
"Akhirnya bisa peluk daddy juga." gumam Senja dalam pelukan Baskara. Sedang pria itu terkekeh dengan tubuh yang digerakan kekanan dan kekiri oleh sang istri. Melepas rindu yang sudah menumpuk berhari-hari. Bahkan ketika bertemu pun tak bisa langsung melepas rindu.
Sejak Baskara pulang, baby Anna tak mengizinkan siapa pun mendekati ayahnya terutama sang ibu. Jadi belum ada kesempatan untuk Senja dan Baskara saling melepas rindu kecuali lewat tatap.
"Kangen banget emang?" goda Baskara pada sang istri.
"Kangen lah! emang mas nggak kangen?!" tatapnya tajam pada sang suami setelah menjauhkan tubuhnya sejengkal.
"Kangen dong... Masa nggak kangen sama istriku yang menggemaskan ini." toelnya pada hidung mancung Senja. "Cantiknya Baskara sehat kan? baby kedua juga sehat?"
Senja mengangguk dua kali dengan senyum manisnya. Bahkan matanya terlihat sekali binar bahagianya. Tapi seketika tatapannya berubah sendu. "Tapi kayaknya malah daddy-nya yang lagi nggak sehat." ia tangkup kedua pipi suaminya, rasa hangat menjalar ditelapak tangannya. Juga pipi itu terasa lebih tirus dari hari terakhir mereka bertemu sebelum Baskara pamit keluar kota.
"Aku nggak pa-pa sayang." Baskara melepas tangan istrinya pelan. "Cuma flu doang kemarin." ucapnya meyakinkan sang istri.
"Tumben flu?" kernyit Senja. Pasalnya Baskara bukan tipe orang yang tiba-tiba saja terjangkit flu. "Kehujanan? jarang makan juga ya makanya kurus?"
Baskara hanya tersenyum dan kembali membawa tubuh sang istri kedalam pelukan. "Nggak penting sakitnya kenapa. Yang penting kan udah sembuh. Tinggal nyembuhin rindunya yuk?" ajaknya.
"Iiih... Entar duluuuu!" Senja mendorong wajah suaminya yang sudah akan menempelkan bibir pada bibirnya. "Aku bahkan masih belum tahu alasan kamu pergi berapa hari ini apa, mas?!"
Baskara memasang wajah merajuk. "Kan udah dibilang urusan kerjaan sayang.. Urusan perusahaan. Dan nggak mungkin juga aku mau ninggalin kamu kalau bukan untuk masalah penting."
"Ya tapi apa? masa aku nggak boleh tau!" Senja tak kalah merajuk dan melipat kedua tangan didepan dada.
"Jangan begini, nanti aku nggak bisa nahan." Baskara mengurai tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Dah sekarang boleh ngambek lagi."
Senja merotasikan bola mata melihat tingkah suaminya itu. "Aku cuma pingin tahu pasti apa yang kamu lakuin diluar sana mas. Biar aku yakin dan nggak ada keraguan dihati aku."
Baskara menaikan sebelah alisnya dengan senyum tipis. "Kamu takut aku selingkuh?"
"Siapa yang tahu kan?"
__ADS_1
"Kurang kenal apa lagi kamu ke aku, ayy?" ia cubit gemas kedua pipi istrinya. "Udah kenal dari orok masa nggak paham gimana aku."
"Manusia itu berubah sesuai dengan keadaan dan lingkungan. Jadi siapa yang bisa jamin diluar sana kamu setia sama aku."
"Aku lah." pungkas Baskara cepat. "Aku yang akan jamin kalau hingga akhir cuma kamu satu-satunya."
"Awas aja bohong!" ancam Senja.
"Lagian mana berani sih aku selingkuh kalau punya istri galak kayak kamu." godanya dengan mengulum senyum.
"Kamu!!" Senja yang tak terima begitu saja langsung menghujani suaminya dengan cubitan. Diarea mana pun yang terjangkau tangannya yang berusaha dicegah oleh sang suami.
Awalnya Senja menang dengan menumbangkan Baskara dan bisa sepuasnya mencubit diarea yang ia inginkan terutama perut. Namun tenaga sang suami yang memang tercipta lebih besar darinya berhasil membalikan keadaan hingga kini dirinya yang terkukungkung dibawah lengan kokoh suaminya.
"Berapa kali tadi kamu cubit aku, ayy. hmm?" tanya Baskara dengan senyuman liciknya. Suaranya bahkan terdengar semakin seksi. "seratu? dua ratus?"
Senja menggeleng begitu firasatnya memburuk. Sepertinya ia tidak akan bisa lolos dari hukuman kali ini.
Bola mata Senja sudah membulat mendengarnya. Membuat Senyum Baskara semakin lebar. Benar saja firasat buruknya tadi.
"Tenang ayy, aku balasnya nggak di satu tempat aja kok. Aku kan juga nggak mau bibir seksi kamu jadi kelihatan kaya habis disengat lebah." berusaha menenangkan sang istri. Meski dalam hati ia sudah terpingkal-pingkal melihat ekspresi istrinya kini. "Aku balasnya bakal disini, disini, dan disemua sisi yang bisa aku tinggalin jejak."
Senja semakin mengerang dalam hati ketika Baskara menunjuk area-area sensitifnya. Firasatnya mengatakan kali ini tidak akan selesai dengan mudah. Malamnya akan berjalan panjang tanpa istirahat.
***
Beberapa jam kemudian.
"Bener bener deh, mas! aku kan lagi hamil besar. Bisa-bisanya sesemangat itu!" gerutu Senja dengan menyelimuti tubuhnya sendiri yang masih polos. Disampingnya, Baskara hanya terkekeh dengan mata tertutup menikati sensasi candu yang tengah ia rasakan.
"Kata kak Fani kan baby kedua harus sering-sering ditengokin sama daddy-nya menjelang lahiran begini, ayy. Biar nanti baby kedua gampang nyari jalan keluarnya."
__ADS_1
Senja mendengus. "Anakku aja terus dijadiin alasan. Tapi nggak sampai aku capek juga, mas! kalau tiba-tiba ketubannya pecah gimana?"
Baskara langsung membuka kedua matanya dan duduk tegak. "Beneran ada yang sakit, ayy? ketubannya pecah lagi? atau kamu ngerasa ada yang nggak nyaman?" cerca Baskara membuat istrinya merotasikan bola matanya.
"Lihat kan? udah gitu baru deh panik." cibir Senja.
"Mana? mana yang sakit?" Baskara tak mengindahkan cibiran sang istri. Ia sudah akan membuka selimut untuk memeriksa bagian bawah istrinya. Takut-takut jika ketuban sang istri benar-benar pecah. Karena memang tadi ia bermain dengan cukup bersemangat setelah beberapa hari tidak bertemu.
Sebenarnya Senja ingin membiarkan suaminya seperti itu lebih lama lagi. Tapi rasanya tidak tega mempermainkan kekhawatiran seseorang yang benar-benar peduli terhadap kita.
"Aku nggak pa-pa sayang... Baby kedua juga baik-baik aja." cegah Senja dengan mengeratkan selimutnya. "Seperti yang kamu bilang tadi. Kak Fani memang menyarankan kita untuk sering melakukannya terlebih mendekati HPL."
Baskara menghela napasanya lega. "Tadi aku nggak nyakitin kalian kan?"
Senja menggeleng. Sejujurnya ia juga menikmatinya. "Cuma capek aja."
Setelah lega istrinya baik-baik saja, ia memeluk istrinya untuk tidur dengan berbantalkan lengannya. "Ya udah sekarang tidur. Besok pagi aku temani jalan paginya."
Senja mengangguk. "Selamat tidur daddy." bisiknya diakhiri dengan mencium pipi sang suami.
"Selamat tidur Senjanya Baskara.." balas Baskara dan meninggalakan ciuman dalam didahi sang istri.
Keduanya yang sudah sama-sama lelah tak membutuhkan waktu lama untuk terlelap dan hanyut dialam mimpi. Mengakhiri hari dengan istirahat dan menyiapkan energi untuk menghadapi hari esok.
Karena baik dan buruknya hari esok tidak ada yang tahu kecuali Tuhan. Dan kita hanya perlu mengawalinya dengan sesuatu yang baik.
*
*
*
__ADS_1