
Untuk pertama kalinya Senja memasuki supermarket di kota New York. Dan itu dia lakukan bersama Baskara. Hal yang tak pernah terbayangkan oleh Senja sebelumnya.
Senja bertugas mendorong troli, mengikuti kemanapun Baskara melangkah. Pemuda itu mengambil berbagai macam jenis pasta, roti, selai, Sereal, susu, sayur, buah, juga daging dan sosis.
Gadis yang sudah lelah mengikutinya sedari tadi tak berhenti menggerutu. "Ngapain belanja sih Bas, gue kan udah bilang nggak pernah masak!"
"Terus selama ini Lo makan apa?"
"Beli lah!" jawab Senja enteng.
Baskara yang sebelumnya sedang memilih buah berbalik menghadap gadis yang tengah bersandar pada troli yang dibawa.
"Hey Nona, meskipun keluarga lo mampu buatnya hidupin lo dengan gaya hidup mewah, bukan berarti lo gampangin mereka."
"Siapa yang ngegampangin! Gue kan gak bisa masak, makanya enggak nyetok begituan di rumah!"
"Maka dari itu belajar! Kuliah jauh-jauh kalau nggak buat belajar mandiri ngapain? Mending kuliah aja sono di Jakarta." ejek Baskara.
"Nggak punya waktu buat belajar gue. Kuliah aja pulang malam."
"Apa gunanya gue yang tiap weekend kesini. Nanti gua ajarin."
"Emang lo bisa masak?" tanya Senja sangsi.
"Kita lihat aja nanti." jawab Baskara sombong dan berlalu menuju kasir untuk membayar.
Ketika menunggu Baskara membayar, Senja mengingat lagi tentang pembicaraannya dengan sang Ibu tadi ditelepon.
"Mama kenapa sih ngijinin Baskara buat main kesini tiap minggu?!" Sungut yang langsung marah begitu panggilan terangkat.
"Anak mama yang cantik. Kalau telepon itu salam dulu sayang." Tiara menggeleng dengan kelakuan putrinya.
Setelah mengucap salam, senja kembali mendesak meminta jawaban ibunya.
"Apa salahnya, Bas bilang mau jagain kamu."
"Tapi maaaah, aku bukan anak kecil yang harus dijagain. Setahun aku sendirian di sini nggak pa-pa kok. Baskara aja lebay! Orang aku main di klub cuma minum jus." terang Senja, takut Baskara mengadu yang tidak-tidak. Karena selama ini, keluarganya tidak ada yang tahu jika ia sering main di klub malam.
"APA?!" pekik Tiara kaget. "Jadi itu alasan Baskara mau jagain kamu?! Adek suka main Club malam?!"
__ADS_1
Mampus gue ternyata Mama belum tahu. Erang Senja dalam hati.
"Tapi bener deh maaaah. Aku nggak ngapa-ngapain di sana. Aku juga nggak pernah minum alkohol kok. Aku cuma pesen jus doang."
"Tetep aja adek. Namanya klub malam itu bahaya! Banyak laki-laki yang bisa saja ngejebak kamu! Mama nggak suka kamu main ke tempat kayak gitu! Kalau kamu masih main di tempat gituan mending kamu pulang." setelah berkata demikian Tiara langsung memutuskan panggilan. Tak mendengarkan penjelasan apapun dari putrinya lagi.
Dan Senja memutuskan, menerima keberadaan Baskara, meski itu terasa mengganggu.
Apalagi pemuda itu, kini tengah menjejali lemari pendinginnya dengan berbagai sayur dan buah serta makanan ringan lainnya.
Hal yang Senja tak suka. Lemari pendinginnya menjadi bau sayur.
"Lo pengen makan apa?" tanya Baskara memecahkan lamunan Senja, yang tengah mengamati pemuda itu dengan cekatan dan terlihat sudah terbiasa.
"Lo suka masak sendiri di sini?" bukannya menjawab Senja malah bertanya balik.
"Iya lah. Lebih terjamin kualitas dan kebersihan." Baskara mengambil bahan-bahan untuk membuat pasta.
Senja mendengus. "Di restoran juga terjamin kali."
"Emang lo lihat sendiri gimana mereka mengolahnya?"
Baskara sudah mulai merebus pasta dan tengah mempersiapkan bahan untuk sausnya.
"Terserah lo aja." jawab Baskara malas berdebat dengan gadis yang sudah sejak pagi berdebat dengannya. "Lo suka pasta kan?"
Senja mencibir. "Udah lagi dibikin baru nanya."
"Gue udah nanya dari tadi ya." sanggah Baskara tak terima. "Lihatin yang benar, biar lo bisa masak sendiri. Minggu depan gue datang ke sini, semua belanjaan yang tadi kita beli sudah harus habis. Itu jatah lo seminggu."
Kenapa Senja merasa Baskara tengah berperan sebagai suami yang akan meninggalkan istrinya untuk beberapa saat. Memastikan kebutuhan istrinya terpenuhi dan tidak akan kekurangan selama ia tinggal.
"Gue kan udah bilang, gue nggak bisa masak! Apalagi itu sayur-sayur." tolak Senja. Lebih baik menolak di awal dari pada mengiyakan tapi ketika Baskara minggu depan datang lagi, sayuran masih utuh dan pemuda itu marah-marah padanya.
Lagi pula sejak kapan Baskara menjadi perduli padanya seperti ini. Kenapa tidak cuek seperti sebelumnya saja. Agar hidupnya bisa damai seperti sebelumnya.
"Lo bisa telepon gue tiap pagi. Atau setiap Lo pengen masak. Karena kalau pagi pasti lo cuma sarapan roti atau sereal kan?"
"Tapi gue beneran nggak ada waktu buat masak Baskara. Makan siang di luar. Pulang udah malam, udah capek pengennya langsung tidur."
__ADS_1
"Jadi lo nggak pernah makan malam?"
"Bukan nggak pernah. Tapi jarang."
Mereka berpindah ke ruang televisi setelah makanan matang. Senja menolak makan di meja makan karena ingin sembari menonton televisi.
Baskara mengamati gadis yang tengah tertawa menonton acara komedi dengan mulut yang tidak berhenti makan.
Baskara langsung menyodorkan gelas berisi air putih untuk Senja ketika gadis itu tersedak.
"Makanya! Makan tuh nggak usah sambil ketawa. Kan tuh kesedak."
Senja hanya melirik sinis dan melanjutkan lagi makanya. Kali ini tidak lagi tertawa. Gadis itu fokus dengan makanannya terlebih dahulu.
"Karena gue yang masak jadi lo yang nyuci!" Baskara menumpuk piring bekas makannya di atas piring Senja.
Meskipun senja terlihat menghela nafas. Tapi gadis itu tetap melangkah ke dapur untuk mencuci piring bekas mereka makan dan juga peralatan masak yang sebelumnya Baskara gunakan.
Di tengah kegiatannya mencuci, Senja memekik ketika jarinya tergores pisau yang tengah ia bilas.
Baskara yang mendengar langsung menghampiri gadis itu dan terkejut begitu air dalam wastafel berubah menjadi merah karena darah yang mengalir dari jari Senja.
"Lo tuh nggak bisa hati-hati, ya!" hardik Baskara.
Pemuda itu mengangkat dan mendudukan Senja di samping wastafel. Melihat seberapa dalam luka di jari gadis itu.
Baskara mencuci jari Senja yang terluka di bawah air mengalir. "Usahain tangan lo lebih tinggi dari dada. Dimana kotak P3K nya?"
Senja menunjuk salah satu kabinet tempat ia menyimpan kotak P3K. Baskara langsung melakukan pertolongan pertama untuk gadis yang hanya bisa diam melihat perlakuan Baskara terhadapnya.
Dengan telaten Baskara mengobati luka yang untungnya tidak terlalu dalam sehingga tidak memerlukan penanganan dokter.
Senja memperhatikan Baskara yang dengan telaten mengobati lukanya. Dalam hati Senja berpikir kenapa Baskara memperlakukannya seperti ini disaat Ia sudah tidak ada lagi rasa kepada pemuda itu. Mungkin jika dulu Baskara memperlakukannya seperti ini, hatinya akan berbunga-bunga. Tapi tidak dengan saat ini. karena ia sudah tidak memiliki rasa kepada Baskara.
*
*
*
__ADS_1
Maaf kalau banyak typo, othor lagi tepar. Nggak sanggup nulis. Ini aja pakai teks suara. Semoga kalian suka. Untuk mengobati rasa rindu kalian pada Senja. Love sejagat untuk kalian. Semoga kita semua diberi kesehatan aamiin..