Langit Senja

Langit Senja
Jalan-jalan


__ADS_3

Baskara yang tidak suka berdesakan tersenyum ketika melihat mall tidak terlalu ramai siang itu.


Pria berkemeja dengan warna mocca dan lengan yang digulung itu menggandeng istrinya dengan riang.


"Ngapain kesini mas?" Senja menarik genggaman mereka ketika Baskara akan mengajaknya memasuki salah satu outlet pakaian merek import.


"Lihat-lihat aja. Shopping windows." ujar Baskara santai dan kembali menarik istrinya lembut untuk berkeliling outlet.


"Kamu udah kehabisan uang, mas? Kenapa cuma shopping windows?" sindir Senja dengan cibiran.


"Ya kalau ada yang kamu mau, ambil aja sayang." jawab Baskara dengan geli melihat respon istrinya itu.


Tapi ternyata setelah berkeliling, tidak ada model yang menarik minat Senja. Atau moodnya saja yang tengah tidak bagus sehingga tidak berselera untuk berbelanja.


"Ke toko lain aja deh, mas."


"Kenapa?"


"Nggak ada yang aku pengen."


"Kan niat awal aku kesini juga bukan buat belanjain kamu." ledek Baskara dengan mengacak rambut istrinya yang langsung berdecak dan mengerutkan bibirnya.


"Terus mau ngapain?"


Setelah tadi Baskara yang mengikuti dirinya mencari sesuatu untuk ia beli tapi tak membuahkan hasil. Kini giliran Senja mengikuti suaminya seperti anak ayam.


Memperhatikan dengan cermat bagaimana suaminya melihat satu model pakaian ke model lainnya. Dan bagaimana suaminya bertanya pada karyawan disana tentang model mana yang paling di minati.


"Untuk bulan ini, model yang ini Pak yang penjualannya paling tinggi. Banyak di minati karena desainnya yang bisa masuk untuk remaja tapi masih cocok di pakai wanita usia 20 tahunan." jelas karyawati dengan membawa salah satu andalan mereka. Karyawan itu bahkan menjelaskan secara mendetail bahan dan kenyamanan.


Senja tengah mengamati dress itu di tangannya ketika suaminya berucap. "Oke. Saya ambil satu mba. Tolong dibungkus yang warna peach itu ya?"


"Baik, Pak. Silahkan ke kasir untuk melakukan pembayaran."


Baskara mengikuti saran dan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

__ADS_1


"Ngapain mas? aku kan nggak minta beli itu." bisik Senja menarik siku sang suami.


Baskara hanya mengedipkan mata dan memberi istrinya seulas senyum. Kembali melakukan pembayaran.


Kejadian itu tak hanya berlangsung di outlet pertama. Hal yang serupa terjadi di hampir semua fashion outlet. Baskara membeli produk terlaris yang bahkan istrinya tidak menyukainya sama sekali. Membuat Senja kesal setengah mati. Membuang uang karena ada beberapa pakaian yang harganya cukup mahal.


Outlet terakhir yang mereka sambangi adalah outlet milik Senja. Dimana disana terjual berbagai macam pakaian laki-laki maupun perempuan dari berbagai ukuran dan jenis, juga dalam jumlah yang banyak. Berbeda dengan yang terpajang di butik yang hanya diproduksi dalam jumlah dua atau tiga potong saja.


Para karyawan langsung menyambut keduanya dengan baik. Bahkan beberapa ada yang kaget mendapat kunjungan mendadak yang serasa seperti sidak.


"Gimana penjualan?" Baskara langsung bertanya pada manager toko yang langsung memberikan laporan penjualan pada mereka. Laporan yang sudah Senja tahu apa isinya. Karena setiap minggu ia mendapat laporan yang sama.


"Ada keluhan mungkin dari customer?"


"Beberapa ada yang mengeluh karena size yang kekecilan padahal mereka suka dengan modelnya. Ada juga yang mengeluh tentang warna." manager toko menjelaskan beberapa keluhan yang sempat diterima di outlet mereka. Atau lebih tepatnya saran dari pelanggan.


Senja tersenyum melihat apa yang suaminya lakukan kali ini. Hal yang tidak terpikirkan dan tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Ia memang harus lebih banyak belajar tentang bagaimana berbisnis. Entah dari keluarganya atau bergabung dalam komunitas. Mengembangkan pengetahuannya dalam berbisnis. Agar ia tak menuai kegagalan di kemudian hari.


Senja hanya menatap suaminya dengan senyum kagum. Melihat prianya begitu serius menanyakan setiap detail outlet. Baik tata letak yang mungkin kurang menguntungkan hingga pelayanan yang karyawan berikan pada pelanggan.


"Buat apa maaaass?" kali ini Senja kembali frustasi dengan sikap suaminya yang tidak ia mengerti.


"Nanti kamu bisa belajar." jawab Baskara dengan menyentil dahi istrinya. "Terimakasih untuk kerja keras kalian." kembali berucap pada karyawan dan menerima kartu kreditnya, tak lupa meminta mereka mengirim semua barang belanjaannya termasuk yang dia beli di outlet lain.


"Sekarang mau apa? nonton? makan?" merangkul sang istri dan mulai meninggalkan outlet.


"Pulang aja deh mas. Capek." Senja benar-benar lelah diajak berkeliling. Terlebih tidak ada film yang ingin ia tonton. Dan perutnya juga masih belum lapar setelah makan siang tadi. "Tapi mas jangan ke kantor lagi." rengeknya.


Setengah tertawa Baskara menjawab. "Mau apa sih, dirumah? mau berduaan di kamar?" ia menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"Iiish! pengen di rumah aja main sama anak-anak!" menghempaskan tangan sang suami dari bahu dan meliriknya tajam.


"Ooh iya! beli apa dong buat Anna sama Kai." Baskara bahkan lupa untuk membelikan kedua anaknya sesuatu.

__ADS_1


Mereka yang sudah akan berjalan kearah pintu keluar pun kembali balik arah untuk memasuki toko mainan. Membelikan masing-masing anak mereka satu set permainan edukasi.


Sayang. Saat sampai di rumah, ternyata anak-anak tengah diajak bermain oleh orang tua Senja.


"Kan udah diajak jalan-jalan. Masa masih bete aja sih sayang." Baskara memeluk sang istri dari belakang ketika sudah berada didalam kamar.


"Capek doang. Nggak balikin mood aku." gerutu Senja. Suaranya mulai bergetar dengan mata memanas.


"Eh. Kok nangis?" dengan panik Baskara membalik tubuh sang istri untuk menghadapnya.


"Tadi pagi tuh aku udah niat banget kerja, mas. Udah semangat banget." Senja tak tahan mengeluarkan unek-uneknya yang mungkin sudah suaminya dengar tadi saat di kantor. "Eh.. Malah pas sampai kantor.. denger berita kaya gitu.. rasanya tuh nyesek tahu nggak mas..."


Baskara menghela napas dan membimbing istrinya untuk duduk. Tak tahan melihat istrinya menangis. Karena hatinya ikut merasa sakit melihat istrinya seperti itu.


Tapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana kita membuat bubur itu agar enak untuk di nikmati. Entah menambah berbagai topping atau menambah beberapa bumbu dasar hingga rasanya bisa menggugah selera.


Beberapa saat Baskara membiarkan istrinya menangis. Mungkin dengan air mata yang luruh, sesak yang dirasakan juga ikut berkurang.


"Nanti aku kasih tahu solusinya kalau yang kita beli tadi sudah sampai. Sekarang mandi dulu biar seger. Aku bikinin teh ya? atau coklat panas kesukaan kamu?"


Senja menyusut air mata di pipinya. Mengangguk.


"Ya udah. Aku siapin air hangat untuk kamu berendem ya? biar relaks."


Senja kembali mengangguk dan membiarkan suaminya berlalu. Perasaannya juga sudah lebih membaik. Tinggal mengumpulkan semangat untuk memperbaiki masalah yang tengah terjadi.


*


*


*


Dapat salam sayang nih dari Sun Couple kita


__ADS_1



Maafkan mommy yang masih nggak mood


__ADS_2