Langit Senja

Langit Senja
Alasan Untuk Bahagia 2


__ADS_3

Senja kira, kejutannya hanya sebatas taman hiburan. Tapi ternyata suaminya sudah menyiapkan kejutan lain.


Mobil yang suaminya kendarai berbelok memasuki pintu masuk hotel berbintang. Dengan kerlingan nakal, Baskara membantu turun dan menggandengnya masuk.


Baskara memesan kamar hotel yang dihias layaknya kamar pengantin. Membuat Senja tertawa geli dengan berdegup jantung yang mulai tak santai dengan kebahagiaan yang ia terima bertubi-tubi hari ini.


Tak hanya cukup sampai disana. Baskara bahkan sudah menyiapkan gaun koktail untuk Senja kenakan selepas membersihkan diri.


"Ada acara, mas?" tanya Senja sembari mengenakan gaunnya bersamaan dengan Baskara yang mengenakan jas slimfit warna abu yang membalut kaos warna abu yang lebih terang. Dipadu dengan celana jeans berwarna putih senada dengan sneaker yang digunakannya.


"Dinner dong sayang.." jawabnya dengan senyum mengembang. "Kapan lagi dinner berdua gini."


Dan disinilah Senja saat ini. Di restoran hotel yang Baskara booking khusus untuknya tanpa pengunjung selain mereka satu pun.


Senja benar-benar dibuat lupa dengan statusnya sebagai seorang ibu.


Ia lupa dengan Anna dan Kai yang mungkin tengah menanyakan dimana orang tuanya berada.


Ia lupa dengan Anna dan Kai yang mungkin tengah menangis menunggunya ataupun Baskara untuk membacakan dongeng atau menyanyikan lagu pengantar tidur seperti biasa.


Kejutan-kejutan yang Baskara berikan membuatnya merasa seperti kembali pada saat-saat awal pernikahan mereka. Jiwa mudanya membuatnya lupa jika ia adalah seorang ibu dengan segala perlakuan Baskara padanya hari ini.


Didepan sana suaminya itu tengah duduk di panggung kecil memangku gitar dan bernyanyi dengan suara merdunya yang sedikit serak.


Pembawaan Baskara yang santai dan aura yang menenangkan serta wajahnya yang rupawan seakan menghipnotis Senja untuk tak dapat memalingkan wajah. Terpaku pada satu titik. Suaminya tercinta.


Senja bahkan lupa kapan terakhir kali ia berkedip. Karena ia tak rela melepaskan suaminya dari pandangan walau hanya beberapa mikro detik yang ia butuhkan.


Hatinya menghangat. Dadanya membuncah dengan rasa bahagia. Matanya terasa panas dan mulai memburamkan pandangan yang membuatnya kesal. Kesal karena menghalanginya menatap sang suami dengan jelas.


Senja tak dapat lagi menahan bening di matanya untuk tidak terjatuh ketika Baskara mendekatinya dengan senyumnya yang menawan usai bernyanyi.


"Kenapa nangis?" Baskara berlutut didepannya dan bertanya lembut. Tangan hangat itu pun membantunya mengusap bening yang mulai membasahi pipinya.

__ADS_1


"Kamu cantik dalam keadaan apa pun sayang. Tapi akan lebih dan lebih cantik lagi kalau Senjanya Baskara nggak nangis gini." imbuh sang suami dan menggenggam tangannya erat.


Senja masih tak dapat berkata-kata dan hanya menatap suaminya dalam. Melihat cinta yang tergambar dimata suaminya yang tersenyum bagai bulan sabit.


"Ooh iya. Aku ada hadiah."


Senja merasa kehilangan ketika Baskara melepaskan genggamannya dan mengambil sesuatu dari balik saku jas yang dikenakannya.


Sebuah kota persegi berwarna hitam dengan pita kecil diatasnya.


Tanpa meminta Senja untuk menebak atau melihat sendiri isinya, Baskara sudah lebih dahulu membuka kotak persegi dan menunjukan padanya.


"Cantik sekali." puji Senja saat melihat kalung didalamnya. Kalung emas putih dengan liontin kecil yang terlihat pas di kulit dan lehernya.


"Akan lebih cantik lagi, kalau kamu yang pakai." timpal Baskara mengambil kalung itu dan berjalan kearah belakang sang istri untuk memakaikannya. Menyingkap rambut dan membenahinya kembali setelah selesai.


"Tuh kan, cantik banget istri aku." puji nya dengan berlebih setelah kembali ke hadapan Senja. Membuat Senja terkekeh. Berdiri dan membawa suaminya dalam pelukan.


"Makasih, mas." suaranya terdengar parau di telinganya sendiri. Mungkin karena tangis tanpa suaranya tadi. "Terimakasih untuk enam tahunnya. Makasih udah inget hari ini yang bahkan aku lupa."


"Makasih untuk semuanya mas.. Makasih juga untuk hadiahnya.." Senja mengurai pelukan untuk dapat melihat mata suaminya. "Tapi maaf aku nggak siapin hadiah.." imbuhnya dengan rasa bersalah.


Biasanya yang melupakan hal-hal seperti ini, laki-laki. Tapi ini malah ia yang lupa dengan hari penting mereka. Hari yang mengikat mereka yang sebelumnya hanya sebatas sahabat menjadi sepasang suami istri yang Senja harap akan bertahan hingga akhir.


"Aku nggak perlu hadiah." jawab Baskara untuk mengurangi rasa bersalah istrinya. "Ada kamu dan anak-anak di sisiku aja udah menjadi hadiah paling berharga dalam hidupku yang nggak akan pernah bisa digantikan."


Sekali lagi, Senja merasa bersyukur memiliki Baskara sebagai suaminya. Dulu ia memang sempat menginginkan Baskara sebagai kekasihnya. Tapi tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjalin rumah tangga dan membangun keluarga dengan pria didepannya kini.


Teman masa kecilnya. Teman berdebatnya. Teman bertengkarnya. Teman yang melindunginya. Temannya berbagi suka duka. Teman sharing. Juga teman yang pernah menjadi orang pertama yang mematahkan hatinya.


Tapi kini orang itu adalah salah satu alasannya untuk bahagia. Pria yang ia dan anak-anak letakan sepenuhnya kepercayaan untuk menggantungkan hidup dan membawa mereka menjadi keluarga utuh serta bahagia.


***

__ADS_1


Matahari mulai merangkak keatas kepala ketika ponsel Senja berteriak nyaring dan membangunkannya dari tidur.


Tangannya meraba keatas nakas yang ia ingat menaruh benda itu disana semalam.


"Halo.." sapanya dengan mata terpejam pada entah siapa yang menghubungi diseberang sana.


"Wah.. Wah... Ngapain aja lo jam segini baru bangun?" tanya Jingga begitu mengenali suara bangun tidur milik Senja.


Senja mengerang mendengar suara menyebalkan Jingga diujung sana. Jika tahu yang menghubunginya itu Jingga, ia lebih memilih untuk menolaknya tadi.


Matanya masih sangat mengantuk setelah semalaman hingga matahari terbit, Ia tanpa henti dihukum oleh suaminya dengan cara panas.


Badannya bahkan masih terasa lemas hingga kini. Karena ia baru tidur beberapa jam saja.


"Kalau nggak ada yang penting, gue tutup teleponnya. Gue ngantuk!" jawabnya dengan galak. Membuat Jingga diseberang sana tergelak.


"Oke.. Oke.. Gue cuma mau bilang, nanti mampir ke rumah. Ada undangan reuni dari angkatan kita."


Senja berdecak dan menghentakkan kakinya yang mengenai kaki sang suami. Membuat prianya itu menggeliat dan mengeratkan pelukan pada perutnya yang masih polos.


"Masalah gitu doang kan lo bisa kirim WA, elah!" gerutunya makin kesal. Semakin mengundang derai tawa Jingga yang semakin terasa menyebalkan ditelinganya.


"Iya, nanti gue mampir!" sahutnya kemudian dan menutup sambungan telepon dan melempar sembarang benda persegi itu kearah kakinya.


Karena masih mengantuk. Dan rasa nyaman dari pelukan suaminya, membuat Senja kembali terlelap meneruskan tidurnya yang sempat terputus tadi.


Herannya. Suaminya bahkan tidak terganggu dengan keributan yang ia buat. Apakah suaminya selelah itu hingga tetap lelap didalam mimpinya dan hanya menggeliat tanpa ada niat untuk bangun.


Senja mengedik dan membalikkan badan untuk membalas pelukan suaminya dan kembali terlelap dalam mimpi.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2