Langit Senja

Langit Senja
Tugas Negara


__ADS_3

Tubuh Senja rasanya sangat lelah. Ia baru saja pulang kuliah. Tujuan pertamanya adalah dapur untuk menyimpan ASIP yang ia hasilkan selama di luar rumah. Bisa untuk stok anaknya menyusu esok ketika ia tinggal lagi.


Ketika masuk kedalam kamar, ia memiringkan kepalanya dengan alis mengerut menatap suaminya yang tersenyum aneh.


"Kenapa senyum-senyum gitu, mas?" tanyanya curiga. Tapi suaminya masih saja tersenyum lebar dan menggeleng.


"Mandi dulu, ayy. Aku udah siapin air buat kamu mandi."


Alis Senja semakin kusut. Tumben sekali suaminya sampai menyiapkan air untuknya mandi. Walaupun Baskara banyak membantunya di rumah, tapi tidak sampai membantunya mandi juga.


"Kenapa sih? aku mau lihat baby Anna dulu." kepalanya mencoba menjangkau punggung suaminya untuk melihat putri kecilnya yang tengah mengerak-gerakan kakinya diatas tempat tidurnya dan sang suami.


Baskara menggoyangkan jari telunjuknya didepan wajah. "Biasanya kan mandi dulu! nanti kuman penyakit yang melekat ditubuh sama pakaian kamu pindah ke Anna kalau nggak mandi dulu." Baskara mengembalikan apa yang selalu istrinya katakan setiap ia habis dari luar dan ingin langsung menggendong putri kecilnya.


"Iya, tap-" tak mengizinkan istrinya membantah, Baskara mendorong lembut istrinya untuk masuk kedalam kamar mandi. Dimana bathtub sudah ia isi dengan air dan ia beri aromaterapi kesukaan istrinya.


Senja juga mengalah dan memilih membersihkan dirinya. Sedikit berendam untuk mengurai otot-ototnya yang terasa kaku setelah seharian ia ajak beraktifitas.


Setelah dirasa cukup segar, Senja langusng menuju ruang ganti melalui pintu yang berbeda dari saat ia masuk tadi.


Diatas meja aksesoris sudah ada satu set baju solehot dan ada note diatasnya. Wajahnya memerah membaca tulisan sang suami.


Masa nifasnya udah selesai kan, ayy? nanti malam mulai dinas ya 😘 (stiker cium tak ketinggalan)


Senja menutup wajahnya malu. Jadi ini alasan suaminya senyum-senyum tidak jelas tadi.


Padahal itu sudah dinasnya setiap malam melayani sang suami sebelum ia melahirkan. Tapi tetap saja ia malu jika memikirkannya. Wajahnya bahkan terasa panas hanya dengan memikirkan kata dinas. Terlebih sudah lebih dari sebulan mereka libur dinas.


Karena Baskara memilihkan baju solehot yang ada jubahnya, jadi Senja bisa langsung memakainya. Karena tidak mungkin kan ia makan malam hanya dengan baju solehot yang ia gunakan didalamnya.


Meski dirumah hanya ada mereka berdua. Bertiga baby Anna yang belum tahu apa-apa. Tapi tetap saja Senja tidak akan nyaman memakainya.


***

__ADS_1


Baskara bersiul senang. Sejak siang ia sudah mempersiapkan segalanya. Dari makan malam yang ia buat romantis ala kadarnya karena mereka tidak bisa makan malam di luar. Juga membuat anaknya lelah bermain di sore hari agar malamnya tidak begadang.


Ia selalu menghitung kapan masa nifas istrinya selesai. Bahkan ia memiliki kalender pribadi untuk menghitungnya. Dan ia tahu masa nifas istrinya sudah selesai sejak dua hari yang lalu.


Tapi karena bayi kecilnya sepertinya enggan membiarkan kedua orang tuanya untuk bermesraan, baby Anna masih saja sering begadang. Mengajak bermain atau ia bacakan dongeng. Alhasil Senja selalu tidur lebih dulu karena lelah.


Ia memiliki ide dihari kedua untuk mencoba mengajak putri kecilnya banyak bermain disore hari. Dan malamnya baby Anna berhasil tidur dengan lelap hanya bangun jika lapar dan popoknya yang penuh.


Untuk itu malam ini ia percaya diri bisa membawa istrinya melayang diatas ranjang tanpa hambatan.


"Yuk makan?" ajak Baskara begitu istrinya keluar dari ruang ganti.


Ia yakin jantung istrinya berdetak tak biasa seperti jantungnya kini, untuk itu ia berusaha senormal mungkin meski rasanya sulit.


Seperti biasa, baby Anna mereka letakan diatas stroller menemani keduanya makan.


Baby Anna memang belum tengkurap atau merangkak. Sehingga kemungkinan untuk bayi kecil itu celaka ketika ditinggal sangatlah kecil. Tapi Senja maupun Baskara tetap saja merasa tidak tenang meninggalkan bayi mereka tanpa pengawasan siapa pun.


"Tadi pas kamu berendam." jawab Baskara. Pria itu terlihat memberikan botol susu kepada putri mereka. "Anak cantik makan malamnya ini dulu ya? nanti kalau udah boleh makan, daddy masakin yang enak buat kamu. Oke?"


Senja kembali terkekeh mendengarnya. Seharusnya ia yang mengatakan hal seperti itu meski masakannya tidak seenak buatan tangan suami.


Setelah makan malam, mereka masih sempat menonton televisi. Atau lebih tepatnya Baskara yang menonton sedangkan Senja sibuk bermain dengan putri mereka. Menebus waktu yang hilang seharian tadi.


"Ngantuk ya sayang?" dengan lembut, Senja menggendong bayi kecilnya dan membawa kedalam kamar. Diikuti Baskara yang sudah mematikan televisi sebelum beranjak.


"Makin mirip banget sama kamu nggak sih, ayy?" Baskara berbaring. Menopang kepalanya dengan tangan kanan. Menatap putri kecilnya yang tengah meminum ASI dari sumbernya langsung.


"Iya dong. Kan anak mommy ya sayang ya?" tangan kecil itu menepuk-nepuk dada Senja sebagai jawaban.


"Padahal daddy yang ngurusin setiap hari." cebik Baskara. Ia juga ingin sedikit saja putrinya memiliki sesuatu yang mirip dengannya. Namun sayang, baby Anna adalah Senja dalam bentuk mini. Baby Anna benar-benar mengambil banyak gen ibunya.


"Yang hamil sama ngelahirin siapa?" tanya Senja tak mau kalah. "Terus yang kasih enen siapa?"

__ADS_1


Sudahlah. Jika sudah seperti itu, Baskara tidak akan pernah bisa menang.


Mana bisa ia mengalahkan Senja, jika senjatanya adalah hamil, melahirkan dan menyusui. Hal yang tidak akan pernah bisa ia lakukan hingga mati pun.


"Ya sudahlah. Fisik boleh aja mirip kamu, tapi kedekatan aku jamin deketan sama aku nanti, ayy." ucap Baskara kembali semringah. Padahal ia hanya bercanda, tapi wajah istrinya terlihat murung. "Kok sedihnya beneran sih, ayy? aku kan cuma bercanda. Aku aja nggak marah Anna lebih mirip kamu."


Senja hanya memikirkan apa yang suaminya katakan.


Sejak hari pertamanya kuliah, ia sudah merasa takut baby Anna akan jauh darinya. Kurangnya waktu mereka untuk menghabiskan waktu berdua membuatnya takut anaknya jauh dalam ikatan batin dan kedekatan.


"Nggak usah khawatir." hibur Baskara. "Setiap pagi kan kamu yang ngerawat baby Anna. Kamu juga selalu kasih ASI langsung kalau di rumah kecuali kalau begadang."


Senja masih menatap putrinya yang masih fokus dengan ASI-nya meski matanya setengah terpejam.


"Dia juga pasti ngerti, kalau mommy-nya lagi berjuang buat masa depan."


Senja masih diam menatap putrinya.


"Kamu lihat sendiri kalau lihat kamu, Anna happy banget."


Senja tersenyum tipis. Tidak ia pungkiri hatinya menghangat setiap melihat anaknya yang terlihat bahagia begitu melihatnya setelah seharian tidak bertemu.


"Nggak usah mikir yang macem-macem karena ikatan batin antara anak dan ibu itu kuat. Mending mikir satu macam aja."


"Apa?" tanya Senja bingung. Mengangkat wajahnya menatap sang suami yang tengah memainkan alisnya dengan senyum mengembang.


"Tugas negara." dan mulailah pertempuran panas mereka setelah memindahkan baby Anna kedalam boks bayinya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2