
Setelah melakukan pemeriksaan kandungan dan memastikan kondisi ibu dan bayinya sehat dan cukup kuat untuk dibawa mengudara dalam waktu yang lama. Senja dan Baskara kembali ke New York setelah merayakan hari jadi pernikahan mereka yang pertama bersama kedua keluarga.
Suasana hangat keluarga harus dengan terpaksa keduanya tinggalkan demi sebuah cita-cita.
Baskara juga harus kembali ke Cambridge untuk mengajukan judul skripsinya. Rencananya setelah judul di Acc, ia akan kembali ke NY dan mengerjakannya diapartemen istrinya. Hanya sesekali saja ia pulang ke Cambridge untuk bertemu dosen pembimbing.
"Gimana? ada yang nggak nyaman?" pertanyaan Baskara yang sudah berkali-kali ditanyakan selama diperjalanan. Dan kini keduanya baru mendarat di bandar udara international John F. Kennedy.
"Aku nggak pa-pa sayang. Anak kita juga baik-baik saja." jawab Senja yang sudah entah keberapa kalinya dengan jawaban yang sama.
Tak merasa jengah karena ia tahu itu bentuk kekhawatiran suaminya terhadap ia dan bayi yang ia kandung.
"Tapi kita harus tetat ke dokter kandungan. Sesuai saran dokter di Jakarta. Biar lebih jelas. Kamu kan nggak bisa tahu juga baby baik-baik aja apa enggak."
"Iya. Tapi besok ya mas. Hari ini capek."
Baskara mengangguk dan memasukan koper mereka kedalam taksi untuk kembali ke apartemen.
Menyambut hari mereka yang akan kembali disibukan dengan kuliah. Tidak seperti saat di Jakarta ketika mereka bisa puas menghabiskan waktu untuk bersenang-senang bersama.
Selain harus fokus untuk kebahagiaan Senja, kesehatan dan tumbuh kembang calon anak mereka. Baskara juga harus fokus dengan skripsi yang sudah menanti didepan mata.
***
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Kini kehamilan Senja sudah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya sudah terlihat membulat sebesar melon. Tendangan-tendangan kecil juga sudah rutin ia rasakan.
Calon anak mereka lebih aktif dimalam hari. Lebih aktif bergerak hingga Senja tidak dapat tidur seperti malam ini.
Biasanya Baskara yang akan menemani anaknya bermain dengan cara mengajak berbicara atau sekedar dibacakan dongeng.
Tapi kini Baskara tengah berada di Cambridge untuk melakukan sidang skripsi besok.
"Udah makan, ayy? vitamin sama susunya jangan lupa diminum."
Dan seperti malam-malam sebelumnya, ia akan melakukan panggilan video atau sekedar panggilan suara untuk menemani istrinya yang tidak bisa tidur.
__ADS_1
"Udah semua tadi. Tapi kayaknya baby kangen daddy-nya makannya belum mau bobo." tangannya mengusap permukaan perutnya dengan lembut membuat anak mereka semakin aktif bergerak. "Mau kasih semangat juga buat daddy biar besok sidangnya sukses."
Diseberang, Baskara yang sudah siap pada posisi tidurnya, tersenyum hangat. Hal yang luar biasa dalam hidupnya adalah dapat melihat tumbuh kembang anak mereka dalam kandungan Senja. Ia tidak pernah seharipun untuk tidak menyapa bayi mereka itu.
"Deketin hp-nya sama perut kamu, ayy. Aku mau ngomong sama baby."
Senja menuruti apa yang suaminya perintah. Momen yang selalu terlihat indah baginya.
"Haii baby.. Udah malam sayang.. Bobo ya, biar mommy juga bisa bobo. Harus jadi anak baik. Oke?"
"Doakan daddy biar besok bisa sukses. Biar kamu sama mommy nggak ditinggal-tinggal lagi kaya sekarang."
"Terimakasih sudah hadir dihidup daddy. I Love You. Muach."
Kata terimakasih juga tak pernah lupa Baskara ucapkan. Ia ingin sejak dari dalam kandungan, anaknya tahu kalau ia sangat bersyukur memiliki bayi itu.
"Waaah baby ngerespon nih mas. Dia nendang pas di posisi hp." ucap Senja antusias. Ada nada takjub dalam suaranya.
Baskara jadi rindu dengan perut buncit istrinya. Sebentar saja mereka berpisah, rasanya sudah sangat rindu. Lebih rindu dari sebelumnya ketika harus berpisah selama lima hari setiap minggunya.
Mungkin karena kini yang ia rindukan bertambah. Bukan lagi hanya sekedar istrinya.
Baskara sudah membayangkan bagaimana Senja akan membangunkannya tengah malam untuk mencari makanan atau apa pun yang istrinya itu inginkan.
Ia sudah membayangkan meski dengan mata mengantuk tapi akan tetap semangat mencari apa pun itu.
Demi anak yang konon katanya jika tidak dituruti akan ileran.
Entah itu mitos atau fakta. Ia akan tetap menuruti keinginan istrinya apa pun itu. Tapi sayangnya ia belum pernah direpotkan dengan hal-hal semacam itu hingga kini.
"Kayaknya baby sayang banget sama daddy-nya, makanya nggak ngidam apa-apa mas."
Selama kehamilannya, Senja tak sekalipun merasa pusing, mual atau tak berselera makan.
***** makan Senja justru meningkat. Ia bahkan sampai khawatir anaknya terlalu besar, karena tubuhnya tak begitu signifikan kenaikan berat badannya.
__ADS_1
Ia juga tak pernah menginginkan sesuatu yang kata orang jika sudah ingin, harus saat itu juga ia mendapatkannya.
Katanya akan selalu terbayang sampai dia mendapatkannya. Entah nantinya hanya akan dimakan satu dua suap saja setelah itu tak lagi berselera.
Senja tidak pernah merasakan itu semua. Selain perutnya yang kian membesar dan tendangan anak mereka. Senja tak merasakan tanda-tanda kehamilan lainnya seperti kebanyakan orang.
Ia bisa beraktifitas dengan bebas. Tak terpengaruh dengan kesehatan.
Ah iya. Mungkin mood Senja saja yang lebih sensitif. Itu pun tak terlalu berlebihan. Tidak sampai menangis tanpa alasan.
"Pasti dong. Anak daddy pasti sayang banget sama daddy-nya." ujar Baskara dengan penuh percaya diri. Karena ia begitu menyayangi calon anaknya, jadi ia yakin anaknya itu juga akan sangat menyayanginya ketika nanti lahir kedunia.
"Tapi lebih sayang mommy-nya lah." Senja tak mau mengalah.
"Nggak bisa dong. Posisi paling sayang ke mommy itu udah hak paten daddy. Jadi baby bolehnya paling sayang daddy. Dan mommy paling sayang baby. Gitu yang benar."
Senja menggeleng, pusing sendiri mendengarnya. "Terserah mas aja lah."
Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal kecil. Senja juga menanyakan kesiapan untuk sidang besok.
"Doakan aja semoga hasilnya bagus. Nanti pengen lanjut S2 ya, ayy? Disitu aja biar nggak jauh-jauh dari kalian."
Baskara sudah memikirkannya seharian ini. Ia tidak mau hanya menjadi pengangguran selama Senja kuliah. Setidaknya ia harus melakukan hal yang lebih produktif.
Tadinya ia ingin melamar kerja ditempatnya magang. Tapi kontrak kerjanya cukup lama dan ia sudah ingin kembali ke Indonesia.
Jadi pilihannya jatuh pada melanjutkan kuliah. S2 tidak butuh waktu yang lama, jadi setelah istrinya lulus ia juga pasti bisa menyusul secepatnya.
Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Sembari menunggu istrinya menyelesaikan gelar sarjana, ia juga bisa mendapatkan gelar Pascasarjana.
Waktunya tidak akan terbuang sia-sia. Akan lebih bermanfaat.
Dan selagi ia bisa mendpapatkan yang terbaik, kenapa tidak.
*
__ADS_1
*
*