
Hampir dua jam Langit tertidur di atas sofa. pria itu sudah terjaga dari tidurnya dan segera ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
setelahnya, Langit bergegas turun ke lantai bawah untuk makan malam yang sepertinya sudah terlambat. bagaimana tidak terlambat? jam sudah menunjukkan pukul 20:45.
"Siska, apa Senja sudah makan?" tanya Langit, saat melihat maid yang bernama Siska sedang melewati ruang makan. dengan lesu Maid itu menggelengkan kepalanya.
"belum Tuan, tadi saya sudah kesana dan membawakan makanan untuk Nona muda. tapi saat Nona melihat makanannya dia malah mual dan meminta saya untuk membawanya kembali." jelas Siska.
"buat steak." perintah Langit.
Siska mengerutkan keningnya tidak mengerti. "apa Tuan ingin makan steak lagi?"
Langit menggelengkan kepalanya. "buat saja, lalu berikan pada Senja."
takut untuk bertanya lagi, maid itu hanya mengangguk dan kembali ke dapur untuk membuat steak.
sementara di dalam kamar, Senja terus menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. baru satu jam dia tidur, tapi sudah terbangun dan merasa ada yang kurang.
"apa begini ya rasanya orang hamil? susah sekali untuk tidur. tapi setahuku susah tidur itu kalau perutnya sudah besar kan?" gumam Senja, dia merasa bingung dengan dirinya sendiri. "huft, kenapa tiba tiba aku merindukan kak Langit ya?" gumam nya lagi.
Senja mengusap perutnya yang masih datar itu. "apa kau merindukan Ayahmu?" tanya Senja pada janin dalam perutnya yang belum terbentuk sempurna itu.
"apa yang harus aku lakukan." Senja meras frustasi. kenapa kehamilannya harus menyangkut tentang Langit? pikirnya.
Senja lalu turun dari ranjang berjalan menuju ke arah pintu. pelan pelan wanita itu membuka pintunya. ya wanita, karena Senja sudah tidak lagi gadis. harusnya sejak satu bulan lalu yaa.
setelah pintu terbuka, dengan perlahan Senja keluar dari kamarnya. Sepi, itu yang dia lihat. wanita itu pun berjalan menuju kekamar Langit. langkahnya terhenti di depan pintu kamar bercat hitam itu. Senja ragu untuk mengetuk pintu itu.
"bagaimana kalau kak Langit marah lagi?" gumamnya, lirih.
__ADS_1
tanpa Senja tahu, ada seseorang yang mengintip di balik tembok.
'ada perlu apa Senja kekamarku?' gumamnya dalam hati. ya, dia adalah Langit. selesai makan malam pria itu langsung kembali ke kamarnya. Namun, baru saja dia keluar dari lift, Langit melihat pintu kamar Senja yang sepertinya akan terbuka. dengan cepat pria itu ke ruang kerjanya yang berada di depan lift. Namun, sudah beberapa menit tidak ada pergerakan apapun yang menuju ke lift. Langit mencoba untuk mengintipnya, ternyata istrinya itu tidak akan pergi turun, melainkan menuju kekamarnya. tapi anehnya lagi, yang Langit lihat Senja hanya berdiri di depan pintu tanpa mengetuknya atau membukanya. dia hanya diam mematung di depan kamar Langit.
saat pintu lift tiba tiba akan terbuka, Langit di buat terkejut. tapi dia kembali lega saat tau siapa yang ada di dalamnya.
kini malah gantian Siska yang di buat terkejut melihat Tuan mudanya bersembunyi di balik tembok. seperti maling saja kan?
"Tu...."
"Sssstttt." Langit menghentikan ucapan Siska yang akan berbicara keras itu. dia lalu menunjuk ke arah kamarnya dan diikuti Siska yang kini menoleh kemana Tuan muda nya menunjuk.
"sekarang kamu berikan makanan itu pedanya, dan tanyakan ada perlu apa dia ke kamarku." perintah Langit dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar oleh Siska saja.
Siska mengangguk tanpa mengeluarkan suara, karena memang di larang oleh Langit untuk bersuara. Siska lalu berjalan menghampiri Senja.
"M...mbak Siska. ada apa Mbak?" Siska tersenyum pada Senja yang seperti orang tertangkap basah.
"saya cuma mau antar makanan ini buat Nona."
Senja langsung menutup hidungnya menatap horor pada nampan yang ada di tangan Siska.
"tapi ini beda Nona, bukan makanan yang tadi." jelas Siska. Maid itu menunjukkan apa yang di bawa nya. seporsi steak, itu yang Senja lihat. netra hazel bumil itu berbinar senang.
"Ayo Mbak ke kamar ku sekarang." ajak Senja. wanita itu lalu berjalan menujun ke kamarnya lebih dulu dan di ikuti Siska di belakang nya dengan membawa nampan berisi makanan untuk Nona mudanya.
sesampainya dikamar, Siska meletakkan nampan itu di atas meja di mana Senja sudah duduk bersiap untuk menyantapnya.
"bagaimana Mbak Siska bisa tau kalau aku sedang ingin makan Steak?" tanya Senja, tangannya dengan cekatan memotong steak yang ada di piring.
__ADS_1
"Tuan Muda yang memberi tahu Nona." jawab Siska.
tangan Senja yang akan menyuap daging steak itu berhenti di udara. "Sejak kapan Nona muda suka steak? seperti Tuan muda saja. kalian ini sangat cocok, seleranya saja sama." Siska terkekeh dengan ucapannya sendiri. sedangkan Senja? wanita itu kembali terkejut. kenapa dia merasa kehamilannya selalu menyangkut tentang Langit?.
wanita itu menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan makannya.
sementara Langit, dia merasa lega karena melihat istrinya terlihat bahagia melihat steak. semoga saja dia mau memakannya agar tidak sakit lagi. pria itu lalu masuk kedalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya.
"oh ya, Nona tadi ada perlu apa ke kamar Tuan. kangen ya, pengen tidur bareng lagi..." Goda Siska. dia memang di suruh Langit untuk mencari tahu kenapa Senja diam di depan kamar nya. tidak mungkin kan Siska akan bertanya dengan serius? tentu saja dia akan bertanya dengan cara menggodanya supaya terlihat kepo kepo gimana gitu. hehe
Uhuk uhuk
Senja tersedak minuman yang baru saja mengalir di tenggorokannya karena mendengar godaan Siska. Siska dengan cepat menepuk nepuk punggung Senja agar batuknya mereda.
"T...tidak Mbak, aku pikir tadi Bik Sumi ke sana, jadi aku ke sana mau cari Bik Sumi." tentu saja Senja akan berbohong. tidak mungkin dia akan berkata jujur kalau di merindukan suaminya. no no no!
"oh, apa perlu saya panggilkan Bik Sumi sekarang?" tawar Siska.
dengan cepat Senja menggelengkan kepalanya. "nggak usah Mbak. besok saja aku temui bik Sumi. nggak terlalu penting kok, ini juga udah malam." tolaknya. lagian mau apa dia ketemu Bik Sumi? itu kan cuma alasan saja. kalaupun Siska mengatakannya pada Bik Sumi dan bertemu besok, dia kan masih punya waktu untuk mencari alasannya.
"ya sudah kalau begitu saya turun ke bawah dulu ya Nona." pamit Siska. dia lalu membereskan bekas makan Senja untuk di bawanya ke dapur lagi.
Senja mengiyakan dengan menggunakan kepalanya.
setelah kepergian Siska, Senja kembali mengunci pintu kamar nya. kemudian dia berjalan ke arah kasur ingin membaringkan tubuh lelahnya. jika bisa pun ia akan menutup matanya dengan nyaman.
***Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...
__ADS_1