
Senja berjalan hilir mudik dalam kamar. Dia gelisah melihat benda di tangannya. Semakin kesal ketika menatap kearah tempat tidur. Suaminya Baskara masih tidur terlelap seperti bayi.
Senja menyalahkan kegelisahannya pada sang suami. Pokoknya suaminya yang bersalah! Begitu prinsipnya.
Melihat wajah tanpa dosa Baskara membuatnya ingin mencubit hidung bangir itu.
"AaH-Aah-Aah!!" Baskara memekik kaget dari tidurnya ketika ada yang mencubit hidungnya begitu keras.
Senja sendiri pun kaget dan langsung melepaskan tangannya dari hidung sang suami dan menyembunyikannya di belakang punggung. Meringis merasa bersalah. Tak menyangka jika tangannya bergerak seperti apa yang ia pikirkan.
"Kenapa sih sayaaaang...Aku masih ngantuk." rengek Baskara. "Ini masih pagi banget lho." melihat jam diatas nakas.
Senja akui. Pagi memang masih buta. Langit diluar sana masih remang. Mentari belum menyentuhkan sinarnya.
Senja juga tidak ingin bangun sepagi ini. Tapi tadi ketika ia ingin buang air kecil, Senja ingin memastikan sesuatu yang ia curigai dari minggu lalu. Dan setelah ia tahu, Senja justru tak bisa tidur karena merasa gelisah.
"Kenapa?" suara Baskara melembut dan beranjak duduk begitu melihat mata istrinya yang tak bisa menutupi kegelisahannya.
Senja tak menjawab dan memberikan benda yang sudah sejak tadi membuatnya gelisah. Yang diterima dengan bingung oleh Baskara yang belum mengetahui apa yang diberikan istrinya.
"I-ini.. ini serius? serius sayang?" nada suara Baskara antara tak percaya dan antusias. Berkali-kali ia mengucek kedua matanya. Takut ia salah lihat karena baru bangun dari tidur.
Senja yang mengangguk langsung ditarik dan terduduk dipangkuan sang suami. Mendapat pelukan erat. "Terimakasih sayang.. Pokoknya kita harus merayakan ini." Baskara melepas pelukan mereka dan menatap lagi benda ditangannya dengan takjub.
"Mas, iih! bukan itu sekarang masalahnya!" ia gemas sendiri melihat sang suami yang tak sedikitpun merasa gelisah seperti dirinya.
"Kenapa? kenapa kabar gembira malah jadi masalah?"
Senja berdecak disaat suaminya tak juga mengerti maksudnya. "Anna gimaaaa?"
"Aaah.." Barulah Baskara sadar begitu istrinya menyebut nama putri sulung mereka. "Tapi sayang.. Itukan hanya pendapat Anna satu tahu yang lalu. Jangankan satu tahun, anak kecil, satu jam aja bisa berubah pikiran."
__ADS_1
"Tapi tidak untuk masalah ini, mas! kamu inget kan waktu kita ke rumah sakit jenguk klien kamu? bagaimana Anna tidak kooperatif?"
Tentu saja Baskara ingat. Disaat banyak anak seumuran Anna begitu menyukai anak kecil, berbanding terbalik dengan gadis ciliknya itu. Anna terus menekuk wajah ketika tahu mereka akan menjenguk klientnya yang baru saja melahirkan. Dan Anna sama sekali tidak mau melihat bayi yang baru beberpa hari lahir itu. Membuatnya merasa tidak enak pada klientnya.
Tangan Baskara menyingkap piyama yang istrinya kenakan. Mengusap perut istrinya yang masih rata. Menunduk dan memberinya kecupan. Ia juga berbisik disana. "Hai sayang.. Kenalkan, ini daddy." sapa Baskara pada calon anak ketiganya. Benda yang istrinya tunjukan padanya adalah dua buah testpack dengan hasil positif dikeduanya.
Awalnya memang Baskara merasa tidak tega melihat istrinya melahirkan. Terlebih melahirkan dalam waktu berdekatan. Bayangan kesakitan istrinya membuatnya memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi. Tapi pagi ini ketika tahu istrinya tengah hamil anak ketiga mereka, hati Baskara menghangat. Tak ada sedikitpun kekhawatiran maupun kegelisahan. Apa salah anak ketiganya, hingga harus disambut dengan hal seperti itu?
Ini adalah anaknya. Darah daging dan buah cintanya. Tak akan ia bedakan antara Anna, Kai dan calon anak ketiganya ini. Sudah cukup mereka terlambat mengetahui Anna tumbuh dalam rahim istrinya. Cukup mereka menyambut Kai dengan pertengkaran dan rasa gelisah. Mengkhawatirkan Anna yang masih sangat kecil. Kali ini mereka harus melakukan yang lebih baik untuk anak mereka. Jangan lagi memberatkan Anna dalam menyambut kebahagiaan ini.
"Jangan khawatir. Kakak Anna pasti akan menyukaimu. Biar daddy yang bujuk kakakmu yang cantik itu. Oke?"
Senja juga merasa perasaan yang sama dengan suaminya. Ada perasaan haru dan bahagia sebelum ia mengingat Anna yang tidak menginginkan adik lagi.
Melihat Anna dan Kai tumbuh semakin besar membuatnya merindukan momen-momen dimana kedua anak itu masih balita. Masih wangi minyak telon. Tertawa dengan hal remeh. Tertawa ketika ia menciumnya. Senja merindukan tangis dan tawa anak bayi dalam rumah ini.
"Bujuknya pelan-pelan aja, mas. Kamu tahu sendiri kalau Anna posesif banget sama kamu. Jangan sampai kamu terlihat lebih membela anak ini. Atau Anna justru akan membenci dari pada menerima adiknya."
Seminggu yang lalu Senja merasa ada yang aneh dengan dirinya. Setiap pagi perutnya seperti diaduk-aduk dan berakhir memuntahkan isinya hingga tandas. Ia juga merasa cepat lelah dan mengantuk. Banyak desain yang terbengkalai akibat ia yang lebih memilih tidur siang di kantor dari pada mengejar deadline. Belum lagi rasa malas yang melandanya. Membuatnya semakin kewalahan sendiri.
Untuk itu, kemarin sepulang kerja, ia memutuskan mampir keapotek untuk membeli dua buah testpack. Karena ia curiga dirinya hamil. Terlebih ia juga sadar sudah terlambat datang bulan ketika tiga hari berturut-turut ia selalu merasa morning sickness.
"Kenapa aku nggak sadar kalau kamu terlambat datang bulan ya, ayy?" tanya Baskara mendongakan kepala dengan posisinya yang masih berada diperut Seja. "Apa daddy pernah menyakitimu saat daddy bermain dengan mommy?"
Senja memukul punggung suaminya. Merasa malu sendiri suaminya berkata seperti itu. Bagaimana bisa Baskara mengatakan hal seperti itu pada calon anak mereka.
"Gimana kamu sadar. Kalau yang kamu ingat cuma minta jatah tiap malam." cibir Senja yang disambut kekehan suaminya.
"Mau bagaimana lagi. Istriku terlalu menggoda untuk aku abaikan."
Senja berdecak, hingga tak lama kemudian mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Baskara kembali menegakan tubuhnya membawa istrinya kedalam pelukan. Tak begitu erat, tapi terasa nyaman.
"Kamu nggak takut untuk melahirkan lagi kan, sayang?"
"Kayaknya yang takut justru kamu deh, mas."
Baskara terkekeh dan mengakuinya. Ia memang selalu takut melihat istrinya melahirkan. Merasa tak tega dan takut ditinggalkan.
"Terimakasih. Terimakasih sudah mau menjadi tempat untuk anak-anakku tumbuh. Terimakasih sudah memberikan yang terbaik untuk suami sepertiku."
"Apa sih, mas! kok ngomongnya jadi melow gini?"
"Aku senang sayang.. Aku BAHAGIA..."
Kehadiran seorang anak memang selalu membuat bahagia. Bagai mata air dipadang pasir. Terasa menyejukan hati dan melupakan beban yang ada.
Begitu juga yang Senja dan Baskara rasakan. Mengesampingkan sejenak masalah Anna yang harus mereka selesaikan. Memberi pengertian pada tuan putri mereka itu.
*
*
*
Maaf baru sempat nulis ekstra partnya.hehehe
Butuh healing aku tuh dari cerita Senja.. Biar lanjutannya nggak membosankan.
Reader : Apaan thor. Ini aja bosenin.
Hehe maaf.. Mereka kan sudah bahagia. Jadi harus gimana lagi ceritanya biar kalian nggak bosen..
__ADS_1
Pokonya sayang banyak banyak untuk kalian yang sudah mendukung Senja sejauh ini.. Saranghae ❤