Langit Senja

Langit Senja
Tanggung Jawab


__ADS_3

Didampingi Andi yang setia berada di sisinya. Baskara menuju rumah Oma. Ia tidak ingin mendengar penyangkalan Om Faraz. Jadi ia ingin mendengar langsung dari keduanya sekaligus.


Sampai di kediaman Oma, mobil Om Faraz sudah terparkir dihalaman. Tak heran, karena rumah Om Faraz lebih dekat dengan rumah Oma dari pada rumahnya.


Baskara sudah membuka pintu mobil bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti. Membuat Andi kaget dan seketika menghentikan mobilnya.


"Tindakan anda membahayakan diri anda sendiri, pak." tegur Andi yang menyusul Baskara turun dengan tergesa. Sedangkan orang yang ditegurnya berdecak jengah.


"Kecepatan mobil bahkan tidak sampai 5km/jam. Jadi jangan berlebihan. Saya bukan anak kecil."


"Anda memang anak kecil, pak." tentu saja Andi hanya berani bergumam dalam hati dengan helaan napas. "Setidaknya anda harus bisa mengendalikan emosi agar tidak diremehkan."


Baskara melirik Andi dengan tajam, tapi tak ayal ia mengendalikan emosi yang sudah ditahannya sejak beberapa hari yang lalu. Meskipun saat ini ia sudah siap memuntahkan amarahnya.


Begitu memasuki ruang tamu, mereka sudah ditunggu Oma dan Om Faraz yang tengah menyesap kopinya.


"Ada apa, Bas? tumben minta bertemu. Dengan Om Faraz pula."


"Jadi Oma dan Om Faraz dibalik semua kerugian yang perusahaan tanggung?" balasnya dengan pertanyaan untuk sang Oma. Berusaha menekan emosinya dan berujar dengan dingin.


"Maksud kamu apa?"


"Jika kalian tidak percaya untuk Bas memimpin perusahaan. Kalian tidak perlu repot-repot bertaruh dengan nasib karyawan. Karena dengan senang hati Bas akan keluar dari posisi yang kakek siapkan untuk Bas."

__ADS_1


Faraz yang sedari tadi hanya diam, kini bisa menebak arah pembicaraan Baskara. Sudut mulutnya berkedut. "Jadi kamu sudah tahu jika apa yang terjadi pada perusahaan beberapa waktu lalu adalah bagian dari ujian untukmu?"


"Ujian?" tanyanya dengan nada mengejek. Terserah dengan Andi yang menganggapnya kekanakan karena tidak bisa menguasai emosi. Dan terserah jika Oma dan Om Faraz menganggapnya tidak tahu sopan santun. "Itu namanya mencoba keberuntungan! beruntung karena perusahaan tidak bangkrut karena ulah kalian!"


"Bas.. Oma lakuin itu biar kamu paham jika tidak selamanya perusahaan akan berjalan lancar. Meskipun Oma sempat tidak setuju setelah tahu berapa kerugian yang harus kita tanggung." sela Oma yang mulai panik melihat cucu tunggalnya itu semakin emosi.


"Tanpa Oma beritahu. Tanpa kalian memberikan ujian seperti itu pun Bas paham Oma!" ia percaya konsep roda berputar itu ada. Ia percaya jalan tidak akan selalu mulus. Begitupun perusahaan yang tidak akan selalu berjalan sesuai keinginannya jika ia tidak berusaha keras. "Kalian terlalu berani dengan membunuh hingga 40% sapi yang perusahaan miliki. Dan Bas bisa saja menuntut kalian atas kerugian yang perusahaan tanggung."


Faraz menyilangkan kakinya dan menatap Baskara remeh. Melihat pemuda itu menggebu-gebu terlihat semakin bodoh di matanya. Beraninya anak ingusan seperti itu mengancamnya. "Memangnya bukti apa yang kamu miliki atas keterlibatan kami? Kamu masih anak baru didunia bisnis. Terima dan jalani saja. Tidak perlu membuat keributan yang tidak penting."


Meski hanya sebuah ujian untuk Baskara. Tapi sebenarnya Faraz juga punya dendam tersendiri saat melakukannya. Dendam untuk putrinya yang ditolak dengan begitu rendahnya. Tidak menyisakan harga dirinya sebagai seorang gadis dari keluarga terpandang. Seakan tidak ada yang tersisa untuk Grace bersanding dengan Baskara.


Faraz bahkan berharap perusahaan jatuh hancur. Toh ia sudah akan pensiun. Dan ia sudah menerima banyak tunjangan untuk pensiunnya nanti. Jadi berjalan lancar atau tidaknya perusahaan bukan lagi urusannya. Karena itu tidak akan mempengaruhinya sama sekali.


Ayahnya yang pemilik rumah sakit. Mertuanya yang memiliki perusahaan arsitektur yang merambah property. Juga asal usul kedua mertuanya yang tidak bisa diremehkan. Memudahkan untuk Baskara bangkit dalam kondisi terbawah sekali pun.


"Berikan buktinya, Andi." titah Baskara pada asistennya yang langsung menyerahkan Ipad pada Om Faraz. Dimana disana terputar video dari hasil rekaman CCTV yang menangkap bagaimana sapi-sapi mereka mati. Berlanjut ke video saat Om Faraz menemui pelaku dan memberinya uang.


Faraz mengencangkan tangannya pada Ipad yang ia pegang. Tidak disangka Baskara akan begitu cepat mengumpulkan semua bukti seperti ini. Ia bahkan tidak pernah memperhitungkan jika Baskara akan menyuruh orang untuk mengikuti pelaku. Ia kira Baskara berbaik hati membebaskan dan tidak memperkarakan di meja hijau karena kasihan pelaku baru saja berduka.


"Bas rasa bukti itu cukup untuk membawa kalian ke meja hijau." ancam Baskara. Meski sebelumnya ia tidak berniat sekalipun untuk menjebloskan Oma dan om nya itu ke penjara.


Tatapan mata Faraz berkilat tajam. Meski hanya sekejap karena ia bisa menguasai diri dan menutupi emosinya dengan berkata dengan lembut. Seperti ayah kepada anaknya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu melakukan hal seperti itu, Bas. Ini hanya masalah internal kita saja. Kalau sampai media tahu, akan semakin banyak kerugian yang perusahaan tanggung. Nilai saham perusahaan juga pasti turun karena isu orang dalam yang saling berselisih. Mereka pasti mengira kita sedang memperebutkan kekuasaan. Mengingat tidak lama lagi kamu akan menggantikan posisi Om sebagai CEO."


Baskara melipat tangannya didepan dada. "Kalau begitu, kalian harus mengganti kerugian yang perusahaan tanggung. Karena itu ulah kalian yang disengaja."


"APA?!" Faraz meraung marah. Kerugian perusahaan tidaklah sedikit. Jika ia harus mengganti rugi semua itu, sama saja ia mengembalikan tunjangan yang Oma berikan padanya. "Tapi itu ide Oma untuk memberi kamu ujian. Jadi tidak perlu ada ganti rugi seperti ini. Lagi pula itu perusahaan Oma, terserah beliau ingin melakukan apa pada perusahaannya."


"Terserah Om. Lagi pula Oma akan tetap aman. Karena bukti yang saya miliki semua tertuju ke Om Faraz sebagai tersangka utama."


Oma terlihat memijat dahinya. Tidak menyangka cucunya akan membawa kasus ini ke meja hijau. Dan ia tahu pasti jika Baskara selalu teguh dalam pendiriannya. Selalu tegas dalam pilihannya. Termasuk ketika Oma melarangnya menikahi Senja dan menolak Grace mentah-mentah.


"Baiklah. Biar Oma yang mengganti semua kerugian." ucapnya kemudian. "Benar kata Om Faraz. Itu semua ide Oma. Jadi Oma harus bertanggung jawab."


Om Faraz tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Baskara memberi isyarat pada Andi yang langsung sigap mengeluarkan dokumen untuk Oma tanda tangani. Sebagai pernyataan orang yang akan bertanggung jawab atas kerugian yang perusahaan tanggung.


Bukan karena Baskara buta harta. Tapi ia tidak ingin orang-orang yang bersalah untuk bebas begitu saja tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya.


*


*


*


Maaf sore banget up-nya huhuhu

__ADS_1


__ADS_2