Langit Senja

Langit Senja
Apa Lagi Ini


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Hari-hari Baskara menjalani magang cukup sibuk. Tak jarang ia pulang terlambat seperti saat ini.


Pemuda itu mengernyitkan dahinya begitu membuka pintu apartemen di malam hari setelah pulang bekerja.


Suara musik yang begitu keras dari arah kamar tamu membuatnya heran.


Diawal-awal dirinya magang, ia sering mendapati Senja tertidur disofa dengan televisi yang menyala.


Istrinya hampir setiap malam menunggunya hingga tertidur. Dan itu membuatnya tidak tega.


"Tidur dikamar aja sayang. Jangan nunggu di depan. Nanti kamu sakit, karena tidurnya nggak nyaman." ucap Baskara disuatu malam.


Dan setelah malam itu, jika ia mengabari akan lembur, Senja sudah terlelap didalam kamar jika dirinya pulang.


Seperti saat ini. Ia lagi-lagi harus lembur dan pulang terlambat.


Jadi Baskara rasa, suara musik itu bukan ulah istrinya. Terlebih itu bukan jenis lagu yang disukai istrinya. Jadi mungkin saja sahabat Senja yang memang beberapa kali masih sering menginap. Meskipun biasanya tidak pernah membuat kegaduhan yang membuat tidak nyaman seperti itu.


Mengacuhkan kamar tamu, Baskara memilih langsung memasuki kamar utama.


Benar saja. Didalam sana, Senja sudah terlelap dibawah selimut dengan penutup telinga yang mungkin karena kurang nyaman dengan suara bising dari kamar tamu tadi.


Setelah melepas sepatu dan beberapa kancing atas kemejanya, ia mendekati tempat tidur.


Seperti yang biasa ia lakukan untuk membangunkan istrinya setiap malam. Baskara mencium dahi, pipi dan bibir istrinya.


Menyatukan dahi mereka dan menggesekan hidung dengan gemas. Tapi bukannya bangun, Senja hanya melenguh dan berganti posisi memunggungi orang yang mengganggu tidurnya.


Tak mau menyerah, Baskara ikut berbaring di tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya erat.


Kembali mencium bibir ranum istrinya dan sedikit menggigit. Memperdalam ciumannya hingga sang istri membuka matanya lebar dan memukul dadanya kecil.


"Maaa'aas iih! nggak bisa napas tau!" omel Senja dengan napas tersengal setelah Baskara melepas ciuman mereka dan tergelak puas.


"Habisnya susah banget dibanguninnya." tawa Baskara masih belum usai. Terlebih melihat istrinya yang acak-acakan akibat ulahnya.


"Yaa aku kan baru tidur. Dari tadi nggak bisa tidur, berisik." jawabnya cemberut.


Masih ingat kan kalian? Jika Senja itu termasuk perempuan yang selalu tidur tepat waktu dengan durasi yang cukup.

__ADS_1


Kecuali jika ada tugas kuliah yang harus ia selesaikan dan terpaksa untuk begadang. Dan tugas melayani suami tak ketinggalan.


"Emang ada siapa sih, ayy?" Baskara memindah tubuh istrinya untuk duduk dipangkuannya saling berhadapan setelah ia duduk bersandar.


Merapikan rambut dan mengancingkan beberapa kancing piama istrinya yang berhasil ia buka, sebelum ia tak bisa menahan diri.


"Calon madu!" jawab Senja kesal. Tak lama kemudian ia mengaduh karena sang suami memukul mulutnya meskipun pelan dan tidak sakit sama sekali.


"Aaww! apaan sih, mas? kenapa dipukul?" wajahnya semakin tertekuk.


"Mulutnya lho.. Kalau ngomong nggak difilter dulu!" gantian Baskara yang memarahi. "Omongan itu bisa jadi doa, ayy. Jadi jangan sembarangan kalau ngomong!" imbuhnya tak suka.


Senja menunduk merasa bersalah. "Tapi dia sendiri yang ngomong kalau dia calon madu. Oma udah kasih restu katanya!" cebiknya kemudian memeluk suaminya posesif. Dan menceritakan semuanya.


***


Siang tadi ketika baru saja keluar kelas, Senja mendapati beberapa panggilan masuk dari pihak apartemen.


Dengan penasaran dan takut terjadi hal tak diinginkan, Senja langsung menghubungi balik. Karena tidak biasanya mereka menghubunginya.


Mereka memberitahu jika ada saudaranya yang datang dan menunggu di loby. Tapi pihak apartemen tidak memberitahu siapa tamunya.


Senja bahkan sampai izin untuk kelas-kelas yang tersisa hari itu untuk memenuhi rasa yang semakin penasaran.


Dan betapa terkejutnya Senja begitu mendapati Grace, si sepupu yang menaruh rasa pada suaminya.


"E-Lo? kenapa lo bisa disini?" tanya Senja masih tidak percaya jika tamu yang datang adalah gadis itu.


"Hai calon madu." sapa Grace dengan senyum mengejek dan tak mengindahkan pertanyaan Senja barusan.


"Calon madu?" Senja semakin tidak mengerti.


"Iya. Calon madu. Karena nggak lama lagi, gue bakal nikah sama suami lo tercinta!"


Deg.


Jantung Senja serasa berhenti berdetak. Ia bahkan merasa sulit untuk bernapas.


Apa maksud dari perkataan Grace itu. Tidak mungkin Baskara mengkhianatinya.


Ia sudah berusaha menjadi istri yang baik selama ini. Dan sepertinya suaminya menerima dirinya apa adanya. Tak sekalipun Baskara protes atau menyinggung akan menikah lagi.

__ADS_1


Tak ingin terpengaruh. Senja berusaha menetralkan ekspresinya. Agar ia tak terlihat lemah dan menyedihkan. Karena ia tidak tahu kabar yang Grace bawa.


"Mimpi lo jangan ketinggian! nanti jatoh, sakit, lo nangis!" balasnya berusaha terlihat tenang.


Tak ingin ada yang memperhatikan mereka. Senja mengajak Grace untuk ke unit miliknya.


"Siapa yang mimpi. Orang Oma yang ngomong sendiri akan mastiin gue nikah sama Aska."


Senja sangat geram mendengar Grace memanggil suaminya dengan panggilan special seperti itu. Tapi setidaknya ia lega karena bukan Baskara yang berniat sendiri untuk menduakannya.


"Ya itukan kata Oma. Bukan kata Babas sendiri!"


Suara tawa Grace dibelakangnya terdengar menyebalkan. Sungguh, ia ingin sekali mencakar wajah gadis itu ketika menertawakannya seperti itu.


"Oma sudah berbaik hati menambah waktu untuk kalian. Jadi jangan terlalu percaya diri untuk mempertahankan Aska jadi milik lo seorang!"


Dahi Senja mengernyit tak mengerti. Waktu untuk apa? kenapa ia seperti orang bodoh yang tidak tahu apa pun disini?


"Waktu apa?" tak tahan menyuarakan rasa ingin tahunya. Sembari meletakan minuman dengan terpaksa untuk Grace yang duduk didepan televisi.


"Lo nggak tahu? emang Aska nggak cerita masalah ini sama lo?"


Dengan polosnya Senja menggeleng. Karena dia memang tidak tahu apa pun mengenai masalah ini.


"Dibulan awal pernikahan kalian, Oma sudah kasih kalian waktu hingga enam bulan untuk mendapat cicit." terang Grace. "Tapi jika waktu yang diberikan Oma habis dan lo belum juga hamil.."


Grace mengedikan bahu dan melanjutkan. "Mau nggak mau, Aska harus menikah lagi dengan wanita pilihan Oma."


Kepala Senja serasa dihantam palu raksasa. Ia tidak pernah mengira kondisinya yang belum juga hamil akan dipermasalahkan.


Orang tua dan mertuanya memang pernah bertanya apakah ia sudah ada tanda-tanda hamil atau belum.


Mereka juga memberi saran untuk makan makanan sehat dan jangan terlalu lelah. Tapi tak sekalipun mempermasalahkan kondisinya.


"Dan ini sudah lewat dari setengah tahun yang Oma berikan. Jadi mau nggak mau, suka atau tidak suka. Aska akan menikah dengan gadis yang sudah Oma siapkan." kalimat yang Grace ucapkan penuh penekanan disetiap kata. Seakan agar setiap kata itu masuk kedalam otak Senja untuk ia cerna dengan baik.


"Dan gadis itu adalah gue." imbuhnya dengan senyum penuh kemenangan melihat Senja yang terlihat syok dengan wajah seputih kertas.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2