Langit Senja

Langit Senja
Teman


__ADS_3

Senja sempat memberi kabar Maureen ketika ia akan lepas landas dan memberitahukan jadwal kedatangannya. Tapi ia tidak menyangka teman-temannya akan langsung datang begitu ia sampai hari ini.


"Haruskah kalian datang hari ini?!" seru Senja melipat kedua tangannya didepan dada. "Tidak bisakah kalian memberiku sedikit waktu untuk beristirahat?!"


Ia tak benar-benar marah, meskipun sesungguhnya ia memang lelah dan ingin segera beristirahat.


"Kami sudah memberimu waktu." salah satu temannya yang bernama Lucy menjawab dan menunjuk jam dipergelangan tangannya. "Kau sampai sudah tiga jam yang lalu bukan?"


Senja bedecak dan menjatuhkan dirinya disamping gadis berambut model bob berwarna coklat kehitaman itu.


"Kalian perhitungan sekali!" cibir Senja. "Setidaknya beri aku waktu hingga besok. Baru kalian bisa datang berkunjung."


"Maafkan kami nyonya muda. Mungkin besok kami sudah berada di Ottawa dan tak bisa duduk denganmu seperti saat ini." jawab Maureen.


Mereka memang selalu memiliki acara tour ketempat wisata setiap akhir libur musim panas. Sayang liburan kali ini Senja tidak dapat ikut dengan mereka karena sudah menikah.


"Waahh kalian berangkat malam ini?"


Seorang gadis disebelah Lucy-yang bernama Florence-membenarkan. "Kami akan berkeliling sejak pagi. Jadi lebih baik betangkat malam agar bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum berkeliling."


Senja mengangguk. Itu lah kebiasaan mereka dihari libur. Waktu untuk mereka bisa mengakrabkan diri hingga bisa seperti saat ini.


"Yaa.. Selamat bersenang-senang. Meski aku tidak ikut. Jangan lupakan untuk membelikanku oleh-oleh apa pun itu." pesannya sedikit mengancam.


"Hei! kami sudah memberimu banyak hadiah, kau lihat!"


Beberapa buah kado ada diatas meja dari ketiga sahabatnya itu.


"Maaf mengganggu nona-nona. Aku takut kalian terlalu asik hingga merasa haus." Baskara menyela dan meletakan beberapa minuman ringan dan teman-temannya.


"Makasih ya mas?" ucap Senja tersenyum.


Baskara balas tersenyum dan mengangguk. Mengacak rambut istrinya pelan sebelum berlalu.


"Manisnya.." seru Luci dengan memiringkan kepalanya dan tangan yang ia gunakan untuk mengapit wajahnya sendiri. "Jika menikah muda seindah Senja. Aku juga pasti akan langsung setuju. Siapa yang tidak mau mendapat suami seperti itu."


Yang lain mengangguk menyetujui pendapat Luci. Siapa yang tidak setuju jika suaminya seperti Baskara yang begitu perhatian membawakan minum dan cemilan untuk istri dan teman-temannya.


"Yaa.. dan itu suamiku." timpal Senja bangga.


Ia memang merasa beruntung memiliki Baskara yang tak segan untuk membantunya masalah rumah tangga. Ia bahkan lebih sering dilayani dari pada melayani. Meski ia sudah berusaha menolak.

__ADS_1


"Ayoo bukalah hadiah dari kami." seru Flo begitu bersemangat dengan tepukan tangannya. Mengubah topik.


Dengan senang hati Senja membuka hadiah dari yang jaraknya paling dekat dengannya.


Mulutnya tercengang melihat apa hadiah didalamnya.


"Itu akan cocok untuk pengantin baru sepertimu." ucap Lucy bangga dengan hadiah pilihannya.


"Kau.. Yang benar saja!" Senja menekuk wajahnya melihat lingerie berbentuk kelinci playboy yang hanya menutupi bagian bawah hingga kedada lengkap dengan bando telinga kelinci.


Ia beralih membuka hadiah lainnya. Itu tak kalah membuatnya tercengang. Hadiah keduanya berisi begitu banyak alat penunda kehamilan untuk dipakai suaminya. Dari berbagai bentuk dan rasa.


"Aku rasa kau belum menginginkan seorang anak diantara kalian." ujar Flo dengan senyum cerah. "Jadi aku rasa itu juga cocok untukmu."


Senja mencebik. "Aku memang belum menginginkan anak. Tapi bukan berarti ingin menundanya!"


Beralih kekado ketiga dan langsung membuatnya bertanya. "Tidak bisakah kalian memberiku hadiah yang bermanfaat?" wajahnya terlihat frustasi. Mengangkat hadiah dari Maureen yang berisi sepasang dalaman couple untuknya dan sang suami.


"Itu semua bermanfaat untukmu sayang."


"Lalu dari siapa ini?" tanya Senja menunjuk kado terbesar yang ada diatas meja.


Ia langsung membekap mulutnya begitu melihat isinya. Matanya juga berbinar bahagia.


Kaca di kedua mata Senja pecah mendengar penuturan Maureen. Mereka baru saling mengenal ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru. Tapi mereka begitu peduli dengannya. Meski tak jarang hanya Maureen yang selalu ada waktu untuknya.


"Terimakasih.. Aku akan selalu ingat kalian ketika memainkannya."


"Hei! kita belum akan berpisah. Jadi kau tidak perlu mengingat kami hanya dengan memainkan gitar itu." protes Flo dengan pemilihan kata Senja yang tidak tepat.


"Baiklah.. Sekarang, bolehkah aku memeluk kalian?" Senja merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut ketiga temannya.


"Kenapa kalian menyebalkan! membuatku menangis dihari bahagia ini!"


Keempatnya terkekeh bersama dalam dekap hangat persahabatan mereka.


"Cepatlah berikan kami keponakan. Kami akan membantumu menyayangi mereka." ucap Lucy ketika pelukan mereka berakhir.


***


Apartemen Baskara berbeda dengan milik Senja yang besar dan terdapat beberapa kamar dan ruangan. Tempat yang Baskara tinggali hanyalah apartemen model studio. Dimana hanya ada satu ruangan dan kamar mandi. Dapur, ruang televisi dan tempat tidur berada didalam satu ruangan.

__ADS_1


"Anak pemilik rumah sakit tinggal diapartemen studio?" tanya Senja tidak percaya.


"Kan disini cuma empat tahun aja paling lama, ayy. Jadi buat apa milih yang gede. Yang ada capek bersihinnya." Baskara memang mengurus segalanya sendiri. Dari beberes hingga memasak. Kecuali baju yang lebih memilih untuk dibawa ke laundry. "Ini juga cuma nyewa. Nggak beli."


Senja menatap sekeliling yang tidak banyak prabot. Hanya ada sofa didepan televisi, ranjang yang tidak terlalu besar, juga dapur kecil yang cukup untuk Baskara yang tinggal seorang diri.


Meskipun kecil, tapi cukup terasa nyaman dan bersih. Itu yang Senja suka.


"Terus kalau bunda sama ayah datang. Mereka tidur dimana?"


"Hotel." jawab Baskara yang tengah mengambil minuman untuk sang istri yang sudah duduk di sofa. "Lagian bunda sama ayah jarang datang kok. Selama dua tahun disini baru dua atau tiga kali datang."


Wajar sih. Baskara kan anak laki-laki. Berbeda dengan Senja yang manja dan sulit jauh dari keluarga.


"Nanti kalau kita punya anak gimana?" goda Senja.


"Aku pastikan udah lulus sebelum anak kita lahir." bisik Baskara memeluk pinggang sang istri. Meremas pinggangnya erat.


"Awas aja anaknya lahir tapi papanya masih jadi mahasiswa!" cibir Senja.


Baskara terkekeh dan menggigit pipi istrinya pelan. "Aku ngambil banyak SKS. Dua semester ini jadi tahun terakhirku kuliah."


Bola mata Senja membulat dengan pupil mata yang mengecil. "Kamu serius, mas?"


Baskara mengangguk mantap. "Otak aku masih mampu kok ngambil banyak SKS."


"Tapi jangan dipaksa lah. Nanti malah sakit sibuk gitu kuliahnya." Senja menggeleng tidak setuju.


"Justru aku bakal sakit kalau nggak lulus tahun ini, sayang." mencubit hidung istrinya pelan.


"Kenapa bisa begitu?"


"Mana tahan aku lama-lama LDR-an sama istriku yang cantik ini?."


Senja berdecak dan memutar bola matanya malas.


*


*


*

__ADS_1


Lunas ya dua part.. Moga besok up-nya gak telat lagi. hihihi


__ADS_2