Langit Senja

Langit Senja
Oma


__ADS_3

Terik mentari masih terasa hangat dikulit ketika Senja duduk memeluk tubuh Baskara yang tengah mengendarai sepeda motor besarnya.


Angin menerpa wajah dengan senyum merekah. Menerbangkan helaian rambut hitam panjangnya. Orang yang melihat akan tahu jika gadis itu tengah bahagia.


Entah ia merasa bahagia bisa menaiki sepeda motor atau bahagia akan pernikahannya.


Yang jelas. Senja tengah bahagia.


Setelah sarapan bersama dengan keluarga yang lagi-lagi menggoda mereka, terutama menggoda Baskara yang gagal gol dimalam pertama dilihat dari kondisi Senja yang baik-baik saja dengan cara berjalannya. Keduanya langsung memutuskan untuk segera berkunjung ke rumah oma Baskara dari pihak sang ayah.


Karena Senja yang sudah merengek sejak semalam untuk pergi menggunakan sepeda motor. Pagi-pagi sekali suaminya itu menelpon orang rumah untuk mengantarkan motor besar miliknya kehotel.


Dulu ketika sekolah, Senja selalu membayangkan bisa menjadi Jingga. Duduk dibonceng Baskara untuk berangkat maupun pulang sekolah.


Hal yang tak sekali pun terwujud. Selain karena keposesifan ayah dan kakak pertamanya yang selalu mengantar jemput dirinya. Juga mungkin memang Baskara yang tak pernah memberinya kesempatan untuk itu. Suaminya dulu hanya fokus memberi perhatian pada Jingga dengan dalih melindungi sahabat mereka itu. Hal yang juga Senja lakukan karena sifat lemah Jingga yang mudah tertindas.


Senyumnya berubah getir ketika mengingatnya. Mengingat dulu Baskara tak pernah menatapnya sebagai perempuan selain sebagai sahabat.


"Kenapa ayy, kok diam?" tanya Baskara dengan suara berteriak takut istrinya tak mendengar. Terlebih dengan helm fullface yang Baskara kenakan.


"Penasaran aja. Kenapa kamu dulu nggak pernah nawarin aku buat pulang bareng." jawab Senja jujur.


Mereka sudah menikah. Tak perlu ada yang ditutupi lagi. Dari pada dipendam dan menjadi masalah dikemudian hari. Lebih baik dibicarakan baik-baik.


"Kenapa selalu Jingga?" wajahnya ia miringkan menatap wajah suaminya dari samping dengan muram. "Segitu cintanya kamu dulu sama dia sampai mengabaikan aku?"


Jujur saja, Senja masih merasa sakit jika mengingatnya lagi. Meski ia sudah merelakan dan melupakan perasaannya dulu. Tapi mengingat ia pernah menjadi orang yang tak diharapkan rasanya menyesakkan.


"Dulu kan kamu selalu diantar jemput." jawab Baskara. Meski ia dapat merasakan nada getir dalam pertanyaan istrinya. "Papa mana pernah sih, Ayy, ngizinin kamu naik motor?"


Alvaro memang selalu melarang Senja naik sepeda motor. Kata ayah tiga anak itu, terlalu bahaya untuk Senja. Anak perempuannya satu-satunya. Meskipun tanpa sepengetahuan ayahnya, Vindra sesekali menjemput adiknya itu dengan sepeda motor.

__ADS_1


"Tapi tetap aja! kamu bahkan nggak pernah nawarin aku!" rajuknya kesal.


"Maaf sayang.. Lagi pula itu sudah berlalu. Sekarang kemanapun kamu mau, aku siap antar." Baskara mengusap lembut jemari yang saling bertautan diatas perutnya. "Izinkan saya menjadi ojek pribadi tuan putri selama sisa liburan kita diJakarta."


Bukan Baskara tidak peka dengan apa yang Senja rasakan kini.


Tapi jika Baskara meladeni. Yang ada nanti mereka malah bertengkar.


Karena bagi Baskara. Masa lalu nggak akan pernah bisa dirubah. Cukup dijadikan pelajaran untuk kebaikan kita kedepannya.


Untungnya Senja juga tak memperpanjang lagi. Memilih diam dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami. Tak akan membiarkan siapapun mengambil Baskara dari sisisnya. Karena Baskara adalah miliknya.


Meskipun rasa cintanya untuk Baskara belum kembali utuh. Namun ia tetap memiliki cinta untuk sang suami. Bukan cinta lama yang belum kelar. Namun cinta baru yang akan ia rawat dengan baik hingga bertumbuh subur.


***


Tiga puluh menit perjalanan untuk mereka sampai dirumah Oma. Rumah mewah dengan gaya eropa klasik dua lantai menyambut mereka.


"Kayaknya oma lagi ada tamu." ucap Baskara melihat mobil sedan keluaran BMW terparkir samping teras rumah.


Jadi Baskara yakin itu salah satu dari keluarga omanya.


Baskara membantu membawa buah tangan yang sudah mereka siapkan sejak di hotel. Cake terlezat yang hotel Shandika buat.


"Aku takut." cicit Senja menggandeng tangan suaminya yang lain.


Baskara tersenyum dan mencium dahi Senja karena kedua tangannya tak bisa ia gerakan. "Jangan takut. Oma nggak gigit kok. Cukup aku aja yang gigit kamu." kedipan sebelah mata ia berikan untuk sang istri. Membuat gadis itu mendesis sebal dan melayangkan pukulan pelan dilengannya.


"Kalau oma kamu nggak nerima aku gimana?"


"Yang nikah sama kamu kan aku. Bukan oma!" Baskara tak suka dengan sikap tidak percaya diri istrinya. "Nggak peduli seluruh dunia benci dan nggak nerima kamu. Aku akan selalu nerima kamu apa adanya."

__ADS_1


"Dalam keadaan apa pun aku akan tetap sayang sama kamu, ayy."


Senja tersenyum mendengarnya. Meski hatinya masih merasa was-was.


"Kita datang kesini hanya untuk menunjukan rasa hormat kita sama beliau. Bukan untuk menentukan setelah ini kita lanjut atau enggak sayang." Baskara mengucapkan semua kalimatnya dengan lembut tapi juga tegas. "Jadi nggak usah takut. Karena ini nggak akan merubah hubungan kita apa lagi perasaan aku sama kamu."


Senja mengangguk setuju. Setelah mengutkan hati. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, keduanya berjalan menuju pintu dan memencet bell rumah besar itu.


"Ooh iya, jangan panggil nama ya, ayy. Oma paling nggak suka sama istri yang nggak sopan sama suami."


Belum sempat Senja menjawab. Daun pintu didepan mereka terayun terbuka. Menampakan sosok gadis cantik seusia mereka yang terlihat syok. Namu tak bertahan lama karena gadis itu kangsung menubruk dan memeluk tubuh Baskara. Membuat genggaman tangan Baskara pada Senja terlepas.


"Aska aku kangeeenn.." ucap gadis itu dengan nada manja. Masih memeluk tubuh pemuda itu erat meski tak mendapat balasan.


Dengan lembut, Baskara melepas pelukan gadis itu. Tidak ingin istrinya salah paham dihari kedua mereka sebagai suami istri.


"Jangan gini Grace. Kita bukan anak kecil lagi!" tegas Baskara pada gadis yang dulu ketika masih kecil sering mengikutinya ketika mereka ada acara keluarga.


"Memangnya kenapa jika Grace memeluk kamu?" sebuah suara terdengar dari balik tubuh Grace. Oma yang baru datang dengan asisten pribadinya langsung menatap tajam Baskara.


"Oma." sapa Baskara dengan menyalami wanita tua itu. Begitu juga dengan Senja tanpa diminta.


"Kita bukan anak kecil lagi oma. Lagi pula Bas sudah menikah. Sudah nggak pantas untuk Grace peluk Bas. Karena wanita yang boleh peluk Bas cuma istri Bas. Tentu saja kecuali oma dan bunda." bahkan ketika kecil dulu pun Baskara akan langsung mendorong tubuh Grace menjauh. Namun gadis itu saja yang bebal dan selalu mendekatinya.


Oma menatap Senja dari atas hingga ke bawah. Menilai gadis yang cucunya pilih sebagai seorang istri dan melawannya.


Senja menunduk melihat tatapan mengintimidasi oma padanya. Ia merasa takut dan tak percaya diri.


*


*

__ADS_1


*


Tenang aja. Mereka akan tetap bahagia meski banyak cobaannya. hihihi


__ADS_2