Langit Senja

Langit Senja
Baby Anna


__ADS_3

Dua hari di rumah sakit, Senja sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya kembali vit.


Apartemen Senja ramai dengan keluarga. Meskipun Alvaro belum memaafkan Oma, tapi pria itu tidak terlihat memusuhi dengan tinggal bersama. Apartemen yang sebenarnya hanya ada tiga kamar itu harus menampung delapan orang termasuk Senja dan Baskara.


Orang tua Baskara yang awalnya menginap di hotel kini memaksa tinggal di apartemen juga. Semuanya terlalu antusias dengan kehadiran anggota keluarga baru mereka. Terlebih bayi Senja adalah cucu pertama orang tua Baskara. Jadi mereka tidak ingin menyiakan kesempatan melihat cucu mereka lebih lama sebelum kembali ke Indonesia.


"Mandi dulu, mas!" sudah berulang kali Senja menyuruh suaminya mandi. Tapi jawabannya selalu..


"Iya bentar, ayy. Baby masih pengen sama daddy-nya ini lho." Senja hanya bisa menggeleng kepala. Sejak bayi mereka lahir, Baskara sangat enggan untuk beranjak jauh dari bayi mereka. Hanya ditinggal mandi saja katanya sudah rindu.


"Sana mandi dulu! baby juga mau Oma mandikan." Oma juga tidak tahan melihat cucunya yang menempel terus pada cicitnya, sedangkan cucunya itu belum mandi setelah mereka melakukan perjalanan jauh.


"Kalau kamu nggak mau mandi, jangan dekat-dekat cucu mama! bawa kuman penyakit kamu tuh!" Tiara tak segan menjewer telinga menantunya meski disana ada besannya. Karena mereka masih ada diruang keluarga.


Lagi pula Pricilla dan Aldo tidak keberatan. Mereka malah tertawa melihat anak mereka teraniaya.


"Beraninya pada keroyokan nih!" cebik Baskara kesal. "Baby.. bantuin daddy dong... Bilang kalau kamu nggak mau jauh dari daddy." adunya pada sang putri yang tidur diatas stroller. Tangannya mentoel pipi bulat putrinya yang hanya menggeliat dan menjulur-julurkan lidah tak peduli.


"Udah sana mandi dulu mas. Kamu tuh kotor tau!"


Dengan berat hati Baskara mengalah dan memasuki kamar sebelum istrinya mengamuk. Masih didalam kandungan saja Senja amat menjaga kebersihan agar bayi mereka jauh dari kuman penyakit, apa lagi ketika sudah lahir seperti sekarang.


Baskara kembali menengok dan menatap sendu, meninggalkan putri kecilnya yang juga akan dimandikan oleh Omanya dikamar yang ditempati wanita tua itu.


Oma yang hanya memiliki satu anak laki-laki dan cucunya pun laki-laki. Kini ia begitu senang ketika cicitnya terlahir perempuan.


Meski sudah pernah melihat Grace waktu bayi, rasanya tetap saja berbeda ketika ia melihat darah dagingnya sendiri. Rasa bahagianya tidak dapat terlukiskan.


"Mau dikasih nama siapa nih princessnya?" tanya Oma dengan tangan yang terlihat lihat memandikan putri kecilnya meski sudah lama tidak memegang bayi kecil.


"Masih belum dapat nama Oma."

__ADS_1


Sudah sejak mengetahui jenis kelamin anak mereka, Senja dan Baskara mencari nama. Namun sampai bayi itu lahir, belum ada nama yang terasa cocok.


"Lebih baik kalian cepat pikirkan. Biar kita tau harus memanggilnya apa." ucap Oma menerima handuk yang Senja berikan.


Senja mengangguk. Ia pikir juga begitu. Akan lebih nyaman jika mereka memiliki panggilan untuk baby.


"Aku udah punya kok namanya." sahut Baskara yang memasuki kamar dengan rambut basah dan hanya memakai celana tanpa atasan.


"Pakai baju dulu apa, mas." cebik Senja.


Suaminya itu boleh saja rajin dalam mengurus rumah. Namun mengurus keperluannya sendiri tetap saja hak paten Senja.


Ibu baru itu memakaikan kaos yang hanya dibawa-bawa oleh suaminya. Baskara tersenyum senang dan menundukan sedikit tubuhnya untuk memudahkan sang istri.


"Emang kamu udah nyiapin nama apa, mas?" tanya Senja menanggapi perkataan Baskara sebelumnya.


"Namanya Eliana dari bahasa Ibrani yang artinya putri matahari. Putrinya Baskara." tatapan Baskara selalu berbinar ketika melihat buah cintanya dengan sang istri.


"Dipanggilnya Eli atau Anna?" tanya Senja lagi dengan kepala mengangguk setuju. Lagi pula ia tidak punya nama untuk saat ini.


"Anna aja ya, ayy? kayaknya lebih cantik kalau namanya Anna."


Senja mengangguk setuju. "Hallo baby Anna.."


Eliana Ashana Lazuardi. Ashana adalah nama tengah Tiara. Karena baby Anna lahir ditempat Tiara dibesarkan. Dan berharap putri kecil itu akan tumbuh sehebat dan setangguh neneknya itu. Sedangkan Lazuardi adalah nama keluarga dari Baskara. Nama paten yang harus menjadi nama belakang dalam keluaraga Lazuardi.


Setelah memutuskan nama, Alvaro langsung menghubungi kedua putranya di Indonesia untuk mengadakan doa bersama di panti asuhan.


Tasyakuran atas kelahiran baby Anna, juga sebagai tanda pemberian nama.


***

__ADS_1


Malam harinya, entah sudah keberapa kali baby Anna terbangun hingga dini hari karena popok yang penuh atau lapar.


Untung ASI Senja cukup lancar sejak hari kedua. Bisa dibilang cukup berlebih malah. Karena ia harus mempumping jika ASI-nya terasa penuh tapi baby Anna sudah kenyang.


"Tidur lagi aja, ayy. Kan ada stok ASI. Kamu pasti lelah." Baskara memijat lembut bahu istrinya yang tengah mengASIhi putri mereka. "Biar aku yang jagain baby Anna. Mama sama bunda juga tidur lagi aja."


Malam ini ibu dan ibu mertuanya tidur dikamar mereka. Hingga Baskara harus puas hanya tidur di sofa.


"Emang kamu bisa, mas?" tanya Senja ragu.


Baskara memang cekatan. Tapi suaminya itu masih terlihat kaku ketika menggendong baby Anna. Tak jauh berbeda seperti dirinya yang sudah sedikit lebih ahli.


"Nanti juga lama-lama bisa, ayy. Kalau dibantuin mama sama bunda terus kapan bisanya? kan mama sama bunda juga harus balik ke Indo."


"Iya, kalian emang harus giat belajar sebelum nanti ditinggal pulang malah kewalahan sendiri." sahut Pricilla yang sudah setengah memejamkan matanya. "Biarin Bas suruh belajar, Ja. Biar nanti kamu nggak kerepotan sendiri."


Tiara menyiapkan perlengkapan cucunya dan menjelaskan apa yang harus Baskara lakukan jika baby Anna terbangun. Menjelaskan pula perbedaan tangisan baby Anna antara lapar, mengantuk dan rasa tidak nyaman akibat popok yang penuh.


Baskara mengangguk mengerti. Ia sangat percaya pada ibu mertuanya yang merupakan dokter spesialis anak.


"Emang mama mau balik kapan?" tanya Senja yang kembali mengancing piyamanya setelah putri kecilnya kembali tertidur setelah kenyang.


"Mama sama bunda bakal tinggal disini sedikit lebih lama. Tapi lusa papa, ayah sama para Oma harus pulang. Tau sendiri papa sama ayah gimana sibuknya. Oma juga katanya nggak betah disini. Dingin. Tulang mereka yang sudah tua katanya nggak tahan."


Meskipun ingin tinggal lebih lama, namun kondisi tubuh kedua Oma Baskara yang tidak lagi muda, merasa tidak cocok dengan suhu yang terlalu dingin di New York.


Sedangkan Tiara dan Pricilla, selain ingin lebih lama berada dekat dengan cucu mereka. Mereka ingin mentraining orang tua baru itu hingga ahli. Hingga mereka bisa pulang dengan perasaan tenang dan percaya anak dan cucunya akan baik-baik saja.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2