Langit Senja

Langit Senja
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Karena keputusan kakak ipar sekaligus sahabatnya itu sudah bulat dan sulit digoyahkan, Senja menerima Jingga bekerja dengannya.


"Udah yakin nggak mau kuliah dulu?" tanya Senja sekali lagi sebelum mengenalkan Jingga secara resmi pada karyawannya yang lain. "Kalau lo kuliah, seenggaknya lo bisa kerja dibagian penting. Tempat dimana lo bisa merintah, bukan malah diperintah." masih mencoba menggoyahkan niat Jingga untuk berubah pikiran. Mereka baru sampai ditempat parkir depan ruko.


Senja sengaja mengajak berangkat bersama agar Jingga tidak terlambat dihari pertamanya bekerja.


"Nggak penting buat gue masalah jabatan. Nggak perlu tinggi, asal punya kerjaan yang butuh tanggungjawab."


Senja mencibir mendengar jawaban Jingga. "Semua pekerjaan butuh tanggungjawab! serendah apa pun jabatan atau kerjaan yang lo pegang!"


Jingga hanya terkekeh dan melangkah masuk kedalam bangunan empat lantai dengan luas 15x50 meter dengan dinding depan berbahan kaca yang mempertontonkan keeleganan desain didalam sana.


"Waahh.. Kantor lo udah keren gini.." Jingga kagum dengan yang ia lihat. Karena terakhir kali ia kesana adalah saat Senja baru secara resmi menempati gedung. Dan dulu desain interiornya masih biasa, belum tertata rapi seperti saat ini. "Pasti suami gue nih yang desain."


Ingin rasanya Senja memukul kepala Jingga jika tidak ingat kini mereka sudah berada didalam butik miliknya.


"Abang gue tersayang itu arsitek ya nyonya... Dia nggak ambil jurusan desain interior btw pas kuliah." bisiknya dengan gigi terkatup. "Makanya kata gue juga lo kuliah dulu, biar pinteran dikit."


Jingga yang masih terkagum-kagum melihat desain yang sudah berubah banyak itu seketika mencebik dan melirik adik iparnya kesal. "Plis ya adek iparku sayang... Gue nggak bego-bego amat! gue cuma lupa."


Senja menghela napasnya pasrah. Tak ingin memperpanjang perdebatan dan terus melangkah. Sesekali menjawab sapaan karyawannya.


"Dilantai satu ini butik kita. Dimana karya-karya kita di jual dan dipajang selain di mall." terang Senja. Menjelaskan semua dari awal lagi pada Jingga, juga mengenalkan Jingga sebagai asistennya untuk saat ini. "Lantai dua untuk pelanggan yang pesan desain khusus, penyimpanan pesanan jadi, sama ruang kerja desainer sama kantor gue."


"Lantai tiga-"


"Ruang kerja staf dan penyimpanan kain. Lantai empat ruang produksi." potong Jingga melanjutkan Senja yang tengah menjelaskan. Lagi pula ia masih ingat betul letak-letaknya. Meski desainnya sudah berubah, ia yakin fungsi tiap lantai masih sama.


"Untung kakak ipar. Kalau bukan udah gue pecat lo!"


"Kenapa?" tanya Jingga tak mengerti.

__ADS_1


"Berani motong bos lo ngomong!" liriknya kesal. Meski ia tak sungguh-sungguh karena semua karyawan adalah keluarga baginya. Tapi tetap harus profesional saat bekerja.


"Karyawan lo banyak juga." Jingga duduk di sofa yang ada diruang kerja Senja setelah selesai berkeliling dan berkenalan dengan orang-orang yang menurutnya tidak semenyeramkan apa yang Senja katakan. "Padahal baru buka. Emang baju-baju lo udah pada laku, Ja?"


Senja mendelik mendengarnya. "Biarpun masih baru, tapi pelanggan gue udah banyak, tau!"


Senja memang sudah memiliki cukup banyak pelanggan dan pesanan yang ada didalam listnya. Meskipun sebagian besar adalah kolega suami dan keluarganya yang datang ke pesta perayaan suaminya dan melihat karyanya dipamerkan saat itu.


"Lagi pula, kata papa jangan tanggung-tanggung selagi gue punya modal. Kalau dulu papa dari nol emang karena nggak ada modal kayak gue sekarang."


"Iya, iya, deh.. Jadi sekarang tugas gue apa?" Jingga bergidik melihat senyum Senja yang terlihat membawa firasat buruk untuknya.


Senja menunjuk meja yang disiapkan khusus untuk Jingga bekerja dalam ruangannya. "Itu meja kerja lo."


Dengan antusias, Jingga menuju tempat yang Senja tunjuk. Hanya ada komputer dengan layar besar dan kursi yang cukup nyaman untuk duduk seharian.


"Karena lo nggak ada bakat apa pun selain main handphone buat main sosmed-" kalimat Senja terpotong karena Jingga menatapnya tajam. Bukannya takut, Senja justru tertawa. "Gue orangnya jujur lho..."


"Oke.. Oke.. Sori gue ralat. Karena satu-satunya bidang yang lo kuasai itu dunia sosial media.."


"APA BEDANYA!" sela Jingga lagi dengan kesal. Begini nasib memiliki adik ipar yang tak lain sahabatnya sendiri. Tak ada sopan santunnya sama sekali.


"Apa yang salah?" tanya Senja dengan ekspresi polos. "Gue kan udah perhalus bahasa gue."


Jingga masih mencebik tidak terima. "Udah deh! makanya dengerin dulu!" ujar Senja. "Jadi karyawan yang rada hormat gitu lho sama atasan!"


"Jadi apa tugas gue?" tanya Jingga sekali lagi setelah sebelumnya mengejek Senja dengan gerakan bibirnya.


"Tugas lo itu promoin produk-produk kita di semua sosial media!"


"Semua?" beo Jingga.

__ADS_1


Senja mengangguk. "Iya. Semua. Lo kan cukup jago edit video. Jadi lo edit sendiri buat lo upload di chanel yutub kita. Email dan password buat semua sosial media udah ada disini." Senja menyerahkan sebuah buku agenda untuk Jingga.


Jingga membuka buku agenda yang Senja berikan. Membuka satu persatu sosial media yang belum banyak terisi postingan.


"Sebelumnya gue sendiri yang pegang karena emang belum dapat orang yang cocok. Tapi gue jarang ada waktu, makanya jarang posting produk kita disana."


Jingga yang tengah melihat-lihat hanya menganggukan kepalanya pelan. "Terus yang ngambil sampel gambar siapa?"


"Ada fotografer lepas yang kerjasama sama kita. Jadi tugas lo nggak berat kan? lo nggak perlu fotoin model sama bajunya satu-satu buat lo upload. Semua udah siap tinggal lo kelola aja."


Jingga kembali mengangguk. "Kalau ada yang pesan lewat chat gini gimana?"


"Itu udah ada bagiannya sendiri diatas. Jadi lo nggak perlu mikirin pesanan." ucap Senja sebagai tanggapan pesan chat yang masuk di tiap sosial media mereka.


"Jadi nggak cuma gue yang pegang email sama sandinya?"


"Ada bagian penerimaan pesanan yang pegang juga. Tapi lo nggak perlu khawatir. Mereka nggak akan ngacak-acak kerjaan lo."


Senja kembali ke mejanya untuk menyelesaikan desain yang sudah mendekati deadline. "Oh iya satu lagi." imbuhnya ketika teringat sesuatu. Menatap Jingga yang juga menatapnya. "Untuk harga lo tanya orang diatas aja."


"Tiap gue mau upload gue harus keatas?"


Senja memejamkan mata dan menghela napasnya pelan. "Nggak perlu sayangnya abang gue. Lo cukup tanya lewat telfon atau email biar jelas yang mana yang lo maksud."


Senja membulatkan bibirnya membentuk huruf o dan merenges malu. Mengacungkan ibu jari kemudian mengibaskan tangannya menyuruh Senja kembali bekerja. Membuat Senja menggerutu karena seharusnya ia yang menyuruh Jingga kembali bekerja, karena dialah yang atasan. Tapi sudahlah. Mengalah saja. Tidak ada gunanya juga berdebat dengan Jingga yang ia rasa tingkahnya semakin aneh setelah menikah. Tidak sediam dan pemalu seperti saat remaja dulu.


Mungkin ini yang disebut orang akan berubah setelah menikah.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2