudah membungkus tubuhnya.


"Gue pulang ya." pamitnya. "Jangan begadang lagi. Kalau ada tugas langsung dikerjain jangan nunggu deadline biar lo nggak sakit begini."


Senja masih diam menatap pemuda yang berdiri di hadapannya. Hingga tangan kokoh milih pemuda itu mengusap kepalanya lembut. "Selamat malam cantik. Gue balik dulu."


Senja masih diam tak tahu harus berkata apa. Ia masih terlalu bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa penyebab ini semua.


Ia hanya mampu menatap punggung sahabatnya -yang kini sudah berubah bidang- menjauh darinya. Semoga esok suasanya hati Baskara sudah lebih baik dan mereka bisa seperti biasa lagi.


*


*

__ADS_1


*


Cuma mau bilang, saranghaeyo buat kalian yang setiap baca dan memberikan dukungan dalam bentuk apa pun. Peluk online buat kalian semua 🤗😘


__ADS_2