
Marah. Merasa dikhianati. Merasa di bodohi. Itu yang Baskara rasakan saat ini dalam perjalanannya kembali ke kantor.
Tangannya bahkan tidak berhenti mengepal dan menonjolkan urat-uratnya. Wajahnya merah padam menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya.
Ia sudah pontang panting mencari koperasi yang mau bekerjasama dengannya untuk menyelamatkan perusahaan. Tak peduli panas dan hujan. Merelakan banyak waktu yang seharusnya bisa ia pergunakan untuk hal lain terutama untuk berkumpul dengan keluarganya.
Ternyata itu semua hanya sebuah ujian. Ujian untuk menentukan apakah ia layak untuk menjadi seorang CEO. Layak memimpin perusahaan besar dengan puluhan anak cabang dan ribuan karyawan yang menggantungkan nasibnya.
Pantas saja Oma tidak ikutan kalang kabut mengetahui perusahaannya diambang kehancuran. Oma bahkan dengan santai pergi keluar negeri dan menyerahkan semua pada Baskara. Ternyata Oma juga dibalik semua ini. Dan dengan bodohnya ia baru mengetahuinya kini.
Ia pikir Oma dan Om Faraz terlalu keterlaluan.
Apa perlu mengujinya seperti itu? apakah perlu mempertaruhkan masa depan perusahaan? mempertaruhkan nasib ribuan karyawan. Dan apakah mereka tidak khawatir jika ia tidak bisa menyelesaikan masalah yang ada?
Opanya diatas sana pasti sangat geram hingga ingin memuntahkan darah jika sampai kemarin ia kalah dan membuat perusahaan jatuh.
Beruntung ia memiliki Andi yang cukup kompeten dalam membantunya. Opa membekalinya dengan baik dengan memberikan Andi sebagai asistennya.
"Atur pertemuanku dengan Presdir saat ia kembali. Saya ingin mengetahuinya dengan jelas dari mulutnya langsung."
Andi yang dapat melihat kemarahan dari mata Baskara pun hanya mengangguk patuh.
"Tuan Faraz ada meeting dengan klien di luar kota dan akan kembali lusa, pak." Andi menyampaikan apa yang ia ketahui dari sekretaris Faraz.
"Atur hari itu juga untuk bertemu."
Ia menatap prihatin atasannya melalui kaca spion yang ada di atasnya. Dimana Baskara kini menyandarkan kepala dan menutupinya dengan sebelah lengan.
"Apakah saya terlihat begitu bodoh dan tidak meyakinkan hingga mereka perlu menguji seperti itu?" Baskara bertanya pada Andi yang lebih terdengar seperti gumaman.
Mengenai gaya bicara Baskara padanya yang formal, sebenarnya Andi sudah pernah meminta Baskara untuk tidak terlalu formal jika mereka tidak dalam jam kerja atau hanya berdua.
__ADS_1
Tapi Baskara menolak karena Andi juga enggan merubah gaya bicaranya yang menghormati Baskara sebagai atasannya. Begitu juga Baskara yang menghormatinya sebagai orang yang lebih tua. Meski tak sampai menyebut 'anda'.
"Mereka hanya ingin anda belajar dengan baik bagaimana perusahaan, pak. Karena tidak ada pelajaran yang lebih baik dari praktek langsung." hibur Andi dengan jawaban yang ia berikan.
Baskara berdecih mendengarnya. "Kamu berbicara seperti motivator. Padahal kamu juga pasti kesal setelah lelah kesana kemari saat itu."
Andi tak bisa berkata-kata. Karena pada dasarnya ia merasakan hal yang sama dengan Baskara. Ia juga tidak setuju dengan apa yang Faraz dan Oma lakukan. Bedanya ia masih bisa menahan diri. Dan harga dirinya tak seterluka atasannya saat ini.
***
Suasana hatinya yang tengah tidak baik berimbas hingga ke rumah. Ia tidak fokus ketika mengajak baby Anna bermain, hingga suara tangis baby Anna yang melengking baru menyadarkannya.
Baskara mendekat dengan panik ketika melihat putrinya jatuh terbentur meja. Ada sedikit darah yang mengalir didahinya yang semakin membuatnya panik.
"Sayang.. Maafin daddy." ucapnya menyesal dengan kecerobohan yang ia lakukan.
Senja yang berada di kamarnya di lantai dua juga mendekat dengan panik mendengar putrinya menangis. Pasalnya baby Anna tidak pernah menangis sekencang itu kecuali kasus ketika ditinggal Baskara keluar kota beberapa hari.
Masalah perusahaan membuatnya menjadi bodoh dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong putrinya.
"ANNA!" pekik Senja begitu sudah berada didekat suami dan melihat kondisi putrinya. "Dia kenapa mas!" desaknya dengan panik.
"Ta-tadi jatoh, kena meja." gumam Baskara dengan linglung.
Senja langsung mengambil alih baby Anna dari gendongan suaminya. "Kok bisa? emang kamu nggak jagain? kan tahu Anna belum lancar jalannya!"
"Aku.. Aku.." Baskara bingung harus menjawab apa. Ia merasa bersalah. Dan ia juga sama khawatirnya dengan sang istri. Jingga dan Farri juga menatapnya menunggu jawaban yang semakin membuat Baskara merasa terdesak.
"Sudah.. Sudah.. Jangan saling menyalahkan. Sini biar Nenna obati. Lukanya nggak parah kok." sela Tiara yang langsung membawa baby Anna ke ruang kerjanya yang ada di rumah itu.
Meski panik melihat kondisi cucunya. Tapi Tiara sudah terbiasa dalam situasi seperti itu. Menenangkan orang tua yang khawatir dengan kondisi putra putri mereka. Tiara bahkan sudah pernah berada dalam kondisi yang lebih darurat dari pada saat ini.
__ADS_1
Senja menghela napas dan mengikuti sang ibu. Ia sebenarnya sudah menyadari ada yang tengah suaminya pikirkan sejak pulang kantor sore tadi. Suaminya lebih pendiam dan tidak fokus ketika diajak berbicara.
Meskipun awalnya ia memaklumi ketika Baskara mengatakan tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Tapi kini ia tetap saja marah melihat kondisi putrinya.
Seharusnya suaminya bisa mengesampingkan masalah kerjaan jika tengah bersama dengan keluarga. Apa lagi jika tengah bermain dengan baby Anna yang masih sangat butuh pengawasan dan penjagaan.
Berbeda ketika bersama dengannya. Meski ia juga bisa kesal juga, jika suaminya tidak mau berbagi cerita tapi membawa masalah kedalam rumah.
Luka baby Anna benar tidak parah. Hanya luka goresan kecil yang tidak perlu jahitan. Hanya dibersihkan dan diobati nanti akan sembuh sendiri.
"Tapi nanti kalau Anna muntah atau demam, langsung kasih tahu mama. Kita langsung ke rumah sakit buat cek keseluruhan. Takutnya tadi kebenturnya kencang."
Baik Tiara maupun Baskara sama-sama mengangguk. Gadis kecil itu bahkan sekarang sudah kembali bergelayut manja pada sang ayah. Tertawa riang ketika Baskara menciumnya. Seperti tidak terjadi hal yang menggegerkan sebelumnya.
"Sini Anna sama aku aja. Kayaknya kamu lagi nggak konsen jagain dia." Senja berkata dengan dingin dan sudah akan mengambil baby Anna yang langsung Baskara jauhkan dari jangkauan istrinya.
"Maaf sayang. Tadi aku emang sempat melamun. Tapi janji sekarang bakal jagain dengan baik dan enggak akan ngebiarin baby Anna jatoh lagi. Bahkan nyamuk aja nggak akan aku biarin gigit anak kita."
Senja merotasikan bola matanya mendengar suaminya berkata berlebihan. "Nggak ada nyamuk di rumah ini. Dan mas cukup jaga Anna dengan baik aja. Nggak perlu segitunya."
"Iya sayang.. Maaf." ucap Baskara benar-benar menyesal. Mencium pipi istrinya yang diikuti oleh baby Anna yang meniru apa yang ayahnya lakukan. Membuat dua orang tuanya itu tertawa.
"Yaudah, aku keatas lagi. Kasihan Kai aku tinggal sendiri tadi." karena jika malam, memang anak-anak dipegang sendiri oleh Senja dan Baskara.
Baskara mengangguk. Tapi mengikuti langkah istrinya ke lantai atas tempat kamar mereka berada.
*
*
*
__ADS_1