
"Menurut abang gimana?"
Farri yang sudah akan terlelap, kembali membuka matanya yang terasa berat ketika istri dalam pelukannya mengajukan pertanyaan itu.
"Gimana apanya?" tanyanya balik dengan suara yang sedikit menggumam. Hari ini banyak proyek yang harus ia cek. Perjalanan kesana kemari membuatnya lelah dan mendambakan istirahat untuk mengembalikan kondisinya agar esok hari kembali fit untuk beraktivitas.
Berbanding terbalik dengan istrinya yang justru tidak bisa memejamkan matanya. Memikirkan apa yang harus ia putuskan. Dengan kata-kata Senja dan ibu mertua sebagai pertimbangan. "Masalah aku kerja?"
Jingga bersungguh-sungguh ingin bekerja. Bukan hanya ingin bermain-main. Tapi ibu dua anak itu merasa ragu dengan kemampuannya sendiri.
"Ya terserah kamu aja sayang.. Kamu pengennya gimana?"
Jingga terdiam. Ia masih bingung. Untuk itu ia bertanya pada suaminya berharap pendapat Farri bisa membantunya mengambil keputusan.
"Atau mau kuliah dulu? biar kerjanya nggak nanggung-nanggung?" tawar Farri menatap lekat wajah istrinya yang hanya berjarak satu jengkal. "Ambil kelas karyawan juga nggak pa-pa kalau kamu mau langsung kerja sekarang."
Jingga menggeleng. "Nanti waktu aku untuk abang sama anak-anak jadi susah."
Farri cubit pipi istrinya gemas. "Kamu kerja aja, udah ngurangin waktu buat aku sama anak-anak."
"Tapi Senja masih punya waktu kok buat Kai sama Anna." sanggah Jingga. "Jadi aku juga pasti punya waktu buat kalian. Tapi enggak dengan kuliah." gelengnya masih kekeh tidak ingin melanjutkan kuliah.
Farri juga tak bisa memaksakan jika istrinya tidak menginginkan. Meski ia ingin sekali istrinya untuk melanjutkan lagi pendidikan. Karena ia merasa bersalah karena kesalahan yang ia buat dan karena terlalu cepat membuat Jingga hamil setelah mereka menikah. Membuat istrinya itu jadi tidak bisa melanjutkan cita-citanya. Hanya fokus belajar mengurus ia dan anak-anak. Apa lagi setelah anak kedua mereka lahir, Jingga semakin sulit untuk memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Tapi mungkin karena kesibukan mengurus anak-anak yang tiada habisnya itu lah yang membuat istrinya bosan saat ini. Bosan karena sekarang lebih banyak memiliki waktu luang setelah kedua anaknya bersekolah.
"Ya udah kalau kamu siap kerja. Besok ngomong aja ke Senja. Dia juga pasti pertimbangin posisi yang cocok sama kamu apa di tempat dia."
Jingga mengangguk. Asal ia yakin, ia pasti bisa. Jadi ia tak boleh ragu-ragu. Ia harus yakin jika ia akan mampu.
"Ya udah. Besok aku ngomong ke Senja langsung deh bang. Tapi abang udah izinin kan ini? nggak akan komplain saat aku udah kerja nanti?"
"Iya. Abang izinin. Sekarang tidur ya? abang udah cape banget. Ngantuk."
__ADS_1
Jingga tersenyum dan melabuhkan kecupan di bibir suaminya. Kembali masuk dalam pelukan hangat yang selalu menemaninya tidur setiap malam.
***
Dihari senin yang cerah, Jingga begitu bersemangat untuk memulai harinya.
Yang biasanya malas-malasan bangun dan mempercayakan anak-anak pada suster mereka, pagi ini Jingga mandikan dan siapkan perlengkapan kedua putrinya untuk sekolah sendiri.
"Hari ini mami kerja ditempat aunty Senja. Jadi nanti pulang sekolah kalian main dulu sama suster. Oke?"
Sisi yang sudah mulai masuk SD mengangguk saja. Anak itu juga pulang kerumah sore hari. Belum lagi kalau ada les ini itu yang harus ia ikuti yang sering kali baru sampai di rumah saat makan malam.
Berbeda dengan Sheina. Gadis kecil berusia tiga tahun itu menggelayut manja dileher ibunya yang tengah memakaikannya baju.
"Shei mau main sama mami.." rengeknya tak ingin di tinggal. "Mami di rumah aja temani Shei... Mami nggak boleh kerja."
Mata Sheina sudah berkaca-kaca, siap menumpahkan tangisannya. Dan sebelum itu terjadi, Jingga sudah memeluk dan mengusap punggung putri kecilnya.
Tapi Farri dan Jingga tidak pernah membedakan kasih sayang untuk keduanya. Karena sifat dan tumbuh kembang anak memang tidak selalu sama.
"Nanti mami belikan ice cream. Gimana?" Jingga memberikan penawaran pada apa yang sering ia larang. Karena ia menjadwal kapan anaknya boleh makan es krim dan kapan tidak. Hanya membatasi beberapa kali dalam seminggu.
"Shei mau coklat sama vanila." tawar anak kecil itu.
Jingga terkekeh dan mengangguk. Menakutkan jari kelingking mereka satu sama lain. "Tapi Shei harus janji nggak boleh nakal, Oke? harus nurut sama suster!"
Kepala kecil Sheina mengangguk berkali-kali. Tapi meski begitu, Jingga tidak percaya sepenuhnya. Karena sifat licik Senja menurun pada putrinya itu. Sifat bikin onar dan membuat anak tetangga menangis.
"Nanti kalau mami denger Shei bikin teman Shei disekolah nangis, mami nggak jadi beliin Shei ice cream."
Meski wajahnya ditekuk cemberut. Sheina tetap mengangguk dan berjanji pada ibunya.
"Mami... Sisi boleh nggak hari ini nggak masuk les? Sisi pingin main sama Zio. Mumpung Zio menginap disini, mih." Sisi juga ingin mencoba peruntungannya dengan bernego dengan sang ibu. Seperti adiknya yang akan dibelikan makanan kesukaan. Ia juga ingin diberi waktu untuk bermain.
__ADS_1
"Kan kakak kemarin udah libur dua hari. Masa masih kurang mainnya."
Sisi menunduk sedih saat permintaannya sepertinya akan gagal dituruti. "Kan kemarin nggak ada Zio, mih."
Vindra dan keluarga memang baru datang semalam dan menginap. Karena sabtu minggu yang bisanya dipakai untuk berkumpul bersama, kemarin Vindra mengajak anak dan istrinya berlibur dipuncak. Dan baru kembali di minggu malam.
"Ya sudah. Tapi satu hari ini aja ya kak?" tak tega melihat raut sedih putri sulungnya, Jingga mengizinkan Sisi untuk libur les satu hari.
Gadis yang sudah rapi dengan seragamnya itu bersorak senang. Sisi bahkan langsung berlari keluar yang Jingga tahu pasti lari ke kamar yang di tempati kakak iparnya Vindra. Dimana ada Zio berada disana.
Setelah anak-anak rapi, Jingga mulai bersiap sendiri. Dihari pertamanya bekerja ia tidak boleh terlambat.
Seperti kata Senja. Bukan karena ia memiliki ikatan keluarga dengan Senja dan ia bisa bekerja seenaknya. Ia juga ingin bekerja secara profesional.
Kemarin bahkan ia sudah berbelanja baju-baju untuk kerja dalam jumlah banyak yang membuat suaminya geleng kepala.
Bukan karena nominal uang yang dikeluarkan. Tapi karena melihat model baju yang ia beli.
"Kamu kan kerja di butik. Ngapain pakai baju kantoran begitu?" protes suaminya kemarin saat melihat puluhan stelan kerja yang ia beli.
"Kan kata abang biar nggak nanggung nganggung kerjanya. Aku juga harus terlihat profesional dong dari segi penampilan."
"Tapi nggak perlu pakai rok span begitu juga sayang.. Senja aja nggak selalu pakai rok atau celana kain. Dia masih sering kok pakai dress atau baju kasual."
Jingga tetap menolak saran suaminya. Apa lagi ia sudah membeli baju begitu banyak. Jadi sayang jika tidak dipakai.
*
*
*
Terimakasih untuk doa kalian semua.. saranghae ❤
__ADS_1