
Harmonis bukan berarti kehidupan rumah tangga mereka tanpa masalah. Perdebatan-perdebatan kecil sering terjadi. Terlebih usia mereka yang muda dan masih labil. Sikap keras kepala Senja juga sering kali menjadi sumber perdebatan. Meski esoknya yang merasa bersalah akan mengalah dan meminta maaf. Hingga kembali seperti biasa seakan tak pernah ada masalah sebelumnya.
Tak terkecuali malam ini. Keduanya tengah berbaring dengan saling memunggungi. Atau lebih tepatnya Senja yang memunggungi Baskara. Masalahnya karena Baskara terlambat datang padahal itu hari terakhir kuliah sebelum libur musim dingin. Terlebih ketika Senja menghubungi suaminya itu, ternyata Baskara justru tengah mengantar Lura ke bandara.
"Aku cuma kasihan, ayy. Jadwal penerbangannya tinggal setengah jam lagi. Tapi nggak ada taxi yang lewat. Kebetulan aku keluar mau kesini, makanya sekalian." begitu pembelaan yang Baskara berikan ketika pemuda itu sampai di apartemen istrinya.
Sikap egois Senja yang kekanakan tentu saja tak menerima begitu saja. Terlebih itu melibatkan perempuan lain. Dan baginya ada banyak alternatif untuk perempuan itu sampai di bandara.
"Udah tau musim dingin, harusnya pesan taxi jauh sebelumnya. Atau minta jemputan dari bandara! kaya baru pertama tinggal disini aja!" tatapan Senja tajam menghunus mata Baskara. Dengan melihat ekspresinya saja, orang akan tahu jika gadis itu tengah marah.
"Kamu tuh kenapa sih, ayy? aku kan cuma menolong. Nggak ada niat lain." Baskara sudah mendekat dan meraih bahu istrinya. Tapi sentuhannya langsung ditepis begitu saja oleh sang istri.
"Nggak usah dekat-dekat!" sentaknya. "Kalau kamu lebih mentingin cewek lain, ya udah sana nggak usah pulang aja sekalian!" Senja meninggalkan begitu saja Baskara yang tengah memohon pengertiannya.
Senja tak tahu itu bawaan dirinya yang tengah kedatangan tamu bulanan atau apa. Tapi yang jelas ia tidak suka suaminya berhubungan dengan perempuan lain apa pun itu alasannya.
Baskara yang lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh dan sebelumnya juga mengantar temannya, menjadi ikut kesal dengan sikap istrinya.
Bukan disambut dengan pelukan hangat dan sapaan mesra. Ia malah disambut dengan perdebatan.
Pemuda itu menghela napasnya berat. Melangkah kedapur mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya yang keroncongan karena tak diisi sejak siang.
Meletakan paperbag berisi hadiah yang siang tadi ia sempatkan beli di mall untuk sang istri diatas pantry.
Memanaskan steak yang sudah istrinya masak sebelumnya kedalam microwave. Sembari menunggu makan malamnya hangat, ia menuju kamar untuk berganti pakaian dan memcuci wajahnya.
Terlihat sang istri sudah terbaring didalam selimut. Tapi ia tak berniat mendekat. Mereka sama-sama butuh waktu untuk meredakan emosi. Tidak akan menemukan kata damai jika emosi masih mendominasi.
Makan malam sendiri dalam hening padahal biasanya akan selalu mendengar celoteh istrinya yang tiada habis ketika menemaninya makan.
__ADS_1
Meski sebelumnya perutnya terasa lapar, tapi makan dalam keadaan seperti itu tiba-tiba membuat perut Baskara kenyang meski baru beberapa kali suap yang ia bahkan tidak merasakan rasa masakan yang istrinya buat.
Bukan karena tidak enak. Baskara percaya sang istri sudah mahir memasak meski tanpa bantuannya. Rasa hambar yang ia rasakan karena suasana hati mau pun suasana apartemen yang sama-sama suram.
Menyerah dengan makanan. Baskara beralih ke ruang tamu. Menunda masuk kedalam kamar karena masih membutuhkan waktu. Ia sengaja berlama-lama didapur membuat kopi dan membawanya untuk menemani menonton televisi.
Sebenarnya Baskara bukan pecinta kopi. Bahkan bisa dihitung jari kapan ia meminum minuman berkafein itu. Namun tubuhnya yang lelah dan matanya yang berat membuatnya terpaksa meminum minuman hitam pekat itu.
Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan apa yang ia rasakan kini.
Mungkin jika ia penikmat alkohol, ia akan berlari ke minuman keras itu. Tapi sayangnya ia bahkan tak ingin menyentuhnya.
Selain karena larangan agama yang ia anut. Juga karena kesadaran akan kesehatan yang sudah ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.
Sedangkan dikamar, Senja tak bisa tidur. Ia hanya berbaring dengan gelisah. Mengubah posisinya dari miring kanan, terlentang, miring kiri. Begitu seterusnya hingga ia lelah sendiri.
Hingga suara pintu terbuka setelah hari mendekati tengah malam. Tubuhnya bahkan sempat menegang. Tapi ia kembali mencoba setenang mungkin agar kepura-puraannya untuk tidur terlihat alamai.
"Tapi jangan lama-lama ya sayang, marahnya. Didepan aku bawain hadiah buat kamu."
"Tapi bukan buat nyogok kamu biar nggak marah, suer. Itu aku beli pas balik kampus." mencium kepala istrinya.
"Aku salah. Aku minta maaf ya?"
"Janji nggak gitu lagi."
"Mungkin kalau kamu yang kaya gitu, aku juga bakal marah."
"Aku janji bakal berpikir kedepannya dulu sebelum bertindak."
__ADS_1
Lagi. Kecupan hangat Senja dapatkan di kepalanya sebelum rengkuhan itu terlepas. Ia hanya diam tak bergerak. Bernapas pun ia sangat hati-hati.
Sebenarnya ia tak tega pada suaminya. Tapi rasa gengsi masih mendominasi perasaannya. Ia malu marah-marah hanya masalah seperti itu. Meski pun tetap saja baginya Baskara itu salah. Tapi tak seharusnya ia marah berlebihan hingga mendiamkan suaminya seperti ini.
Apalagi ia juga sudah sangat merindukan pelukan hangat suaminya. Dan kini ia harus terima memperpanjang rasa rindunya hingga ia mampu menurunkan egonya untuk memaafkan Baskara. Mungkin besok pagi.
Terdengar dengkuran halus dari arah belakangnya. Senja yakin suaminya sudah tidur karena lelah diperjalanan.
Dengan hati-hati ia berbalik menghadap suaminya yang ternyata juga tidur menghadapnya.
Dipandanginya wajah damai suaminya ketika tidur. Hidung macung yang tak terlalu kecil namun terlihat pas diwajah suaminya. Bibir tipis tapi cukup berisi. Bulu mata lentik yang membingkai mata indah yang selalu menatapnya hangat. Menatapnya dengan cinta meski dalam kondisi marah sekalipun.
Suami yang begitu sabar menghadapi sikap keras kepala dan kekanakannya. Ia sadar belum bisa menjadi istri idaman. Istri yang baik yang mengerti suaminya dalam kondisi apa pun.
Ia bahkan pernah bersikap paling egois ketika Baskara baru selesai kuliah disaat hari sudah malam, namun ia memaksa suaminya itu untuk tetap datang.
Dengan sabarnya Baskara menuruti keinginannya dan berakhir sakit esok harinya.
"Maaf mas. Aku harap kamu masih sabar sama sikap aku yang egois ini." bisiknya sebelum mencium dahi suaminya dan masuk kedalam rengkuhan yang sudah sangat ia rindukan.
Baskara yang belum benar-benar terlelap menyunggingkan senyum dengan mata yang tetap terpejam. Membalas pelukan istrinya yang sudah bersandar nyaman didadanya.
Beginilah mereka jika tengah bertengar. Jika Baskara akan meminta maaf secara langsung. Senja selalu melakukannya ketika Baskara sudah tertidur. Dan esoknya sudah kembali bersikap ceria seperti biasa.
Tapi Baskara menerima itu semua. Asal istrinya bahagia dengan pernikahan mereka. Bahagia hidup bersamanya. Itu sudah cukup untuk memaafkan segala sikap egois yang istrinya berikan.
*
*
__ADS_1
*