Langit Senja

Langit Senja
Cepat Berlalu


__ADS_3

"SAYANG... KAOS KAKINYA DIMANA?"


Suara teriakan Baskara membuat Senja menghela napasnya panjang. Gadis dengan rambut disanggul asal dengan celemek yang melekat ditubuh rampingnya dan spatula dalam genggaman itu memasuki kamar.


Membantu mengambilkan barang yang suaminya cari meski pun sudah ia siapkan semuanya demi keperluan suaminya dihari pertama magang.


Tanpa kata, Senja mengambil sepatu dan kaos kaki yang sudah ia siapkan di samping sofa kamar.


Baskara yang melihatnya hanya merenges dan kembali duduk disofa. "Maaf ayy, nggak kelihatan." ucapnya memeluk istrinya dan menduselkan hidungnya dipipi sang istri.


Senja merotasikan bola matanya. Bukannya tidak kelihatan. Tapi suaminya saja yang mencarinya tak teliti. Karena sepagi ini sudah tiga kali pemuda itu berteriak memanggilnya.


"Sini aku pakaikan sekalian. Biar nggak panggil-panggil lagi. Yang ada nasi gorengnya nggak matang-matang."


Baskara tersenyum senang. "Maaf ya sayang, merepotkan. Makin cinta deh."


Senja hanya menggeleng dan berdecih geli. Dengan sepenuh hati membantu memakaikan kaos kaki juga sepatu untuk suaminya.


"Terimakasih sayang." ia mengecup dahi juga bibir istrinya yang masih duduk berjongkok. "Gimana aku kuliah sama kerjanya nggak semangat kalau istrinya aja bikin adem begini."


"Kalau gitu, gaji pertama buat aku, mas. Kalau mau berterimakasih." ujarnya bercanda. Selama ini apa yang suaminya berikan padanya lebih dari cukup. Ia tak pernah kekurangan uang meski tak memakai uang kiriman dari orang tuanya.


"Siap nyonya. Nanti kalau udah dapat gaji. Uangnya buat kamu semua." ucap Baskara serius. Tanpa ragu.


Meski ia hanya karyawan magang. Namun saat penandatanganan surat kontrak, ia sudah mengetahui seberapa besar gaji yang akan diterimanya.


Ia bekerja di perusahaan teknologi dibidang layanan jejaring sosial. Atau yang biasa disebut sosial media. Yang merupakan perusahaan raksasa skala internasional.


Meski menjadi karyawan magang, perusahaan tetap mengapresiasi pekerjaan mereka dan menggaji dengan nilai USD 8.000 atau setara Rp. 115,5 juta.


"Eeh aku cuma bercanda sayang. Uang yang kamu kasih udah cukup kok."


Baskara mengembangkan senyumnya. Untuk pertama kali tanpa diminta, istrinya memanggilnya sayang setelah sekian lama pernikahan.


Baskara merapatkan tubuhnya dan memeluk pinggang sang istri yang kini mereka sudah sama-sama berdiri. "Tadi kamu ngomong apa, ayy?"


Senja memiringkan kepala dengan dahi mengernyit tak mengerti. "Uang yang kamu kasih cukup?"


Baskara menggeleng. "Satunya lagi."

__ADS_1


"Aku cuma bercanda?"


Gelengan kepala Baskara semakin kuat. "Iih bukan. Bukan yang itu. Yang satu lagi!"


"Apa? tadi kan aku cuma bilang kalau aku cuma bercanda. Dan uang dari kamu cukup."


Baskara mendesah kecewa. "Maksud aku tadi kamu panggil aku apa?"


Tak langsung menjawab. Senja mencoba mengingat apa yang ia ucapkan tadi pada suaminya.


"Sa-yang?" tanya Senja ragu. Ia bahkan tidak sadar memanggil suaminya seperti itu.


Senyum Baskara terlalu merekah pagi ini hanya dengan mendengar istrinya memanggil seperti itu.


"Iya. Sayang." angguknya pelan berulang. "Aku mau sering-sering denger kamu panggil gitu, ayy! suara kamu merdu banget manggilnya."


Senja tergelak dengan tingkah suaminya yang berlebihan. Namun pipinya merona malu. "Merdu darimana. Orang aku ngomong juga nggak pakai nada!"


Menggeleng tak percaya dan meninggalkan suaminya begitu saja untuk kembali kedapur. Menyelesaikan tugasnya sebagai koki yang belum selesai. Juga menyembunyikan rona malu diwajahnya.


Hari ini kuliahnya lebih siang. Sehingga ia bisa mengurus suaminya terlebih dahulu sebelum ia bersiap-siap untuk berangkat kuliah.


"Semangat kuliahnya. Jangan genit-genit sama cowok!" pesan Baskara ketika akan berangkat.


"Harusnya aku yang ngomong begitu." protes Senja dengan memakaikan mantel karena diluar masih cukup dingin. Lagi pula dikelasnya tidak terlalu banyak mahasiswa laki-laki. Meski dijurusan atau bahkan disatu universitasnya tentu saja banyak jika digabungkan.


"Mas hati-hati kerjanya. Disana pasti banyak wanita-wanita dewasa yang lebih menggoda, lebih cantik. Jadi jangan ganjen-ganjen! jangan terlalu baik atau mereka akan salah paham!"


"Iya cantik." gemas. Baskara mengapit kedua pipi istrinya dengan kedua telapak tangan. Mengecup bibir istrinya berulang tiada bisannya hingga istrinya kesal dan membuatnya terkekeh. "Kan aku udah bilang. Walau banyak yang lebih cantik, lebih menggoda. Tapi nggak akan ada yang bisa nandingin kamu dihatiku sayang."


Entah sudah berapa kali Senja melingkarkan bola mata karena kata-kata suaminya. Bisa-bisa matanya juling jika terus melakukannya.


"Ya sudah sana berangkat, mas. Jangan sampai dihari pertama masuk malah terlambat."


Setelah melihat suaminya mengangguk, Senja mengambil tangan suaminya untuk ia cium dengan takzim.


Dibalas ciuman didahi, bibir juga telapak tangannya. "Doakan suamimu sukses."


Senja tersenyum dan melambaikan tangannya begitu sang suami berangkat.

__ADS_1


Ketika balik badan. Matanya membulat melihat jam yang ada didinding.


Ia langsung berlari memasuki kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kuliah. Ia sudah membuat janji untuk berangkat bersama Maureen.


Sahabatnya itu pasti akan memarahinya sepanjang perjalanan jika ia terlambat. Karena sebelum ke kampus, ia sudah berjanji akan menemani Maureen untuk membeli sepatu.


Ada-ada saja memang temannya satu itu.


Jika orang lain akan memanfaatkan hari liburnya untuk berbelanja kebutuhan kuliah atau yang lain. Maureen malah sibuk berpacaran.


"Apakah begitu sulit meminta waktu anda Nyonya Lazuardi." sindir Maureen melihat jam dipergelangan tangannya begitu melihat Senja berdiri didepannya setelah berlari melewati lobi.


Senja memamerkan gigi putihnya dan memeluk sahabatnya itu. "Maafkan aku. Aku sudah bercerita bukan, jika hari ini suamiku pertama masuk magang. Dan aku harus mengurusnya." ucapnya menyesal.


"Ya.. Ya.. Ya.. Memang sulit jika mengajak orang yang sudah menikah." Maureen mengalah dan masuk kedalam mobilnya untuk segera berangkat. "Sepertinya aku harus mencari sahabat yang bahkan tidak memiliki kekasih agar waktunya denganku bisa lebih banyak."


Senja mendelik menatap kesamping. Kearah sahabatnya berada. "Hei ayolah.. Aku tetap ada waktu untukmu. Dan kau tidak perlu mencari teman baru atau aku akan pulang ke Jakarta dan tidak akan pernah menemuimu lagi!" ancamnya balik.


"Cih.. Kenapa malah kau yang balik mengancam. Aku memang perlu mencari teman baru, kau tahu? agar aku tak begitu kehilanganmu setelah kita lulus nanti."


Senja diam. Ia baru menyadari waktunya di New York tinggal sebentar lagi. Tak sampai dua tahun lagi ia akan lulus kuliah dan meninggalkan semua teman, sahabat dan kenalan yang ia miliki selama kuliah disini.


Meninggalkan segala kenangan dan perjuangannya dalam bertahan untuk tetap tinggal di awal-awal kedatangannya.


Dimana tangisnya setiap malam. Diamana hilangnya ***** makan. Dan dimana ia akhirnya bisa membedakan mana teman yang baik dan mana teman yang patut untuk ia hindari.


Aah rasanya ia tidak ingin pulang jika mengingat itu semua.


Tapi jika mengingat keluarganga di Jakarta. Ia justru ingin cepat-cepat lulus agar bisa berkumpul dengan mereka lagi.


Sudahlah. Bagaimana nantinya, akan ia pikirkan nanti.


Masih banyak waktu yang bisa ia nikmati sebagai seorang mahasiswa di FIT. Mungkin ia harus menciptakan kenangan yang menyenangkan disisa kuliahnya ini.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2