
Libur musim semi kembali tiba. Dipenghujung liburan nanti, artinya pernikahan Senja dan Baskara tepat satu tahun.
Sudah beberapa bulan sejak kunjungan Grace saat itu. Semua berjalan seperti biasa. Tak ada kendala atau masalah yang begitu berarti dalam rumahtangga keduanya.
Tapi kini dalam penerbangan pulang. Senja tidak dapat tidur.
Ada rasa takut yang menelusup hatinya. Takut akan apa yang saat itu Grace katakan akan terjadi.
Takut ketika sampai di Jakarta nanti, Baskara akan dinikahkan paksa dengan Grace.
Gadis itu mengelus perutnya sendu. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi hingga dirinya belum juga hamil. Sedangkan Baskara melarang dan tidak mau diajak memeriksakan diri ke dokter. Entah apa alasannya, Senja tidak tahu. Padahal apa salahnya memeriksakan diri.
"Kenapa nggak tidur, hm?" Baskara bertanya lembut. Menggenggam jemarinya yang terasa dingin dan mengecupnya.
"Tangan kamu dingin, ayy. Kamu tegang?"
Senja hanya tersenyum tipis. Tak menjawab atau mengiyakan apa yang Baskara katakan.
"Kamu nggak lagi mabok udara kan?" Baskara memicing sedikit meledeknya.
"Mana ada! aku udah sering bolak balik NY-Indo." ucapnya setelah memukul pelan dada suaminya yang kini tengah terkekeh pelan. Takut mengganggu penumpang lain yang kebanyakan juga tengah memejamkan matanya.
"Terus tegang kenapa, hm?
Senja menggigit bibir bawahnya gundah. Tapi merasa tidak perlu mengatakan kegundahan dalam hatinya.
Karena Baskara sudah berkali-kali menegaskan padanya, bahwa apa pun yang terjadi, suaminya itu tidak akan pernah mendua atau bahkan meninggalkannya.
Yang perlu ia lakukan hanya memberi kepercayaan penuh untuk suaminya itu.
"Nggak papa." jawab Senja setelah lama terdiam dan hanya saling tatap dengan suaminya yang terlihat penasara.
"Nanti siapa yang jemput mas?" tanya mengalihkan topik.
"Kata bunda sopir rumah. Nanti kita kerumah bunda sama ayah dulu ya? habis itu baru ke rumah mama sama papa?"
Senja mengangguk setuju. Ia sadar, kini memiliki suami dan tidak bisa semaunya sendiri. Lagi pula, Baskara lebih lama tidak bertemu orang tuanya. Sedangkan dirinya sudah mendapatkan kunjungan liburan musim dingin lalu.
Baskara mengusap lembut pipi istrinya. "Sekarang tidur. Perjalanan masih jauh nanti kamu sakit kalau nggak tidur."
***
Jakarta adalah tempat yang selalu Senja rindukan untuk pulang. Meski kini ia sudah memiliki keluarga sendiri, kehangatan dalam keluarganya tak pernah terganti. Karena semua memiliki tempatnya masing-masing dalam hatinya.
Disambut dengan pelukan hangat oleh ibu mertua adalah hal baru yang Senja rasakan. Karena biasanya ayahnya yang akan menjadi orang pertama memeluknya ketika sampai di rumah.
Kecuali jika kedua abangnya yang menjemput ke bandara.
__ADS_1
"Sehat sayang?" tanya Pricilla menangkup kedua pipi menantunya. "Kamu kelihatan kurusan."
Senja terkekeh ketika ibu mertuanya menatap Baskara tajam seakan penurunan berat badannya bersumber pada pemuda itu.
"Aku nggak ngapa-ngapain bun. Sumpah!" ucap Baskara mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. Merasa terancam dengan tatapan menuduh sang bunda. "Aku kasih makan tiap hari. Uang dari bunda juga aku kasih semua ke Senja. Iya kan, ayy?"
Senja hanya terkekeh melihat suaminya yang mencoba mencari pembelaan.
"Kasih makan! kamu pikir menantu bunda ayam!"
"Aawww awww sakit bun... Ampun elah..." pekiknya kesakitan saat wanita yang melahirkannya kedunia ini menarik telinga kanannya cukup keras.
"Kamu pasti bisanya ngerepotin Senja kan?! nggak mau bantuin pekerjaan rumah?!"
"Buuuunnn.. Lepasin dulu dong."
Dengan terpaksa Pricilla melepaskan tangannya dari telinga sang putra yang sudah memerah. Tidak tega juga melihatnya. Jauh-jauh pulang setelah satu tahun malah disambut dengan siksaan.
"Urusan pekerjaan rumah kan sudah ada ahlinya. Senja cuma bikin sarapan sama makan malam aja kok. Itu juga kadang kalau malam kita makan di luar."
Pricilla masih tidak percaya. "Terus kenapa menantu bunda jadi kurusan begini?!"
Sebenarnya Senja tidak begitu kurus. Tubuhnya masih termasuk ideal. Meskipun memang pipinya yang sebelumnya sedikit chubby, kini menjadi tirus. Dan mungkin itu hanya faktor usia.
Semakin dewasa dirinya. Tubuhnya juga mengikuti, semakin proporsional. Semakin membentuk keanggunan seorang wanita.
"Senja nggak pa-pa bundaaa... Bunda aja yang udah lama nggak lihat Senja, makanya kelihatan kurusan." ujar Senja menyelamatkan sanh suami.
Senja memeluk ibu mertuanya dari samping. Merasa bahagia mendapatkan perhatian dari seorang mertua.
Padahal sejak dulu Pricilla memang perhatian dan menyayanginya seperti anak sendiri.
Tapi entah kenapa setelah stusnya kini berubah menjadi seorang menantu, mendapat perhatian dari mertuanya seperti itu membuat Senja memiliki rasa bangga tersendiri.
Berlebihan memang. Tapi hal-hal baru setelah pernikahan memang membuat Senja kadang bersikap berlebihan. Termasuk sikap waspadanya terhadap bibit-bibit pelakor di luar sana.
"Atau kamu masih belum terbiasa dengan jadwal olahraga malam sama suami kamu makanya kamu kurusan?" goda Pricilla yang tak hanya membuat Senja malu dengan wajah memerah, tapi juga Baskara yang tersenyum dan menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Bundaaa iih.. Bahasannya begitu." rengek Senja menahan malu. Menyembunyikan wajahnya di bahu Pricilla. Membuat ibu mertuanya tertawa gemas.
"Lelaki memang seperti itu, Ja. Nggak ada puasnya. Apa lagi kalian masih pengantin baru dan belum ada yang gangguin."
Seketika wajah Senja berubah muram. Kembali diingatkan tentang momongan meski tidak secara langsung.
"Nggak perlu sedih." Pricilla mengusap pipi menantunya yang seketika tadi tubuhnya terasa menegang. Ia bisa merasakan karena Senja masih memekuknya.
"Bunda dulu memegang teguh kalimat semua akan indah pada waktunya."
__ADS_1
Baskara ikut menatap istrinya sedih. Merasa istrinya pasti tertekan dengan kondisi saat ini. Tertekan pula dengan ancaman yang Oma berikan.
"Bunda bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, sayang."
Kini mereka sudah duduk di ruang tamu. Hanya ada mereka bertiga karena ayah Baskara tengah bekerja.
"Baskara kan juga nggak langsung hadir diantara ayah sama bunda."
"Bunda juga setiap ngelihat teman-teman bunda yang belum lama menikah tapi sudah hamil kadang merasa iri."
"Mama kamu bahkan sering marahin bunda. Katanya kalau dengan melihat Farri sama Vindra bikin bunda sedih, mending nggak usah dilihatin."
"Tapi beruntungnya, Oma dan Opa tidak mempermasalahkan bunda saat itu yang belum juga hamil meski sudah menikah satu tahun."
Senja semakin sakit mendengarnya. Jika dulu ayah yang notabene-nya anak langsung dari Oma saja tidak dipermasalahkan, kenapa ia dan Baskara yang hanya cucu harus dipermasalahkan.
Pandainya Aldo saja menyelamatkan istrinya. Dibantu Opa untuk mengendalikan Oma agar tidak mendesak Pricilla memiliki anak.
Oma juga berbuat hal yang sama pada Pricilla dulu. Hanya saja selalu di belakang Pricilla dan tidak diberi kesempatan untuk mengutarakannya langsung karena Aldo yang begitu melindungi istrinya.
Sebenarnya sekarang pun Oma tidak mendesak Senja secara langsung. Hanya mendesak Baskara dan menghadirkan Grace yang membuat Senja mengetahuinya.
"Karena dulu kan kakaknya ayah-maminya Grace udah punya tiga anak. Mungkin karena itu juga Oma nggak mempermasalahkan bunda pada saat itu."
Ibu Grace mamang tak hanya dirawat, tapi juga dijadikan anak pertama oleh Oma dan Opa Baskara.
Dan ketika itu, anak-anak ibu Grace masih kecil-kecil dan cukup meramaikan suasana rumah. Jadi fokus tak tertuju langsung pada Pricilla.
"Dan sekarang juga bunda nggak mempermasalahkan kamu sudah hamil atau belum sayang."
"Karena bunda tahu itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan."
"Bukan makanan siap antar yang bisa kita pesan kapan aja."
"Butuh proses, usaha dan doa. Juga butuh campur tangan Tuhan di dalamnya."
Pricilla tidak tahu jika ada orang lain yang mempermasalahkan hal itu hingga membuat menantunya sedih dan kepikiran. Mungkin itu juga yang sedikit menurunkan berat badan Senja meski tidak seberapa.
"Jadi yang perlu kamu lakukan sekarang adalah bahagia bersama Babas."
"Nikmati masa-masa berdua kalian selagi masih memiliki banyak waktu berdua."
"Sebelum nanti Senja atau Bas junior hadir dan membuat kualitas berdua kalian berkurang."
Senja kembali bersyukur memiliki mertua sebaik sahabat ibunya ini.
*
__ADS_1
*
*